If you don’t like something, change it. If you can’t change it, change your attitude. Don’t complain. — Maya Angelon
Berapa kali sampean mengeluh dalam sehari? Sekali, dua kali, sepuluh, atau berkali-kali? Apa sebabnya? Bangun kesiangan. Hujan deras. Ndak bawa payung. Jalanan becek. Angkot penuh. Jalanan macet. Waktu mau nyeberang, eh nyaris diserempet Metromini yang ugal-ugalan.
Huh, pasti sampean misuh-misuh sekencangnya dan mengeluh kenapa pagi-pagi sudah ditimpa kesialan datang bertubi-tubi.
Sewaktu sampean sampai di tempat kerja atau kuliah, eh kok ya nasib apes masih mengekor. Pekerjaan datang bertubi-tubi. Yang satu belum kelar, sudah datang yang lain. Teman kerja cuma enak-enak main game. Bos meeting di luar melulu. Koneksi Internet lelet. Sampean misuh-misuh lagi dan mengeluh kenapa dunia sungguh tak adil.
Begitulah, Ki Sanak. Kita mengeluh setiap saat, melontarkan makian begitu menemukan hal-hal yang tak kita sukai. Kita merasa orang lain, segala sesuatu di luar diri kita, tak pernah beres, tertib, dan rapi. Dan kita mengeluh.
Lampu merah berganti hijau, tapi kendaraan di depan tak juga beranjak. Setelah beberapa detik, ia baru beringsut perlahan. Sampean tak sabar, lalu menekan klakson dengan sepenuh hati, berkali-kali. Aha, itu tandanya sampean mengeluh.
Apa sih sebetulnya keluhan itu? Kenapa pula kita mengeluh?
Ada yang pernah berujar, keluhan itu kritik yang kita sampaikan pada seseorang/orang lain. Apa bedanya dengan gosip? Oh, gosip itu kritik kita pada orang lain yang kemudian kita ceritakan pada seseorang.
Apa beda antara mengeluh dan menyatakan sesuatu?
Kalau sampean bertemu orang di bus kota dan berujar, “Panas ya hawanya,” itu namanya pernyataan.
Tapi kalau sampean bilang, “Jiangkrik, panas amat,” nah ini baru namanya mengeluh.
Contoh lain:
- Eh, sampean melanggar deadline loh. ( pernyataan)
- Saya sudah bilang, jangan melanggar deadline. Kenapa sih, sampean nekat? Tuli ya? (keluhan)
- Saya capek. (pernyataan)
- Saya capek melihat tingkahmu (keluhan)
Memangnya kenapa dengan mengeluh? Ada yang bilang, orang-orang pandai di luar sana, keluhan itu tak mengubah apapun. Jadi daripada mengeluh, lebih baik berbuat sesuatu, dimulai dari diri sampean sendiri.
Daripada mengutuk gelap, lebih baik menyalakan lilin.
Nah, kalau sampean belum mampu mengendalikan keluhan, silakan tengok situs Pak Pendeta Will Bowen.
Pak Bowen itu punya kampanye yang unik. Apakah itu? Silakan ke sana dan temukan keajaiban.
Maret 18, 2008 pukul 1:05 am
mengeluh tak sesering melenguh
Maret 18, 2008 pukul 1:06 am
wah, kalau begitu saya tidak akan mengeluh lagi…
*ah,internet sial***…cuma kirim comment aja ke ndoro lama banget…huh!!!
Maret 18, 2008 pukul 1:11 am
Walah lha kok kula ngeluh ben ndinten ndoro, lha kados pundi malih sampun nasib dados kawula alit
Maret 18, 2008 pukul 2:26 am
lebih baik mengeluh daripada melenguh, ndoro… (emangnya sapi???)
Maret 18, 2008 pukul 4:13 am
saya sering mengeluh tentang anggota2 dewan dan pengurus negara yang tolol itu ..
tuh kan mengeluh..
Maret 18, 2008 pukul 5:11 am
ah..saya gak terpengaruh sama postingan ini
itu keluhan bukan?
Maret 18, 2008 pukul 5:33 am
iya, mengeluh cuman mengendorkan semangat. mending tersenyum, meski harus dipaksakan. ajaib, perasaan2 negaif itu langsung ilang. emang agak-agak kurang waras andai ada yang ngeliat, senyum2 sendiri
Maret 18, 2008 pukul 6:53 am
mengeluh or melenguh, tanda hati tak sehat. Tersenyum lah, agar hati & jiwa mu sehat ndoro.
Maret 18, 2008 pukul 6:57 am
saya jarang mengeluh. kalo mengumpat, ummm…..sering
Maret 18, 2008 pukul 7:11 am
hhhhmm, ndoro barusan:
- diomelin bos gara2 telat deadline? trus mengeluh sejadi jadinya disini ? (oalahh ‘ndoro keluhh’ ‘ndoro keluh’) ..opo
- ngomeli anak buah krn telat deadline ? trus malah dikeluhi macem2?..(dalam ati misuh2 oalahh pak keluhh.., pak keluhh)
Maret 18, 2008 pukul 7:56 am
Great post! Inspiring, Ndoro.
Maret 18, 2008 pukul 8:38 am
sebentar ndoro,
“Saya sudah bilang, jangan melanggar deadline. Kenapa sih, sampean nekat? Tuli ya? (keluhan)”
itu keluhan atau pertanyaan sih?
Maret 18, 2008 pukul 8:46 am
- Saya capek. (pernyataan)
- Saya capek melihat tingkahmu (keluhan)
- Capek deehh….(ngeluh plus ngesu, hehehe..)
Maret 18, 2008 pukul 8:48 am
Mengeluh tanpa menyelesaikan persoalan tak ada gunanya.
Saya pernah diajar oleh prof. hukum…ada pernyataan yang membuat saya ingat terus…tiap orang mempunyai tanggung jawab masing-masing, laksanakan kewajibanmu sesuai tanggung jawabmu itu. Jika semua sudah selesai, barulah mengurusi yang lain….
Maret 18, 2008 pukul 9:17 am
ga cuma butuh niat untuk lepas dari penyakit yang satu ini (mengeluh), tapi juga butuh praktek.
21 hari terhitung mundur mulai sekaranggggg…
Maret 18, 2008 pukul 9:25 am
eee..iyya..pendeta itu dulu bangett aku pernah lihat di OPRAH show. Beli gelang nya yuuk..
Maret 18, 2008 pukul 9:45 am
nyindiiiiiiiiiiiieeeeerrr!!!!!!!!
**mesti dijawab : lha itu urusanmu tik kalo ngerasa kesindir**
Maret 18, 2008 pukul 9:46 am
lhoh??!!
potoku kok ganti munyuk??!!
Maret 18, 2008 pukul 9:53 am
gimana ya ndoro?
kadang capek juga sih tiap hari kok ya isinya mengeluh, saya emang manusia tidak tau terima kasih..*mengeluh lagi*
Maret 18, 2008 pukul 9:57 am
jadi ingat…
Stop complaining!“ said the farmer,
Who told you a calf to be ?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?“ (Joan Baez: Donna Donna)
Maret 18, 2008 pukul 9:59 am
Gelangnya warna ungu. Ndak suka aku (mengeluh juga)
Maret 18, 2008 pukul 10:03 am
Loh kok avatarku gambar munyuk? (mengeluh lagi)
Maret 18, 2008 pukul 11:02 am
wah itu yang ‘koneksi inet lemot’ hahaha kena sekali ke saya,,
Maret 18, 2008 pukul 12:16 pm
beuh…… [ini keluhan ato bukan?]
Maret 18, 2008 pukul 3:00 pm
Ndoro kalau daerahku kena giliran mati lampu seharian dan tanpa pemberitahuan lebih dulu, boleh mengeluh ndak?
Maret 19, 2008 pukul 11:23 am
mengeluh sama melenguh beda dikit yo ndoro ?
Kalo mengeluh distempel salah, yo melenguh wae ndoro !
Maret 19, 2008 pukul 5:20 pm
“Daripada mengutuk gelap, lebih baik menyalakan lilin.”
lha nyari lilin dalam gelap ya setengah mati pak. nubruk sana-sini, akhirnya mengumpat.
itu mengeluh juga ya pak?
Maret 19, 2008 pukul 5:41 pm
penggemar OPRAH juga ya….