Modus baru?
Kok berani ya? Bukankah ancaman lewat website [Internet] lebih gampang dilacak ketimbang, misalnya, surat kaleng tradisional [lewat pos biasa, tanpa nama dan alamat]? Bagaimana menurut sampean, Ki Sanak?
Modus baru?
Kok berani ya? Bukankah ancaman lewat website [Internet] lebih gampang dilacak ketimbang, misalnya, surat kaleng tradisional [lewat pos biasa, tanpa nama dan alamat]? Bagaimana menurut sampean, Ki Sanak?
Syahdan, pada suatu malam di sebuah kompleks perumahan …
Simboke : Mas, kayaknya kita mesti belok kanan di dekat masjid itu tadi deh. Sepertinya kita nyasar terlalu jauh. Kalau nggak, kita berhenti dulu saja dan tanya sama bapak-bapak itu deh.
Saya : Ndak usah, Bu. Aku inget kok, rumahnya ya sekitar sini kok, pasti ndak jauh lagi …
Simboke : Tapi kita sudah terlambat tiga puluh menit. Pestanya pasti sudah mulai dari dari. Ayolah, berhenti dulu saja dan bertanya pada seseorang. Paling cuma sebentar. Daripada muter-muter ndak keruan kayak gini …
Saya : Sudahlah, Bu. Ndak usah cerewet. Aku tahu jalan dan mesti gimana. Atau ibu aja deh yang nyopir, aku gantian duduk di situ …
Simboke : Loh piye to, Mas? Aku kan ndak bisa nyopir, tapi aku juga ndak mau kita muter-muter terus sampai malam. Mosok sudah sejam lebih, tapi rumahnya ndak ketemu. Kesel aku …
Saya : Yo wes, kita pulang sajalah. Capek, dari tadi muter-muter terus …
Simboke : Loh, kok malah marah, mutung …
Ki Sanak, dua “ayam” kawan kita ini — Dinda Jouhana dan Teuku Ismail — akhirnya kesasar di jalan yang benar. Mereka sepakat mau ngandang bersama. Kapan?
Hari : Sabtu
Tanggal : 24 Maret 207
Pukul :11.00 – 18.00 WIB
Tempat : Jalan Setia Luhur Gg. Dahlia No. 3-B, Medan 20123
Kalau rumah sampean kebetulan dekat lokasi mereka, silakan mampir. Kalau rumah sampean jauh seperti saya, marilah kita — dengan tidak mengurangi rasa hormat — berkirim doa saja untuk mereka.
NB: Heran, hari gini masih ada yang berani menikah ya …
Pada suatu siang, di sebuah perusahaan swasta nasional, di jantung Jakarta. Seorang sekretaris hendak menggandakan selembar dokumen penting perusahaannya. Ia lalu memanggil seorang Opis Boi.
Sekretaris : Mas, tolong difotokopi. Dua ya.
Opis Boi : Iya, Bu!
Lima menit kemudian, Mas Opis Boi itu selesai fotokopi. Ia menghampiri meja sekretaris yang tadi memintanya tolong sambil membawa dua lembar kertas.
Opis Boi : Bu, ini fotokopinya.
Sekretaris : Aslinya mana, Mas?
Opis Boi (bingung) : Aslinya? Anu, Bu … Teghal.
Sekretaris (bingung) : Tegal? Kok bisa?
Opis Boi : Iya, Bu. Mau gimana lagi, di desa ndak ada kerjaan …
Sekretaris : Mas, mas … Saya nggak nanya asal kamu dari mana. Saya nanya surat aslinya tadi mana? Kok ini cuma fotokopinya dua lembar?
Opis Boi : Oooooo … surat aslinya. Masih ketinggalan di mesin fotokopi, Bu.
Sekretaris : Cepet ambil! Dasar orang Tegal ….
Mohon maaf kepada orang Tegal dan sampean yang sudah sering nonton iklan permen itu …