R.I.P Pecas Ndahe

November 22nd, 2007 § 36 Komentar

The blog is dead. Seseorang mengeluh dengan lirih. Saya tahu, ia seolah hendak melawan, tapi tertahan. Ia kalah, tapi tidak takluk.

The blog is dead … long time ago. Air matanya tertahan di sudut. Bibirnya terkatup rapat. Saya tahu, ia gundah. Tapi, mungkin agak sedikit lega. Akhirnya ia bisa bebas, lepas dari sekat-sekat yang begitu lama membelenggu.

The blog is dead, but not the ideas. Ah, ia sudah bisa tersenyum. Saya lihat matanya menyala-nyala. Ada saga di sana.

Sebab memang, ketika pedang ditanggalkan, dan ilmu tertinggi adalah kekosongan — seperti halnya Bukek Siansu yang bahkan tak berbaju dan tak bersandal — apa lagi yang bisa mengalahkan seseorang selain dirinya sendiri?

Lalu saya ingat Paklik Isnogud yang pernah bercerita tentang Karna, tentang kematian, dan betapa absurdnya sebuah identitas.

“Malam itu, di Padang Kurusetra yang resah,” Paklik memulai ceritanya, “Karna berpamitan pada istrinya di dalam tenda.”

Istriku, jangan kau sedih. Aku memang mengulang kegetiranku. Di dunia kita yang telah dinubuat ini, Istriku, seseorang hanya mendapatkan dirinya tak jauh dari pintunya berangkat.

Betapa menyesakkan! Sebab itu, Istriku, aku harus membuktikan bahwa seseorang ada, seseorang menjadi, karena tindakannya, karena pilihannya – bukan karena ia telah selesai dirumuskan.

Seorang resi pernah berkata: pada mulanya adalah Sabda, dan Sabda menjadi Kodrat. Bagiku, pada mulanya adalah perbuatan. Dari perbuatan lahir pengetahuan, dan dengan pengetahuan itu aku bisa merumuskan diriku.

Lalu kucari ilmu, Istriku. Kau tahu, mengapa? Ilmu akan mengukuhkan aku bukan cuma anak suta yang hina.

Setelah kukuasai semua astra dan semua senjata, aku tahu ilmu bisa melepaskan kita dari perbedaan susunan rendah dan tinggi. Tapi akhirnya hanya tindakan besar yang membebaskanku.

Maka, jika aku esok mau, Istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku …

“Kita tahu dari para dalang,” kata Paklik, “keesokan siangnya, perang berhenti sejenak untuk menghormati Karna yang gugur. Dan Kurusetra berubah merah bersemu kelabu.”

>> untuk perempuan yang sedang mencari si B, yang pernah bertemu si A, di ngarai yang dalam tanpa bersedia menerima uluran tali.

§ 36 Responses to R.I.P Pecas Ndahe

  • jalansutera mengatakan:

    pertamax buatan pertamina..
    kita untung, bangsa untung…

  • jalansutera mengatakan:

    emang blog siapa yang mati? emang siapa yang beristirahat untuk selamanya?

  • use mengatakan:

    Podium

  • Biho mengatakan:

    turut berduka cita sedalam-dalamnya :D

  • kethekkere mengatakan:

    ga mudeng aku………….

  • mr.bambang mengatakan:

    Kalau memang dia itu sempat berjasa bagi dunia perblogeran, mari kita usulkan kepada pamerantah untuk menjadi Pahlawan Blogger Nasional :)

    Hormat!!!!! GErakkkkk!!!! :D

  • pitik mengatakan:

    sik..sik..kutipan sampeyan tentang karna itu kok rasanya familier..dari siapa yah?:D

  • hanny mengatakan:

    du du du du du…

  • aprikot mengatakan:

    jd inget perbincangan kmrin sore :D

  • ndahmaldiniwati mengatakan:

    bukannya yg sedih justru orang yang bisa memandang jasad orang yg ga’ bisa lg memandangnya?? ahh ga’ tau juga gimana kesedihan org yg dah mati, lum ngalamin:D

  • Yoga mengatakan:

    Yup… identitas itu absurd… sedangkan laku dan ilmu adalah hal yang berbeda. Salam kenal. Senang telah menemukan ilmu disini.

  • Yu Djoem mengatakan:

    Nderek belasungkowo ndoro :(

  • nananias mengatakan:

    the best counsel one can have. oneself.

  • S a k t i mengatakan:

    ndoro, iki opo seh ndoro… jadi sedih bacanya….

  • anprax mengatakan:

    mesak’ke temenan

  • phy mengatakan:

    gak jelas…ckckck..

  • Mbilung mengatakan:

    hayaaaah, kok ya ditulis …

  • hoek mengatakan:

    hmmm…
    *fnasaran*
    .
    .
    *melakukan investigasi* :mrgreen:

  • Totoks mengatakan:

    saya masih bingung ini cerita tentang siapa ya ndoro, tetapi jika beneran blog itu telah mati saya masih yakin bahwa idenya masih terus ada dan tak akan mati

  • Rystiono mengatakan:

    Tentang blog wadehel kah?

    http://wadehel.wordpress.com/

    Maapin kalo salah…

  • kw mengatakan:

    perempuan itu pasti keasyikan bermain dengan kuda, kelinci, dan rusa ndoro…

  • Titis Sinatriya mengatakan:

    Think: Dalam, dalem, jero ndoro…

  • Paman Tyo mengatakan:

    Ini juga melankolik. Tapi aku kadung GR, aku pikir dia nyari B(logombal) je, Kang. Ayo sudahi segera! Eh tapi thanks lho… :D

  • http://www.blogisdead.com – mungkin nama ini bagus untuk bikin blog baru tentang dinamika perkembangan blog global.

  • moopy mengatakan:

    Ndoro, nisan ilustrasinya harusnya bukan RIP, tapi RIB (rest in blog) hehehee….

  • aVank mengatakan:

    haduh haduh
    dead mean kembali ke asal

  • arya mengatakan:

    ndoro lama2 menyaingi capingnya GM
    *berhenti mbaca halaman kedua dari belakang tempo*

  • kenji mengatakan:

    ini kurusetra game online itu ya?

  • endikz mengatakan:

    wahai paklik isnogud…
    bloge dead ora popo.. sing temping pentike…
    sesuai falsafah bangsa: diudani terus didilat rame rame..

  • Pacul Cicipilah mengatakan:

    waduh..enek sing kepaten to?

  • Abi_ha_ha mengatakan:

    Munyuk Enteng:
    Mangkin lama kawulo sing mangkin enteng nopo ndoro sing mangkin abot?

  • mei mengatakan:

    mergo ra mudeng akhire malah ngakak moco komene endiks..haha

  • NuDe mengatakan:

    endiks saru ndoro, mosok ngomong temping bolok…
    nganggo didilati maneh, kemproh

  • Domba Garut! mengatakan:

    Ayo minum “napasin” dulu deh biar blognya idup lagi :D

  • ika mengatakan:

    blog sapa to ndoro yang meninggal? wah eman2,,blog itu penting buat keseimbangan idup *mengutip venus-to-mars.com*

  • blogidator mengatakan:

    Menyoal identitas dan pada mulanya, jadi ingat lelucon lama dari Reader’s Digest, lupa sumbernya:
    Socrates: to do is to be
    Sartre: to be is to do
    Sinatra: do be do be do

    Mungkin LA Light sangat mencintai Sinatra.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading R.I.P Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 258 pengikut lainnya.