Moga-moga sampean belum bosan, Ki Sanak. Saya mau cerita lagi tentang Roy Suryo. Ya, Roy yang suka bikin geger itu. Memangnya siapa lagi?
Saya baru saja membaca berita tentang Roy lagi di koran lokal Semarang, Suara Merdeka, Ahad lalu. Di koran itu disebutkan bahwa Roy Suryo bakal mengungkapkan lebih banyak lagi dokumen sejarah bangsa yang tersembunyi. Beberapa di antaranya tentang Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dan rekaman suara Presiden Soekarno saat membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan RI.
Roy mengatakan rekaman suara Bung Karno saat membaca teks proklamasi yang selama ini kita dengar ternyata bukan rekaman pidato langsung pada 17 Agustus 1945. Rekaman tersebut dibuat pada suatu hari di tahun 1949. Pernyataan Roy ini berdasarkan kesaksian Jusuf Ronodipuro yang saat itu menjadi Kepala RRI Jakarta.
Sayang, wartawan Suara Merdeka tak melakukan cross check langsung ke Jusuf Ronodipuro yang waktu itu Kepala RRI Jakarta mengenai pernyataan Roy. Jusuf sekarang tinggal di Jakarta dan kabarnya sedang sakit.
Padahal, jika kesaksian itu benar, ini merupakan sesuatu yang baru untuk sebagian besar masyarakat. Selama ini publik menyangka bahwa suara Bung Karno waktu membacakan teks Proklamasi itu berdasarkan pidato pada 1945.
Mengapa rekaman itu baru dibuat pada 1949?
Menurut Suara Merdeka yang mengutip Roy berdasarkan cerita Jusuf, meskipun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia memang benar dilakukan Bung Karno dan Bung Hatta, pidatonya tak bisa disiarkan. Proklamasi dilakukan dalam situasi insidentil.
Saya ndak tahu apa yang dimaksud Roy dengan insidentil. Maksudnya mungkin mendesak atau genting.
”Sebenarnya, Bung Karno tidak setuju kalau pembacaan naskah proklamasi diulang karena proklamasi hanya ada sekali. Jika diulang, Bung Karno khawatir akan menimbulkan kekacauan. Tapi, dengan pertimbangan agar anak cucu bisa mendengar proklamasi seperti apa, Bung Karno akhirnya mau pembacaan proklamasi direkam,” kata Roy seperti dikutip Suara Merdeka.
Saya langsung menelepon Roy Suryo lagi untuk mendapatkan klarifikasi. Begini petikan percakapan saya dengannya.
Saya: Bikin geger apa lagi, Oi?
Roy : Hahaha …
Saya : Bagaimana kamu yakin bahwa rekaman suara Bung Karno itu tak dilakukan pada 1945, melainkan pada 1949? Dari mana kamu tahu bahwa itu rekaman ulang?
Roy : Oh, kali ini aku ndak menemukan apa-apa. Aku cuma mendapatkan cerita dari Pak Jusuf bahwa suara Bung Karno itu direkam pada 1949 oleh RRI Jakarta, bukan pada 1945. Aku juga masih menelisik kebenarannya.
Saya : Oh gitu. Jadi kamu ndak punya bukti ya?
Roy : Oh nggak. Aku cuma punya rekaman suara Jusuf yang bersaksi bahwa suara Bung Karno yang memproklamasikan kemerdekaan itu direkam pada 1949.
Saya: Lalu bagaimana dengan Super Bagong yang kamu sebut-sebut pertama kali di acara Republik Mimpi, News Dot Com, tempo hari? Apa maksudmu?
Roy: Oh itu soal penemuan terbaruku. Kali ini ndak pakai yayasan mana pun seperti yang dulu, kapok aku. Hehehe … Aku mendapat dua film seluloid. Yang satu film tentang pidato Soekarno pada 17 Agustus 1966 yang menyatakan dengan tegas bahwa Surat Perintah Sebelas Maret untuk Soeharto itu bukan berisi perintah pengalihan kekuasaan melainkan surat mandat untuk Soeharto agar mengamankan keadaan waktu itu.
Saya: Apa isi film kedua?
Roy : Film yang menunjukkan Surat Perintah Sebelas Maret yang berbeda dari yang kita kenal selama ini. Dalam film itu ada shot kamera dari atas ke bawah yang menunjukkan Supersemar, yang ternyata isinya berbeda dari Supersemar yang selama ini diketahui masyarakat?
Saya: Sik-sik … jadi kamu menemukan filmnya ya, bukan suratnya?
Roy: Betul. Filmnya saja.
Saya: Lah, memangnya Supersemar yang asli ada di mana?
Roy: Aku juga ndak tahu.
Saya: Oke. Pertanyaan terakhir, dari mana kamu menemukan dua film itu? YouTube? Leiden?
Roy: Hahaha … bukan. Aku belum bisa mengatakan. Nanti kalau sudah dikonfirmasi pihak lain, aku kasih tahu. Yang jelas, film itu selama ini tersimpan di suatu tempat. [di Suara Merdeka disebutkan bahwa Roy menemukannya di Arsip Nasional]
Saya: Oke. Thanks.
Buat saya, temuan film yang menggambarkan Supersemar versi yang berbeda dari yang kita kenal, jelas sangat penting bagi sejarah Indonesia. Hingga saat ini, naskah Supersemar yang asli dan diteken Bung Karno itu entah ada di mana. Padahal seharusnya dokumen asli itu disimpan di arsip Sekretariat Negara.
Ada yang bilang, setelah dibaca Jenderal Soeharto, surat itu kemudian diserahkan pada Brigadir Jenderal Ibnu Subroto yang waktu itu menjabat Kepala Pusat Penerangan Angkatan Darat. Maksudnya untuk diperbanyak dan disebarkan pada media massa. Tapi setelah diperbanyak, rupanya surat autentik ini “menghilang” sampai kini.
Harapan bahwa dokumen autentik akan ditemukan lagi memang ada. Tidak selalu naskah yang hilang terus lenyap sama sekali. Masalahnya, siapa yang mau menghabiskan waktu, tenaga, juga uang, untuk mencarinya?
Well, kira-kira bakal ada gegeran lagi ndak ya, Ki Sanak? Ah, nanti ada yang traffic-nya naik lagi …


Agustus 21, 2007 pukul 11:44 am
tega nian dikau ndorokakung. masa’ diobok-obok lagi….
Agustus 21, 2007 pukul 11:53 am
Kalau mainan naskah asli sueprsemar, aku kuatir Roy Suryo nanti diracun arsenik dalam transitnya di Cofee Bean Changi, Singapura.
Agustus 21, 2007 pukul 12:47 pm
ndoro kakung telp beneran?
sumpe lu?
Agustus 21, 2007 pukul 2:24 pm
Aku belum bosen, Ndoro
Geger sedikit ndak apa yang penting nggak ada “character assassination”
Agustus 21, 2007 pukul 3:05 pm
ahh, sayah juga mauuu…
*ngobok ngobok gudang , cari barang buat diumumken*
Agustus 21, 2007 pukul 3:05 pm
omong2 soal super2an, surat superndobos saya masih di sampeyankan?
Agustus 21, 2007 pukul 3:17 pm
ziigghhhhh….manusia ini lagi! bener2 dah, sok taunya ruarrrrrr biasaaaaa…bikin gondok! tadi pagi juga saya baca koran KR yang tanggal 20 agutus, ada nama Roy Suryo juga, ngirim press release menyatakan “saya ditohok, ditusuk dari belakang karena Indonesia Raya 3 Stanza itu”
mmm…soal supersemar… ah, Jendral Yusuf udah meninggal sih
eh, surat? jangan2 tito komik lagi nyari surat ini!
Agustus 21, 2007 pukul 3:17 pm
saya mau bikin filem baru ah. judulnya “pembacaan proklamasi ternyata dilakukan di bangsari”. setelah itu saya akan telpon mister roy. Hi Roy!
Agustus 21, 2007 pukul 3:21 pm
Yang ini supersemar atau semarsuper?
*nyari berkas sapa tau ketemu ama semarsuper*
Agustus 21, 2007 pukul 3:31 pm
wah, suka klo crita ttg Roy
Hi Roy!™ dulu, baru baca selengkapny
Agustus 21, 2007 pukul 3:33 pm
Menurut Suara Merdeka yang mengutip Roy berdasarkan cerita Jusuf dan dituliskan ndorokakung lalu kubaca….
sebaiknya layar monitor diberi fasilitas: begitu user mengetik roy suryo, layar menjadi padam!
Agustus 21, 2007 pukul 3:35 pm
heu??kasian ya anak2 sekolah, sejarahnya berubah2 mulu… huff…
Agustus 21, 2007 pukul 4:39 pm
huahahaha…dia lagi, dia lagi. jagoan beneerrrrr…
Agustus 21, 2007 pukul 5:18 pm
surat superbedhes.hauhauhuahuahua *ngakak poll*
jan..eneng2 ae to pakdhe pakdhe..
Agustus 21, 2007 pukul 5:55 pm
kalo soal pembacaan naskah proklamasi, roy benar dan jujur. tgl 17 agustus kemarin (siang hari, abis upacara detik-detik proklamasi), metro tv sudah nyiarin wawancara khusus dgn Jusuf Ronodipuro (bekas Kepala RRI waktu itu). intinya kurang lebih sama dengan yg ndoro kakung kutip dr suara merdeka itu.
menurut Pak Jusuf (kelihatan sehat, meski sudah sepuh), memang dia yg membujuk BK untuk “rekaman” membaca ulang naskah proklamasi. BK awalnya keukeuh menolak, dg alasan itu tadi: proklamasi harus dan hanya dibacakan sekali. Tapi Pak Jusuf Rono berargumen: waktu BK baca naskah proklamasi tgl 17 Agustus 1945 tidak banyak rakyat yg mendengar ato menyaksikan langsung. Jd, rekaman itu penting utk disiarkan berulang-ulang (tentu di RRI), agar rakyat tahu Indonesia memang sudah merdeka.
Sayang, kemarin aku agak ketinggalan nonton metro tv. jd gak tahu pasti kapan “rekaman” itu dilakukan, apakah pada 1945 itu juga ato 1949. yg jelas, khusus untuk yg satu ini, roy tidak bohong (hidup roy, hehe). setidaknya karena aku sdh ngeliat langsung testimoni Pak Jusuf di metro.
kalau soal supersemar atau semarsuper, aku babar blas belum tahu dan tidak mau cari tahu. yg kutahu, isi supersemar memang tidak seperti yg selama 41 tahun ini diklaim Soeharto. persisnya bagaimana, biarlah hal itu menjadi porsi pakar sekaliber roy. demikian ndoro!
Agustus 21, 2007 pukul 10:48 pm
betul, soal pembacaan proklamasi itu. bukannya itu isu lama?
Agustus 21, 2007 pukul 10:56 pm
Lha memang Jusuf Ronodipuro yang rekam itu suara Sukarno. Perhatiken, naskah asli Proklamasi yang tersimpan di ANRI pakai penanggalan Jepang, sedangkan dalam rekaman suara Sukarno, tanggalnya Masehi. Ini sudah jelas bin gamblang sejak TEMPO dulu.
Agustus 22, 2007 pukul 3:38 am
ini saya lihat dari metadata file audionya… hewhewhewhewhewhewh
Agustus 22, 2007 pukul 8:42 am
wah bakal ada rame2 lagi ini.
Agustus 22, 2007 pukul 11:26 am
geger lagi, geger lagi !
tapi kayaknya yang masalah rekaman proklamasi itu juga benar kok
Agustus 22, 2007 pukul 5:42 pm
pertama kali komen di blognya ndoro.
tanggal 17 kemarin juga nonton wawancara salah satu stasiun tv dengan Pak Jusuf Ronodipuro, dan memang begitu adanya.
tapi yang bikin heran, kenapa sih Roy Suryo sok tau gitu, wong Pak Jusufnya sendiri bisa ngomong di TV, ga perlu juru bicara !!!
Agustus 23, 2007 pukul 4:15 pm
supersemar….
supersemar akan segera diluruskan oleh si super68%..
hahahaha……(ketawanya panjang mpe mau tiduran)
Agustus 24, 2007 pukul 1:56 pm
kalian semua juga sih! yang terpengaruh dengan kegiatan Roy Suryo. terus kenapa juga kalian ga bikin kegiatan seperti itu, kalian kan orang pintar semua, kenapa bisanya commen doang, sirik dengan pamor orang lain, bikin aja yang seperti Roy Suryo, kalo perlu pake ngibul. yang penting bikin geger, dan TENAR! itu kan yang kalian ributkan? NDOBOSS..!!
Agustus 25, 2007 pukul 2:20 pm
Ndoro…itu tadi wawancara imajiner dengan Roy Suryo yo?
Agustus 25, 2007 pukul 7:27 pm
Halah.. Kangmas Mangan Salep mawon, ampun polah malih ndak Setroke…
Agustus 26, 2007 pukul 12:04 am
Lho kok wawancaranya mirip dengan yang di sini?
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=3503&post=10
Apa orang yang sama?
Agustus 30, 2007 pukul 8:32 pm
ehmm…ngomonk apa ya…dak bisa komentar seh
bung karno kok dibahas yg penting kan kita dah menikmati kemerdekaan jangan gitu donk….kalo dak berkat beliau mungkin indonesia masih dijajah ma jepang ya kan…mau jadi budak negara-negara bagian..seharusnya terima kasih donk berkat beliau kita merdeka dan menghormati kan tugas kita hanya meneruskannya saja bukan nya memprotesnya……
jangan orang dah mati dibahas lgi dosa tuh……
mau kalian pada mo dijajah….
uwes ngono wae aku ora ngerti opo2 yo suon…
September 16, 2007 pukul 3:54 pm
ndak tau juga aku…?
Januari 19, 2008 pukul 3:59 pm
kalau rekaman itu mah dari sd aku juga udah tahu
kalau rekaman itu diulang karena yang asli recorder jelek sehingga noise (berisik banget) dulu pernah ada di buku pspb
terus bendera pusaka yang dijahit ibu fatmawati juga berasal dari kain sprei (putihnya) dan tenda kain penjual soto (merahnya)
malam hari sebelum proklamasi dibacakan
dan kelak ketika agresi militer kedua di yogya merah dan putihnya pernah dipisahkan
(aku pernah baca di jawapos waktu smp yang menerbitkan kisah berseri untuk memperingati 50 tahun kemerdekaan walaupun itu masih diperdebatkan karena ibu fatmawati keburu meninggal)
terus mengenai foto proklamasi itu beruntung ada fotografer keliling yang masih punya sisa 7 film sehingga proklamasi masih punya foto yang kalau tidak kita gak bakal punya bukti otentik (gambar) karena keteledoran para pemuda dan panitia saat itu
bahkan 3 orang pengibar merah putih (jahitan ibu fatmawati) pun yang diketahui namanya hanyalah latief hendraningrat yang lain tidak diketahui
yang unik lagi adalah naskah coretan tangan soekarno di proklamasi ketika selesei diketik oleh sayuti melik di buang ke tempat sampah untungnya pemuda bernama bm diah memungutnya dan menyimpannya sebelum kemudian diserahkan kepada negara satu dekade berikutnya
sebenarnya banyak fakta yang menarik yang bisa diungkap tapi sayangnya generasi kita generasi yang alpa akan sejarahnya
jadi banyak terkaget kaget oleh penemuan tersebut
Januari 25, 2008 pukul 10:15 am
ayo mas roy,maju trus.
beerikan kebenaran pada generasi muda
gali trus kebenaran sejarah
jangan takut,banyak kok yang ngedukung mas roy
Januari 29, 2008 pukul 12:48 pm
tergantung siapa dan untuk siapa. Sejarah itu bisa dibelokkan tergantung kepentingan. Makanya kearsipan dan dekumentasi jangan dianggap remeh untuk pembelajaran.Apalagi untuk peneulisan, siapa yang nulis dan untuk apa ditulis.
Januari 29, 2008 pukul 2:05 pm
bageuuSSSS…
kapan yak terungkap yg sebenernyeh…
supersemar bikin ane penasaran…
yassallamMM
Maret 9, 2008 pukul 7:25 pm
siapakah nama orang pertama yang mengibar bendera pusaka merah putih tahun 1945
Maret 11, 2008 pukul 11:35 am
Ayo Mas Roy,.. maju terus pantang mundur,..
sekali lagi masih banyak kok yang mendukung mas Roy,…
Pokoknya selama itu hal yang benar,jujur dan dapat dipertanggung jawabkan kenapa mesti takut,…
Yg jelas menurut saya,.. sebenarnya kita semua mempunyai hak yang sama, yaitu untuk mendapat cerita sejarah yang sebenar-benarnya,.. (bukan hasil dari suatu rekayasa) agar para generasi muda, anak2, para orang tua,.. mereka semua tahu sejarah bangsa Indonesia yang sebenar-benarnya, sejujur-jujurnya, dan selurus-lurusnya,…
Merdeka,…
Maret 12, 2008 pukul 8:56 am
[...] Maret 11, 2008 Super Semar, Semar Super dan Semar [...]
Maret 24, 2008 pukul 10:38 pm
maz,…,
tu bnran datanya???
bnran jg tlp roy suryo??
phdl dr kmrn2 aQ tlp roy suryo susah bgtt,…,
btw kebetulan aQ kul djurusan pemberitaan and skrg lg mow bikin produksi editorial tv,..,
klo ad data2 ttg supersemar mbok ak dkasih,..,
makacih sblmnya,…