Megatruh Pecas Ndahe

Sebuah kisah jatuh dari dahan ke sungai yang keruh. Ia hanyut ke sana-sini. Bunyinya seperti megatruh, dari jenis yang paling ngelangut.

Seorang lelaki memungutnya, lalu membacanya pelan-pelan. Dahinya mengernyit tanda berpikir keras. Mungkin juga dia tengah berusaha meresapi karena tak sepenuhnya ia mengerti.

Kisah itu dimulai dengan sebutir embun yang merambas dari kelopak mata seorang perempuan. Bulir-bulir bercahaya itu melintasi beranda kwarsa biru abu-abu dan ruangan berwarna jingga menuju ke balairung panjang tempat orang berpesta.

Ia pun melihat di atas ranjang kelabu terbaring seseorang dengan rambut bermahkota mawar, dengan bibir yang jadi merah karena anggur.

Ia mendekat, menyentuh pundak lelaki yang terbaring itu.

“Kenapa kau hidup seperti ini?” ia bertanya perlahan sambil menggigit ujung bibir.

Lelaki itu tersenyum getir. Sekilas saja. Matanya setengah terpejam.

“Aku lelah, teramat lelah,” jawab si lelaki lirih. “Aku telah mengarungi lima benua, tujuh samudera. Tapi, apa yang kudapat?”

“Apa? Apakah gerangan, Tuan?”

“Aku hanya melihat dirimu. Ketika kuberpaling, lagi-lagi kulihat dirimu. Siapakah engkau?”

Perempuan itu mendadak bisu. Bibirnya kelu. Mulutnya seperti digerendel seribu gembok. Wajahnya muram.

Masih terngiang di kepalanya, bertahun yang silam, lelaki itulah yang memberinya seuntai gelang kaki dengan giring-giring yang berbunyi nyaring.

“Supaya aku tahu kau tak pernah jauh dariku,” kata si lelaki ketika si perempuan bertanya mengapa ia memberinya gelang giring-giring.

Sebuah ikatan. Kepasrahan. Mungkin juga keputusasaan.

Dan, kini lelaki itu sama sekali tak bisa mengingatnya meski giring-giring itu tetap berbunyi nyaring setiap kali kakinya bergerak.

“Ingatlah Tuan, ingatlah. Ayo, kau orang yang gayal. Kau pasti bisa mengenangnya.”

Lelaki itu diam. Tubuhnya menggogol. Parasnya lesi. Ingatannya terbang entah ke mana, sepotong demi sepotong.

Kesedihan, kesepian, kekosongan, telah menggerogoti tubuhnya yang kian renta dan letai. Ke manakah perginya gelora? Ke manakah lenyapnya imaji?

Padahal lelaki itu pulalah yang menggandeng sang perempuan di atas madukara. Membawanya meniti janji-janji menuju moksa.

Adakah gelap telah menyelimuti raga? Adakah sesat membungkus rasa?

Pertanyaan perempuan itu bergema dari ujung sebuah ngarai tanpa dasar, memantul-mantul, hingga lenyap ke angkasa.

>> Untuk perempuan yang tetap bersinar seperti kejora dalam kesendirian. So this is the morning surprise for you.

29 Tanggapan ke “Megatruh Pecas Ndahe”

  1. Sharon Berkata:

    pertamax

  2. extremusmilitis Berkata:

    wah ini lagi “jatuh cinta” ama siapa Ndoro? atau ini buat nyonya di rumah? :)

  3. Yeni Setiawan Berkata:

    Ini bukan tentang Sarah kan ndoro?
    *berharap ada foto Sarah di sini*

  4. silentreader Berkata:

    uhmm…laki-laki dengan rambut bermahkota mawar? laki-laki apa’an tuh! *oon mode on*

    eh…banyak kosakata baru :-)

  5. Titis Sinatrya Berkata:

    Thiiinx: Bahasa jiwa yg dalam, dalem, jero.Buka kamus hati ah…

  6. Ida Arimurti Berkata:

    Indah sekali ceritanya…terharu aku..hebat!

  7. S a k t i Berkata:

    udah 2 kali baca bolak balok, ceritanya sih ngerti (kayaknya) tapi tujuannya belum nih… apa sih ndoro? hehehe…. maklum agak duduls nih otak… ;)

  8. aprikot Berkata:

    bulan ini edisi perempuan yah ndoro??

  9. Bening Berkata:

    Uh, tulisan Ndoro ini bikin hatiku kaya kelapa parut yang diperas santannya :(
    *sambil ngubek-ngubek thesaurus*

  10. anna Berkata:

    Kulo kinten Ndoro badhe nembang Megatruh…Gambuh saget mboten Ndoro…? “Sekar gambuh ping catur..kang cinatur, polah kang kelantur..tanpa tutur…dst…” Nembang dong, Ndoro…

  11. dewi Berkata:

    ah, memang siyalan itu ingatan, bahkan dia ingkar pada kenangan.

  12. pinkina Berkata:

    hahhhh :o perempuan lagi ????

  13. Hiu Berkata:

    Banyak sekali perempuan - perempuan bermain di Pecas Ndahe…mereka selalu tokoh utama. Aku suka.

  14. Not-so-English-speaker Berkata:

    I needed to read over several times as my language (thus, reading) ability is degrading.

    It’s one particularly painstaking story, I must say. Beautifully written piece of yours, but still painstaking.
    Painstaking and heartwrenching.

    Is it what it is I am seeing(read: reading) ?

  15. Silverlines Berkata:

    Ugh, that was me commenting above.
    Not the monkey, though.

  16. ngaku blogger Berkata:

    aaarrggghhhh…. ma kasih, Ndoro. perempuan itu, saya kan?

  17. ndahmaldiniwati Berkata:

    Dahi(saya) mengernyit tanda berpikir keras. Mungkin juga(saya) tengah berusaha meresapi karena tak sepenuhnya(saya) mengerti. Apalagi kosakata jawa-nya, pieww..

    Istirahat dulu ndoro, abis mengarungi 5 benua & 7 samudra masih jetlag kan:D

  18. Mbilung Berkata:

    yihaaaa….”senandung baladewa” mulai ditulis

  19. gatotburisrowo Berkata:

    berapa banyak ya perempuan yang menelan sperma pasangannya? seberapa banyak laki-laki yang merasakan spermanya sendiri?

    hari ini aku mendengar konsultasi sek di radio yang bertanya apakah seorang gadis yang rutin menelan sperma pacarnya. duh aku ingat anakku…

  20. hanny Berkata:

    ah, aku tidak tahu apakah ia pernah meluangkan sedetik saja dari jutaan detik dalam hidupnya untuk mengingatku.

    mungkin aku hanyalah udara tanpa raga yang dihirup dan dihembuskannya tanpa sungguh-sungguh tahu bahwa aku ada. sesuatu yang telah menjadi begitu terbiasa sehingga tak lagi terasa.

    mungkin aku harus pergi hingga ia tahu rasanya tercekik kesepian dalam ketiadaan. tetapi bahkan bayangan itu tak dapat meledakkan senyuman di atas bibirku yang masih sendirian.

    hingga kemudian kusadari, bahwa mungkin… selama ini… ia tak pernah membutuhkan udara untuk bernapas. karena itulah, aku tidak pernah; dan tidak akan pernah, menjadi alasan baginya untuk tetap hidup.

  21. ann!sha Berkata:

    Perempuan, tak pernah henti menjadi inspirasi, bahkan seorang perempuan yang (sedang) sendiri. Enaknya jadi perempuan … Untung saya perempuan! Hehehe

  22. maruria Berkata:

    Bersinar dalam kesendirian??? Yo dikonconi to ndoro…Hehehe..

  23. leksa Berkata:

    hmmm…
    Ndoro menulis indah nya jago!!

    ndak mudeng aku

  24. venus Berkata:

    hadiah yang sangat cantik buat perempuan yg selalu bersinar seperti kejora.

    pantesan si gita pasrah aja biarpun cuma jadi istri ketiga, hwahahaha….

  25. Dee Berkata:

    @venus
    istri keduanya siapa mbooook

  26. Gito Berkata:

    Ndoro , kok saya nggak paham seh? apa harus ikut kuliah sastra dulu baru bisa paham ?

    atau harus mengenal si bintang kejora dahulu untuk bisa paham?

    bagaimana ini ? tolongin dong ndoro…

  27. Aris Berkata:

    Adakah ini kenangan ketika bertemu Diajeng di Milan beberapa waktu yg lalu???

    lanjoot ndoro, ntar bisa dijadikan buku kumpulan cerpen.

  28. Sharon Berkata:

    benere pertamax tuh fungsinya apa tho ndoro? saya ini bingung, lah wong disuruh nulis pertamax, ya ditulis aja. Hahahaha..
    Benere, dah dibaca berulang-ulang masih nggak ngerti maksud ceritanya apa. Mungkin karena saya kurang postmodern, semua-semua harus ada alasannya….

  29. Hedi Berkata:

    ini soal dia yang dulu diajak ke bhi bukan? :D
    *kaburrrrrr*

Tinggalkan Balasan