The blog is dead. Seseorang mengeluh dengan lirih. Saya tahu, ia seolah hendak melawan, tapi tertahan. Ia kalah, tapi tidak takluk.
The blog is dead … long time ago. Air matanya tertahan di sudut. Bibirnya terkatup rapat. Saya tahu, ia gundah. Tapi, mungkin agak sedikit lega. Akhirnya ia bisa bebas, lepas dari sekat-sekat yang begitu lama membelenggu.
The blog is dead, but not the ideas. Ah, ia sudah bisa tersenyum. Saya lihat matanya menyala-nyala. Ada saga di sana.
Sebab memang, ketika pedang ditanggalkan, dan ilmu tertinggi adalah kekosongan — seperti halnya Bukek Siansu yang bahkan tak berbaju dan tak bersandal — apa lagi yang bisa mengalahkan seseorang selain dirinya sendiri?
Lalu saya ingat Paklik Isnogud yang pernah bercerita tentang Karna, tentang kematian, dan betapa absurdnya sebuah identitas.
“Malam itu, di Padang Kurusetra yang resah,” Paklik memulai ceritanya, “Karna berpamitan pada istrinya di dalam tenda.”
Istriku, jangan kau sedih. Aku memang mengulang kegetiranku. Di dunia kita yang telah dinubuat ini, Istriku, seseorang hanya mendapatkan dirinya tak jauh dari pintunya berangkat.
Betapa menyesakkan! Sebab itu, Istriku, aku harus membuktikan bahwa seseorang ada, seseorang menjadi, karena tindakannya, karena pilihannya - bukan karena ia telah selesai dirumuskan.
Seorang resi pernah berkata: pada mulanya adalah Sabda, dan Sabda menjadi Kodrat. Bagiku, pada mulanya adalah perbuatan. Dari perbuatan lahir pengetahuan, dan dengan pengetahuan itu aku bisa merumuskan diriku.
Lalu kucari ilmu, Istriku. Kau tahu, mengapa? Ilmu akan mengukuhkan aku bukan cuma anak suta yang hina.
Setelah kukuasai semua astra dan semua senjata, aku tahu ilmu bisa melepaskan kita dari perbedaan susunan rendah dan tinggi. Tapi akhirnya hanya tindakan besar yang membebaskanku.
Maka, jika aku esok mau, Istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku …
“Kita tahu dari para dalang,” kata Paklik, “keesokan siangnya, perang berhenti sejenak untuk menghormati Karna yang gugur. Dan Kurusetra berubah merah bersemu kelabu.”
>> untuk perempuan yang sedang mencari si B, yang pernah bertemu si A, di ngarai yang dalam tanpa bersedia menerima uluran tali.

November 22, 2007 pukul 12:19 pm
pertamax buatan pertamina..
kita untung, bangsa untung…
November 22, 2007 pukul 12:22 pm
emang blog siapa yang mati? emang siapa yang beristirahat untuk selamanya?
November 22, 2007 pukul 12:27 pm
Podium
November 22, 2007 pukul 12:51 pm
turut berduka cita sedalam-dalamnya
November 22, 2007 pukul 12:52 pm
ga mudeng aku………….
November 22, 2007 pukul 12:58 pm
Kalau memang dia itu sempat berjasa bagi dunia perblogeran, mari kita usulkan kepada pamerantah untuk menjadi Pahlawan Blogger Nasional
Hormat!!!!! GErakkkkk!!!!
November 22, 2007 pukul 1:03 pm
sik..sik..kutipan sampeyan tentang karna itu kok rasanya familier..dari siapa yah?
November 22, 2007 pukul 1:21 pm
du du du du du…
November 22, 2007 pukul 1:25 pm
jd inget perbincangan kmrin sore
November 22, 2007 pukul 2:13 pm
bukannya yg sedih justru orang yang bisa memandang jasad orang yg ga’ bisa lg memandangnya?? ahh ga’ tau juga gimana kesedihan org yg dah mati, lum ngalamin
November 22, 2007 pukul 2:14 pm
Yup… identitas itu absurd… sedangkan laku dan ilmu adalah hal yang berbeda. Salam kenal. Senang telah menemukan ilmu disini.
November 22, 2007 pukul 2:24 pm
Nderek belasungkowo ndoro
November 22, 2007 pukul 3:33 pm
the best counsel one can have. oneself.
November 22, 2007 pukul 3:44 pm
ndoro, iki opo seh ndoro… jadi sedih bacanya….
November 22, 2007 pukul 3:51 pm
mesak’ke temenan
November 22, 2007 pukul 3:52 pm
gak jelas…ckckck..
November 22, 2007 pukul 3:57 pm
hayaaaah, kok ya ditulis …
November 22, 2007 pukul 4:06 pm
hmmm…
*fnasaran*
.
.
*melakukan investigasi*
November 22, 2007 pukul 4:24 pm
saya masih bingung ini cerita tentang siapa ya ndoro, tetapi jika beneran blog itu telah mati saya masih yakin bahwa idenya masih terus ada dan tak akan mati
November 22, 2007 pukul 4:40 pm
Tentang blog wadehel kah?
http://wadehel.wordpress.com/
Maapin kalo salah…
November 22, 2007 pukul 4:46 pm
perempuan itu pasti keasyikan bermain dengan kuda, kelinci, dan rusa ndoro…
November 22, 2007 pukul 5:13 pm
Think: Dalam, dalem, jero ndoro…
November 22, 2007 pukul 6:23 pm
Ini juga melankolik. Tapi aku kadung GR, aku pikir dia nyari B(logombal) je, Kang. Ayo sudahi segera! Eh tapi thanks lho…
November 22, 2007 pukul 6:40 pm
http://www.blogisdead.com - mungkin nama ini bagus untuk bikin blog baru tentang dinamika perkembangan blog global.
November 22, 2007 pukul 6:48 pm
Ndoro, nisan ilustrasinya harusnya bukan RIP, tapi RIB (rest in blog) hehehee….
November 22, 2007 pukul 7:04 pm
haduh haduh
dead mean kembali ke asal
November 22, 2007 pukul 7:10 pm
ndoro lama2 menyaingi capingnya GM
*berhenti mbaca halaman kedua dari belakang tempo*
November 22, 2007 pukul 7:15 pm
ini kurusetra game online itu ya?
November 22, 2007 pukul 9:29 pm
wahai paklik isnogud…
bloge dead ora popo.. sing temping pentike…
sesuai falsafah bangsa: diudani terus didilat rame rame..
November 22, 2007 pukul 10:29 pm
waduh..enek sing kepaten to?
November 23, 2007 pukul 1:15 am
Munyuk Enteng:
Mangkin lama kawulo sing mangkin enteng nopo ndoro sing mangkin abot?
November 23, 2007 pukul 8:54 am
mergo ra mudeng akhire malah ngakak moco komene endiks..haha
November 23, 2007 pukul 9:23 am
endiks saru ndoro, mosok ngomong temping bolok…
nganggo didilati maneh, kemproh
November 23, 2007 pukul 6:35 pm
Ayo minum “napasin” dulu deh biar blognya idup lagi
November 24, 2007 pukul 9:49 am
blog sapa to ndoro yang meninggal? wah eman2,,blog itu penting buat keseimbangan idup *mengutip venus-to-mars.com*
November 24, 2007 pukul 7:06 pm
Menyoal identitas dan pada mulanya, jadi ingat lelucon lama dari Reader’s Digest, lupa sumbernya:
Socrates: to do is to be
Sartre: to be is to do
Sinatra: do be do be do
Mungkin LA Light sangat mencintai Sinatra.