Setiap kali berpuasa, godaan itu terlihat semakin menawan. Es kelapa muda. Es blewah. Es jeruk. Es cendol. Baso urat. Soto ceker. Sate & sop kambing Casmadi. Halah.
Sampean mungkin bisa menyebutkan lebih banyak lagi daftar makanan dan minuman yang paling mengundang selera di bulan puasa ini.
Tapi, bayangkan ketika malam hari. Apa sampean ya masih pengen menjejali perut dengan aneka makanan itu? Apa sampean masih kebelet menenggak soda dingin dan teman-temannya itu? Rasanya kok tidak, kecuali sampean memang punya perut berisi tujuh kere lapar.
Begitu tanda waktu buka puasa tiba, seseruput teh manis dan secuil kurma manis rasanya sudah melebih segalanya. Kita seolah mendapatkan kenikmatan yang tiada banding.
Dari mana sebetulnya kenikmatan itu datang, Ki Sanak?
Paklik Isnogud punya cerita begini. “Syahdan ada anak raja berburu ke hutan. Ia tersesat, kelaparan.
Ia tiba di sebuah pondok petani miskin. Di sini si ibu tani menolongnya, dan menyajikan makanan yang ada padanya sehari-hari — karena ia tak tahu bahwa tamunya adalah anak raja.
Tapi, betapa nikmatnya santapan itu bagi sang pangeran.
Kemudian, setelah berhasil kembali ke istana dan beristirahat beberapa hari, sang pangeran pun memesan hidangan gaya petani yang pernah dicicipinya dulu. Makanan itu dihadapkan, tapi sang pangeran tak mendapatkan rasa lezat yang dicari.
Tahukah sampean penyebabnya, Mas?”
Saya menggeleng.
“Kenikmatan tak datang pada orang yang kenyang. Ada sesuatu yang hilang daripadanya, sebagaimana ada sesuatu yang indah dalam hidup seadanya.
Petani di pondok dekat hutan itu berbahagia, lebih dari sang pengeran, karena ia tak mencari-cari.”
“Ooo … gitu ya, Paklik? Intinya kita tak perlu mencari-cari?” tanya saya.
Paklik Isnogud hanya tersenyum memamerkan parasnya yang meneduhkan.
September 25, 2007 pukul 12:43 pm
dab, kalo puasa tanpa godaan, anak kecil juga bisa. tapi, kalo puasa penuh godaan dan sampeyan bisa menahan godaan itu, wah itu baru namanya jempolan. kalo di bulan ini semua restoran tutup, semua panti pijat tutup, tukang bakso gak keliling, gak ada godaan dong…
September 25, 2007 pukul 12:56 pm
kata orang kakek nenek saya dulu, “makan itu paling enak kalau lauknya lapar”
September 25, 2007 pukul 1:44 pm
lebih enak lagi kalo casmadinya gratis ndoro… hehehe
September 25, 2007 pukul 1:53 pm
nanti buka bersama di sindang reret ndoro?
September 25, 2007 pukul 1:56 pm
dan semua rakyat bhi seraya berteriak
” sateeeeee casmaaaaaaaaaaaadi ”
hahahahaha, cerita yang bagus ndor !
September 25, 2007 pukul 2:45 pm
Bukanya bercinta ama diajeng dong, juragan.
September 25, 2007 pukul 2:49 pm
@ jalansutera : plus di bulan puasa ada iming-iming bonus pahala pula!
Lalu klo minta maap cuma gara-gara sekarang bulan puasa, gimana menurut Ndoro?
September 25, 2007 pukul 3:06 pm
lebih enak kalo makan bebek ginyo tebet, atau ayam bakar ganthari, slurrrpppp….
kalo laper sih apapun kayaknya enak ya ?
September 25, 2007 pukul 3:43 pm
sate casmadi itu dimana to ndoro?
September 25, 2007 pukul 4:40 pm
panganan opo sing paling uenak ?
panganan sing halal tur geratis tur pas luwe … tur ora kakehan.
September 25, 2007 pukul 7:02 pm
saya juga mau ditraktir, ndoro. halah.
btw, ada yang nyaingin pesta blogger ya?
piss!
September 26, 2007 pukul 9:21 am
wah ojo dipelintir mbok
asyem ik, ojo salah tompo
kui mok gojekan…wong aku karo ndoro
yo ga neson kok, nek ono ulem soko ndoro aku yo melok nang HRC kok
padune kowe tho sing pengen delok ndoro nesu
September 26, 2007 pukul 2:39 pm
aku dadi penikmat waelah =)
September 27, 2007 pukul 12:51 pm
makan itu nikmat jika sedang lapar, jika bersama sama atau makan gratis