Arsip untuk Desember, 2007

Perempuan Pecas Ndahe

Desember 28, 2007

Bukan perempuan namanya kalau ndak nggaya. Lah wong cuma makan pisang saja kok posenya atraktif seperti ini. Apa punggung dan lehernya ndak pegel ya?

Lantas yang satu ini kok ya milih celana panjang yang gampang melorot. Apa ya ndak khawatir bakal menimbulkan hil-hil yang mustahal? (more…)

Bom Pecas Ndahe

Desember 27, 2007

Ikut berduka cita atas meninggalnya Benazir Bhutto dalam aksi bom bunuh diri di Rawalpindi, Pakistan hari ini.

Ah teror, kekerasan, kapan kau pergi …

[Pic taken from here]

Perawan Pecas Ndahe

Desember 27, 2007

Perempuan dan perjaka negara mana yang paling cepat kehilangan keperawanannya? Warga Amerikakah? Inggris? Jepang? Korea?

Lihatlah datanya di Furfy.com. Sampean bakal melihat statistik mencengangkan. Halah. Datanya, katanya, didapat dari hasil survei sebuah kumpeni pembikin kondom pada 2005.

Sedikit gambaran, menurut situs itu, anak muda Eslandia menyerahkan tubuh keperawanan/keperjakaannya rata-rata pada usia 15,6 tahun. Kau muda di Jerman 15,9 tahun. Indonesia? Lihatlah sendiri di sana.

Eh, eh, eh … jangan lupa mengecek berapa populasi perawan di seluruh penjuru dunia di situs ini. Angkanya berubah terus lo …

UPDATE: Thanks untuk Kang Mbilung yang sudah merevisi definisi “virginity”.

Kunang-kunang Pecas Ndahe

Desember 26, 2007

Kunang-kunang datang dan pergi
Tapi, kenapa ada yang berpendar sampai pagi?
Adakah kesetiaan, adakah gelora, yang menahannya hingga ujung hari?

Entah. Mungkin dia sekadar mendustai takdirnya sendiri …

Kenangan Pecas Ndahe

Desember 26, 2007

Setiap kali kalender disobek, dan almanak berganti yang baru, setiap kali pula saya merenung dalam-dalam. Begitu banyak yang sudah lalu, begitu deras yang telah mengalir.

Seperti halnya dengan sampean semua, mungkin juga cuma sebagian, saya sering jadi sentimentil menjelang pergantian tahun. Mengingat waktu yang lewat, mengenang 365 hari yang kemarin.

Saya ingat, Paklik Isnogud pernah menceritakan waktu yang berlalu, juga kenangan, dengan sendu — dulu, di masa lalu.

Ia bilang, “Selalu ada selalu sesuatu yang sentimentil dalam cerita masa lampau yang hilang, Mas. Di sana-sini terasa cengeng dan kelewat manis ketika menengok ke masa ketika banyak hal belum berubah. (more…)