Ini pertanyaan yang sering diajukan remaja-remaja pria pada guru ngajinya di bulan puasa: Apakah masturbasi itu dosa? Apakah kegiatan itu membatalkan puasa?
Hahaha … Terus terang saya jadi mesam-mesem sendiri bila kebetulan ikut mendengar pertanyaan itu. Jadi ingat waktu saya bau kencur dulu — bertahun yang lalu. Hehehe …
Pria-pria kadang memang lebih lemot dalam soal beginian ketimban lawan jenisnya. [Huuu ... ada yang tersenyum tuh]. Entah karena memang soal gender atau karena kaum hawa lebih piawai mencari informasi lewat bisik-bisik.
Belakangan, pengetahuan saya bertambah dan lebih terbuka mengenai hal-ihwal masturbasi itu. Apalagi setelah saya membaca berita [lama] tentang hasil penelitian para ilmuwan seperti yang dikutip BBC Online.
Memang sih, aktivitas yang — katanya — memicu adrenalin ini katanya diharamkan ketika sampean sedang menjalani puasa. Tapi, kalau malam masih bisa, kan?
Sampean jangan tertawa dulu. Menurut wong-wong pinter itu, bukan omongan saya lo, kegiatan masturbasi yang teratur dapat mengurangi risiko kanker prostat.
And they say sexual intercourse may not have the same protective effect because of the possibility of contracting a sexually transmitted infection, which could increase men’s cancer risk >> BBC Online.
Kesimpulan itu diperoleh setelah para ilmuwan meneliti sekitar 1.000 penderita kanker prostat dan 1.250 orang yang rutin melakukan masturbasi.
Informasi selanjutnya tentang topik ini silakan sampean baca sendiri ya. Saya cuma mau mengatakan bahwa masturbasi itu bukan sesuatu yang tabu. Para ilmuwan bahkan mengatakan masturbasi itu baik untuk kesehatan.
Tapi kan, masturbasi itu dikutuk Tuhan, Ndoro? Masturbasi itu dianggap berzina dengan tangan.
Hahaha … Terus terang ini bukan wilayah dan kapasitas saya untuk menjawab. Biarlah urusan beginian kita serahkan pada ahlinya. Kalau sampean ndak menemukan ahlinya, ya itu urusan sampean, bukan urusan saya. Pilihan ada di tangan sampean, bukan di tangan saya.
Kalau boleh tahu, berapa kali sampean masturbasi dalam sepekan, Ki Sanak? Berani jawab?

September 24, 2007 pukul 2:07 am
Pertamax!
September 24, 2007 pukul 2:16 am
tergantung mood dan lingkungan sekitar aja. jadi tak ada target, seperti suami yang punya kewajiban… hua hua hua…
September 24, 2007 pukul 8:15 am
kalo nggak teratur bisa pecas ndahe ndoro!
September 24, 2007 pukul 8:28 am
masturbasi jadi bermasalah kalau ternyata lebih memberikan kenikmatan dibanding berhubungan dengan pasangan haha..
September 24, 2007 pukul 9:31 am
dosanya itu tergantung sing dibayangkan ndoro, diajeng apa dian sastro…
September 24, 2007 pukul 9:48 am
ada 5 hal yang menyebabkan beratnya dosa di masalah masturbasi ini :
1.niat, semakin besar niatnya semakin besar dosanya
2.siapa yang dibayangkannya? semakin cakep semakin besar dosanya
3.tempat dimana dia melakukan? di tempat ibadah, dosa ang paling besar
4.warna output yang keluar? semakin pekat semakin besar dosannya
5.berapa banyak yang keluar? semakin banyak semakin dosa
ttd,
Majelis Ulama Blogger Indonesia
September 24, 2007 pukul 11:31 am
ulama cuma hidup buat akhirat sih….
September 24, 2007 pukul 1:12 pm
asal gak lupa keramas …
September 24, 2007 pukul 1:41 pm
hari genee coli..haha
September 24, 2007 pukul 1:50 pm
hahahahaha, konyol mang pade smua
but… klo ga salah dibolehin juga kok
yg pernah ane baca mah ktnya pas waktu perang, mu nyalurin sex tu susah (ya iyalah, mang ma kuda apa?), jadi masturbasi tuh dibolehin… gitu katanya siy
CMIIW yo
September 24, 2007 pukul 2:01 pm
Kalau berpura-pura orgasme itu dibolehkan ndak ya pakde?
September 24, 2007 pukul 2:39 pm
Jadi inget percakapan antara Ndoro sama Paklik Isnogud, “lelaki pintar memarkir mobil secara paralel walau tempatnya sangat sempit hanya dengan bantuan kaca spion, tapi tidak pernah mampu menemukan G-spot mereka … ”
Lha..kalau nggak ketemu, ujung2nya ya…..
September 24, 2007 pukul 3:54 pm
[nyambung atas] ujung2nya ya pecah ndase hehehe….
September 24, 2007 pukul 4:01 pm
akhirnya ada alasan kuat klo mau mainan si joni ..
wkwkwkwkkww
September 24, 2007 pukul 4:03 pm
setujuh… juga mengurangi emosional :D…
September 24, 2007 pukul 4:23 pm
daripada selingkuh, lebih baik…halo-halo bandung.
September 24, 2007 pukul 9:15 pm
Walah, bukannya yang kayak gitu adalah kebutuhan, seperti layaknya kita makan. 3x sehari bila perlu…
September 24, 2007 pukul 11:31 pm
hahahahahahaahahahahaha >> malu menjawab
September 25, 2007 pukul 1:13 am
saya! saya berani jawab!
gak ada jadwal khusus, jadi pertanyaan ‘berapa kali dalam sepekan’ kayaknya gak bisa saya jawab.
ada pertanyaan lain?
September 25, 2007 pukul 1:14 am
gantian, saya yg tanya.
yang boleh menyentuh dirinya cuma laki2 ya, ndoro? perempuan, gak boleh?
life’s so unfair :p
September 25, 2007 pukul 1:40 am
Berapa kali dalam sepekan?
Lebih manis kalau pertanyaan itu diawali dengan data pribadi dulu, jadi ndoro berapa kali? hehe
Soal dosa apa engga saya pernah baca ternyata tidak dosa.
Ada kisah nabi membiarkan (tidak melarang) sahabat melakukannya ketika jauh dari istri.
Abis masturbasi gak perlu keramas, pernah ada yang tanya ke nabi apakah perlu keramas karena si penanya repot capek keramas berkali kali (emang lagi horny kali) dan nabi menjawab sambil senyum simpul dengan jawaban cukup wudhu saja tapi alasan wudhu bukan karena najis loh karena outputnya itu tidak termasuk najis, jadi mungkin disuruh wudhu supaya seger ajah dan gak kepikiran mau lagi.
September 26, 2007 pukul 4:03 pm
wah, ada manfaatnya ya?? terusin aahhh
September 27, 2007 pukul 11:35 pm
hahahaha…
ada cara2nya ndoro :p
September 28, 2007 pukul 3:10 am
5 kali 7 berapa yah…?
Eh.. gw ga bilang hasilnya sama dengan frekuensi seminggu lho! =P~
September 29, 2007 pukul 7:30 pm
klo emang ada suami atau istri mendingan enggak usahlah !
September 30, 2007 pukul 2:22 pm
kalo diajeng lagi “palang merah” yaa…………. Gimana dengan Ndoro dewek ?…….
Oktober 2, 2007 pukul 4:22 pm
fuiiiih,,,klo mank enak mah,,,knp ngga,,,hhe,,,,
Oktober 10, 2007 pukul 12:50 am
hehehe…jadi nggak segen2 lagi nih, bercengkrama bareng di joni
Oktober 21, 2007 pukul 8:49 pm
Asslmlkm.. Wah..wah..wah.. rame jg niy kya ga beres2 =) nih ane mau kasih masukkan ya dari hasil tanya jawab di pesantren..
Tanya:
Langsung saja, saya ingin menanyakan:
1. Hukum onani (masturbasi)
2. Bagaimana bila terpaksa, maksudnya bila seorang laki laki yang telah beristri dan pada saat si istri lagi berhalangan sedangkan si suami ingin berhubungan, dari pada berzina dengan perempuan lain maka si suami melakukan onani (maaf bila kata-kata saya kasar).
EDI Bekasi (E-mail dan identitas ada pada redaksi)
Jawab:
1.& 2. Ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Pertama haram, dan kedua boleh-boleh saja. Ulama yang berpendapat demikian, mendasarkan keharamannya pada QS. Al-Mu’minuun:5-7, yang artinya “Dan orang orang yang mememlihara kemaluannya kecualai terhadap istrinya atau hamba sahaya, Mereka yang demikian itu tak tercela. Tetapi barangsiapa mau selain yang demikian itu, maka mereka itu orang-orang yang melewati batas.” Keharaman ini juga didasarkan pada alasan bahwa orang yang onani itu ibaratnya melepaskan syahwatnya bukan pada tempatnya. Seperti itu jelas tidak diperbolehkan.
Sedang ulama yang memperbolehkan onani atau masturbasi ini beralasan bahwa mani adalah sesuatu yang lebih. Karenanya boleh dikeluarkan. Bahkan hal itu diibaratkan dengan memotong daging lebih. Pendapat demikian ini didukung Imam Hambali dan Ibnu Hazm. Sedang ulama Hanafiah memberikan batas kebolehan dalam keadaan: (1) karena takut berbuat zina, dan (2) karena tidak mampu kawin (tapi syahwat berlebihan).
Selain itu, Rasul SAW juga telah mengajarkan bagaimana menghindari luapan birahi, bagi para pemuda yang belum mampu kawin: hendaknya sering-sering melakukan puasa, karena puasa itu hikmah, dan puasa bisa membendung syahwat atau nafsu birahi. Sabda Rasul: “Hai para pemuda, barang siapa diantara kalian sudah ada kemampuan (fisik dan modal berumah tangga), maka kawinlah karena perkawinan itu bisa menjinakkan pandangan dan kemaluan. Tetapi barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab puasa itu bisa membendung syahwat. (HR. Bukhari).
Jelaslah, dengan demikian, bahwa onani dalam keadaan “terpaksa” boleh saja dilakukan. Itu seperti dalam keadaan yang Anda contohkan itu.
Kendati demikian, demi kehati-hatian, pendapat yang mengharamkan onani lebih baik dipegang. Adapun dibolehkannya onani dalam saat-saat darurat, seperti yang Anda ceritakan itu, itu atas dasar pertimbangan “al-dlaruuraat tubiihu al-mahdhuuraat” (keadaan darurat bisa membolehkan hal-hal yang terlarang).
PS: kalO MASALAH KENA KANKER PROSTAT ITU SIH WALLOHUALLAM
Demikian, semoga cukup jelas. Wallaahu a’lam.
Dewan Asaatiz Pesantren Virtual
Nopember 21, 2007 pukul 5:24 pm
Jadi ikutin yang mana nih….. kalo mao gituan takut dosa, kalo ngga gituan malah mikirin yang jorok2 molo, malah jadi dosa de mikirin yg engga2…. binguuung….??!!???
Januari 19, 2008 pukul 3:55 pm
wuaah, hehehehe aku jadi peni nich
Januari 19, 2008 pukul 3:56 pm
wuaah, hehehehe aku jadi pengin nich
Januari 23, 2008 pukul 9:42 pm
asyik juga nech seru sumpah?
Mei 23, 2008 pukul 9:44 pm
loe pada pusing mikirin c**i??
klo dilakukan takut ma dosa trus klo ngak di lakukan pengen da gak tahannn….
we kasih saran ne yaa dari pada loe stress mikirin na mending loe potong jaa kon**l na biar nga berfungsii lgiii
kan ngak buat dosa n ngak pengen lagii