Di Lawang Sewu, Semarang, saya terima tantangan itu: uji nyali. Tentu saja siang hari Ki Sanak. Hehehe …

[lukisan kaca di ruang tengah Lawang Sewu - foto: ndoro kakung]
Saya ke sana Minggu siang ini bersama beberapa teman dari komunitas :wikimu. Semuanya para penikmat kenangan, baik yang berupa tempat maupun bangunan. Saya beruntung bisa menjadi bagian mereka.
Lawang Sewu benar-benar menghadirkan pemandangan yang menggelorakan hati. Sayang saya belum sempat berbagi lanskap itu dengan sampean semua di sini. Ini hanya sekadar contoh, lain kali sambung lagi.
Gedung legendaris itu memang menggetarkan, baik dari luar maupun dalam. Begitu masuk, aura mistis langsung menyergap. Tapi, arsitektur gedung itu memang oke banget. Ndak puas rasanya saya mengamati setiap detil.
Cuma ada satu kata buat Lawang Sewu: Dahsyat!
Semoga sampean punya kesempatan mengunjungi tempat itu suatu saat nanti, Ki Sanak.


Agustus 19, 2007 pukul 2:29 pm
Kota Semarang beruntung memiliki Prof. Eko Budi, arsitek humanis, yang mati-matian mempertahankan agar situs Lawang Sewu diatas tidak keburu dibuldozer.
Bangunan semacam Lawang Sewu mestinya memang menjadi acuan dengan mana sebuah karya arsitektur diracik. Sebuah mahakarya yang bermartabat dan penuh keagungan. Bukan deretan “junk architecture” yang kini selalu menyergap setiap pojok kota-kota besar di negeri ini.
Saiki kabeh bangunan gede bentuke mbelgedhes…
Agustus 19, 2007 pukul 4:58 pm
ini udah perjalanan anyer-panarukan itu-kah? waaah…
pengen
Agustus 19, 2007 pukul 5:11 pm
Amin.Amin.Amin. Moga-moga satu hari saya sampai sana juga.
Agustus 19, 2007 pukul 9:22 pm
dari jaman baru dilahirin di kota itu sampe sekarang, cuman berani lewat depannya aja, ndoro
Agustus 20, 2007 pukul 1:14 am
Dashyat memang, acungan jempol pantas diberikan kepada arsitek Belanda dan kuli bangunannya yang dari Indonesia.
Agustus 20, 2007 pukul 7:00 am
didalam ketemu siapa ndoro? nonik walondo??
aku malah liat luarnya udah mrinding kog
Agustus 20, 2007 pukul 9:00 am
hehhehehe
cuman berani sampai pelataran nya doang..
ndak berani masuk..
sangar dech
salam
Agustus 20, 2007 pukul 10:27 am
indah ya ndoro…mampir ke gereja blenduk gak?gak kalah dahsyat sayang bau tak sedap menyergap…
Agustus 20, 2007 pukul 11:55 am
lha terus sekarang dipake apa tho lawang sewu itu? semenjak judi buntut dihapus makin ndak ada fungsinya, karena konon cari kode malam selasa legi sama malam jum’at kliwon di sana paling ma’nyosss…
Agustus 20, 2007 pukul 12:35 pm
para penikmat kenangan? waaahh mengindikasikan usia hihihi..
kalo jakarta museum mana yang serem ndoro? sabtu ini mau rendesvouz di tempat yang lain daripada yang lain nih
btw, baru pake tanda lebih besar lebih kecil komenku ngga muncul. huh!
:p
Agustus 20, 2007 pukul 1:31 pm
kalo di solo itu ada omah lowo …
Agustus 20, 2007 pukul 1:58 pm
ups, gw jadi inget klub foto jaman kuliah dulu. namanya ‘publisia photo club’, disingkat ppc. dulu, tiap libur semester, ppc suka bikin kegiatan hunting foto. sama dan sebangun dgn yg dilakukan “ndoro kakung” di semarang ini.
jgn kaget, salah satu pentolan ppc adalah roy suryo, pakar tenar yg tak abis-abisnya kalian bicarakan itu. sayang, gw kehilangan jejak salah satu mantan ketua ppc. namanya wicaksono. dulu dia akrab banget ama roy. ada yg tahu, kemana gerangan ybs?
Agustus 20, 2007 pukul 1:58 pm
uji nyali ada kuntil-anak
Agustus 20, 2007 pukul 3:02 pm
hmm..om ndandit ini sepertinya seseorang yang kukenal yah..? nggih ndoro ?
salam kompak Mas, ppc isih ono ra tho saiki ?
Agustus 20, 2007 pukul 3:07 pm
sayang sekali bangunan sebesar itu kurang terawat ya ndoro, padahal itu bagus banget.
Kalau bangunannya buat kantor, pasti terawat, tapi bentuk aslinya rusak. Kalau buat museum, juga rusak karena kurang dana. Terus baiknya buat apa ya ?
Agustus 20, 2007 pukul 7:28 pm
Memang potensi daerah, ya bangunan arsitekturnya dan orang2nya adalah asset daerah yg mesti di jaga - kayaknya harus dijadwalin mampir nih kesana saat cuti mudik nanti - boleh yah dianter jadi guidenya
Seneng udh bisa mampir kesini lagi, salam kangen dari negeri si bau kelek di afrika barat!
Agustus 20, 2007 pukul 8:14 pm
postingan dahsyat ndoro
tapi kok ya, senternya panjenengan bawa keluar sementara aku dan dek pendi sinta pakai senter yang kecil. uji nyalinya harus sampai pojokan belakang! tempat pemenggalan, harusnya ….
Agustus 23, 2007 pukul 10:25 am
Saya cinta arsitektur kuno…
Nopember 7, 2007 pukul 6:04 pm
Lha cerita hantunya mana Ndoro? Ketemu ora?
Nopember 7, 2007 pukul 6:05 pm
Kok gambarku monyet ya? Wajah asliku ndak muncul. Gimana ni?