Sabu-sabu Pecas Ndahe

Lelaki muda itu datang dengan muka rusuh. Bajunya lecek, kumel, dan apak. Rambutnya acak-acakan tanda sudah sepekan tak dirapikan.

Dan, tiba-tiba dia mengajak saya ngobrol begitu saja.

“Saya lagi mumet nih, Ndoro?” begitu kalimat pembukanya.

“Mumet? Kenapa?” saya bertanya.

“Saya jatuh cinta. Perempuan itu cantik dan pintar.”

“Wah, bagus dong. Kenapa sampean jadi lecek begitu? Bukankah jatuh cinta itu menyegarkan?”

“Seharusnya begitu, Ndoro. Tapi, ini lain.”

“Lain piye?”

“Soalnya perempuan itu cantik dan pintar … terlalu pintar.”

“Di mana salahnya?”

“Terlalu pintar itu salahnya.”

“Loh, pintar kok salah?”

“Soalnya saya kalah pintar je.”

“Lah ya ndak apa-apa kan? Emang haram hukumnya perempuan lebih pintar dari sampean?”

“Ya ndak haram, Ndoro. Tapi kan saya jadi malu.”

“Masih punya?”

“Diamput!”

Saya ngakak. Setelah meneguk minuman dinginnya, lelaki muda itu melanjutkan kegundahan hatinya.

“Kalau dipikir-pikir, mending saya nggak jadi PDKT aja ah, Ndoro … “

“Loh jangan … jangan menyerah dong!” saya berusaha membesarkan hatinya.

“Soalnya saya nggak kuat menanggung perbedaan itu, Ndoro. Saya minder.”

“Sik … sik … sik … Sebetulnya gimana sih kepintaran perempuan itu?”

“Begini contohnya. Kalau kami ngobrol, dia itu selalu memakai bahasa Inggris terus. Kalau ngirim SMS ya begitu. Padahal kan saya bisanya cuma yes or no, Ndoro. Sementara saya bisanya bahasa Indonesia melulu. Lama-lama kan malu.”

“Kenapa harus malu? Sampean kan orang Indonesia, wajar dong kalau pakai bahasa Indonesia.”

“Ah, Ndoro ini … Nggak level dong … “

“Lah itu pakai boso Enggres. Level itu … “

“Oh iya … Hehehe …. “

Anak muda itu nyengir. Tapi, saya mulai memahami kerisauannya.

“Menurut Ndoro, sebaiknya bagaimana dong?”

“Gini Mas … Sebetulnya sampean ndak usah minder dan malu. Berpikirlah lebih jernih dengan melihat persoalan dari sisi yang lain.”

“Maksud Ndoro?”

“Pernahkah sampean berpikir bahwa perempuan itu sebetulnya ndak pintar boso Enggres? Siapa yang tahu bahwa dia itu sebetulnya sedang praktek belajar boso Enggres dengan sampean agar semakin pinter?”

“Wah, saya nggak tahu, Ndoro. Saya nggak pernah mikir sampai ke situ.”

“Nah, itu dia sebabnya saya mengajak sampean berpikir dengan cara yang lain. Saya menganggap begitu karena sebetulnya obrolan sampean dan dia nyambung kan? Sampean tahu dia ngomong apa dan sebaliknya.”

“Ya iyalah, Ndoro.”

“Pernahkah sampean berpikir bahwa, jika perempuan itu bisa berbahasa Endonesah, lalu kenapa dia selalu memakai boso Enggres kalau bicara dengan sampean?”

“Nggak tahu, Ndoro. Emang kenapa?”

“Sebabnya itu tadi. Dia sudah biasa dan pintar boso Endonesah. Dan, karena itu, yang dia butuhkan hanyalah latihan mengasah kemampuan boso Enggres dengan sampean.

Karena sedang belajar, seperti halnya sampean juga sedang boso Endonesah, sampean ndak usah merasa minder, kalah pinter dari dia. Anggap saja sampean berdua ini seperti orang yang sedang belajar naik sepeda itu. Orang yang sedang belajar naik sepeda kan tiap hari ya berusaha naik sepeda, bukan narik becak.

Dengan menganggap bahwa perbedaan cara berkomunikasi itu sebagai salah satu cara belajar, sampean ndak perlu minder. Ndak perlu merasa bodo atau pekok. Orang belajar kan justru karena pengen pintar.

Tanamkan saja di kepala sampean bahwa kalian berdua sedang sedang belajar dua bahasa yang berbeda, bukan sedang saling unjuk kepintaran. Kalau ada yang salah, silakan saling mengingatkan. Begitu caranya orang belajar. Dengan demikian, karena merasa sedang belajar, sampean ndak perlu merasa malu. Orang yang sedang belajar naik sepeda kan juga ndak perlu malu kalau jatuh?”

“Halah. Cuma begitu doang?”

“Ya memang begitu saja. Ini namanya mengubah persepsi, Mas. Melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Menemukan sisi yang lain. Karena, kata orang-orang arif bijaksana itu, every cloud has its silverlines.”

“Oh gitu ya? Wah, menarik ini Ndoro. Kata-kata sampean benar-benar membuka hati dan pikiran saya. Sebelumnya saya nggak pernah kepikiran soal ini.”

“Kata-kata memang bisa membuai, Mas. Kata-kata juga bisa bikin kita kliyeng-kliyeng dan ketagihan … seperti sabu-sabu itu.”

“Wow, jadi kita ndak perlu nyabu dong, kalau cuma mau kliyeng-kliyeng?”

“Memang … dengerin kata-kata saya saja, Mas.”

“Halah … nggaya. Mentang-mentang … “

Saya ngakak. “Yo wes sana … sampean ndak mumet lagi kan? Sana kejar perempuan itu lagi. Go for her!”

“Wadoh, Ndoro nggaya lagi … pamer pakai bahasa Inggris … “

Siang itu, saya bahagia karena bisa membuat seorang anak muda kembali bersemangat, menemukan kepercayaan diri lagi, hanya dengan kata-kata. Dengan ujaran. Bukan dengan narkoba, sabu-sabu, dan sebangsanya.

Ah, seandainya saja dulu Roy Marten sempat bertemu saya sebelum ke Surabaya, mungkin dia tak perlu masuk penjara.

Halah, ngimpiiiiiiiiiiiiiiii ……. Aku ki sopo sih?

42 Tanggapan ke “Sabu-sabu Pecas Ndahe”

  1. kid lhadalah Berkata:

    pertamaxx

  2. kid lhadalah Berkata:

    keduax,

  3. Yeni Setiawan Berkata:

    Sayangnya kadang ada beberapa hal yang ga bisa disampaikan dengan kata2, nDoro.

  4. mikow Berkata:

    Roy Marten itu bukan anak muda lagi ndoro.. :)

  5. Fabian Berkata:

    Baru kali ini saya kasih comment setelah sekian lama mengamati. Tulisan ndoro mencerahkan. Yang sulit memang langkah awal itu Ndoro untuk tetap PD

  6. funkshit Berkata:

    @Yeni
    yak lo ngga pake kata2 ya pake tulisan donks

    *masih kliyeng2 habis baca tulisan yang efeknya sama kaya sabu

  7. munyuk Berkata:

    belum terlambat ndoro, sms aja roy: “kamu ga usah ngaku aja, ntar gw bantu” dengan doa :p

  8. leksa Berkata:

    hehehe, tulisan ini.. ennngg..
    ah Ndoro paling bisa memang….

    sampun Ndoro..
    matur nuwun
    terima kasih
    thank you..

  9. mbakDos Berkata:

    Halah, ngimpiiiiiiiiiiiiiiii ……. Aku ki sopo sih?

    *lho kok malah nanya?!
    perlu dijawab?! ;-)

  10. Monyetku Berkata:

    Iya Ndoro,
    Saya juga pingin pintar makanya ndak malu belajar!

  11. Titis Sinatrya Berkata:

    Emang ndoro pernah ngerasain nyabu ???

  12. iman brotoseno Berkata:

    hari sabtu ini aku akan ketemu Anna Maria di Semarang , apa aku suruh buat blog? buat menampung keluh kesahnya mengenai suaminya….he he

  13. phy Berkata:

    ketigabelax.

    “Ah, seandainya saja dulu Roy Marten sempat bertemu saya sebelum ke Surabaya, mungkin dia tak perlu masuk penjara.”

    maksudnya tidak perlu masuk penjara sendirian, ndoro ?!

    *kabur*

  14. datum Berkata:

    ini beneran atau cuma sarana buat menyatakan paragraf terakhir ndoro? :p

    anyway… membuka konsultasi online kah soal hubungan dua manusia ini ndoro? mungkin saya mau ikutan jadi pasien :p

  15. Totoks Berkata:

    efek ngeblok ya bisa bikin siempunya kliyeng-kliyeng juga. jadi kalau pingin kliyeng2 cukup ngeblog saja 3 X sehari dijamin tidak akan masuk pemjara :D

  16. MaNongAn Berkata:

    ajeb…ajeb….ajeb…ajeb….ajeb…ajeb….

    shabu-shabu kie sing pakananne wong londo seko jepang kae?

    .::he509x™::.

  17. asfiandi Berkata:

    wahhh keren…
    menambah motivasi nih untuk mengejar yang lebih pintar…;)

    salam

  18. Sharon Berkata:

    Kliyengan karena kelamaan natap layar komputer yang terlalu bright.. Kaya saya sekarang… Nggliyeng banget! Ga pake sabu

  19. Sharon Berkata:

    Ndoro, kok saya masih gamba monyet terus ya? gimana ya caranya supaya saya nggak harus jadi monyet?

    *lah berarti…*

  20. mbahatemo Berkata:

    wah, saya jadi termotipasi.. halahh

  21. galih Berkata:

    Siapa ndoro kakung? ya… salah satu selebritis ngetop di ranah pengeblog-an. sama roy marten sak level mbah, sama-sama selebritisnyah… xixixixi….

  22. tata Berkata:

    hahahaha….cewe pinter berarti menakutkan yah ? lebih menakutkan ketimbang hantu

  23. nananias Berkata:

    another chapter. another pursuit. another joyride.

  24. Biho Berkata:

    yap makasih Ndoro, saya jadi lebih semangat belajarnya.

  25. Hedi Berkata:

    jadi, kalo kalah pinter sebaiknya nyabu, gitu? :P

  26. hanny Berkata:

    perempuan itu aku, yah? hihihihi …. *malasssss*
    Gubrak!

  27. mei Berkata:

    guruku bahasa inggris ilang -(

  28. pinkina Berkata:

    “Halah, ngimpiiiiiiiiiiiiiiii ……. Aku ki sopo sih?”
    –> lha mbuh…sampeyan sopo ?? wong aku yho ra kenal smpyn huehuehue :D

  29. extremusmilitis Berkata:

    Waduh, makasih, nambah “ilmu” ini Ndoro :) *nyiepin strategi ke “medan perang” :mrgreen:

  30. ambar Berkata:

    mungkin sayalah wanita itu ndoro…

  31. dinda Berkata:

    long time no see gituh? masak sih? apa ngambek karena mpek mpek? :P
    tapi kalo anak muda itu dateng ke aku aku bakal bilang: plis deh kamu! gak penting!

  32. bootdir Berkata:

    Ternyata Ndoro telah setua sebijaksana Paklik Isnogud.. :p

  33. kalengkrupuk Berkata:

    nDoro, bikin saya kliyengan dooong… tapi jangan pake lapen pajeksan ya, nDor…

  34. tuginem ndomble Berkata:

    dasun mushroom

  35. Not-so-English-speaker Berkata:

    She might not know any better way to communicate properly with certain people. Regardless.

  36. Rystiono Berkata:

    Kalo gadisnya terlalu goblok gimana ndoro?

    ^_^

  37. arya Berkata:

    bagaimana kalo minder karena si cewek itu terlalu cantik? apa nasihat yang ndoro berikan? kan every cloud has its silverlining.. :D

    operasi plastik :D

  38. doni Berkata:

    Jujur, ndoro memang ber-”WIbawa,CAKap, SOpan, NOrak”. hehe…mbukak wadi iki.

  39. adi-wiyono Berkata:

    Wejangan yang sangat bijaksana *Kata lain dari Wicaksono : )

  40. Anto Berkata:

    Trus kalo ceweknya terlalu kaya gimana ??
    ada saran ndoro??

  41. fanaticanz Berkata:

    mau dong ndoro sabu sabunya.. kayaknya “enak” tuh…..!!!

  42. COW Berkata:

    wah enak dong jadi laki-laki

Tinggalkan Balasan