Saya mendapatkan kiriman foto ini dari Mas Gandrik kemarin. Saya ndak tahu apakah foto yang sama pernah beredar sebelumnya. Mohon maaf kalau “basbang” … hehehe …
Tulisan ini dikirim pada pada Desember 11, 2007 1:31 am dan di isikan dibawah Gambariana. Anda dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed.
Anda dapat merespon, or trackback dari website anda.
Barangkali disengaja untuk menarik perhatian setidaknya kemarin dimilisku pada rame ngebahas tulisan tsb dan sekarang saya tertarik ikut komen di blognya ndoro heheh.
Ehh..tapi itu khan ngutip dari undang-undang khan.. perlu di cek juga mungkin UU-nya bilang gitu “6 (tiga)”
itu karena uang proyek pembuatan reklamenya baru dibayar separo, jadi efeknya separonya dari 6 bulan yang kecetak, kalo dah dilunasi mungkin ganti jadi (enam)
Bukankah matematika SD ada “Jam empatan” ada “Jam Limaan”. Lha yang ini memakai “Jam Tigaan”. Dalam jam hanya ada angka 1,2,3. Hitungan ke enam jatuh pada angka 3.
Saya mah khusnudzon ae. Mungkin itu cuma hoax untuk memecah deretan gigi yang terkatup, nDoro. Dengan olah digital sekarang, kita banyak menemukan hoax seperti foto kepala raksasa bangsa Kana’an yang ukurannya 2 kali orang dewasa. Dengan olah digital, pamflet Djamoe Djago Terpercaya sejak 1911 bisa diubah jadi Terperdaya. Dengan olah digital angka 3 itu bisa dengan mudahnya disulap angka 6. Sayangnya dari foto itu saya tidak menemukan data alamat atau lokasi pendukung yang bisa digunakan untuk membantah bahwa itu sekadar hoax. Funny, though:)
Desember 11, 2007 pukul 1:47 am
hehehe… yg nulis itu baru belajar berhitung ndoro
Desember 11, 2007 pukul 2:10 am
pantesan kereta api gak pernah untung, wong gak bisa membedakan angka 6 dan 3
Desember 11, 2007 pukul 2:28 am
Eh, srius tuh ndoro…
Wkwkwk… Mau ngakak guling2…
Desember 11, 2007 pukul 3:57 am
angka 6 bacanya tiga…..klo 3 bacanya opo???
*pantes pecah ndase* …
kabooorrrr ah…merem sambil ngakak
Desember 11, 2007 pukul 4:41 am
kesalahan cetak *membantu ngeles yg buat :p *
Desember 11, 2007 pukul 5:10 am
itu disengaja kali… hahahahaha
Desember 11, 2007 pukul 5:40 am
“6″ itu yang seharusnya, nanti bisa dikorting jadi “tiga” kalo nambah uang saku buat aparat
Desember 11, 2007 pukul 6:00 am
Wakakaka…
Yang nulis lagi mabok lapen tuh ndoro
Desember 11, 2007 pukul 7:25 am
Barangkali disengaja untuk menarik perhatian
setidaknya kemarin dimilisku pada rame ngebahas tulisan tsb dan sekarang saya tertarik ikut komen di blognya ndoro heheh.
Ehh..tapi itu khan ngutip dari undang-undang khan.. perlu di cek juga mungkin UU-nya bilang gitu “6 (tiga)”
Desember 11, 2007 pukul 7:29 am
Kalau sudah lulus, mungkin lulusan SD Pecas Ndahe tuh Ndoro
Desember 11, 2007 pukul 7:41 am
itu bukan tipuan kamera kan ndoro?
Desember 11, 2007 pukul 7:51 am
PJK butuh spam protector :p
Desember 11, 2007 pukul 8:08 am
Gyaahhh….
kalo ndak salah, dalam matematika, kek geto itu bentuk ferkalian deh. 6 (3), brarti hasilna 18… *sok ngarang*
Desember 11, 2007 pukul 8:23 am
lhah sudah bener gitu kok… *orang ptkai*
Desember 11, 2007 pukul 8:28 am
nulisnya salah tapi maksudnya bener, hukuman 6 bulan (3bln aja yg dijalananin) getuuu lohhhh
Desember 11, 2007 pukul 8:31 am
ndoro…..orang kereta api memang bener2….”mabok”….GUBRAKKK (kaget sambil jatuh dari kursi dgn posisi kaki diatas…:-))
Desember 11, 2007 pukul 9:04 am
suruh ke blognya mbok venus dulu, biar belajar berhitung ndoro
Desember 11, 2007 pukul 9:09 am
cuman bisa ngakak
Desember 11, 2007 pukul 9:17 am
ha ha … selalu tak serius mereka!
Desember 11, 2007 pukul 9:42 am
lha wong lulusan ilmu gathuk, hukuman aja pake di mistik
kok bukan 6 dimistik jadi 9 sekalian ( he he he )
Desember 11, 2007 pukul 9:48 am
bukan hal yang mengejutkan kan? bagaimanapun ini (masih) indonesia. kan bagus bisa untuk berkelit dimana diperlukan.
Desember 11, 2007 pukul 9:49 am
itu karena uang proyek pembuatan reklamenya baru dibayar separo, jadi efeknya separonya dari 6 bulan yang kecetak, kalo dah dilunasi mungkin ganti jadi (enam)
Desember 11, 2007 pukul 10:38 am
berarti itu yang moto bisa sulap … hehehe
Desember 11, 2007 pukul 10:53 am
sepertinya typo belaka, dan kebetulan bagian cek dn riceknya gak ngeh.
Desember 11, 2007 pukul 11:07 am
itu maksudnya paling lama 6 bulan, tapi bisa dinegoisasi jadi 3 bulan aja.
Desember 11, 2007 pukul 12:08 pm
klo di ilmu matematika
dalam tanda kurung bisa jgua dikalikan
berarti isnya 16 bulan tuh
Desember 11, 2007 pukul 1:20 pm
bener2 pecas ndahe :))
Desember 11, 2007 pukul 2:29 pm
itu maksudnya penjara paling lama 6 bulan tapi kalo mau “damai” diskon jd 3 bulan deh
Desember 11, 2007 pukul 2:38 pm
Bukankah matematika SD ada “Jam empatan” ada “Jam Limaan”. Lha yang ini memakai “Jam Tigaan”. Dalam jam hanya ada angka 1,2,3. Hitungan ke enam jatuh pada angka 3.
Desember 11, 2007 pukul 2:42 pm
Intinya… Semua bisa dinego, bukan begitu Ndoro?…
Desember 11, 2007 pukul 6:07 pm
Lagi ngelindur tuh yg ngedesign dan yg nyetak digital print nya juga ngelindur
Desember 11, 2007 pukul 6:50 pm
Oooh..itu bacanya berarti 63 bulan…..he..he
jyan..indonesah banget pokoke lah
Desember 12, 2007 pukul 5:03 am
waakakakakakakakaa =))
Desember 12, 2007 pukul 8:22 am
Itu billboard nya ga lulus service quality control:D
Desember 12, 2007 pukul 9:23 am
Dikorupsi ya?
Desember 12, 2007 pukul 4:13 pm
mungkin waktu nulis mikirnya ‘69′ jadi 6-9 ketemunya 3… itu hasil yang ‘keluar’ dari ‘69′ itu tadi….
(bentar… ‘69′ atau ‘96′ ya….. mimpinya apa sih?)
Desember 13, 2007 pukul 10:41 am
hidup calo sepur…
Desember 15, 2007 pukul 1:07 am
Saya mah khusnudzon ae. Mungkin itu cuma hoax untuk memecah deretan gigi yang terkatup, nDoro. Dengan olah digital sekarang, kita banyak menemukan hoax seperti foto kepala raksasa bangsa Kana’an yang ukurannya 2 kali orang dewasa. Dengan olah digital, pamflet Djamoe Djago Terpercaya sejak 1911 bisa diubah jadi Terperdaya. Dengan olah digital angka 3 itu bisa dengan mudahnya disulap angka 6. Sayangnya dari foto itu saya tidak menemukan data alamat atau lokasi pendukung yang bisa digunakan untuk membantah bahwa itu sekadar hoax. Funny, though:)
Desember 18, 2007 pukul 6:10 am
Lebih parah lagi justru koran Tempo. Seperti yang diposting di blognya mas Kardjo. Koran yang terkenal sempurna itu saja masih bisa keliru… hihihihi