Daendels Pecas Ndahe

By Ndoro Kakung

Pernah dengar Jalan Raya Daendels? Aha, yang rajin buka buku sejarah pasti ingat.

Ya, itu sebuah poros jalan yang dibangun pada masa Hindia Belanda, membentang dari Anyer sampai Panarukan. Pembangunan jalan ini diwarnai oleh peluh dan darah pribumi. Pramudya Ananta Toer menuliskan sebuah novel yang bagus tentang jalan itu, judulnya Jalan Raya Pos.

Tapi, suka ndak suka, jalan raya ini telah menjadi urat nadi Pulau Jawa, membuat roda ekonomi bergulir lancar. Setiap Lebaran, jalan itu bahkan selalu padat oleh pemudik.

Komunitas :wikimu mengajak teman-teman semua, baik itu penulis, pewarta, blogger maupun fotografer meniti tali sejarah masa lalu dengan menyusuri Jalan Raya Pos dalam acara Rally de Bloggers Postweg.

Pesta para pecinta sejarah, fotografi, dan tulis-menulis ini akan terbagi dalam 4 tahap rute dalam waktu yang berbeda:

# Anyer - Jakarta

# Jakarta - Bandung

# Bandung - Cirebon - Semarang

# Semarang - Surabaya - Panarukan

Tahap pertama, kita akan menyusuri Bandung - Semarang terlebih dulu, pada 17-19 Agustus 2007 mendatang. Ini pas banget dengan libur 3 hari dan tak akan menganggu waktu kerja atau kuliah (bagi yang masih mahasiswa/wi).

Pada tahap pertama, beginilah rute dan daftar lokasi yang akan dikunjung:

Berangkat dari Jakarta menggunakan bus AC, langsung masuk jalan tol Cipularang menuju Bandung. Di Bandung, kita akan tengok-tengok sebentar jejak bangunan kolonial Belanda: gedung Asia Afrika, arsitektur sepanjang Jalan Braga. Tapi, kita tidak dapat mampir ke Gedung Sate karena sedang ada peringatan 17 Agustus.

Dari Bandung langsung ke Cadas Pangeran, Sumedang. Di sini kita akan melihat sebentar patung Pangeran Kornel, bupati Sumedang Larang yang mengulurkan tangan kiri pada orang Belanda. Lalu, kita mampir sebentar ke makam Cut Nyak Dien, pejuang perempuan Aceh.

Perjalanan berlanjut ke Cirebon. Di sini kita akan mendengar cerita nilai-nilai bhinneka tunggal ika sejak masa Kraton Kasepuhan Cirebon. Kalau masih ada sisa waktu, kita akan samperin Batik Trusmi yang terkenal itu.

Setelah Cirebon, bus akan berhenti di Pekalongan. Di sini kita dengerin cerita tentang batik dari pemandu Museum Batik. Museum ini masih gress, baru tahun ini diresmikan oleh Presiden SBY. O ya, yang punya hasrat belanja batik Pekalongan, akan ada waktu ke grosir batik. Murah meriah : daster 20 ribu, kemeja 40 ribu….ups, kok malah buka dasaran.

Dari Pekalongan kita meluncur ke Semarang. Di kota lumpia ini, bangunan tua peninggalan Hindia Belanda menanti untuk kita tengok. Mulai dari Lawang Sewu, Gereja Blenduk, Pasar Johar, dll. Kalau masih ada sisa waktu, kita akan kunjungi juga Klenteng Sam Po Kong yang megah.

Perjalanan tahap ini kita akhiri dengan naik Kereta Uap dari jaman Hindia Belanda, di Ambarawa. Kereta uap ini selain kuno, jalurnya pun istimewa, yakni menanjak ke atas bukit. Agar kereta kuat menanjak, Meneer-meneer Belanda membuat gerigi di tengah rel. Tut … tut … tut …siapa hendak turut …

Selama perjalanan, kita juga tidak akan melewatkan aneka makanan khas setiap daerah, mulai dari nasi timbel, nasi jamblang, nasi megono, dan seterusnya. Di Semarang, kita akan mengudap makanan laut di pinggir pantai yang romantik.

Untuk sementara sampai di sini dulu tahap pertama perjalanan kita. Petualangan berikutnya akan kita dapat dari kota-kota lain pada tahap berikutnya.

Lalu bagaimana mengikuti acara Rally de Bloggers Postweg (Reli Blogger di Jalan Pos) yang pertama ini?

Ini kira-kira yang perlu disiapkan:

Agar nyaman di jalan, maka jumlah peserta dibatasi sebanyak 40 orang. Setiap peserta mendaftar menjadi anggota/member di situs :wikimu. Karena ini relinya para penulis atau fotografer, setiap peserta diminta membuat minimal satu (1) artikel atau minimal 3 buah foto yang nantinya akan ditayangkan di situs :wikimu.

Cara mendaftar, kirim nama dan nomer ponsel via email ke jalanpos@wikimu.com.

Setelah dihitung-hitung dengan subsidi, maka ketemu angka untuk biaya untuk perjalanan ini adalah Rp 980.000/orang.

Harga itu sudah termasuk akomodasi, makan, transportasi, dll selama 3 hari 2 malam. Biaya ditransfer ke rek BCA (no rekening akan diberitahukan setelah mendaftar). Pembayaran dapat dicicil dua (2) kali, bulan Juli dan Agustus, dan sudah lunas selambat-lambatnya 10 hari sebelum hari pelaksanaan.

Pendaftaran terakhir adalah 7 Agustus 2007. Info lebih jauh bisa ditanyakan via email jalanpos@wikimu.com (Dina) atau via telepon 021- 5260758 atau 0818 06921504 (Bayu).

Ayo Ki sanak, buruan daftar. Saya tunggu sampean semua di sana …

26 Tanggapan ke “Daendels Pecas Ndahe”

  1. Anang Berkata:

    hmmm.. menarik sepertinya

  2. Abi_ha_ha Berkata:

    Silakan menikmati Ambarawa kampung saya…
    Kereta api kunonya tidak sekedar mananjak, bisa membawa kita sebentar melupakan Endonesa kisruh dan melihat Indonesia seperti di lagu-lagunya Ismail Marzuki.
    http://www.internationalsteam.co.uk/ambarawa/action.htm

  3. peyek Berkata:

    Daendels apa deandels?

    ah ndoro…jadi buka buku sejarah lagi!

  4. andrias ekoyuono Berkata:

    asiiikkk…aku kok kepengen ikut ya, tapi itung2 dulu ah budgetnya

  5. galih Berkata:

    kayaknya seru tuh mbah kakung….

  6. pOe Berkata:

    wiiii…..sayang saya ndak domisili di jakarta…

  7. pinkina Berkata:

    kl nyampek pekalongan nitip daster batik yg 20 ribuan itu yha Ndoro :D

  8. tuginem ndomble Berkata:

    Ndoro,kalo yang gak photographer ama penulis gak boleh ikut yak?

  9. tukang ketik Berkata:

    Rp 980.000/orang ??

    murah banget!!
    kok saya member wikimu ga ngeh yah sama acara ini, hehehe…

  10. firman firdaus Berkata:

    mahal ya?

  11. yati Berkata:

    pengeeeennn…..! :( masih harus disesuaikan sama jadwal cuti…
    ga sampe seminggu kan ndoro?

  12. ~Mas KopDang~ Berkata:

    ikut..boleh sekalian pake baju gaya londo dan topi londo?

  13. tito Berkata:

    nah supaya bisa ikut acara dengan gratis, harus mau ikut adegan reka ulang, anda jadi pekerja paksa anyer panarukan itu.

  14. mbahatemo Berkata:

    nek tanam pohon aja gimana, mas ndoro?

  15. -tikabanget- Berkata:

    980 rebuuuu???!!!!!

  16. pitik asli Berkata:

    setuju karo tito..aku dadi mandor/centeng-e..

  17. zam Berkata:

    konon Herman Willem Daendel membuta jalan lagi, yang menguhubungkan Purworejo hingga Cilacap, di pantai selatan Jawa loh pakde..

    saya pernah menyusurinya dan hasilnya, KEPARAT!

    itu jalan lurus thok gak ada belok-beloknya. bikin pegel, dan jalannya bergeronjal.. pokoke kalo cowok bisa langsung steril setelah lewat ntu jalan..

    jalannya merupakan jalan alternatif sehingga ndak banyak kendaraan lewat situ. 1 km dari jalan itu, kita bisa menuju pantai loh..

    http://blog.matriphe.com/index.php/2006/11/20/petualangan-purbalingga/

  18. ipang Berkata:

    saya tinggal deket anyer tepatnya cilegon, tapi baru ngeh kalo ujungnya jalan di jawa bag barat yang dibuat oleh daendels.

  19. atta Berkata:

    wah wis dadi to?
    baguuuuusss ;)

  20. Echi Berkata:

    Terserah kamu mengartikannya. Salam kenal

  21. sapto Berkata:

    mana oleh2nya ndoro,
    sampeyan habis plesir ke jogja kan

  22. AMBS Berkata:

    Wah, akhirnya terlaksana juga ya ndoro rencana napak tilas bagi para blogger tersebut…he…he.
    Saya masih inget, rencana tersebut mengemuka pada saat buka puasa bersama (bulan puasa lalu) di sebuah kafe di daerah Menteng (ah saya lupa lagi namanya). Ketika itu ada pak Adrianto (Intimedia, wikumu), pak Eka Ginting (Indo dot kom), ndoro, Deriz (Bisnis Indonesia), saya dan seorang lagi (orang Gajah Tunggal, kalo tidak salah).
    Setelah ngobrolin soal Web 2.0, pembicaraan nyerempet ke soal napak tilas. Sip. Good luck!

  23. NuDe Berkata:

    Tak ngadang Mbahrowo wae ndoro, sing paling cedhek mbek jogja

  24. venus Berkata:

    cuma bisa nyengir…
    saya nunggu laporan perjalanannya aja deh :D

  25. rd Limosin Berkata:

    Daendels?? pernah denger di buku sejarah SMP

  26. mas adis Berkata:

    Wah cuman sampai panarukan ya? nggak sampai ambon donkz…

Tinggalkan Balasan