Lompat ke isi

Kubu Pecas Ndahe

Oktober 30, 2007
oleh Ndoro Kakung

Setelah pesta usai, lampu panggung dimatikan, piring kotor dicuci, dan disimpan lagi, sekarang saatnya saya leyeh-leyeh. Dua hari kemarin, Minggu dan Senin, saya sempatkan blogwalking membaca aneka ulasan kawan-kawan bloger, juga melihat [dan mentertawakan foto-foto] yang bertebaran di Flickr tentang Pesta Blogger 2007.

Secara sepintas saya menemukan sesuatu yang menarik: ada dua kubu ulasan tentang Pesta Blogger 2007. Kubu bloger senior [untuk tak menyebut umur mereka yang sudah 35+] dan idealis umumnya menilai Pesta Blogger masih kurang ini dan itu, mestinya harus begina dan begini. Seraya memberikan sedikit pujian, kelompok yang ini merasa para bloger mestinya ndak cuma bisa ngumpul dan hura-hura.

Kubu kedua, para bloger yang umurnya lebih muda [-35], generasi tanpa beban, kebanyakan menulis hal-hal yang lebih kasual, santai, ndak terlalu peduli dengan misi ini dan itu. Tapi, kelompok yang ini lebih antusias. Bergelora semangatnya.

Mereka ini merasa Pesta Blogger adalah kesempatan langka. Bisa hadir di Pesta Blogger saja merupakan sebuah kegembiraan, apalagi bertemu langsung dengan teman-teman sepergaulan di ranah digital yang semula hanya bisa ditemui di kotak komentar atau shout box.

Saya termasuk yang mana?

Ah, ndak penting apa kata saya buat sampean, Ki Sanak. Saya ini penganut aliran mono suko, monggo kerso. Kalau sampean suka, saya juga suka. Sampean ndak suka, ya mari kita sama-sama cari yang lain. Rileks saja.

Jika sampean merasa senang dan beroleh berkah dari Pesta Blogger, mari kita nikmati sama-sama. Lalu bagilah berkahnya pada teman-teman lain di luar sana, yang mungkin belum punya kesempatan datang.

Bila sampean menganggap reriungan kemarin itu masih kurang ini dan itu, ya ndak apa-apa. Tahun depan, kalau ada lagi, kita bikin yang lebih jos dan edan-edanan.

Yang kemarin sudah lewat, biarkan saja abadi di masa lalu. Masih ada waktu untuk memperbaiki dan menambal kekurangan di masa depan. Anggap saja ini pemilihan gubernur atau presiden. Kalau sampean salah pilih hari ini, lima tahun lagi pilih yang lain.

“Memang begitu sebaiknya kita memandang segala perbedaan, Mas. Apalagi kalau ini menyangkut pandangan yang tua dan muda,” kata Paklik Isnogud yang saya ajak diskusi tentang masalah ini. “Kalau yang muda dirasa masih kurang, yang tua memberi masukan. Tapi, tak perlu yang satu menganggap yang ini salah dan itu yang benar. “

“Kenapa begitu, Paklik?” saya bertanya.

“Percuma, Mas. Hidup toh jalan terus. Dan, barangkali karena hidup bukanlah cerita wayang: sesuatu yang bisa kita selesaikan sebelum siang hari.

Manusia itu tempatnya salah dan kurang. Tapi, bahkan surat kabar pun menyediakan kolom ralat untuk mengoreksi kesalahan. Kenapa harus risau kalau kita ndak membuat sesuatu yang sempurna hari ini?”

Saya tertegun mendengar nasihat Paklik. Ia berhenti sebentar untuk menyesap kupi hitam tanpa gulanya, lalu melanjutkan ujarannya dengan suara yang melodius itu — seperti biasa.

“Memang, bagaimanapun, orang tua punya kelebihan, Mas. Mereka punya kesalahan yang tak dipunyai anak muda.

Penyair Sarah Teasdale pernah menulis, Time is a kind friend, he will makes us old.

Orang bilang bahwa hanya yang pernah bercita-cita, tapi kemudian khilaf. Hanya yang pernah bergelora, tapi kemudian redup — hanya mereka ini yang tahu betapa benarnya penyair itu. Dalam kesedihan dan kearifannya, waktu adalah teman yang baik. Ia membikin kita tua.

Ia membikin sederet nama jadi sejarah. Ia membikin serangkai gelombang menjadi mandek. Ia membikin arus deras menjadi reda. Dan, seperti kata Konfusius (alias Kong Hu Cu), Orang tak dapat melihat bayangan dirinya di dalam air yang mengalir, tapi ia dapat melihatnya pada air yang diam.

Orang tua memang punya kelebihan. Mereka adalah air yang diam.

Jika kau cermat memandang ke dalamnya, kata orang, kau akan melihat dirimu lengkap. Kau akan melihat dirimu dalam perbandingan. Di air itu pengalaman telah membuang sauh, dan jauh di dasar terkandung simpanan kenangan. Terutama kenangan tentang kesalahan.

Time is a kind friend … lalu kita perlu melihat ke air yang diam.”

Saya tercenung mendengar Paklik mengutip puisi Let it be Forgotten karya Sarah Teasdale itu. Ini piwulang yang begitu dalam dan layak saya simpan baik-baik sebagai pegangan.

Tapi, saya juga jadi teringat iklan rokok itu, belum tua belum boleh bicara. Belum tua, belum boleh pesta?

Bagaimana menurut sampean, Ki Sanak?

44 Komentar leave one →
  1. Oktober 30, 2007 1:55 am

    pertamax!!

  2. Oktober 30, 2007 1:58 am

    jadi Fraksi yang mana yang lebih besar? Fraksi Golongan Tua atau Fraksi Amanat Nom-noman?

    Ndoro kakung mau nyalon presiden?

  3. Oktober 30, 2007 1:59 am

    Vote ndoro kakung for President, dan Paklik Isnogud sebagai vice president :D

  4. Oktober 30, 2007 2:03 am

    puitis euy Pakliknya..!

  5. Oktober 30, 2007 2:10 am

    itu tiga teratas komentar supam, ndoro? hihi

    pb2007 rocks!

  6. Oktober 30, 2007 4:56 am

    ndak usah berharap terlalu banyak,namanya juga perhelatan pertama. selain itu, namanya orang yaa..wajar tho kalo macem2 pendapat…justru itulah uniknya. :-)

  7. Oktober 30, 2007 6:07 am

    berbeda itu indah, betul kan ndoro kakung :D

  8. Oktober 30, 2007 7:23 am

    kalo bs jadikan even tahunan

  9. Oktober 30, 2007 8:42 am

    loh, bukannya yang udah tua malah yang dah ndak pantes pesta ya..
    wekekekkeekk..

  10. Oktober 30, 2007 9:01 am

    log emang yang muda selalu ga ambil peduli ya?
    saya ada kok masukan disana sini…
    kan sekrang saatnya yang muda bicara ndor

  11. Oktober 30, 2007 9:07 am

    mbok wis to, itu banner “I’m going to pesta blogger”nya dicopot. wis bar ndor…

  12. Oktober 30, 2007 9:31 am

    Nampaknya muda dan tua sama2 menikmati pesta blogger ya ndoro, meskipun perspektifnya beda

  13. Oktober 30, 2007 9:33 am

    ^^^
    lah kok gambarku masih munyuk ?
    padahal aku dah daftar gravatar dari kemaren loh

  14. Oktober 30, 2007 9:46 am

    ndak usah dipikirin. kemarin itu pesta pertama. udah bisa ngumpulin lebih dari 450 blogger saja sudah sebuah prestasi buat panitya. kalo blogger senior gak puas, ya silakan bikin acara tandingan saja yang lebih berkualitas. kompetisi khan berujung pada meningkatnya kualitas, khan? santai saja ndoro…

  15. Oktober 30, 2007 10:08 am

    wedhus payu akeh, aku puas banget :D

  16. Oktober 30, 2007 10:24 am

    Ah biasa pakde, orang berjiwa tua kan selalu gitu. Soalnya waktunya sudah sedikit, jadi maunya serba instan.

  17. Oktober 30, 2007 10:40 am

    Sebuah pencerahan.
    Mau nanya Ndoro, kemarin pak Roy Suryo diundang gak?

  18. Oktober 30, 2007 10:53 am

    ini sebenernya nyindir sapa tho? *mikir sambil lirik sana sini*

  19. Oktober 30, 2007 11:11 am

    Test aja

  20. Oktober 30, 2007 11:18 am

    Belum muda belum boleh merokok tepatnya :D

  21. Oktober 30, 2007 11:25 am

    Setiap orang kan berproses dari kanak-kanak, muda dan kemudian tua. Masa untuk bisa bicara harus menunggu tua dulu. Sejak belia belajar bicara, setelah tua bicara yang lebih bermakna. Terima kasih untuk kedalaman renungan ini.

  22. Oktober 30, 2007 11:29 am

    ndoro kok manut kawulo? kikiki…

  23. Oktober 30, 2007 11:34 am

    mbahas opo to iki?

  24. Oktober 30, 2007 11:40 am

    klo gitu taun depan acaranya dibikin nyaman bagi yang tua namun tetap menggairahkan bagi yang muda. . .
    podo2 seneng

  25. Oktober 30, 2007 1:05 pm

    Saya ikut fraksi: Semangatnya pemuda, bijaksananya orang tua :-)

  26. Oktober 30, 2007 1:36 pm

    Loh, ndorokakung sakit ya, kecapekan jadi panitia pesta blogger? Tapi terima kasih mas GM mau menggantikan ndoro mengisi posting di sini, hehehe. Kidding, ndoro. :p

  27. Oktober 30, 2007 7:22 pm

    meskipun sudah tua kalau semangatnya masih mudah gimana Ndoro?

  28. Oktober 30, 2007 7:54 pm

    *ngakak baca komentar Momon*
    Dalem amat, Mon.
    Tika, jangan lirik aku terus, dong. Syerem niiih…

    Terimakasih, ndoro. Entah gimana, rasanya lega baca posting ini :)
    Menghibur sekaligus menyemangati untuk memperbaiki yang kurang.
    Semangaaatttt…!!!

  29. Oktober 30, 2007 8:00 pm

    ndoro!!! *manggil aja* (masih meriang)

  30. Oktober 30, 2007 10:59 pm

    Biasalah….ga semua bisa terakomodir :D

  31. Oktober 30, 2007 11:00 pm

    ah,pestanya asik kok. heboh puolllll…..

    kapan kopdaran lagi? :D

  32. Oktober 30, 2007 11:10 pm

    tua belum tentu dewasa, muda juga belum tentu tak bisa bijaksana…
    menjadi dewasa adalah sebuah pilihan, menjadi tua adalah sebuah kepastian, kecuali…
    sesuk esuk dipethuk Izrail di pintu rumah

  33. Oktober 31, 2007 12:40 am

    “Turuten pituture wong tuwa”
    “Mumpung enom ngudiya laku utama”
    “Mustikane wong tuwa marang anak mung ana ing laku kang gumati, gunem kang ruruh, lan ujar kang manis. Gumatine dumunung ing tepa tuladhaning tingkah laku. Gunem lan ujar kawengku ana ing ucap kang istingarah numusi kajiwan, lan luhuring budi pekerti.”

    .:: he509x™ ::.

  34. Oktober 31, 2007 3:24 am

    …dikalimat akhir bukannya “Yang Muda Yang Nggak Dipercaya”

  35. November 1, 2007 4:51 am

    akhirnya perbezaan bisa terlihat :D

  36. November 1, 2007 9:06 am

    Ndoro, thanks atas kerjakerasnya sebagai panitia di PB2007. Saya menuliskan laporan saya ttg kegiatan ini disitus Jurnalisme Orang Biasa http://www.panyingkul.com dan sejumlah usulan di blog saya. Jayalah blogger Indonesia!

  37. November 1, 2007 10:32 am

    Harusnya KRMT Roy Suryo juga diundang, biar “beliau” tertarik bikin blog.

Lacak Balik

  1. October 27, 2007 - An Indonesian Blogger Day’s | Catur PW.Com
  2. SUARA BLOGGER INDONESIA—Catatan dari Jauh « Kolom-kolom Agusti Anwar
  3. Anonymous
  4. Anonymous
  5. Anonymous
  6. Anonymous
  7. Anonymous

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS