Kontras Pecas Ndahe
Seorang kawan dengan bergemuruh bercerita tentang pengalamannya menyaksikan Mega Bazar Computer di Jakarta Convetion Center yang ditutup Ahad lalu.
Pameran komputer gede-gedean itu katanya dikunjungi sekitar 30 ribu orang yang membayar tiket masuk Rp 5.000. Orang memadati arena pameran hampir seharian. Mereka berjalan hilir mudik sambil menenteng laptop-laptop anyar yang baru dibeli.
“Kalau melihat antusiasme orang yang datang, belanja ini dan itu, di pameran komputer itu kok saya jadi merasa orang Indonesia sudah maju dan makmur yo, Mas. Orang Indonesia itu ternyata sangat melek dan haus teknologi,” kata teman saya itu.
“Bagus dong,” jawab saya sekenanya.
“Tapi, tapi, Mas … eh, kok saya merasa miris juga ya.”
“Loh miris piye sih?”
“Soalnya saya merasa aneh. Ketika sebagian orang menyerbu pameran komputer, menghamburkan rupiah, saya melihat di daerah lain orang masih antre beli minyak tanah.
Terus di perempatan di dekat tempat pameran, saya juga masih melihat anak-anak jalanan menadahkan tangan berharap kita mengulurkan selembar rupiah. Bajunya kumal dan compang-camping. Kok rasanya kontras betul ya?”
“Loh biasa to,” jawab saya. “Inilah yang namanya Jakarta, Ibu Kota Republik Indonesia. Sampean bisa menemukan permata berkilau bersanding dengan telek pitik. Yan moncer dekat yang kumal. Sampean bisa melihat the beauty and the beast bersebelahan, juga si miskin dan kaya yang hidup bersama.
Kenapa sampean masih merasa heran, seolah-olah ada sesuatu yang ganjil? Ndak usah terlalu sentimentil. Beginilah hidup di tanah air yang katanya gemah ripah loh jinawi itu.”
“Wow sampean sinis, Mas.”
“Sinis piye? Itu kenyataan je,” jawab saya ndak mau kalah.
Belum lagi teman saya itu membuka mulut, tiba-tiba di belakang kami terdengar suara orang terkekeh. Suara ketawanya yang khas itu mengingatkan saya pada seseorang … Paklik Isnogud.
Ah, rupanya sudah dari tadi dia menguping pembicaraan saya dan teman saya itu. Sambil mendekat ia terus tersenyum.
“Sampean luar biasa, Mas. Makin lama, makin tajam lidah sampean,” kata Paklik.
Waduh. Disindir begitu, saya jadi ndak enak hati. “Maaf Paklik. Saya ndak tahu ada sampean.”
“Ndak apa-apa, Mas. Rileks saja. Saya menikmati obrolan sampean berdua kok,” kata Paklik yang sebentar kemudian ikut ngobrol.
“Nah, mumpung ada Paklik, mari kita tanyakan kesannya tentang pengalaman dan perasaan saya tadi, Mas,” kata teman saya.
“Oh iya, Paklik. Kami tadi sedang diskusi tentang betapa kontrasnya kehidupan di Jakarta ini. Betapa yang kaya ternyata dekat sekali dengan mereka yang papa, kere-kere gombal itu,” saya ikut menjelaskan.
Paklik diam sebentar mendengarkan ocehan kami. Lalu, setelah menyalakan tembakau lintingannya, dengan suara yang lirih, ia mulai bercerita.
“Kota-kota memang sering berbicara tentang kemiskinan dengan cara yang paling menikam. Kalau ndak salah ingat, saya sudah cerita soal ini beberapa kali yo, Mas,” kata Paklik Isnogud.
“Oh iya, saya ingat, dulu Paklik pernah cerita,” jawab saya.
“Nah, apa yang sampean lihat di Jakarta ini mirip dengan kisah yang diceritakan oleh seorang Amerika tentang London pada 1849.
Di tengah keserba-melimpahan yang luar biasa itu, ada laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang mati kelaparan. Seiring dengan kereta kuda yang gilang- gemilang, yang berlapiskan emas, yang berwiru sutera, yang diiringi pelayan berseragam, mereka yang miskin, sendirian, tanpa harap, telanjang …
Begitulah penulis itu menggambarkan London. Bagaimana kemiskinan itu secara tajam menusuk bisa dibaca dari sebuah laporan lain dari pertengahan abad ke-19 itu.
Laporan itu mengisahkan kesaksian seorang penulis yang melihat hidup sekelompok orang miskin yang bekerja sebagai para pemungut tulang.
‘Saya telah melihat mereka mengambil sekerat tulang dari seunggun kotoran dan menggerogotnya sementara masih panas oleh proses meragi dan membasi … ‘
Rupanya pemandangan itu universal: kota-kota berbicara tentang kemiskinan dengan cara yang menikam, bukan karena sejumlah orang hidup serba kurang atau pas-pasan, melainkan karena kontras di sana yang menganga tajam.
‘Kemelaratan yang paling nyata adalah yang terdapat di kota-kota, karena di sanalah ekses-ekses saling bertetangga,’ kata Andre Gide.
Kita tahu ini karena Jakarta pada 2008 sudah seperti London pada 1849, adalah contoh tentang ekses yang berdampingan dengan ekses sedemikian rupa jelasnya hingga praktis sudah menjadi klise.
Apartemen-apartemen dengan kolam renang (dan listrik ribuan watt), pusat-pusat belanja yang menjulang, berdiri pongah di sebelah bedeng-bedeng kumal yang termangu di tepi selokan busuk yang mampet.
Lapangan golf luas yang segar bugar membentang di dekat kampung-kampung yang tak berpekarangan.
Anak-anak muda yang dalam sekejap membuang ratusan ribu rupiah untuk menikmati dua jam pertunjukkan jazz atau rock berpapasan dengan kere berpenghasilan sepuluh ribuan per hari.
Jarak waktu antara 1849 dan 2008 begitu panjang, tapi tak ada tanda bahwa kemiskinan menyusut. Dan, kita cuma bisa termangu.
Jalan rupanya rumit. Tapi, menghabisi kemelaratan saja dengan memberi banyak dana dan kemudahan bagi si papa ternyata tak memperbaiki keadaan.
Sampean boleh saja tiap hari memberi sedekah pada anak-anak jalanan di perempatan itu, tapi saya berani bertaruh, jumlah mereka tak bakal menyusut. Besok, dan besoknya lagi, sampean bahkan akan melihat jumlah mereka berlipat-lipat.
Tapi, ndak usah cemas, Mas. Benjamin Franklin pada 1766 sudah melihat bahwa kedermawanan yang melimpah-ruah yang disaksikannya di Inggris pun hanya merupakan ‘’suatu hadiah untuk menggalakkan kemalasan’. Jadi jangan heran, kata Franklin, akibatnya ialah ‘bertambahnya kemiskinan.’
Maka, agaknya kedermawanan yang sesungguhnya harus berangkat dengan niat bahwa ketimpangan itulah yang mesti ditiadakan, Mas,” kata Paklik sambil mengangkat cangkir kopinya, menyesap sedikit, lalu meletakannya kembali ke meja dengan gaya yang sangat dramatik.
Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya itu, saya lihat mata Paklik menerobos ke luar jendela, entah apa yang sedang ditatapnya.
Saya hanya bisa mendesah pelan, “Ah, kemiskinan … “
Maret 19, 2008 pukul 3:50 am
Miskin itu cuma orang-orang yang sok kaya yang bisa menilainya.
Maret 19, 2008 pukul 4:30 am
jadi kesimpulannya kemiskinan lahir karena ketimpangan, Ndoro?
hmm… sementara “ketimpangan” sendiri adalah pelengkap dari intisari kehidupan.. yin yang .. panas dan dingin
seandainya menyelesaikan ketimpangan seperti mencari air yg hangat…
Maret 19, 2008 pukul 6:17 am
lha, bukannya semua itu ada timbalannya? cepat-lambat, tinggi-rendah, basah-kering, kenyang-lapar ….
Maret 19, 2008 pukul 6:57 am
abisnya gimaana donk kalo nggak sedekah langsung ke orangnya, disalurin lewat pemerintah setempat uangnya malah di tilep
Maret 19, 2008 pukul 7:40 am
Sedih. Jadi inget salah satu pasal UUD: fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Ga kejadian.
Maret 19, 2008 pukul 7:56 am
memang bikin miris. kadang mikir, kok hidup bisa sebegitu gak adilnya, ya?
ah tapi katanya gak boleh mikir gitu..
Maret 19, 2008 pukul 8:29 am
kadang suka bingung, maw kasih sedekah takut mendidik orang jadi males, tapi klo gak ngasih, kesian.. jadi gmn donk??
Maret 19, 2008 pukul 8:49 am
mobil mewah limited edition berjalan beriringan dengan kereta api kelas ekonomi yang superpadat dan tak layak jalan
hmm.. miris
Maret 19, 2008 pukul 9:08 am
mana ada hidup yang adil, ndoro?
Maret 19, 2008 pukul 9:19 am
I blame Capitalism. Klo tetep mau menganut sistem ini tidak ada jalan lain kecuali kedermawanan(kasih kail jangan ikan) or Robinhood :p
Maret 19, 2008 pukul 9:19 am
sedekah gak mesti harus ngasih recehan, kan banyak bentuk yang laen
Maret 19, 2008 pukul 9:20 am
jadi gimana cara ngurangi ketimpangan?
Maret 19, 2008 pukul 9:21 am
kalo di pikir lebih jauh, kita enak2-an nge-blog dan blogwalking, di belahan lain masih bnyk anak-anak yg putus sekolah gak bisa baca tulis dan bnyk yg gk mampu sekolah.
*siyul-siyul*
Maret 19, 2008 pukul 9:23 am
konon 36 - 40 juta rakyat Indonesia miskin.
* makanya SBY dan Kalla selalu marah marah, ‘ jangan mengambil sentimen kemiskinan rakyat sebagai bahan kampanye ! ‘
Maret 19, 2008 pukul 9:40 am
saya rasa salah satu faktor tingginya angka kemiskinan adalah mungkin karena banyak yang kurang pendidikan, kalaupun kita kasih bantuan saat ini kepada rakyat miskin mungkin hanya dapat membantu mereka sesaat tapi gak selamanya. Saya sih punya usul gimana klo kita membantu mereka dengan cara memberikan mereka bekal untuk menghidupi diri mereka sendiri. Sana seperti gelang merah atau rumah dunia.
Maret 19, 2008 pukul 9:48 am
Memang sulit untuk membuat pemerataan….sejak dari dulu. Dan dengan semakin majunya pendidikan, yang hanya dinikmati segelintir orang, juga membuat ketimpangan makin tinggi.
Maret 19, 2008 pukul 9:55 am
Saya hanya bisa mendesah pelan, “Ah, kemiskinan … “
itu desahan, keluhan, pernyataan, atau kesinisan?
Maret 19, 2008 pukul 9:56 am
katanya, itu yang bikin dunia eh mungkin indonesia ini tetap seimbang.
kalo ada yang kaya ya harus ada yang miskin, kalo ada yang pintar ya harus ada yang bodoh. kalo semua orang kaya, lha mana ada yang bisa dibilang kaya, wong sama semua begitu?!
Maret 19, 2008 pukul 10:12 am
kalo orang indonesia sudah kaya semua, orang2nya pasti cuma ngeblog aja lha mau ngapain wong udah kaya semua.
Ga ada petani miskin, ndak ada nelayan, ndak ada tukang potong rambut, semua ndak ada karena sudah kaya.
Adanya si kaya dan si miskin, sebenernya adalah untuk saling melengkapi dan saling memberi.
*saya tadi ngomong apa ya*
Maret 19, 2008 pukul 11:43 am
kemiskinan itu hanya masalah jatah nasib di dunia, suratan, garis tangan yg bisa kita ubah bisa juga tidak.Jangka waktunya 70 thn juga udah hebat. Tapi yg lebih penting dari itu sebenarnya adalah bagaimana miskin secara bermartabat dan kaya secara bermartabat pula. Melihat bahwa apapun yg dipunya didunia haruslah disyukuri dan menjadi jalan dekat dengan Yang Maha Pencipta. Dzunun al-Mishri pernah berkata “Datanglah kepada kekasihmu…Jika tidak bisa dari jalan Rohman RohimNya…maka…Datangilah dari jalan Murkanya…..”
Sungguh….
“MurkaNya lebih membahagiakan dari pada ketidak pedulianNya “
Maret 19, 2008 pukul 11:45 am
yah itulah realita republik ini..
kehilangan rasa syukur dan harga diri sebagai bangsa yang kaya raya SDA’nya
Maret 19, 2008 pukul 11:48 am
rasanya kemiskinan gak akan hilang. selalu harus ada keseimbangan. ada yg kaya, ada yg miskin. kalo semua orang miskin, pasti scr relatif ada yg lebih kaya drpd yg lain. ujung2nya ketimpangan pula. kalo semua orang kaya, ya mungkin bisa spt utopia nya star trek, dimana uang sudah tidak bernilai lagi.
Maret 19, 2008 pukul 12:27 pm
bukankah bang haji sudah menyanyikan soundtrack-nya “yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin”, terlaaaluu…
Maret 19, 2008 pukul 12:51 pm
yang bilang harus ada keseimbangan: serius nih?
Maret 19, 2008 pukul 12:52 pm
lha ini nih…yang aku ga suka…
menggantung…
daaan..sampai kapan kau gantung cerita cintaku
memberi harapan
hingga mungkin ku tak sanggup lagi
dan meninggalkan dirimu…uouooo
Maret 19, 2008 pukul 1:01 pm
jadi piye iki pak e penak e?
Maret 19, 2008 pukul 2:54 pm
tapi siapa lagi yang disebut orang kaya kalo semua orang jadi kaya? pasti yang sekarang dianggap kaya pun bakal tetap terlihat miskin, bukan?!
Maret 19, 2008 pukul 2:56 pm
tapi endonesa emang makin aneh aja dari hari ke hari kok tambah konyol2 beritanya,,kalo liat di tipi2 tuh kesannya negara kita ni dah paling miskin sedunia,,cuz isinya tentang gizi buruk,kelaparan,bencana,kemiskinan,,yah endonesa ku endonesa kamu juga
Maret 19, 2008 pukul 3:43 pm
@ika
pasti seringnya nonton transtv :p .. media oh media, sekarang memang hobinya sedang menyoroti gizi buruk, kelaparan dan kematian ..
Ngomong2 soal gizi buruk, beberapa waktu lalu saya lihat ada bupati yang sowan ke daerah tempat anak meninggal gara-gara gizi buruk sambil bawa karangan bunga tanda duka .. ebuset
Maret 19, 2008 pukul 5:43 pm
ada loh hasil survey yang menyebutkan orang miskin kita juga banyak yang bahagia kok. bukankah kebahagiaan adalah yang diinginkan banyak orang ? Jadi gak masalah miskin kaya, asal bahagia. Tapi masalahnya, banyak orang miskin di kota yang gak bahagia
Maret 19, 2008 pukul 5:48 pm
minta maaf karena majal.
Maret 19, 2008 pukul 8:26 pm
di tempat seperti mega bazaar seperti itu rasanya susah sekali untuk membedakan apa yang kita butuhkan dan apa yang kita ingini..
Maret 19, 2008 pukul 9:33 pm
miskin dan kemiskinan beda
Maret 19, 2008 pukul 10:59 pm
wah, kok saya keinget telusur tipiwan kemaren. praktik aborsi ilegal di jogjakarta, 2,5 juta. tinggal milih, mau diluar kota ato di hotel.
*nambah miris lagi*
Maret 19, 2008 pukul 11:01 pm
maap ndoro, lupa nambahin. 2,5juta itu biayanya.
Maret 20, 2008 pukul 2:09 am
lah..gus pitik nelek di pinggir permata toh,Ndoro?
Maret 20, 2008 pukul 12:32 pm
kontras itu perlu biar hidup senantiasa berputar, ndoro…
Maret 26, 2008 pukul 10:19 am
miskin, kaya, miskin, kaya, miskin, kaya…. pusing ahhh mikirnya…. dunia selalu perpasangan ada siang ada malam, ada manis ada pahitt.. jadii… gak usah dipikir ahh
Maret 30, 2008 pukul 10:22 am
sementara orang2 miskin sibuk ngantri sembako, ndoro malah asik posting blog, lha saya malah asik ngasih komen ke blog..
lha kontras bgt tho?
Maret 30, 2008 pukul 11:10 am
eh daripada ngantri sembako ….ber jam-jam, ber hari-hari.., kan lebih baik bergerak menjeput rejeki untuk beli sembako … n all.
April 1, 2008 pukul 3:17 pm
menurut saya sih, kemiskinan itu cobaan, cobaan bagi yg miskin sekaligus juga bagi yang kaya. Bagi yang miskin, itu cobaan agar dia bisa tetep semangat menjalani hidup di tengah kemiskinannya. Bagi yang kaya, itu cobaan apakah dia peduli dengan sesamanya….
Juni 4, 2008 pukul 1:22 pm
@yuswae
Lucu temen..awakmu CAk!! *terkekeh2*
pertanyaan bodoh yg innocent
[..]kata Paklik sambil mengangkat cangkir kopinya, menyesap sedikit, lalu meletakannya kembali ke meja dengan gaya yang sangat dramatik.[..]
*berpikir keras* mbayangin gaya Paklik meletakan cangkir kopinya kemeja.