R.I.P Pecas Ndahe

By Ndoro Kakung

The blog is dead. Seseorang mengeluh dengan lirih. Saya tahu, ia seolah hendak melawan, tapi tertahan. Ia kalah, tapi tidak takluk.

The blog is dead … long time ago. Air matanya tertahan di sudut. Bibirnya terkatup rapat. Saya tahu, ia gundah. Tapi, mungkin agak sedikit lega. Akhirnya ia bisa bebas, lepas dari sekat-sekat yang begitu lama membelenggu.

The blog is dead, but not the ideas. Ah, ia sudah bisa tersenyum. Saya lihat matanya menyala-nyala. Ada saga di sana.

Sebab memang, ketika pedang ditanggalkan, dan ilmu tertinggi adalah kekosongan — seperti halnya Bukek Siansu yang bahkan tak berbaju dan tak bersandal — apa lagi yang bisa mengalahkan seseorang selain dirinya sendiri?

Lalu saya ingat Paklik Isnogud yang pernah bercerita tentang Karna, tentang kematian, dan betapa absurdnya sebuah identitas.

“Malam itu, di Padang Kurusetra yang resah,” Paklik memulai ceritanya, “Karna berpamitan pada istrinya di dalam tenda.”

Istriku, jangan kau sedih. Aku memang mengulang kegetiranku. Di dunia kita yang telah dinubuat ini, Istriku, seseorang hanya mendapatkan dirinya tak jauh dari pintunya berangkat.

Betapa menyesakkan! Sebab itu, Istriku, aku harus membuktikan bahwa seseorang ada, seseorang menjadi, karena tindakannya, karena pilihannya - bukan karena ia telah selesai dirumuskan.

Seorang resi pernah berkata: pada mulanya adalah Sabda, dan Sabda menjadi Kodrat. Bagiku, pada mulanya adalah perbuatan. Dari perbuatan lahir pengetahuan, dan dengan pengetahuan itu aku bisa merumuskan diriku.

Lalu kucari ilmu, Istriku. Kau tahu, mengapa? Ilmu akan mengukuhkan aku bukan cuma anak suta yang hina.

Setelah kukuasai semua astra dan semua senjata, aku tahu ilmu bisa melepaskan kita dari perbedaan susunan rendah dan tinggi. Tapi akhirnya hanya tindakan besar yang membebaskanku.

Maka, jika aku esok mau, Istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku …

“Kita tahu dari para dalang,” kata Paklik, “keesokan siangnya, perang berhenti sejenak untuk menghormati Karna yang gugur. Dan Kurusetra berubah merah bersemu kelabu.”

>> untuk perempuan yang sedang mencari si B, yang pernah bertemu si A, di ngarai yang dalam tanpa bersedia menerima uluran tali.

36 Tanggapan ke “R.I.P Pecas Ndahe”

  1. jalansutera Berkata:

    pertamax buatan pertamina..
    kita untung, bangsa untung…

  2. jalansutera Berkata:

    emang blog siapa yang mati? emang siapa yang beristirahat untuk selamanya?

  3. use Berkata:

    Podium

  4. Biho Berkata:

    turut berduka cita sedalam-dalamnya :D

  5. kethekkere Berkata:

    ga mudeng aku………….

  6. mr.bambang Berkata:

    Kalau memang dia itu sempat berjasa bagi dunia perblogeran, mari kita usulkan kepada pamerantah untuk menjadi Pahlawan Blogger Nasional :)

    Hormat!!!!! GErakkkkk!!!! :D

  7. pitik Berkata:

    sik..sik..kutipan sampeyan tentang karna itu kok rasanya familier..dari siapa yah? :D

  8. hanny Berkata:

    du du du du du…

  9. aprikot Berkata:

    jd inget perbincangan kmrin sore :D

  10. ndahmaldiniwati Berkata:

    bukannya yg sedih justru orang yang bisa memandang jasad orang yg ga’ bisa lg memandangnya?? ahh ga’ tau juga gimana kesedihan org yg dah mati, lum ngalamin :D

  11. Yoga Berkata:

    Yup… identitas itu absurd… sedangkan laku dan ilmu adalah hal yang berbeda. Salam kenal. Senang telah menemukan ilmu disini.

  12. Yu Djoem Berkata:

    Nderek belasungkowo ndoro :(

  13. nananias Berkata:

    the best counsel one can have. oneself.

  14. S a k t i Berkata:

    ndoro, iki opo seh ndoro… jadi sedih bacanya….

  15. anprax Berkata:

    mesak’ke temenan

  16. phy Berkata:

    gak jelas…ckckck..

  17. Mbilung Berkata:

    hayaaaah, kok ya ditulis …

  18. hoek Berkata:

    hmmm…
    *fnasaran*
    .
    .
    *melakukan investigasi*
    :mrgreen:

  19. Totoks Berkata:

    saya masih bingung ini cerita tentang siapa ya ndoro, tetapi jika beneran blog itu telah mati saya masih yakin bahwa idenya masih terus ada dan tak akan mati

  20. Rystiono Berkata:

    Tentang blog wadehel kah?

    http://wadehel.wordpress.com/

    Maapin kalo salah…

  21. kw Berkata:

    perempuan itu pasti keasyikan bermain dengan kuda, kelinci, dan rusa ndoro…

  22. Titis Sinatriya Berkata:

    Think: Dalam, dalem, jero ndoro…

  23. Paman Tyo Berkata:

    Ini juga melankolik. Tapi aku kadung GR, aku pikir dia nyari B(logombal) je, Kang. Ayo sudahi segera! Eh tapi thanks lho… :D

  24. Blog Strategi + Manajemen Berkata:

    http://www.blogisdead.com - mungkin nama ini bagus untuk bikin blog baru tentang dinamika perkembangan blog global.

  25. moopy Berkata:

    Ndoro, nisan ilustrasinya harusnya bukan RIP, tapi RIB (rest in blog) hehehee….

  26. aVank Berkata:

    haduh haduh
    dead mean kembali ke asal

  27. arya Berkata:

    ndoro lama2 menyaingi capingnya GM
    *berhenti mbaca halaman kedua dari belakang tempo*

  28. kenji Berkata:

    ini kurusetra game online itu ya?

  29. endikz Berkata:

    wahai paklik isnogud…
    bloge dead ora popo.. sing temping pentike…
    sesuai falsafah bangsa: diudani terus didilat rame rame..

  30. Pacul Cicipilah Berkata:

    waduh..enek sing kepaten to?

  31. Abi_ha_ha Berkata:

    Munyuk Enteng:
    Mangkin lama kawulo sing mangkin enteng nopo ndoro sing mangkin abot?

  32. mei Berkata:

    mergo ra mudeng akhire malah ngakak moco komene endiks..haha

  33. NuDe Berkata:

    endiks saru ndoro, mosok ngomong temping bolok…
    nganggo didilati maneh, kemproh

  34. Domba Garut! Berkata:

    Ayo minum “napasin” dulu deh biar blognya idup lagi :D

  35. ika Berkata:

    blog sapa to ndoro yang meninggal? wah eman2,,blog itu penting buat keseimbangan idup *mengutip venus-to-mars.com*

  36. blogidator Berkata:

    Menyoal identitas dan pada mulanya, jadi ingat lelucon lama dari Reader’s Digest, lupa sumbernya:
    Socrates: to do is to be
    Sartre: to be is to do
    Sinatra: do be do be do

    Mungkin LA Light sangat mencintai Sinatra.

Tinggalkan Balasan