Arsip untuk Maret, 2007

Ancaman Pecas Ndahe

Maret 20, 2007

Modus baru?

Kok berani ya? Bukankah ancaman lewat website [Internet] lebih gampang dilacak ketimbang, misalnya, surat kaleng tradisional [lewat pos biasa, tanpa nama dan alamat]? Bagaimana menurut sampean, Ki Sanak?

Kesasar Pecas Ndahe

Maret 20, 2007

Syahdan, pada suatu malam di sebuah kompleks perumahan …

Simboke : Mas, kayaknya kita mesti belok kanan di dekat masjid itu tadi deh. Sepertinya kita nyasar terlalu jauh. Kalau nggak, kita berhenti dulu saja dan tanya sama bapak-bapak itu deh.

Saya : Ndak usah, Bu. Aku inget kok, rumahnya ya sekitar sini kok, pasti ndak jauh lagi …

Simboke : Tapi kita sudah terlambat tiga puluh menit. Pestanya pasti sudah mulai dari dari. Ayolah, berhenti dulu saja dan bertanya pada seseorang. Paling cuma sebentar. Daripada muter-muter ndak keruan kayak gini …

Saya : Sudahlah, Bu. Ndak usah cerewet. Aku tahu jalan dan mesti gimana. Atau ibu aja deh yang nyopir, aku gantian duduk di situ …

Simboke : Loh piye to, Mas? Aku kan ndak bisa nyopir, tapi aku juga ndak mau kita muter-muter terus sampai malam. Mosok sudah sejam lebih, tapi rumahnya ndak ketemu. Kesel aku …

Saya : Yo wes, kita pulang sajalah. Capek, dari tadi muter-muter terus …

Simboke : Loh, kok malah marah, mutung …

(lebih lanjut…)

Nyepi Pecas Ndahe

Maret 19, 2007

Kalau Nyepi itu hakekat, rasanya perlu lebih sering, tak cukup setahun sekali …

Bagaimana menurut sampean, Ki Sanak?

Nikah Pecas Ndahe

Maret 18, 2007

Ki Sanak, dua “ayam” kawan kita ini — Dinda Jouhana dan Teuku Ismail — akhirnya kesasar di jalan yang benar. Mereka sepakat mau ngandang bersama. Kapan?

Hari : Sabtu
Tanggal : 24 Maret 207
Pukul :11.00 – 18.00 WIB
Tempat : Jalan Setia Luhur Gg. Dahlia No. 3-B, Medan 20123

Kalau rumah sampean kebetulan dekat lokasi mereka, silakan mampir. Kalau rumah sampean jauh seperti saya, marilah kita — dengan tidak mengurangi rasa hormat — berkirim doa saja untuk mereka.

NB: Heran, hari gini masih ada yang berani menikah ya … :D

Fotokopi Pecas Ndahe

Maret 17, 2007

Pada suatu siang, di sebuah perusahaan swasta nasional, di jantung Jakarta. Seorang sekretaris hendak menggandakan selembar dokumen penting perusahaannya. Ia lalu memanggil seorang Opis Boi.

Sekretaris : Mas, tolong difotokopi. Dua ya.

Opis Boi : Iya, Bu!

Lima menit kemudian, Mas Opis Boi itu selesai fotokopi. Ia menghampiri meja sekretaris yang tadi memintanya tolong sambil membawa dua lembar kertas.

Opis Boi : Bu, ini fotokopinya.

Sekretaris : Aslinya mana, Mas?

Opis Boi (bingung) : Aslinya? Anu, Bu … Teghal.

Sekretaris (bingung) : Tegal? Kok bisa?

Opis Boi : Iya, Bu. Mau gimana lagi, di desa ndak ada kerjaan …

Sekretaris : Mas, mas … Saya nggak nanya asal kamu dari mana. Saya nanya surat aslinya tadi mana? Kok ini cuma fotokopinya dua lembar?

Opis Boi : Oooooo … surat aslinya. Masih ketinggalan di mesin fotokopi, Bu.

Sekretaris : Cepet ambil! Dasar orang Tegal ….

Mohon maaf kepada orang Tegal dan sampean yang sudah sering nonton iklan permen itu … :D