Suatu siang saat salat Jumat di sebuah masjid di Jakarta. Jemaah duduk bersila, rapi dan tenang, mendengarkan khatib menyampaikan khotbah.
Khatib itu berkata, “Di Indonesia tidak akan terjadi korupsi bila semua orang sudah mengamalkan Pancasila. Di Indonesia tidak akan terjadi ketimpangan sosial bila semua kita sudah mempraktekkan Pancasila. Di Indonesia tidak akan terdapat kesewenang-wenangan bila setiap pemimpin sudah hidup dengan cara Pancasila … “
Saya lihat jemaah mulai mengantuk. Matanya setengah terpejam. Kepalanya tertunduk, badannya membungkuk, makin lama makin berat ke bawah seolah hendak jatuh.
Pancasila. Ah, rasanya sudah lama sekali saya tak mendengarkan kata itu. Ke manakah gerangan engkau pergi selama ini?
Dulu, katanya, Pancasila itu sakti mandraguna. Sekarang siapa yang masih mengenangnya? Jangan-jangan anak-anak sekolah pun tak ada lagi yang mengingatnya?
Eits, sembarangan. Anak-anak sekolah masih meneriakkan isi Pancasila pada setiap upacara Senin pagi. Mereka hapal luar kepala isi Pancasila, tauk!
Oh ya? Maaf, sudah lama saya ndak sekolah dan mengikuti upacara.
Ingatan saya kemudian melayang ke seorang mantan menteri yang mengaku telah memberi upeti kepada para calon presiden. Tapi, mereka yang disebut-sebut menerima upeti itu ramai-ramai membantahnya.
Untung saja Pinokio hanya ada dalam dongeng. Jika roh boneka kayu bikinan Pak Gapeto itu benar-benar ada dan hidup dalam diri semua orang, saya rasa akan banyak yang hidungnya bertambah panjang.
Mungkinkah semua orang seperti yang diharapkan oleh khotib itu dan menjalani kehidupannya berdasarkan Pancasila? Kita harap saja …
Masalahnya, hidup tak hanya terdiri dari berharap. Harapan memang baik, tapi harapan bukanlah asumsi. Kita boleh mencitakan semua orang jadi Pancasilais, tapi kita juga perlu bertanya: dengan adanya Pancasila pun, bisakah kau dan aku dan para anak dan para cucu sekaligus atau pelan-pelan menjadi suci, sepanjang waktu?
Ajaran, doktrin, pegangan moral tak bisa mengenai manusia secara mutlak. Itulah sebabnya agama-agama turun, tapi dosa belum berhenti.
Uaaheeem … Seorang lelaki di baris depan saya terjatuh dalam tidur dan menimpa pundak pria di sebelahnya. Ia kaget, sadar, gelagapan, lalu mengusap liur di mulutnya.
Ah, rupanya azan sudah berkumandang …
[Update: sebuah kenang-kenangan penghormatan menjelang hari kelahiran Pancasila, 1 Juni]

Mei 25, 2007 pukul 2:00 pm
sekali-kali,
PERTAMAX !!!!
Mei 25, 2007 pukul 2:07 pm
sampeyan hafal pancasila, nggak, ndoro? pancasila itu terlalu utopis atau kita memang yang ndableg, ya?
Mei 25, 2007 pukul 2:24 pm
lima sila kayaknya kebanyakan. cukup eka sila: berbaiklah kepada lingkungan sekitar, saya kira cukup.
seribu sila pun, ya akan seperti sekarang ini, kalau tak ada keinginan berbuat baik.
Mei 25, 2007 pukul 3:06 pm
Khatib yang aneh. Kalo ngomongin pancasila ya waktu pelajaran PPKn donk.
Kalo khutbah ya seharusnya kata2nya : “Di Indonesia tidak akan terjadi korupsi bila semua orang sudah mengamalkan Al-Quran dan As-Sunnah.”
Kalo aku disana, abis shalat jumat selesai, aku temuin khatibnya dan tanya bisa gak sih dia nyebutin satu aja butir dalam pancasila. Aku jamin yang baca blog inipun sepertinya tidak ada satupun yang hapal butir2 dalam pancasila.
Kalo isi butir2 Pancasilanya aja gak hafal, gimana mau mengamalkannya? :p
O.ya sebagai tambahan, jumlah butir dalam pancasila ada 45 butir. Tapi gak tau yang terbaru gimana. Itu yang lama.
Mei 25, 2007 pukul 3:09 pm
kita semua merindukan pancasila. tak ada dasar negara sehebat pancasila. tinggal bagaimana mengamalkannya saja.
Mei 25, 2007 pukul 3:12 pm
dilarang menggosipkan khotib!
Mei 25, 2007 pukul 3:53 pm
1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradap.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
*ach masih ingat saya (dibantu pa’ guru google)*
Mei 25, 2007 pukul 4:42 pm
mungkin khotipnya guru PPKn kali
Mei 25, 2007 pukul 4:46 pm
Hati-hati kalau menyebutkan pancasila di depan umum.
Saya pernah keliru waktu jadi inspektur upacara, dengan menyebutkan begini:
satu: pancasila
dua: ketuhanan yang maha esa
tiga: …
empat: ….
lima: …
enam: …., lho kok jadi enam pancasilanya??
Mei 25, 2007 pukul 5:18 pm
posting yang indah…
Mei 25, 2007 pukul 6:24 pm
kecap-kecap air liur, ah rupanya aku jama’ah yg tertidur
Mei 25, 2007 pukul 6:46 pm
@ Jalansutera: Menurut saya sih ga utopis, mas. Cuma memang berat ngejalaninnya. Pancasila kelihatan banget mengejawantahkan ajaran agama (manapun).
Mei 25, 2007 pukul 9:11 pm
Prihatin, Menangis, Sedih.
Kenapa indonesia bisa seperti ini
*sok perhatian*
Tertawa, Ngakak, Lucu.
Kok ya dulu susah ngapalin Pancasila tapi sekarang wah lupa tuh apa lagi butir2nya.
(berharap suatu saat Pancasila sakti lagi, lumayan buat jimat)
Entahlah…………………..
Mei 25, 2007 pukul 9:55 pm
Wajar dong kalau membantah, hanya orang bodo atau orang yang sok pahlawan yang tidak membantah alias mengaku. Masalahnya korupsi memerlukan pembuktian, lebih banyak alat bukti lebih baik.
Kalau ada yang mengaku berarti salah satu alat bukti telah disediakan sendiri oleh yang bersangkutan, sama artinya dengan menyerahkan lehernya sendiri ke-tiang gantungan.
Mei 25, 2007 pukul 9:55 pm
alhamdulillah..
Masih ada yang inget PANCASILA
Mei 25, 2007 pukul 10:16 pm
Nek biyen jamane aku masih sekolah ada pelajaran PMP(pendidikan moral pancasila), sekarang ada opo ndak ya?
Berangkat jum’atan yo termasuk penjiwaan Pancasila kok ya ndoro? Raketang ndengerin khotbah sambil plirak-plirik dan mikirin tulisan buat ndorokakung.com ini.
Mei 26, 2007 pukul 12:00 am
hoalah, ndoro … salah ya, pendidikan kita. ditesnya cuma menghafal pancasila, bukan bagaimana mengamalkannya … hayooo siapa yang ingat ke-56 butir Pancasila? (eh, bener 56, kan?) ;p
Mei 26, 2007 pukul 12:40 am
Kalo dulu wong arab yang jahiliyan bin ndableg makanya sama Gusti dikasih agama, kayanya sekarang endonesa yang sudah butuh agama baru.
Pancasila thok wis gak manjur.
Opo kiyamat sisan!?! modhyarr….
Mei 26, 2007 pukul 11:01 am
pancasila oh pancasila..
di sini aku bertanya2 masihkah ada upacara senin pagi (plus wajib pakai topi dan dasi) indonesia?
ndoro bilang masih ada..ya setidaknya anak2 itu masih ingat lagu kebangsaan kita indonesia raya, paling tidak kalau ada yang dapat emas di pertandingan olahraga, dunia ini mendengarkan our national anthem..
ehem..tapi di sekolah swasta/international yang belakangan menjamur di jakarta itu, masihkah ikut upacara?
Mei 26, 2007 pukul 5:25 pm
Ndoro, ada gitu pada saat khutbah sholat Jum’at, sang khatib menganjurkan mengamalkan Pancasila?
Saya ragu (sebab, bila ada khatib menganjurkan seperti itu, keimanannya dipertanyakan).
Mei 27, 2007 pukul 4:48 am
seorang kawan saya yang sekarang SMP tidak hapal pancasila
lagu Indonesia Raya, sekarang juga banyak yang tidak hapal.
tapi percuma juga kalau hapal tapi tidak dihayati.
seperti kasus saya misalnya -hehehe-
Mei 28, 2007 pukul 11:55 am
Butir pancasila ada 36 tauk! kalau belum dikorup.
Mei 29, 2007 pukul 7:21 am
he?
pancasila itu masih ada tho?
dah lama ndak ikut upacara..
*inget pancasila gara2 cm upacara..*
Mei 31, 2007 pukul 12:53 pm
hmm aneh aja baca komennya mathematics, maksudnya tuh khotib imannya patut d pertanyakan tuh dari segi mananya sih???