Arsip untuk Juni, 2007

Tangis Pecas Ndahe

Juni 27, 2007

Mas, Mas, kenapa sih sampean nangis? Wong lanang kok nangisan. Wis gede maneh. Mbok dadi wong lanang ki ojok gembeng, cengeng, dikit-dikit nangis.

Terharu tauuu …

Terharu? Halah. Kok baru sekarang? Memangnya selama ini sampean ke mana saja?

Sibuk dong, banyak kerjaan. Emangnya pengangguran seperti sampean. (lebih lanjut…)

Kantor Pecas Ndahe

Juni 26, 2007

Hobi kok pindah kantor. Dulu ke Yogyakarta, sekarang ke Surabaya. Apa Istana Negara kantor yang lama sudah ndak nyaman lagi? Kurang gede? Panas? Bosen?

Jangan-jangan cuma mau tebar pesona … :D

Batu Pecas Ndahe

Juni 25, 2007

Masa depan merupakan tanah liat. Bisa dibentuk dari hari ke hari. Masa lalu adalah batu padas. Tak bisa diapa-apakan – Sidney Sheldon

“Halo, Yah. Ayah di mana?” terdengar suara anak saya di ujung telepon.”

Deg, hati saya berdebar.

“Eng, eh … Ayah di kantor. Ada apa, Nak?”

“Pulangnya masih lama nggak? Nanti sore kita jadi berenang, kan?”

“Jadi dong, tunggu ya. Sebentar lagi ayah pulang.”

“Ya udah. Cepetan ya. Daag … Ayah.”

“Daag…”

Saya menutup telepon. Ugh, lega rasanya. Saya kira ibunya yang menelepon. Kalau dia yang menelepon, pasti lebih susah menjawabnya. (lebih lanjut…)

Gelombang Pecas Ndahe

Juni 22, 2007

Perempuan berhubungan seks karena cinta dan komitmen — atau imbalan. Laki-laki melakukannya bila ada kesempatan.

Tapi, kami sudah tak sempat memikirkan lagi perbedaan itu ketika sama-sama berguling di atas ranjang empuk berlapis sprei lembut. Napasnya memburu. Debar jantungnya bertalu-talu.

Saya bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang menindih, tangannya yang menyusur ke bawah, dan gesekan halus pinggulnya.

Dalam sekejap, kami menyatu dalam satu gerak, saling mengisi relung-relung kosong. Kami menari bersama. Melangkah berbarengan. Inci demi inci, detail demi detail.

Saya seperti sampan kecil di tengah samudera. Dia gelombang yang menghantam dari kiri dan kanan. Dari atas dan bawah. Kadang naik, kadang menukik. Saya terombang-ambing dalam sensasi yang mendebarkan. Lebur dalam deburnya. (lebih lanjut…)

Hujan Pecas Ndahe

Juni 21, 2007

Matahari kian tinggi. Sinarnya menyilaukan mata. Sudah lebih dari sepekan Jakarta tak disiram hujan. Kemarau mungkin memenuhi janjinya mulai bulan ini.

Saya berkemas dalam gegas. Setumpuk pekerjaan pasti sudah menunggu di pabrik.

Sebelum berangkat, saya menaruh satu set mobil-mobilan Hot Wheel dan satu boneka Barbie yang saya beli kemarin di atas meja belajar anak-anak.

Tadi malam saya lupa memberi tahu mereka. Lagi pula percuma membangunkan mereka hanya untuk sesuatu yang bisa ditunda itu. Mereka pasti kaget jika sepulang sekolah nanti melihat kado itu di meja belajar masing-masing karena tak ada yang ulang tahun hari ini.

Saya tersenyum memikirkan kejutan yang bakal mereka temukan itu. Sudah sejak beberapa hari yang lalu saya memang berniat membelikan mereka sesuatu. Kenaikan kelas memang masih sebulan lagi, tapi tak ada salahnya juga memberi hadiah sekarang. Mereka toh pasti naik kelas. Seandainya nanti setelah menerima rapor mereka minta kado lagi, yah tinggal nyari lagi. Apa susahnya? (lebih lanjut…)