Kebaya Pecas Ndahe
April 20, 2007 § 14 Komentar
Ini kerepotan tahunan yang selalu dihadapi orangtua untuk anak-anaknya: mencari tempat penyewaan pakaian tradisional dan salon untuk acara Kartinian di sekolahnya.
Halah, ribet tenan.
Karena, salon-salon biasanya mendadak kebanjiran order. Koleksi terbatas, permintaan melebihi kapasitas. Terpaksa para orangtua pontang-panting berburu busana tradisional. Kerepotan kian bertambah karena bedes-bedes itu kan pasti perlu dandan juga. Yang perempuan harus disanggul pula. Haiyah.
Sampean tentu pernah, atau juga sedang, mengalami kerepotan yang sama. Yang masih lajang mungkin pernah mengalami, dulu. « Read the rest of this entry »
Saritem Pecas Ndahe
April 19, 2007 § 13 Komentar
Siapa yang kehilangan langganan dan tempat nongkrong nih? 😀
Atau, jangan-jangan malah ada yang kehilangan pelanggan? Hayo, ngakuuuuu … 😛
Pertanyaan selanjutnya, kenapa Saritem ditutup, tapi tetangganya yang di Jatinangor itu belum ditutup ya? Padahal kan sama-sama mengandung unsur “kekerasan” … 😀
Pilot Pecas Ndahe
April 19, 2007 § 14 Komentar
Ternyata bukan cuma maskapai dan pilot di Indonesia yang brengsek. Ngawur. Ramutu dan wagu. Lah wong pilot British Airways pun menelantarkan penumpangnya je.
Apa sebabnya? Pilotnya tidur! « Read the rest of this entry »
Phnom-Penh Pecas Ndahe
April 19, 2007 § 12 Komentar
Hari-hari ini, 28 tahun yang silam, adalah masa yang mencemaskan di Kamboja. Pada 17 April 1979, kota Phnom-Penh jatuh. Pasukan berbaju hitam berkalung sarung yang kumuh masuk.
Itulah awal masa yang kemudian tercatat dengan bulu roma berdiri: hampir tumpasnya bangsa Kamboja, di ujung abad ke-20 yang beradab.
Saya mendapatkan cerita ini dari Paklik Isnogud. Ia menuturkannya dengan memesona, tapi terasa betul ada yang mencekam dari kisah itu. Saya sampai meriding saat membayangkannya. « Read the rest of this entry »
Preman Pecas Ndahe
April 18, 2007 § 12 Komentar
Pada suatu malam di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Seorang preman terminal menghampiri pedagang rokok. Rambutnya gondrong. Badannya gede dan kekar, penuh tato. Tapi, jalannya agak doyong, miring ke kiri dan ke kanan, tanda sedikit mabok. Matanya yang merah, setengah merem.
Preman : Bang, rokok sebungkus dong (sambil ngasih duit sepuluh ribu)
Penjual : Koreknya nggak sekalian? (sambil ngasih sebungkus rokok)
Preman : Nggak usah. Ada kembaliannya nggak?
Penjual : Ada nih, seceng (seribu).
Preman : Cup-A-cup dua deh.
Penjual : @#$@%@% (preman kok doyan permen emut???) …




