Lompat ke isi

Blogisme Pecas Ndahe

Februari 8, 2008
oleh Ndoro Kakung

Baiklah Ki Sanak, mari kita bicara tentang blogisme. Apa itu? Apa perlunya mengenal istilah asal-asalan ini?

Begini, Ki Sanak. Blogisme itu sebuah paham bahwa blog itu bukan sekadar barang dagangan. Dia dimulai dengan keinginan, dia digerakkan oleh hasrat, sedikit modal [ongkos beli domain dan sewa hosting], lalu diperkenalkan pada blogger dan ke sudut-sudut blogosphere di delapan penjuru angin.

Kami, para blogger, suka menyebut diri macam-macam. Kami kadang bicara tentang klangenan, kerinduan, kenangan, rayuan, narsisme atau … “perjuangan”.

Toh tidak sepenuhnya (atau tak semuanya) kami omong kosong. Ada yang melihat kemasyhuran sebagai tujuan. Banyak yang melihat blog sebagai alat — yang terkadang dilupakan — untuk memperbaiki kualitas dan mengembangkan pilihan-pilihan baru, dalam bacaan.

Tapi benar: blog memang bukan benda suci. Setelah beberapa bulan [haiyah] menekuni soal ini, akhirnya saya menyadari juga bahwa blogisme sebenarnya termasuk soal “kewajiban”.

Blogisme pada akhirnya adalah kemampuan untuk menjawab sebuah tantangan, bagaimana mengisi halaman Write yang kosong.

Tidak jauh dari itu. Tidak jauh lebih luhur. Halaman kosong tiap hari harus diisi. Maka, blogger pun keluar rumah. Dia menyimak ke sana, menyidik kemari: mencari bahan posting.

Mungkin juga dia tak ke mana-mana, hanya mendekam di kamar kos, seraya berharap induk semang lupa menagih sewa bulanan.

Beruntunglah dia jika suatu peristiwa yang dramatis terjadi. Mungkin sebuah adegan percintaan. Mungkin juga sesuatu yang remeh-temeh.

Dia tinggal tulis semua itu dan halaman kosong yang menantinya di PC atau laptop yang menganga putih seperti liang hantu, bisa segera terisi.

Bagaimana bila tak ada apapun yang didapat?

Saya kira blogger ndak akan kewalahan. Mereka ndak akan kurang akal. Bahkan ketika tak punya apa pun, mereka bisa menulis kata “kosong” atau sekadar secuil titik dan koma di layar.

Para blogger memang tak bisa sepenuhnya dikatakan makhluk mulia: selalu menulis yang baik-baik saja. Kami kadang bergunjing tentang ini dan itu. Sebuah omong kosong tak bermutu dan tiada berfaedah.

Soalnya, cukup banyak orang yang tak puas menghitung semut di dinding dan membaca ramalan cuaca di negeri tropis: besok hujan atau banjir bandang.

Dalam sebuah omong-omong yang sering diselingi menguap, kita suka mengharapkan seorang tamu lain tiba-tiba muncul, dari langit.

Menunggu Godot, seperti dalam drama Samuel Beckett, adalah menanti dengan percakapan panjang yang datar. Suatu situasi yang terasa sia-sia.

Maka, bagaimanapun, blogisme bukanlah sesuatu yang datang menunggang kabar buruk belaka. Blogisme hanyalah bertemunya keinginan kita yang wajar ini: mengelakkan hidup sebagai menunggu Godot.

Tapi bukankah blogisme juga mencemaskan?

Benar. Blog bisa berpengaruh sekali. Tulisan yang tersebar bisa menghasut. Pendapat khalayak ramai bisa terbentuk. Dan seseorang dirugikan.

Tapi marilah kita selidiki sejenak. Perlukah kita cemas bila yang dihadapi hanya sebuah blog dengan jumlah pengunjung harian beberapa puluh orang saja — seperti blog ini — sementara kita hidup di negeri yang penduduknya, katakanlah, 220 juta?

Mungkin perlu. Tapi itu berarti kita ini mungkin sudah tak bisa lagi membedakan, sebuah tulisan yang menyakitkan hati belum tentu berarti sebuah tulisan yang mengacau negeri (dan kedudukan).

Sekian dan terima kasih. Wassalam …

33 Komentar leave one →
  1. Februari 8, 2008 8:20 am

    hayah. ada gosip apa lagi? sini2, ndoro. bisikin saya :D

  2. Februari 8, 2008 8:23 am

    blog itu kutukan yang membebaskan ndoro.
    kalau ada yang cemas dengan adanya blog paling para produsen. karena blogger, konsumen sangat kritis. tapi gak apa-apa biar mereka memperbaiki pelayanannya. (ini kalau mereka sudah melek blog, kayaknya banyak yang belum).

  3. Februari 8, 2008 8:34 am

    sebuah tulisan yang menyakitkan hati belum tentu mengacau negeri….? hmmm…menyindir siapa ini?

  4. Februari 8, 2008 8:49 am

    mungkin mereka yang 220juta dikhawatirkan belum bisa membedakan, Ndoro?

  5. Februari 8, 2008 8:54 am

    … forgetting the fact that tongue is equipped with several taste buds.

  6. Februari 8, 2008 8:57 am

    ‘…Perlukah kita cemas bila yang dihadapi hanya sebuah blog dengan jumlah pengunjung harian beberapa puluh orang saja — seperti blog ini —’
    Halah, sampeyan merendah…hanya bbrp puluh saja??

  7. Februari 8, 2008 9:02 am

    Pemaparan yang sangat bagus Ndoro.. another kind dari manifesto blog nih…
    Terus bersabda Ndoro, rakyatmu mendengarkan…

  8. Februari 8, 2008 9:40 am

    Sisi laen dalam berinteraksi dengan sesama walau di dunia MAYA…Ada kepuasan…??? atau TIDAK…..
    wis ora penting….ya gak..ya gak…

  9. Februari 8, 2008 10:19 am

    Thiinx :: tumben ndoro posting semi formil *ada apa ini – ada apa ini*

  10. Februari 8, 2008 10:31 am

    ini bagian dari rangkaian kampanye agak lebih banyak orang ngeblog kan ya?

  11. Februari 8, 2008 11:15 am

    Aha, semoga saja kita dapat berseberangan secara elegan dan manusiawi…

    Di alam demokratis seperti saat ini masih saja ada seorang Ndoro yang, menurut saya, susah payah menerangkan apa yang sebenarnya pembelaan belaka..

    Atau jangan-jangan karena kehabisan issu dan tissue sehingga “cukup” membahas blog, layaknya seni mengkritik karya seni..???

    Kesejatian blog sebanrnya bukan saja keterbukaan dan berbagi, namun sanggup menerima apapun dari segala kalangan bloger untuk memberlakukan blognya sesuai kehendak pusar di perut.

    Toh, segala konsekuensi, sadar-tidak sadar sudah tersemat pada dirinya. Biarkan blog menari liar dalam gegap-gempita mayantara. Toh akhirnya “Tangan ajaib” akan berlaku seperti biasanya, pasar yang mencari kesetimbangan “the super-duper-heterofactor complexity of blog”. Seperti balon karbit yang ditinggal tidur pun akan mengkeret juga…

    Kata menerima dan biarkan adalah harga yang perlu ditebus saat masa tumbuh seperti sekarang ini…

    Terima kasih Ndoro, topik yang menarik. :D

  12. Februari 8, 2008 12:09 pm

    blog tu makanan apaaaaaaaa….

  13. Februari 8, 2008 12:11 pm

    puyeng bacanya

  14. Februari 8, 2008 12:23 pm

    ndak donk
    dayadonkrendahdotcom

  15. Februari 8, 2008 1:13 pm

    Nge-blog itu dosa…
    Tapi gak nge-blog itu hina dunia akhirat.. :mrgreen:

  16. Februari 8, 2008 1:29 pm

    Jadi saya musti bijimana™ ndoro?

  17. Februari 8, 2008 2:36 pm

    Ehm pledoi yg mantab Ndoro. Meski tanpa menyebut satu nama pun, saya bisa menduga-duga kemana postingan ini ditujukan. Sekarang mari kita tunggu apakah akan ada replik dari beliau. Salam

  18. Februari 8, 2008 2:59 pm

    kalo “NDOROISME” apa itu ndoro ? hehehe

  19. Februari 8, 2008 3:47 pm

    blogis sama dengan biologis ga ndoro? :)

  20. Februari 8, 2008 4:44 pm

    seandainya orang ituh masih hidup akan ada
    KELOMPENCAPIRGER
    (kelompok pendengar, pembaca, pirsawan dan blogger)

  21. Februari 8, 2008 4:53 pm

    mendadak serius gini ndoro? apa gara2 pengaruh banjir membuat jalan berlubang, mobil lewat jadi bergoyang, dan kepala pun jadi serasa mabuk kepayang, bahasa keren kepala mabuk kepayang tidak lain adalah “PECAS NDAHE” -iki komen opo toh…- piss nggih ndoro…

  22. Februari 8, 2008 6:11 pm

    hohoho..blogisme ya ndoro? bagos sangadh fengertiannya! saia jadi tersentuh dan terharu sangadh…
    ah ya, sekarang saia tinggal nunggu versi wikina cahandong sahaja :mrgreen:

  23. Februari 8, 2008 7:13 pm

    Intinya gak perlu kuatir ya ndoro…
    teruskan bebas berekspresi lewat blog…biarpun berapapun yang membaca

  24. Februari 8, 2008 7:40 pm

    blogisme….!
    ok ok…saya mengerti.
    *mangut2 tanda mengerti*

    cuma kok ada yg ganjal yach. Ada apa sampe postingan ini lahir???

  25. silent reverie tautan tetap
    Februari 8, 2008 9:07 pm

    akh dunia maya…, emang kadang2…

  26. Februari 9, 2008 1:08 am

    habis disentil siapa nih? ;) )

  27. Februari 9, 2008 1:13 am

    jadi intinya ini adalah ajakan untuk melihat tulisan blog yang bernada menghasut itu dari mata kanan, dan keluar dari mata kiri gitu, pak?
    :D

  28. Februari 9, 2008 4:42 am

    HAH!

    ini persis obrolan semalam saya dengan Fian di semarang..

    thx, Ndoro.. sedikit menjawab kemelut :D

  29. Februari 10, 2008 11:20 pm

    Saya jadi ingat kutipan dari salah satu puisinya Dylan Thomas, “Hands have no tears to flow”. Mungkin kita tidak menyesali apa yang sudah kita tuliskan dalam blog, karena apa yang kita tuliskan tentu sudah dipikirkan dengan matang dan siap dengan segala resikonya, termasuk saat ada orang yang menyerang posting-an dalam blog kita. Hal ini berbeda dengan bertutur yang terkesan lebih spontan, menulis butuh proses berfikir yang lebih intensif.
    Ngeblog pun sebenarnya penuh resiko, ada saja yang mengusik, atau justru orang lain merasa terusik dengan blog kita?
    Saya salut dengan bahasa2 eupimisme yang sampeyan gunakan dalam posting-an ini, meskipun sebenarnya saya tak tau hendak ditujukan kepada siapa, semua blogger kah, ato si dia, dan si anu?
    Sekali lagi, hands have no tears to flow…

  30. Februari 12, 2008 10:30 am

    Ha..ha…ha…kalau kemudian blog menjadi candu…itu baru pecasndahe ndoro! Tapi daripada pengangguran nambah terus mendingan bikin pembibitan penulis barangkali…

    Kalau soal isinya…ya balik ke pembaca lah…mau semiliar triliun (adopsi bahasa Tukul) penduduk yang baca blog ndoro kalau ndak ngerti isinya ya tetap saja nggak ngaruh toh?! (Asal jangan malah jadi tebak-tebakan ngaco he…he…he…)

  31. Februari 12, 2008 11:02 am

    ah..mbah ndoro ini.
    sesuai dengan kesepakatan bersama (ndak tertulis) bebas nulis apa aja dblog.
    perkara terpengaruh, tersinggung, dan lain sebagainya diserahkan kepada para pembaca masing-masing.

    gitu nggih?

Lacak Balik

  1. abalabalblog » Blog Archive » Andaikan 110 Juta Pelanggan Selular Adalah Blogger
  2. Theater of Dreams » Just Blog It!

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS