Gelombang Pecas Ndahe

Juni 22nd, 2007 § 52 Komentar

Perempuan berhubungan seks karena cinta dan komitmen — atau imbalan. Laki-laki melakukannya bila ada kesempatan.

Tapi, kami sudah tak sempat memikirkan lagi perbedaan itu ketika sama-sama berguling di atas ranjang empuk berlapis sprei lembut. Napasnya memburu. Debar jantungnya bertalu-talu.

Saya bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang menindih, tangannya yang menyusur ke bawah, dan gesekan halus pinggulnya.

Dalam sekejap, kami menyatu dalam satu gerak, saling mengisi relung-relung kosong. Kami menari bersama. Melangkah berbarengan. Inci demi inci, detail demi detail.

Saya seperti sampan kecil di tengah samudera. Dia gelombang yang menghantam dari kiri dan kanan. Dari atas dan bawah. Kadang naik, kadang menukik. Saya terombang-ambing dalam sensasi yang mendebarkan. Lebur dalam deburnya.

Dia kuda liar yang lepas di hamparan savana. Surainya melambai membelai angin. Ekornya mengelus rumput. Kami berpacu melawan kabut. Basah dalam peluh.

Sampai akhirnya badai itu datang, meledak indah begitu kencang. Kami terlontar menembus awan. Lalu terhempas. Pasrah.

Selanjutnya hening. Ning.

Malam itu, tujuh tahun yang lalu, saya baru tahu betapa dahsyatnya magma seorang perempuan yang bertahun-tahun terbenam dalam kesunyian yang panjang.

Paginya, saya bangun ketika dia masih meringkuk dalam selimut. Dia terlihat lelah. Saya kelaparan. Tapi, mau makan apa di tempat yang asing begini? Mau membangunkan dia kok ndak tega. Diam saja kok perut keroncongan.

Saya bangun dan mencari-cari dapur. Ah, itu dia di sebelah kamar mandi. Dapurnya bergaya seperti bar. Meski tak terlalu besar, kira-kira 3×3 meter, tapi tertata rapi dan bersih.

Di bagian belakangnya ada sebuah lemari kayu menempel di dinding warna kuning gading. Di sebelahnya ada toaster, lemari es tiga pintu, dan kompor gas Ariston.

Di depan kompor inilah, dibatasi tembok yang berfungsi sebagai meja, ada tiga bangku bulat berkaki besi agak tinggi. Orang yang mau makan tak perlu ke mana-mana, cukup duduk di sini.

Lemari kayu itu berisi aneka bumbu, pisau, sendok, dan garpu. Saya buka lemari es. Aha, ada beberapa enam butir telor, keju, beberapa batang sosis, beberapa lembar daging sapi asap, dan beberapa kaleng minuman. Saya lihat di atas meja makan ada satu plastik roti tawar. Lumayan buat sarapan.

Tapi, sarapan apa? Ah, ndak usah yang rumit-rumit. Telor dan daging asap bisa jadi omelet. Roti-roti itu bisa dipanggang. Sosis tinggal digoreng. Kurang apa lagi?

Dalam sekejap, saya menyelesaikan sebuah maha karya ala chef hotel berbintang pagi itu. Diajeng bangun pas saya menuangkan orange juice ke dalam gelas. Tubuhnya dibungkus kaos singlet dan celana pendek putih. Serasi sekali. Ia mengucek-ucek mata seolah tak percaya.

“Nggak salah nih? Mas masak? Wah … hebat,” katanya sambil bertepuk tangan.

“Ah, biasa aja, Jeng,” jawab saya.

Dia langsung memeluk saya dari belakang dan menggigit kuping. “Adow!” saya mengaduh.

“Belajar masak dari mana, Mas?” ia keheranan.

“Kehidupan,” jawab saya singkat.

Halah. Dia ngakak.

Rupanya dia juga kelaparan setelah semalaman bertarung dalam kenikmatan. Ia langsung memenuhi piringnya dengan omelet daging asap, sosis, dan setangkap roti panggang isi keju buatan saya.

Dilahapnya semua makanan. Sesuap demi sesuap. Sesendok demi sesendok. Lama-lama habis juga. Wah, cah wedok kok rakus. Saya cuma kebagian sedikit. Nasib.

Tapi, bukan itu yang penting. Ia melahap sarapannya sambil menggoda. Matanya menatap saya terus, sesekali mengerling, dan kakinya tak henti menyusuri paha saya. Senyumnya nakal. Saya mendelik.

“Kalau dari dulu aku tahu kamu pinter masak, mestinya aku ndak perlu susah-susah nyari warung tiap pagi. Mending kamu tinggal di sini aja sekalian, Mas.”

“Huuu … maumu. Enak di kamu, ndak enak di aku, Jeng.”

“Tapi, Mas, kamu jadi mengingatkanku pada almarhum Papi. Dia juga senang memasak. Papi juga yang ngajarin Mami jadi pinter masak seperti sekarang,” katanya ringan.

“I see … Kamu sendiri pasti ndak suka masak ya, Jeng?”

“Ndak perlu kujawab kan, Mas,” jawabnya sambil nyengir.

“Sudah saya duga.”

Lagi-lagi dia tergelak. “Eh, Mas tahu nggak?” tanyanya tiba-tiba.

“Apa?”

“You’re great last night. I should thank you for doing that.”

Saya tersipu. “Terima kasih, Jeng. Kamu juga … luar biasa. Belajar dari mana?”

“Kehidupan.”

“Kehidupan gundulmu, Jeng …” saya misuh sambil melempar serbet ke mukanya.

Dia ngakak sampai keluar air mata.

Mendadak handphone saya berbunyi. Home calling.

Modyar aku …

Tagged: , , ,

§ 52 Responses to Gelombang Pecas Ndahe

  • Aris mengatakan:

    rruar biasa ndoro …. terus sekarang apa lagi mikir2 nunggu kesempatan kedua? emangnya mbakyu gak curiga? okay deh dilanjoot ndoro ceritanya

  • kw mengatakan:

    kenapa ndoro tujuh tahun lalu kok tak ada komunikasi? ketangkep bugilkah? oh ya apa yang menyebabkan ndoro dan diajeng bertemu lagi?
    :)

  • pembaca mengatakan:

    ndak merasa bersalah sama yang nungguin di rumah tho, Ndoro???

  • didi mengatakan:

    ini musti akhirnya kita2 disuruh mbeli.. semacam sample gitu. kata pengantar oleh pakde ndobos, penerbit gombal jaya. ayo! mulai nabung!

  • guntur mengatakan:

    home calling? modyaaaar kowe ndorooo….

  • pitik mengatakan:

    wakss…hebat ndoro…!!

  • ngatini mengatakan:

    kok jadi ilfil ya baca postingan ndoro belakangan ini? awalnya sih seru, tapi lama-lama kok jadi cerita ‘sedih’ neeeh?? kumaha??

  • r mengatakan:

    kenapa si Diajeng ndoro? kenapa maminya sedih gitu? kok ndoro malah asik flash back… penasaran ini….
    waduh, saya lha kok malah jadi mencandu sketsanya ndoro…

  • mei mengatakan:

    hihi…harusnya sebagai penutup sebelum dakuw pulkam, cerita ini sudah harus aku ketahui endingnya..ayoo kang, ntar sore posting lanjutan ceritanya ya..ya..ya..ya..

  • gita mengatakan:

    wuah ndoro kaya papi :D

  • upikabu mengatakan:

    ah ndoro kemarin hatiku tercabik cabik, hari ini luluh lantak..indah sekali adegan percintaannya, gak ono saru sarune blas…beautiful making love scene, i love it very much, jadi pengen bercinta sama ndoro, benarkah seindah itu ? hahahahaha

  • venus mengatakan:

    …dia kuda liar yang lepas…ekornya mengelus rumput…

    lhoh, manusia apa kuda sih, sebenernya? wakakakaka…

  • maruria mengatakan:

    oooohhh…jadi dia itu gelombang to, ndoro??? Baru tau saya. Gelombang apa kuda sih..??? Kekekeekeke…

  • tuginem ndomble mengatakan:

    Ndoro make me turn on siang siang…slurpppp

  • yati mengatakan:

    aduh, udah mulae masuk cerita dewasa…

  • dik mengatakan:

    ndoro putri lagi mens ya?

  • andrias ekoyuono mengatakan:

    kapan bukune terbit kih ?
    kita dibikin penasaran ama cerbungnya, trus ntar tiba2
    “bila anda ingin tahu kelanjutannya, beli novel karya ndoro kakung ! ”
    modyar ra….

  • mayssari mengatakan:

    no comment deh………

  • Luthfi mengatakan:

    wah … tll byk majas yg dipake

  • didats mengatakan:

    lanjooot joragaaan…. :D

  • ~KopDang~ mengatakan:

    baru nyadar kalau tulisan ndoro itu maknyusss…

  • ayamjagobanget mengatakan:

    wiihhh……

    bakalan jadi langganan ki…

  • fahmi! mengatakan:

    lanjut ndorooo…!

  • Anang mengatakan:

    saya pembaca setia!

  • deni a mengatakan:

    saya jadi pengen pecas endahe ndoro..

  • adi mengatakan:

    Cerita pas lagi “bercinta” bagus banget, penuh sentuhan seni dan gak vulgar. MUANTAB….. !!!
    Ditunggu Ndoro, To Be Continued-nya..

  • Ardana-bali mengatakan:

    “Kalau dari dulu aku tahu kamu pinter masak, mestinya aku ndak perlu susah-susah nyari warung tiap pagi.Diajeng suka ke warung?????????? katanya high class ( emangnya high class ga boleh ke warung, he..he…rodo aneh gitu, maaf ndoro lanjut…….

  • Hedi mengatakan:

    Laki-laki melakukan seks bila ada kesempatan?

    Ada juga karena imbalan, contohnya ya gigolo itu :P

  • awi mengatakan:

    Ndoro, ceritanya makin seru, keren bo!

  • siGung mengatakan:

    Rupanya leh sowan nang Mak Erot ada kasilnya…..grengg terus ya ndoro…..

  • kardjo mengatakan:

    … Laki-laki melakukannya bila ada kesempatan…

    Kurang tuh tag nya.. harusnya gini:
    “Laki-laki melakukannya bila ada kesempatan dan kemampuan

    ps:
    (mampu ngerayu, mampu ngambil hati, mampu mbayari lipstick, mampu greng)… gituuuuuu

  • ahmad simanjuntak mengatakan:

    Ya, Seperti bokap

  • kw mengatakan:

    tumben ni, jam 5 30 belum update….
    lagi diedit ya?

  • tata mengatakan:

    Waduh ndorokakung ada sekuelnya gk nih ?? hahahaha *kabur*

  • merahitam mengatakan:

    Kok belum ada lanjutannya lagi?

    *gak sabar*

  • dnial mengatakan:

    Kayak mbaca karyanya Ernest Hemmingway, penggambaran sesuatu yang vulgar dengan elegan.
    Keren…..

    Lalu, gimana alasannya ke orang rumah?
    Habis main golf? habis entertain “klien”? Atau jurnalisme investigatif terhadap lekuk tubuh wanita?
    Hehehehe…..

  • unai mengatakan:

    #
    venus June 22nd, 2007 12:33 pm

    …dia kuda liar yang lepas…ekornya mengelus rumput…

    lhoh, manusia apa kuda sih, sebenernya? wakakakaka…

    *Hahahhaha ikut ketawa ngakak kenceng banget

  • -tikabanget- mengatakan:

    ahhhhhhhh…
    sayah penasaraaaaaaannn…!!!!!

  • tuginem ndomble mengatakan:

    Ndoro kalo sabtu off ya?

  • pailo mengatakan:

    walah, tiwas tak belain sabtu bengi online, tiba’e durung update.

  • atta mengatakan:

    eh udah siap-siap latihan tanda tangan di launching buku pertama belum? heheheh
    terimakasih info Zoe nya ya ;)

  • copet ganteng mengatakan:

    lha endi terusane??wes ditunggu 2 hri 2 malem je..
    wes mucuk ki,ga taham juragan..
    apa bener2 mau dilanjutin pake bukunya??saya yg pertama beli ndoro…
    dilanjut yo bos…

  • sapto mengatakan:

    ndoro lagi buat cerita di real dulu,
    nanti pasti ceritanya udah bkn flashback 7 thn yl
    tp crita pas weekend ini yah ndoro :p

  • wku mengatakan:

    numpak jaran opo lagi piye toh?? tiwas kringeten…

  • tuginem ndomble mengatakan:

    Ealahh…durung metu maning ta?piye to ndoro?penonton menantiiii

  • kw mengatakan:

    iya ni… kasian pembaca, setia merefresh!

  • upikabu mengatakan:

    ndoro ngapusi…katanya senen. Manna..ini udah senen malem ndoro, kok belum update juga…apa kehabisan supply heineken kaleng dingin en sebungkus marlboro light ndoro ??? tak kirimi wis :)

  • tovorinok mengatakan:

    Hello

    Great book. I just want to say what a fantastic thing you are doing! Good luck!

    G’night

  • zhawelase mengatakan:

    3gp nee 3gp ne….,

  • pecas juga mengatakan:

    walah….ndoro napa tasik woten setunggal malih..? kulo nggih kepingin kalih kuda riiiiaaar

  • RiyanaSri mengatakan:

    sampuuun ndoro,,,
    weleh,,,tulisane,,,manthab tenan,,,
    monggo,,,lanjutane ndoro?!

  • sugeng mengatakan:

    Mampir doro ke blogger senior moga2 bisa ikutin ndoro

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Gelombang Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 316 pengikut lainnya.