Arsip untuk Juli, 2007

PSSI Pecas Ndahe

Juli 18, 2007

Petang nanti, hanya beberapa jam lagi, sebuah tribute mungkin akan ditulis oleh para penyair, pujangga, wartawan, juga para pengeblog untuk tim sepak bola nasional Indonesia (PSSI).

Pasukan yang dilatih Ivan Kolev itu akan menghadapi kesebelasan Korea Selatan di ajang Piala Asia 2007. Kalau menang, berarti ini untuk pertama kalinya tim Merah-Putih lolos ke perempat final. Sebuah rekor baru. Sejarah. Jika kalah, maaf saudara-saudara, kita masuk kotak.

Tapi, rasanya tak penting benar kita menang atau kalah. Hari-hari ini kita telah melihat bagaimana bergeloranya semangat dan manisnya sikap para suporter, fans, pendukung Ponaryo Astaman dan kawan-kawan. Lihatlah ketika mereka ikut menyanyikan Indonesia Raya. Betapa bergemuruhnya teriakan mereka. Betapa hasrat, passion, telah menyatukan mereka dalam sebuah dukungan bersama.

Terus terang, hari-hari ini, saya jadi ikut bergetar karenanya. Belum pernah rasanya, tim sepak bola kita membuat para pendukungnya begitu sensitif. Sentimentil. Benarkah karena ini merupakan semacam simbol dari seberkas cahaya di ujung lorong yang gelap? (lebih lanjut…)

Bos Pecas Ndahe

Juli 18, 2007

Selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan. Kita tak pernah tahu apa gerangan yang menunggu di sana …

Ruangan para bos terletak di belakang pabrik, terpisah dari bangunan utama. Luasnya sekitar dua puluh meter persegi, cukup lapang untuk menampung para bos yang cuma dua orang, satu perempuan dan satu laki-laki. Bagian luar ruangan mereka berwarna putih. Bersih. Kami, para buruh, menjulukinya White House.

Dinding dalamnya yang tak disemen juga dicat putih. Foto-foto mereka dalam pelbagai ukuran tertempel di dinding kiri dan kanan – di antara lemari kayu berisi ratusan buku dan lemari kaca berisi piala, plakat, dan benda-benda memorabilia lainnya – menyerupai pameran simbol kesuksesan atau narsisme mereka. Ada foto bos sedang bersalaman dengan presiden dan menteri-menteri, bos merangkul seorang pejuang Afganistan, bos menerima penghargaan dari seorang utusan Bank Dunia, bos di atas kapal pesiar seorang taipan, dan banyak lagi.

Di dinding belakang terdapat dua jendela lebar dengan gorden kain broken white tanpa corak. Di tengah ruangan ada dua meja besar dengan masing-masing satu komputer di atasnya. Dari perangkat kerja yang tersambung oleh sebuah sistem jaringan itulah para bos memantau proses kerja para buruh. (lebih lanjut…)

Bedes Pecas Ndahe

Juli 17, 2007

Kemarin saya ikut terkena Monday rush: ikut repot bangun pagi menyiapkan bedes-bedes cilik itu memulai tahun ajaran baru.

Tak terasa liburan sekolah sudah selesai dan anak-anak mesti masuk kelas lagi. Si sulung naik kelas dua SD, si bungsu masuk TK.

Tapi, bukan persiapan yang penuh gerak akrobatik itu yang bikin saya ngakak. Sepulang sekolah, bedes sulung saya itu tiba-tiba bertanya begini …

Sulung: Ayah tahu nggak bahasa Inggrisnya ibu mendorong sapi?
Saya : Tahu dong, tapi kenapa kamu tanya itu?
Sulung : Ah pokoknya ayah jawab dulu
Saya : Oke deh, bahasa Inggrisnya ibu mendorong sapi ya Mother pushes cow
Sulung : Salah, weeek …
Saya : Kok salah? Emang yang bener apa dong, nak?
Sulung : Mampus kauw (mom push cow) … hahahaha … Ayah aku bohongin …
Saya : ???#$$%??

Rupanya teman sekolah baru membuat anak saya mendapat gojek kere baru pula. Dasar bedes!

Berlian Pecas Ndahe

Juli 16, 2007

Hujan mengamuk. Sesekali garis kilat menyambar dan memecahkan tirai hujan menjadi air terjun berlian yang berkilauan. Matahari bersembunyi di pojok kegelapan …

Hawa dingin pagi hari yang tak tertahankan membuat saya mandi cepat-cepat. Lagi pula saya harus segera menyelesaikan pekerjaan yang tinggal beberapa bagian lagi. Sebentar lagi para bos datang dan menagih semuanya. Bisa gawat urusannya kalau saya melanggar waktu yang sudah mereka tetapkan.

Hampir tengah hari ketika saya membubuhkan titik terakhir sebagai penutup pekerjaan. Tinggal kirim via jaringan. Beres. Saya melirik jam di dinding. Hm, waktunya makan. Tapi, makan apa yang enak buat siang-siang yang mendung begini?

Mendadak telepon di meja berdering berbarengan saat saya hendak angkat pantat dari kursi.

Siapa, sih? Bos? Ada tugas yang terlewat? (lebih lanjut…)

Daendels Pecas Ndahe

Juli 9, 2007

Pernah dengar Jalan Raya Daendels? Aha, yang rajin buka buku sejarah pasti ingat.

Ya, itu sebuah poros jalan yang dibangun pada masa Hindia Belanda, membentang dari Anyer sampai Panarukan. Pembangunan jalan ini diwarnai oleh peluh dan darah pribumi. Pramudya Ananta Toer menuliskan sebuah novel yang bagus tentang jalan itu, judulnya Jalan Raya Pos.

Tapi, suka ndak suka, jalan raya ini telah menjadi urat nadi Pulau Jawa, membuat roda ekonomi bergulir lancar. Setiap Lebaran, jalan itu bahkan selalu padat oleh pemudik.

Komunitas :wikimu mengajak teman-teman semua, baik itu penulis, pewarta, blogger maupun fotografer meniti tali sejarah masa lalu dengan menyusuri Jalan Raya Pos dalam acara Rally de Bloggers Postweg. (lebih lanjut…)