Lompat ke isi

Adab Pecas Ndahe

Desember 24, 2007
oleh Ndoro Kakung

Someone has told me this, “Just because we’re on the Internet doesn’t suddenly mean nobody needs manners anymore.”

Setujukah sampean?

Lalu, bagaimanakah sebetulnya adab bergaul di ranah blog, dan Internet? Perlukah kita menenggang rasa? Toleran? Or rejoice?

Ada yang bilang, kita bahkan tak memerlukan apa itu namanya, etika/etiket. Sebab, di sinilah kita bebas dan merdeka, semaunya. Tata krama cuma ada di alam nyata.

Internet itu jagad buram — maya. Jadi buanglah segala aturan, nilai dan norma, pepatah-petitih, petuah, juga basa-basi itu.

Mmm … begitukah?

33 Komentar leave one →
  1. Desember 24, 2007 2:50 am

    tidak boleh lagi nulis pertamax. :-)

  2. Desember 24, 2007 2:53 am

    Yang berkaitan dengan hablumminannas, apapun bentuknya, menurut Evan, tetap butuh tata krama. Betul nggak, Ndoro?

  3. Desember 24, 2007 3:06 am

    *baca pertanyaan yg terakhir*

    tidak begitu ……….

  4. Abihaha tautan tetap
    Desember 24, 2007 3:13 am

    Setiap bubble bulat bertemu bubble bulat lainnya, selalu membentuk bidang batas yang rata. Begitu pula tatakrama. Nanti ada sendiri, dengan sendirinya.

  5. Desember 24, 2007 4:05 am

    terpenting pake azaz praduga tak bersalah aja ndoro.. :D

  6. Desember 24, 2007 5:06 am

    perlu lah ndoro. cuman persepsi setiap blogger tentang etika dan norma itu yang mungkin beda. :)

  7. Desember 24, 2007 6:17 am

    Perlu tata krama dong ndoro,nyatanya komen pertamax aja gk boleh :D

    *kabooor

  8. Desember 24, 2007 7:16 am

    ya gak gitu lah, ndoro. biarpun blm ada cyber law yg jelas, yg bisa kita jadiin patokan soal manners di ‘dunia maya’ ini (saya kok gak nyaman dengan kata ‘dunia maya’ ya?), tetep aja ada aturan tak tertulis yg musti kita patuhi bersama.
    1. stop nulis ‘pertamax’.
    2. jangan menyerang orang secara pribadi di blog.
    3. gak boleh memuat hal2 yg sifatnya pornografi dan violence (nanti jadi pengen)
    4. harus tetep sopan, baik waktu nulis atau ninggalin kometar, ATAU NANTI NDAK ADA YG MAU NGAJAKIN SITU KOPDARAN.

    begitulah kira-kira, ndoro :D

  9. Desember 24, 2007 7:32 am

    kenyataannya, orang-orang yang nggak beradab di internet adalah orang-orang yang tersingkir dan terkucilkan, kan? :D

  10. Desember 24, 2007 8:26 am

    perlulah tata krama… dimanapun kapanpun
    tergantung orangnya kali ya.

  11. Desember 24, 2007 8:52 am

    Posting yang sampean tulis boleh jadi kian menegaskan tentang problem identitas dan interaksi dalam jagat online. Sherry Turkle, Queen of the Internet yang kondang itu, pernah menarasikannya dengan amat memikat dalam buku bertajuk “Life on the Screen: Identity in the Age of the Internet”.

    Sherry mengatakan persis seperti yang sampean tulis : “Internet itu jagad buram…..”. Disitu ada problem tentang hilangnya identitas, tentang pribadi yang terbelah, tentang lenyapnya batas antara nyata dengan tak-nyata.

    Ndoro, saya benar-benar menunggu post Anda untuk membahas isyu ini secara ekspansif.

  12. Desember 24, 2007 8:59 am

    Yang jelas tidak seperti itu Ndoro. Di-mana-pun kita harus memegang prinsip, “Dimana Bumi Di-pijak, Di-situ langit Di-junjung”. Meskipun dunia maya tak ber-alas, tapi masih ada yang harus kita hormati dan masih ada yang harus kita hargai. Menurut-ku sih begitu ;)

  13. Desember 24, 2007 9:45 am

    adab itu nama fakultas saya ndoro… (fakultas adab dan humaniora) :D

  14. Desember 24, 2007 9:53 am

    paling ideal bergaul di internet ya..di internet saja..begitu terjebak di kopdar, mulailah kita unggah ungguh jaga etika, berhati hati memilih kata kata, sebagaimana sosialisasi dunia nyata..
    ( begitukah ??? )

  15. Desember 24, 2007 12:38 pm

    kalau kita masih menganggap di balik situs, blog dll adalah manusia, maka etika harus tetap ada. karena internet hanyalah sarana penunjang seperti halnya telepon, fax dan lain-lain
    btw, Internet sayah ndak buram tuh…resolusi tinggi jhe…

  16. Desember 24, 2007 12:39 pm

    Why should there’s a difference in manners on the internet and “real” world ? The “party” behind the internet is still a human being, of flesh and blood.
    Even we manner our pets and animals.
    If we’re dealing with a robot, then maybe a different approach might be needed.

    Happy Holidays !

  17. Desember 24, 2007 12:42 pm

    hush…
    kan ada ‘netiquette’…

  18. Desember 24, 2007 1:39 pm

    Ndak setuju ndoro…

  19. lenje tautan tetap
    Desember 24, 2007 2:02 pm

    maap, saya kubu kebebasan bicara di jalur maya. silakan tulis apa aja, mo trolling juga boleh. toh resiko tanggungan masing2, misalnya abis itu yang bersangkutan di-banned, atau gak ditemenin lagi. lagian siapa bilang kalo nulisnya kasar terus dimusuhin? malah ada yang saking kontroversial jadi populer. orang2 seneng kok kalo ada yang bitchy. liat aja website2 yang isinya melulu ejekan terhada gaya busana artis, misalnya. emangnya kalo dia artis, terus gak dianggap orang, sehingga cemoohan terhadap gaya busananya gak boleh dipandang sebagai personal insult? people need those ill-mannered sites to vent their own dissatisfaction and anger and of course their bitchy side. and it keeps them sane in real life.

  20. Desember 24, 2007 2:51 pm

    saya kira tetap ada aturannya kok meskipun tidak tertulis

  21. Desember 24, 2007 3:07 pm

    ga setuju ndoro, teteup aja perlu yang namanya etika. etika menulis misalnya hehe :)

  22. Desember 24, 2007 5:01 pm

    Setuju sama mas iman brotoseno..!!!
    Makanya mending ndak usah kopdaran. Hahahhaha…

  23. Desember 24, 2007 6:18 pm

    apa sih?

  24. Desember 24, 2007 9:57 pm

    Kalau berasumsi internet masih kaya 5 tahun yang lalu, teori keanoniman itu masih bisa berlaku, ndoro. Sekarang setiap blog pun punya identitas. Banyak juga yang membawa identitasnya di dunia nyata sebagai identitas maya.

    Jadi 50:50. Setengah buram setengah tidak. Mirip kaca susu, hehehe.

    Buat gw hubungan etika itu dengan pembangunan citra. Jadi siapapun yang berani membawa identitas dunia nyatanya ke dunia maya, harus berani pula mematuhi etika dan etiket. Lain hal kalau 100% anonim.

  25. Desember 24, 2007 9:58 pm

    menurut saya, komen yang isi-nya cuman kata “pertamax” itu…GANGGU.

    tapi ya menurut orang laen belom tentu. malah bisa jadi bahan becandaan antar blogger yg emang udah akrab.

    tp kok kayaknya kebiasaan nyumbang pertamax ini lebih banyak diantara blogger wordpress ya, ketimbang blogger blogspot. piye menurut sampeyan?

    salam kenal baideweh…

  26. Desember 24, 2007 9:59 pm

    Yap, harus tetep punya tata krama dunk! masa Se enaknya dengkulnya, ntar pembaca ga ada yang mau baca dee.. cuma numpang lewat gitu aja..
    hahahahahahaa, salam kenal Bos

  27. josephine angel tautan tetap
    Desember 24, 2007 10:03 pm

    merry Xmas ndoro, may peace be with you and all the people in the blogsphere..let’s spread love and peace not hatred and violence..GBU

  28. Desember 24, 2007 11:26 pm

    Thiink: Kalau ndak takut kwalat yo ndak jadi apa ndoro menisbikan segala aturan, nilai dan norma, pepatah-petitih, petuah…

    “Met Natal bagi yang merayakan dan Tahun baru 2008 bagi kita smua”

  29. Desember 25, 2007 1:26 am

    ..pepatah-petitih.. baru tahu ada kata ulang seperti ini.. Hihi™ apa ndak sebaiknya diganti: “petatah-petitih” atau “pepatah-pepitih”. Padahal sama ndak bermakna. halah!

  30. Desember 25, 2007 6:00 am

    perlu tapi tidak harus, HALAH!

  31. Desember 25, 2007 12:01 pm

    ummm…sepertinya masih perlu etika sih… :)

  32. Desember 25, 2007 12:41 pm

    Ndoro…numpang mlampah2 ngihh….

Lacak Balik

  1. Ada yang memfitnah saya di blog « Triyani’s Weblog

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS