Sopir Pecas Ndahe
Tak di semua tempat di Indonesia terjadi korupsi, kebejatan, dan kelalaian. Ada saja di sana-sini sekerat kebijaksanaan.
Syahdan seorang sopir bus menuturkan kisah tentang kebijaksanaan itu.
Pada suatu malam sopir bus antarkota itu membawa kendaraannya menyeberangi sebuah sungai. Jembatan rusak dan semua kendaraan harus mempergunakan jembatan darurat.
Sebenarnya lumrah saja. Tapi beberapa detik di malam yang hujan dan senyap itu sang sopir ragu kuatkah jembatan ini?
Memang aneh. Entah sudah berapa kali ia melewati jembatan darurat sepanjang riwayatnya tapi baru kali itu ia mendadak ragu.
Tapi cuma beberapa detik. Ia melihat dua lampu dipasang di kedua ujung. Tiga orang di antaranya berbaju hansip dengan mantel murah berdiri di tepi jembatan. Sang sopir segera menginjak kopling dan memindahkan persenelin ke gigi satu.
Bus mendaki. Di bawah roda jembatan pun bising berkerotak … 20 meter kemudian lampau sudah. Tak ada kecelakaan. Seperti biasa.
Dan sopir bis itu kemudian bercerita: Tiap hari di setiap jalan saya berjudi dengan nasib. Tapi di jembatan itu saya sadar apa yang selama ini tak saya sadari akhirnya kita harus percaya ada sejumlah orang yang telah bekerja sebaik-baiknya hingga kita terhindar dari kecelakaan.
“Kita masih bisa percaya kepada orang lain bukan?” ia bertanya.
Agaknya memang demikian itulah kebijaksanaan yang ia sisipkan. Ternyata kita masih bisa percaya kepada orang lain. Setidaknya kepada para buruh di jembatan itu, setidaknya kepada para hansip yang tetap berjaga di malam basah itu, meskipun kita tak tahu pasti cukupkah mereka makan sendiri senja tadi.
Korupsi dan ketidak-becusan dan kelalaian dan sikap seenaknya memang berkecamuk, tapi kiranya di suatu tempat di suatu bagian, kita masih punya harapan kita masih bisa tenang dengan sekitar kita.
Sampean sopir? Boleh sopir bus, truk, taksi, angkutan kota, sopir pribadi, atau sopir bajaj. Punya cerita yang heroik? Silakan ikut lomba yang diadakan oleh sebuah produsen ban.

Juni 29, 2007 pukul 3:33 pm
hmm nice ndoro
Juni 29, 2007 pukul 4:24 pm
Kita memang hampir tak lagi punya kepercayaan dan belas kasihan kepada orang lain. Ada peminta-minta di lampu merah, alih-alih ikhlas memberi, kita malah curiga. Gek-gek rampok.
Juni 29, 2007 pukul 5:42 pm
masih banyak kali orang yang bisa dipercaya. teman-teman, kerabat, para blogger yang selalu berbagi cerita itu. kecuali politisi, presiden dan anak buahnya tepatnya.
Juni 29, 2007 pukul 9:29 pm
Supir yang luar biasa, Alhamdulillah saya pun sering menemukan orang seperti itu, dan saya juga banyak belajar dari mereka, walaupun hanya seorang penjajah nasi uduk keliling.
Juni 29, 2007 pukul 9:38 pm
matur nuwun ndoro untuk sharingnya
Juni 30, 2007 pukul 7:48 am
Lhah..tapi itu kan kalau kita di Endonesah , ndoro ?
Lhah.. sampeyan dan saya kan enggak tinggal disana , wong ini negoro anyar je’..
Juni 30, 2007 pukul 9:25 am
saya menghargai orang miskin yang jujur dari pada pejabat yg tidak jujur (korup) kalau ndoro ?…..
Juni 30, 2007 pukul 10:25 am
wong sugih kuwi hawane curiga wae wedi bondone di rampok, mending kita ya ndoro… ora sugih tapi sugih kerabat, lan ora nate curiga karo sopo wae iyo too…
Juni 30, 2007 pukul 10:33 am
Lepas apakah mereka (para pekerja rendahan) itu punya kebajikan/kebijaksanaan nurani, yang jelas mereka punya loyalitas (pada profesi).
Seberapa pun kerasnya kerja mereka dan minimnya upah mereka (di kompleks perumahanku ada hansip yang cuma dibayar 150 ribu/bulan!!!!) tetap aja mereka kerja dengan baik.
Mirror…mirror
Juni 30, 2007 pukul 10:59 am
lha yang bisa korupsi kan cuma yang ngadepin duwit banyak, pakdhe..
Juni 30, 2007 pukul 1:19 pm
Juni 30, 2007 pukul 2:32 pm
yang patriotik ada ndak ya?
Juni 30, 2007 pukul 3:12 pm
jangan cuma satu sopirnya, kita masih kurang kan…
Juni 30, 2007 pukul 3:21 pm
di negeri mana ndoro yg banyak korupsinya?
di sini gag ada kok..
*clingak clinguk*
Juni 30, 2007 pukul 7:29 pm
saya sopir, ndoro..
secara heroik saya membongkar konspirasi antara tuan majikan saya dan resepsionis di kantor tuan kepada nyonya..
hasilnya?
saya dipecat ndoro..?
btw, ndoro mbutuh supir ganteng?
Juni 30, 2007 pukul 7:41 pm
Nice story…
Juni 30, 2007 pukul 8:55 pm
wah… klo bukan sopir gak boleh ikut lomba ya??
Juli 1, 2007 pukul 8:12 am
sugeng enjang ndoro… lam kenal..
Juli 1, 2007 pukul 2:09 pm
Matur nuwun.. Saya adalah project officer program CSR Goodyear Supir Heroik 2007..Kalo mas ato mbak punya cerita tentang seorang supir yang pernah ngelakuin tindakan heroik. Saya mewakili PT Goodyear Indonesia Tbk sangat berterimakasih.. Saya bisa dihubungi ke 021-68307314 (Flexi bisa sms) ato email ke tito@agrakom.com (agrakom konsultan humas yang ditunjuk sebagai panitia
Regards
Tito Edy Prioandono
Juli 1, 2007 pukul 7:48 pm
(*yuk rame-rame pindah profesi jadi supir , biar dapat medali dari pabrik ban*)
Juli 2, 2007 pukul 12:38 am
Sekalian tuh di masukin ke program Patriot punya Transtv