Kesejahteraan Pecas Ndahe

Pilih mana: “Lapar tapi punya hak” atau “lapar dan tak punya hak”?

Orang lapar yang punya hak dan orang lapar yang tak punya hak jelas bedanya. Tapi, sering kali terdengar kalimat ini: Bapak pemimpin di pucuk kekuasaan negara sedang sibuk mengurusi kemakmuran dan — karena itu — tak punya waktu untuk kemerdekaan.

Tapi tidakkah itu cuma alibi?

Kemerdekaan, tentu saja, bukanlah segala-galanya. Tetapi mengurusi kemakmuran, meningkatkan kekayaan, memeratakan hasil, mengamankan harmoni sosial juga bukan pekerjaan mudah.

Begitu banyak orang terlibat, dan tak satu orang pun — bahkan tak satu kelompok pun — bisa bekerja berhasil sendirian. Lalu orang pun bicara soal partisipasi.

Tapi partisipasi bisa menimbulkan hal-hal yang mencemaskan. Ia mengundang lebih banyak mulut, bukan saja untuk diberi makan, tapi untuk bersuara — kadang keras.

Ia mencoba memberi kesan bahwa banyak pihak diajak bekerja sama, tapi dengan demikian ia memberi peluang rebutan klaim tentang siapa yang paling banyak berbuat.

Barangkali karena itulah pada saat suatu kekuasaan berseru tentang “partisipasi”, pada saat itu pula ia berjaga-jaga. Kalian boleh ikut serta bekerja, tapi biarlah kami yang menentukan.

Kalian jangan ribut, segala akan beres. Dan mekanisme yang disusun untuk “jangan ribut-tapi-ikut, dong” itu kadang disebut sebagai demokrasi.

Yang biasanya kurang diperhatikan ialah faktor waktu. Bagaimana partisipasi yang terbatas, dan demokrasi yang begitu terjaga ketat, bisa bekerja seperti semula dalam proses waktu?

Sebelum sampean makin bingung, marilah bertamasya ke seberang lautan. Di Cina, dulu, misalnya tidak cuma sekali orang mencoba sosialisme. Betapa luhurnya cita-cita di balik percobaan itu bisa dilihat dari kata dan perbuatan yang telah ditunjukkan. Tapi sementara itu, betapa rapuhnya bangunan yang dibentuk.

Ambillah eksperimen Wang An-shih dari abad ke-11. Perdana Menteri ini memaklumkan, bahwa di bawah pemerintahannya, negara mengatur banyak hal. Perdagangan, industri, dan pertanian, dikendalikan.

Semua itu, kata Wang, “dengan tujuan membantu beban kaum pekerja dan mencegah mereka terinjak lumat si kaya.”

Maka petani pun diselamatkan dari para rentenir dengan diberi pinjaman berbunga rendah oleh negara. Orang membuka tanah baru dan dibantu dengan benih dan dana.

Pengangguran diatasi dengan mengerahkan pembangunan irigasi besar-besaran. Harga dan upah dikontrol di tiap distrik. Bantuan keuangan diberikan kepada si tua, si tunakarya dan yang sama sekali melarat.

[Aha, mirip Indonesia 20 tahun lalu, mungkin lebih.]

Tapi Warng An-shih tak bertahan lama. Sementara dia mencoba menyelamatkan si miskin dan si pekerja, ia sebenarnya tak mengajak mereka. Ia pun tak bisa mendapatkan akar di bawah itu. Bahkan juga ia tak mendapatkan bantuan dari aparat pemerintahannya sendiri.

Aparat pemerintahan, karena berada dalam posisi mengatur banyak hal di bidang perekonomian, jadi amat berkuasa dan begitu korup. Dan kita tahu birokrasi yang begini sulit dikontrol, serta sulit pula untuk setia.

[Aha, rasanya kita pernah dan masih melihatnya hingga sekarang: Pemandangan sehari-hari.]

Pada akhirnya, Wang yang berjasa banyak itu pun sendirian. Ketika bencana alam terjadi, banjir datang, begitu pula paceklik, ia dengan mudah disalahkan. Ia jatuh.

[Mmm ... yang ini rasa-rasanya juga pernah kita dengar di sini dalam bentuk lain bukan?]

Eksperimen sosialismenya tak berbekas, dan Cina harus mengalami pergolakan yang pedih sebelum akhirnya mencoba sosialisme baru … di bawah Mao.

26 Tanggapan ke “Kesejahteraan Pecas Ndahe”

  1. ngantuk Berkata:

    adakah kita sedang bercermin ke jauh sana?
    *Hehehe…*

  2. leksa Berkata:

    sosial demokrat gimana Ndoro?
    ga kebayang saya …

    tapi ada benarnya juga,..

    ketika persaingan diserahkan kepada masyarakat sebagai bentuk demokrasi, maka yang ada hukum rimba terjadi..
    ketika pemerintah mengatur segala-galanya, maka muncul peluang birokrat korupsi…

    mosok semua serba Salah Ndoro?
    pengen hidup tenang? bertapa digunung? asosial..?
    waduh, saya sadar ternyata blom pasip inkam seperti Anne Ahira..

  3. yuswae Berkata:

    Rakyat yang lapar mungkin tak peduli soal Sosialisme, kapitalisme, dan isme-isme yang lain Ndoro.

  4. didut Berkata:

    jadi ndoro pilih lapar atau tdk lapar?

  5. nananias Berkata:

    maslow?

  6. didi Berkata:

    ada yang berhasil ndoro: http://id.wikipedia.org/wiki/Umar_bin_Abdul-Aziz

  7. Goop Berkata:

    Serasa mengerti tapi belum…
    serasa tahu tapi tidak…
    serasa memahami, tapi malah asing…
    ____________________________________
    oiya, salam kenal ndoro..

  8. starboard Berkata:

    Susah saya menerjemahkan nya ndoro :(

  9. Nazieb Berkata:

    Rakyat itu hanya mau makan enak, harga murah dan hidup mudah, ndak peduli gimana caranya dan bingungnya pemerintah, pokoknya harus gitu

  10. Mbilung Berkata:

    lapar tapi punya hak? kontradiktif.
    yang saya sering lihat itu lapar dan ndak punya hak :D

  11. kw Berkata:

    mungkin diperlukan “diktator” yang pro rakyat bawah kekkekekekkek

  12. pns gila Berkata:

    Waduh…rada srius neh postingannya ndoro…tapi bagus kok.

  13. Titis Sinatrya Berkata:

    Thiinx :: miturut penemuku kok ono hubungane karo undur-undur sing nari poco-poco [cd = cape dech].

  14. pututik Berkata:

    aku milih nggak laper tapi dapat terpenuhi haknya dan mampu melaksanakan kewajiban. Indonesia Jaya-Jaya…

  15. munyuk pemalu Berkata:

    mmmm…itu makanya soeharto bikin demokrasi pancasila? xixixi….salah satu isinya: boleh kritik asal ga kedengeran

  16. wieda Berkata:

    pelajaran sejarah????

  17. extremusmilitis Berkata:

    Hmmm, bukan-kah dalam hidup ini harus ter-cipta simbiosis mutualisme Ndoro? Tapi emang benar sih, sering sekali kita itu malah cuma mikirin ke-sejahtera-an diri kita sendiri dan nggak peduli ama orang lain, apalagi tuh mereka-mereka yang bisa nikmati ke-senang-an di atas pen-derita-an orang lain :P

  18. jalansutera Berkata:

    ya lebih baik punya hak dan sejahtera. bukan begitu?

  19. kolor-bolong Berkata:

    bukan pilihan yg enak ndoro…

  20. Herman Berkata:

    Dalam contoh yang terjadi akhir2 ini, sepertinya aparat dan petani malah tidak meninggalkan tapi justru meninggikan. Apakah kita justru sedang menanti Mao yang lebih ganas?

  21. antobilang Berkata:

    ada lagi ndoro, kenyang tapi nggak punya hak. kasian bener it hidup cuma buat makan dowang.

  22. cyn Berkata:

    intinya ndoro? hehehehehe

    mending kenyang dan berhak *ngarep*
    soal lapar dan hak, balik lagi ke teori kebutuhan maslow aja ah….

  23. Abihaha Berkata:

    “…Cina harus mengalami pergolakan yang pedih sebelum akhirnya mencoba sosialisme baru … di bawah Mao”

    …dan hari ini Cina ekonominya tumbuh 11,3% dengan surplus perdagangan US$262,2 Milyar.
    Prediksi menguasai ekonomi dunia tahun 2015, dan menjadi kekuatan terbesar ketika 34% ekonomi dunia disumbangkan oleh Asia.

    Masih percaya demokrasi (apalagi yang ontran-ontran)?

  24. Mbah Sangkil Berkata:

    Lapar dan tak punya hak = Rakyat

    Kenyang dan punya Hak = birokrat

    Kenyang dan tak punya hak = benalu

    Lapar tapi punya hak = inang nya benalu

    *berlalu menggandeng kliwon*

  25. dina Berkata:

    sekilas mendingan laper tapi punya hak tapi setelah dipikir2 saya belum pernah bener2 laper (ga ada yang bisa dimakan). Klo dibayangkan rasanya, does’nt matter, laper ya laper..kebutuhan primer tidak terpenuhi, mau apalagi?

    Mbok jangan itu pilihannya thoo..

    I believe there’s enough for everyone :)

  26. Anto Berkata:

    Berani coba sistem lain diluar demokrasi ???

Tinggalkan Balasan