Setiap kali kalender disobek, dan almanak berganti yang baru, setiap kali pula saya merenung dalam-dalam. Begitu banyak yang sudah lalu, begitu deras yang telah mengalir.
Seperti halnya dengan sampean semua, mungkin juga cuma sebagian, saya sering jadi sentimentil menjelang pergantian tahun. Mengingat waktu yang lewat, mengenang 365 hari yang kemarin.
Saya ingat, Paklik Isnogud pernah menceritakan waktu yang berlalu, juga kenangan, dengan sendu — dulu, di masa lalu.
Ia bilang, “Selalu ada selalu sesuatu yang sentimentil dalam cerita masa lampau yang hilang, Mas. Di sana-sini terasa cengeng dan kelewat manis ketika menengok ke masa ketika banyak hal belum berubah.
Tapi, nostalgia adalah sesuatu yang sah, Mas. Sangat sah.
Toh manusia selalu bergerak antara rasa ingin meninggalkan sebuah tempat dan rasa kangen untuk kembali.
Kita seakan-akan takut hidup terapung-apung seperti gabus botol di laut luas yang tanpa sejarah.
Masa silam memang tak selamanya enak, tetapi ada sesuatu dalam diri kita yang seperti mengakui bahwa kita kini sebenarnya hidup bagaikan para pengungsi: serombongan manusia yang terusir.
Yang mengusir memang hasrat kita sendiri untuk hengkang dari kemiskinan, keterbelakangan, dan sejenisnya.
Kita harus menerima, meskipun dengan rasa enggan, fakta sederhana bahwa kita hidup dalam abad para pengungsi, kata Paklik mengutip Leszek Kwiatkowski.
Kita adalah, kata Kwiatkowski, ‘migran, gelandangan, pengembara, yang gentayangan di benua-benua’, yang mencoba menghangatkan sukma kita dengan kenangan tentang rumah-rumah kita yang dulu — rumah rohani yang kini tak kita tempati lagi.
Hidup jalan terus. Saya, sampean, kita semua berubah. Dan, masa depan menunggu dengan sabar … ” kata Paklik menutup wejangannya, menjelang tahun berganti.
Ah, sang waktu …
Desember 26, 2007 pukul 12:47 am
Hidup ini mengalir seperti air..tapi tetep aja susah ya Ndoro?
Desember 26, 2007 pukul 12:49 am
abad para pengungsi. Ah ya..betul itu,Ndoro.Sering kita lupa arah jalan ke rumah
Desember 26, 2007 pukul 1:17 am
paklik memang sangat bijak ya ndoro, yg penting semoga tahun depan bisa lebih baik lagi dari tahun ini
Desember 26, 2007 pukul 1:34 am
Ndoro,dunia memang akan terus berputar dan kita harus mengikuti itu.kita harus berubah atau akan jadi bubrah?
Desember 26, 2007 pukul 1:49 am
Kutipan analoginya keren…
Desember 26, 2007 pukul 2:50 am
Ada yang bilang masa lalu adalah racun(?) barangkali karena terlalu banyak kesedihan ya?
Hanya penasaran, masa lalu ndoro luar biasa kah?
Desember 26, 2007 pukul 4:54 am
udah mau tahun baru lagi ya? hmm…tempus fugit.
Desember 26, 2007 pukul 5:08 am
waktu…, ndoro tahu gimana caranya untuk bisa melompat ke kemarin dan besok? sehingga kenangan itu tak ada?
Desember 26, 2007 pukul 7:22 am
Kita semua kan produk2 dari masa lalu dan kenangan ndoro
Desember 26, 2007 pukul 7:32 am
wejangan yang menghangatkan pikiran..
Desember 26, 2007 pukul 7:35 am
wah akhir-akhir ini ndoro postingannya “dalem” terus, apa karena udah kangen diajeng nih ?
Desember 26, 2007 pukul 7:56 am
selamat taun baru, ndoro..
Desember 26, 2007 pukul 8:15 am
Kalo kata Al Qur’an sih, merugilah orang-orang yang tidak memanfaatkan waktu dengan baik.
Kalo kata pepatah, Time is Money…
So, kalo ga pengen rugi, jadikan waktu yang kita lalui -dulu, sekarang, nanti- menjadi berarti.
Happy New Year, Ndoro…:)
Desember 26, 2007 pukul 9:09 am
“tak ada yg bisa merubah nasib kecuali diri sendiri” (bener ga ini? kayanya kata “orang bijak”)
Nah jangan melihat ke orang lain, “just do your best” dan bersyukur untuk semua yg didapat…klo mungkin tangan selalu diatas, membagi yg didapat dengan orang lain…tanpa merasa iri atau merasa rendah melihat keberhasilan orang lain….
(egois memang…..)
Desember 26, 2007 pukul 9:44 am
saya berterimakasih kepada masa lalu yang mengantar saya jadi seperti sekarang ini.
Desember 26, 2007 pukul 9:52 am
Thiiinx: ” Tahun baru, lampiran baru, Ndoro “. Ngemeng2 tahun baru pada ngumpul di mana ndoro?… [apakah masih sama dan ditempat yg sama tahun baru yg lalu bersama Diadjeng].
{boleh ngintip ya ndor..}
Desember 26, 2007 pukul 9:57 am
Walau kita tak mungkin membelokkan anak panah sang waktu, namun gak ada salahnya menengok sebentar kebelang. Bukan untuk kembali, namun sekadar meyusuri jejak yang tertinggal. Demi meluruskan arah ke depan yang mungkin saja salah.
Desember 26, 2007 pukul 10:05 am
Jika kita sadar waktu adalah hak Maha Kuasa yang tidak bisa pernah bisa diduga, tentunya hidup penuh mimpi dan kerja keras…
…
Desember 26, 2007 pukul 11:07 am
seperti pengungsi? hah, pas! :d
Desember 26, 2007 pukul 12:04 pm
Banyak hal yang menyakitkan terjadi pada hidupku di tahun ini, namun juga banyak hal yang menyenangkan. Yang penting, kita mesti bisa belajar dari sejarah, supaya nggak masuk lubang yang sama dua kali.
Betul kan ndoro?
Desember 26, 2007 pukul 12:32 pm
di tahun 2008 nanti apakah ndoro tetep mau mempertahankan predikat sbg lelananging jagad ato lengser? itu pertanyaan saya ndoro…
Desember 26, 2007 pukul 3:11 pm
maka dari itu, jgn prnh lupakan sejarah ndoro
Desember 26, 2007 pukul 3:37 pm
Maaf Ndoro, sedikit ralat. Kayaknya yang benar namanya Leszek Kwiatkowski. Bukan Leszek Kowakoswski seperti yang sampean tulis. Ini penyair yang dari Polandia itu kan? Yang menerjemahkan novel berjudul “A Tale of Love and Darkness”?
Desember 26, 2007 pukul 4:19 pm
belajar dari masa lalu untuk hari ini,dan berkembang dan lebih baik dimasa datang
Desember 26, 2007 pukul 4:51 pm
ah, lelananging jagat, pujaan hatiku….
*cekikikan baca komen si gita*
Desember 26, 2007 pukul 6:17 pm
waktu itu satu2nya teman yang seringkali tidak bersahabat
Desember 26, 2007 pukul 6:27 pm
Hanya waktu yang tak bisa ditundukkan manusia, karena waktu adalah satu-satunya wilayah Yang Kuasa…
Desember 27, 2007 pukul 4:24 pm
Klop dengan komentarnya Mas Begundal.
Selalu ada ungkapan dan rasa terimakasih pada masa lalu karena kita hidup untuk menggoreskan sejarah sendiri yang selalu tersimpan sebagai masa lalu ketika kita beranjak melangkah kedepan.
Happy New Year,mari kita lanjutkan cerita kita…..
Desember 28, 2007 pukul 1:10 am
ah.. tulisan yang cantik, Pakdhe!
Tapi apa iya masa depan itu menunggu dengan sabar..?
Apa bukan kita yang terburu-buru, biyayakan mengejar masa depan itu sendiri?