Pernah ada masanya seseorang berada di simpang jalan. Hatinya bingung. Di manakah aku gerangan berada? Ke manakah perginya orang-orang itu? Di manakah pedoman?
Lalu seseorang berkata. Hati yang bingung bukanlah hati yang mampu untuk setiap bentuk. Hati yang bingung adalah hati yang hanya menghendaki sesuatu yang pasti, final.
Maka seorang yang bingung bukanlah seorang yang dengan terbuka memandang sekltar, tapi seorang yang ketakutan. Ia menggapai-gapai mencari patokan yang paling gamblang.
Aha … rupanya ada orang kesepian bukan karena ia tak lagi punya sanak saudara. Rupanya ada kesepian yang amat sangat ketika seorang merasa tak siap untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang zaman yang ruwet ini.
Dan kesepian itu rupanya ganas. Ia sering tak terasa sebagai kekosongan yang mendalam dan tak disadari. Dan seorang yang tak biasa berpikir, lumpuh, bertanya: bagaimana yang semestinya?
Maka dengan mudah orang yang berwibawa datang. Ia tersenyum hangat dan mengajak berteman. Ia merangkul dan ia memasukkan jawaban “Turutilah aku.”
Turutilah aku dan Anda tak usah berpikir. Serahkan segala tanya segala jawab. Jangan berdiskusi. Itu mencapekkan.
Jangan membantah. Itu akan makin membingungkan. Jangan percaya kepada orang di luar. Jangan undang mereka mendebat. Yakinlah. Atau tidur. Tidurlah …
Dan orang-orang yang kesepian, orang-orang yang kebingungan itu pun senang. Betapa terlepas, betapa bebas, untuk dilindungi dari keharusan berpikir sendiri.
Dan mereka pun mendapatkan kenikmatan yang mudah — seperti halnya banyak kenikmatan lain mereka yang juga mudah.
>> Ah, ini pasti gara-gara menu makan siang yang aneh: nasi, sayur bayam, rendang daging, dan gorengan teks yang merajuk.
Januari 30, 2008 pukul 2:00 pm
bedo lonely karo desolutely kui opo ndoro?
Januari 30, 2008 pukul 2:34 pm
@balibul: komen yang sama ditebar, eh?
ga smua pertanyaan hrus dijawab kok ndoro..;)
Januari 30, 2008 pukul 3:51 pm
Kalau yang ikut berlomba-lomba memaafkan Pak Harto tanpa alasan yang jelas dan kritis itu…
apakah juga termasuk orang-orang yang tersesat dalam ketidakmampuan berpikir sendiri ndoro?
Januari 30, 2008 pukul 3:52 pm
kenikmatan hingga kebingungan berikutnya datang, dan dimulailah pencarian tuhan lain (lagi).
Januari 30, 2008 pukul 4:16 pm
point
Januari 30, 2008 pukul 4:33 pm
jadi… lagi bingung hatinya?
Januari 30, 2008 pukul 4:38 pm
saya pernah merasa bimbang dengan hidup saya
ngerasa capek dengan rutinitas
pada akhirnya saya jd lbh memilih utk sendiri bwt sekedar menyegarkan pikiran
mostly, it works
Januari 30, 2008 pukul 5:02 pm
Bukankah kebingungan adalah jalan lain?????
Januari 30, 2008 pukul 5:04 pm
Karena kebingungan yang akan menambah tersesat.
Januari 30, 2008 pukul 5:59 pm
menantikan…
apakah semakin banyak yang bingung lantas tersesat…
Januari 30, 2008 pukul 6:12 pm
Saya Ndoro yang di Kuta Bali itu… Yang disebut-sebut sama Pak Boss saya di blog-nya…
Eh.. tapi kok ndak ada hubunganne karo postinganne panjenengan yo comment-e? Ah ra po po.. itung-itung perkenalan dan klarifikasi *halah*
Januari 30, 2008 pukul 6:44 pm
uhmmm….begitu ya?
*yakin, saya ga sedang diseret orang yang sok wibawa, macam…. mmm….macam sapa ya?
Januari 30, 2008 pukul 6:51 pm
Sepi kadang terasa indah ndoro….
Januari 30, 2008 pukul 9:09 pm
Idenya boleh juga ndoro … tafsirannya bisa melebar dan mendalam … Salut.
Januari 30, 2008 pukul 10:51 pm
Kalo bingung trus bertanya kepada orang yang lagi linglung pasti bikin kita tambah merenung… “Aah orang itu pasti juga lagi limbung, keliatan dari jawabannya yang ga nyambung..” Duh, untung saja kita ga kesandung meski di depan kita ada patung, yang dibuat dari batu gunung.
Ah kok jadi ngalor-ngidul ya Ndorokakung… dasar kalo perut lagi kembung
Januari 31, 2008 pukul 12:02 am
Thiinx :: [think adja] ……*lagi bingung mode
on*
Januari 31, 2008 pukul 3:24 am
Kenapa harus merasa ke-sepi-an kalau masih banyak yang bisa di-laku-kan dan di-nikmati dalam hidup ini Ndoro?
Januari 31, 2008 pukul 11:13 am
kang … bingung adalah jalan tengah antara baik dan buruk, dan itu penyakit dari sethan tuh …
ayo ndor … ganti menu makannya ??? hehehehe
Januari 31, 2008 pukul 3:24 pm
wis…senenganku koyo ngene ndoro.
Januari 31, 2008 pukul 4:20 pm
ada yang bilang, kegelisahan itu adalah cara untuk hidup…
Januari 31, 2008 pukul 8:23 pm
Walah… saya ikut bingung ndoro… (mau pulang kampung, nggak punya ongkos… hehehe)
Februari 1, 2008 pukul 3:55 pm
ndoro kok pinter tho…
Februari 1, 2008 pukul 4:13 pm
dapet dimana tulisannya ndoro, hasil pemikirankah?
Februari 1, 2008 pukul 4:17 pm
kesepian juga merupakan sebuah kesenangan bagi yang menyukainya ndoro..
kebingungan terkadang adalah jalan untuk mencapai kebenaran..
lagi melankolis nih..dunno..
Februari 6, 2008 pukul 2:46 pm
hati yang kesepian ni ceritanya?
wah saya malah suka yang sepi… dikamar sendirian nonton tipi ga ada yang ganggu, tidur ga ada yang ngugar-ugar apa lagi klo pas capek banget seharian beraktifitas, pasti enak poll sepi2…
Intinya sih saya suka sendiri… :d
Kek nya OOT ya? maaf ya ndoro..
Februari 8, 2008 pukul 9:51 am
wong sing bingung kuwi sebabpe kelangan Tekene..gak ngono tah ndoro…?