Bengawan Pecas Ndahe

Januari 18, 2007 § 14 Komentar

Bengawan terjun ke kali mungkin sama absurdnya dengan apa yang digambarkan oleh pepatah Jawa, kebo nyusu gudel. Tapi, begitulah kejadian yang dialami rangkaian kereta api kelas ekonomi Bengawan, jurusan Solo-Jakarta, ketika terjungkal di sungai dan mengakibatkan lima penumpangnya tewas, Senin lalu.

Ini kecelakaan angkutan massal keempat dalam tempo sebulan, setelah kapal Tristar dan Senopati Nusantara, serta pesawat Adam Air. Jadi lengkap sudah lokasi bencana itu: laut, udara, dan darat. Tinggal kepolisian saja yang belum dapat giliran [ups!].

Masya Allah, musibah kok ndak berhenti-henti. Mungkinkah ada yang tak beres di negeri ini? Tapi, apanya yang tak beres ya? Siapa sih yang salah? Kendaraannya, penumpangnya, pengusahanya, ngaparat pemerintahnya, aturannya, alamnya, atau siapa?

Paklik Isnogud lagi-lagi cuma menggeleng-gelengkan kepalanya ketika saya mengajaknya ngobrol tentang musibah yang datang berturut-turut itu di tanah yang [dulu] katanya gemah ripah loh jinawi ini. Dia lalu bercerita tentang Indonesia. Lah?

“Indonesia itu kan mirip perempatan di bagian timur Jakarta, Mas,” katanya.

“Perempatan itu di mana, Paklik? Kenapa sampean bisa menyimpulkan seperti itu?”

“Oh, itu ada ceritanya, Mas. Perempatan yang saya maksud itu ada di Jakarta. Sampean mungkin juga kenal betul tempat itu. Jalan saja dari stasiun bus Pulogadung menuju ke barat, ke arah Pasar Senen, sampean akan menemukan jalan itu.

Di sana ada Jalan Perintis Kemerdekaan. Persimpangan yang memotongnya adalah jalan ke wilayah baru Kelapa Gading di ujung utara dan ke Rawamangun di ujung selatan.

Kalau sampean belum tahu juga tempat yang saya maksud, lupakan saja detail itu. Yang penting ini: pada tiap hari kerja ketika hari mencapai titik jam tujuh pagi, dari keempat arah itu puluhan — atau ratusan — serentak kendaraan berjejal.

Sebuah kemacetan dahsyat pun segera tercipta. Klakson memekik-mekik. Brisik! Orang mengumpat-umpat dan berteriak-teriak. Di dalam bus-bus penumpang merengut, cemas, berkeringat. Di sedan-sedan bagus orang juga merengut, tapi tak berkeringat. Maklum, sedannya dilengkapi AC dan kacanya pakai lapisan V-Kool hitam.

Anehnya Mas, lampu lalu lintas perempatan itu normal, ada setrumnya. Tapi rupanya orang-orang tak sabar. Juga para sepeda motor yang, seperti kuda kecil yang lapar, melontarkan diri ke depan. Lampu menyala merah di depan mereka, tapi siapa peduli? Bukankah orang dari sebelah sana juga melanggarnya?

Anehnya lagi, jarang sekali ada polisi di sana. Yang sering saya lihat adalah sejumlah satpam, dengan pakaian seragam mereka yang putih-biru — gagah, tapi hanya punya sedikit wibawa. Kadang saya lihat seorang anggota TNI mencoba turun tangan.

Pernah saya lihat sejumlah kondektur bus — demi kelancaran sumber rezeki mereka sendiri -– jadi sukarelawan. Ada sekali seorang pemuda, di tengah kekacauan itu, terjun jadi panitia tunggal penertiban. Yang mengharukan ialah bahwa ada yang mematuhinya, meskipun lebih banyak yang tidak. Hasilnya tetap: khaos itu tetap merajalela.

Perempatan yang kacau itu mirip Indonesia. Persisnya, sebuah contoh dari kait-berkaitnya persoalan di hadapan kita.

Setelah saya perhatikan, salah satu sumber problem adalah lampu lalu lintas dari sebelah utara. Lampu hijau untuk kendaraan dari arah itu teramat singkat: cuma 15 detik. Tiap kali hijau itu ‘byar’, cuma tiga mobil yang berkesempatan jalan. Rupanya, lampu ini dipasang sewaktu daerah di sebelah utara itu masih sepi.

Padahal, Kelapa Gading mungkin sebuah contoh eksplosi kelas menengah baru: dan kelas menengah berarti mobil, tak peduli mereknya. Walhasil, dari wilayah yang 10 tahun lalu senyap itu kini menderu ratusan kendaraan bermotor — dan lampu lalu lintas itu pun tak memadai lagi.

Kesimpulannya, ada pertumbuhan ekonomi, tapi birokrasi pemerintahan tak cepat menampung pertumbuhan itu. Tak ada peninjauan kembali lampu-lampu lalu lintas. Tak ada penghitungan kembali jumlah polisi yang dilokasikan ke satu tempat, meskipun wilayah berubah. Dan tak seorang pun tahu, kepada siapa harus mengadu.

Bila kita perhatikan lebih jauh, ada problem lain yang tampak: kemacetan dahsyat terjadi karena pada saat sejumlah orang melanggar aturan, orang lain pun akan melanggarnya. Dan bila hal itu terjadi, anarki yang timbul pun akan mengenai hampir siapa saja, dengan derajat berbeda-beda. Tapi kenapa orang tak sadar juga akan hal itu?

Jawabnya, mungkin, karena kita semua terkena sindrom kelangkaan.

Kita sudah terbiasa dengan suplai yang terbatas pada saat jumlah orang bertambah. Hasilnya adalah siapa-cepat-siapa-dapat.

Di perempatan jalan itu juga terjadi semacam paralelisme dua asas. Yang pertama adalah asas siapa-kuat-boleh-ambil-jalan, dan prahoto pun dengan mudah mengintimidasi bemo.

Yang kedua adalah asas biar kecil-asal-banyak: sepeda-sepeda motor itu, dengan persatuan dan kesatuan dan kenekatan, bisa menghentikan arus mobil, apalagi bila itu sedan BMW dan Jaguar. Si pengemudi takut cat sedannya lecet dan penumpangnya takut dikeroyok.

Lalu di mana sang regulator? Siapa? Anggota TNI itu, atau anak muda mencoba swakelola itu?”

“Sik, sik, Paklik. Aku masih ndak mudeng, belum paham benar ini. Apa hubungan antara cerita sampean yang bagus ini dan musibah yang berturut-turut datang? Mbok tulung saya dikasih pencerahan.”

“Mas, saya bukan guru sampean. Saya ndak harus menjelaskan maksud cerita tadi dan hubungannya dengan pertanyaan sampean. Silakan sampean mendengarkan saja, ndak usah tanya. Kalau ndak suka, ya ndak usah didengarkan. Gampang to?”

“Ealah, kok malah nesu, sinis. Lah wong cerita sampean itu ndak jelas je, jadi saya boleh bertanya dong.”

“Halah. Saya males njawab, Mas. Saya mau pergi, soalnya sudah telat.”

“Paklik memangnya mau ke mana sih, kok buru-buru?”

“Les piano.”

Hah? Paklik les piano? Wakakakak …. saya ngakak. Wong ndeso kok les piano. Halah. Sampean ki nggaya tenan, Paklik!

About these ads

§ 14 Responses to Bengawan Pecas Ndahe

  • kenny mengatakan:

    gemesssss deh ama pak lik :D. les piano naek apa tuh pak lik?
    Emang dah repot bener lalu lintas di indo, waktu mudik ke SMG sampe ngeri..jalan kaki takut, naek omprengan lebih ngeri.
    Bisa-bisa Indonesia tercintah masuk rekord dunia gara2 bencana yg beruntun…

    paklik bilang dia juga suka gemes ama bude … :D … paklik itu ke mana-mana naik sepeda onthel kok. lah wong dia itu ndak bisa naik sepedah montor atau nyopir mobil je.

  • tulalit mengatakan:

    oot:
    napa sih mbah koq semua judulnya pake kata pecas dahe?

    btw emang orang desa gak boleh belajar piano yah? kesian donk!

    pecas ndahe itu sekadar tag doang kok … :) …. tapi memang ndak ada yang melarang orang desa les piano kok. saya cuma meledek paklik aja. sebagai orang desa, sampean ndak perlu tersinggung … :)

  • Mbilung mengatakan:

    lho les piano? kemaren itu les balet, kurang sibuk ya paklik itu?

    lah paklik itu hobinya pancen les je. selain les balet, dia dulu juga pernah les njahit, les ngobras, les merias, les matri, les macul. tapi paklik paling seneng kalo les … ehan di malioboro … :P

  • soesheila mengatakan:

    Besok mungkin pa’lik malah nge-les dari semua pertanyaan yang di kasih sama ndoro….

    Mungkin endonesahnya harus di ruwat kali ndoro… biar gak banyak cilokonya….

    iya kali ya perlu diruwat … ruwatan bumi dengan nanggap wayang semalam suntuk. lakone betara kala.

  • Hedi mengatakan:

    Ah urusan langgar melanggar, saya jadi ingat kota Medan. Di sana kalau berhenti karena lampu merah malah dimarahi pengemudi lain…mblayen tenan :(

    *Kursus service piano ah, biar nanti bisa betulin piano paklik :P*

    ongkos serpisnya gratis yo … :D

  • bebek mengatakan:

    ehmmm…… masih untung sing meninggal cuman 5…. hehehe… njawani bangeed… budaya selalu untung orang jawa :p

  • Esha mengatakan:

    Jarene kesemrawutan itu lahan penghasilan baru……..

    maksudnya korupsi gitu yo … :)

  • bangsari mengatakan:

    Ini adalah peringatan dari gusti allah, supaya kita semua lebih serius. ngga cuman ngeblog aja kaya ndoro. :D *kabur*

  • bibi sp mengatakan:

    regulatornya lagi les piano ama paklik, biar perasaannya lebih sensitip :-) .

  • Herman Saksono mengatakan:

    Baca 3 kali aku mulai dong maksud tulisan ini. Bego tenan aku. Kira-kira apa yang dapat dilakukan supaya macetnya ini tidak berlanjut pakde?

    embuh yo. coba kamu pikirkan deh … :D

  • -tikabanget- mengatakan:

    uuuhhh..
    endonesa emang payah..

  • -tikabanget- mengatakan:

    @Momon :
    PIye tho mon, tadi kan dah tak omongin di alun alun tho..
    ck..

    momon ki cen lemot .. :D

  • ndoro kakung [palsu] mengatakan:

    polemik dengan ustadz sedekah udah selesai? kenapa nyerah? banyak yang ngedukung kok!

  • ning mengatakan:

    jawabane paklik ki bikin ak njeking,
    tak dinyana tak dikira, yg kluar kok les piano???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Apa ini?

Saat ini Anda membaca Bengawan Pecas Ndahe pada Ndoro Kakung.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.314 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: