Ah, liburan kok terasa cepat berlalu. Setelah libur panjang, eh sekarang sudah Senin lagi. Dan, kita semua harus kerja lagi. Syokor, hahahaha …
Tapi, ndak usah bersedih, Ki Sanak. Mari kita nikmati dan rayakan saja hidup ini. Beginilah nasib kita sebagai sekrup, mur, dan baut dari mesin besar bernama kapitalisme.
Tanpa kita, pabrik-pabrik tak akan mampu bergemuruh. Roda-roda produksi macet. Rejeki seret. Dan kemakmuran tiada terbagikan. Halah.
Ngomong-omong soal pabrik dan kapitalisme, saya mau cerita tentang sebuah blog yang lucu: blog Sekrup. Isinya uneg-uneg sebutir sekrup di sebuah pabrik.
Entah blog itu milik siapa, saya ndak tahu. Yang terbaca di bagian About cuma begini:
Bagian kecil, konon dianggap penting dalam suatu mesin, tetapi apresiasi terhadap barang kecil itu belum tentu anggapan penting yang hinggap kepadanya.
Katanya tanpa sekrup, mesin bisa macet. Tanpa sekrup, mobil bisa mogok.
Tapi, sekali lagi, penting cuma saat perlu dianggap penting buat yang menganggap.
Ada sedikit kebanggaan, sekaligus kekesalan. Ironi yang pedih dalam sebuah proses produksi. Tapi, ia tentu tak sendiri. Ada berjuta-juta sekrup lain di republik ini.
Nasib dan takdirnya tak selalu sama. Kadang bikin ketawa, kali lain membuat kita terharu. Di zaman ketika kapitalisme bergemuruh seperti sekarang ini, apalah artinya sepucuk baut? Cuma debu di antara lautan pasir?
Maka, bacalah tulisan-tulisan di blog Sekrup itu. Ia berkisah, misalnya tentang kekesalannya pada sosok manajer omong kosong.
Jika ingin tidak banyak pekerjaan, jadilah Manajer.
Karena setiap orang menghabiskan waktu untuk melakukan pekerjaan orang diatasnya, jika jabatan anda semakin tinggi, pekerjaan anda pun semakin sedikit …
Simak juga keluhannya tentang itung-itungan jam kerja di kantor: ditegur kalau masuk kesiangan dan pulang lebih awal.
Membaca blog ini membuat kita seperti becermin. Topik yang ditulis sangat dekat dengan kita, sehari-hari. Minimal sampean akan berkomentar, “Ah, kok sama ya dengan di pabrik saya.”
Berkat blog Sekrup, kita pun tak merasa sendirian. Kesepian. Di luar sana, ada banyak sekrup lain, teman kita, yang punya perasaan sama.
Toh hidup tak selalu harus mengumpat. Atau menunda kekalahan. Kadang kita justru harus bersyukur karena dikaruniai pekerjaan yang penuh gelora ini — apapun pekerjaan sampean. Teruslah mengejar masa depan yang setia menunggu dengan sabar.
Ayo semangat, semangat … Kerja lagi! Jangan baca blog melulu, hahaha …
>> Disclaimer: sebelum terjadi kesengkarutan lebih lanjut, dengan ini saya umumken bahwasanya blog Sekrup bukan milik sahaya. Pemilik asli silakan mengklaim. Terima kasih.

Maret 24, 2008 pukul 6:17 am
Lho, kok blog Sekrup gak bisa dibuka, Ndoro? Malah menuju ke halaman registrasi?
Maret 24, 2008 pukul 6:20 am
Ohh, ternyata alamatnya di http://sekrupkapitalis.dagdigdug.com/, bukan cuma http://sekrup.dagdigdug.com/
Maret 24, 2008 pukul 7:11 am
iya lhoh, sekrupnya rusak :p
Maret 24, 2008 pukul 7:59 am
Jadi ingat Dilbert. Nyinyir dan sarkastis. Ada beberapa post-nya yang saya sepakat; namun ada juga yang agak terlalu ekstrem.
Prediksi saya, blog itu akan kian banyak pembacanya. Sebab, isinya menyuarakan “nurani para kuli kantor” — dan ini banyak jumlahnya.
Bravo Sekrup Kapitalisme !!
Maret 24, 2008 pukul 8:15 am
Wah mentale pancen level sekrup.
Ayo jadi obeng atau kunci 10 dong minimal.
Jaman saya nyoba nguli, malah enak jadi bawahan. Tinggal tunggu perintah tanpa inisiatip, minta ide dan inisiatip dari manajer yang kurang kerja itu.
Akhir bulan gajian… manthuk-manthuk, mesam-mesem asal ndak banyak potongan kasbon.
Maret 24, 2008 pukul 9:05 am
keknya ada blog lain yang mirip…. tapi asik nih :p tempat curhat kaum buruh
Maret 24, 2008 pukul 9:06 am
ga ada sekrup, ga gajian
Maret 24, 2008 pukul 9:10 am
hayo..jangan ngeblog mulu ndoro!
*eh jangan2 itu yang nulis si cya? dan manajer omong kosongnya ya ndoro ituh.. hihihi
*nyulut kompor*
Maret 24, 2008 pukul 9:17 am
wah Mas,..susah mau komen.
Soalnya saya boss..datang pergi sakpenae dewe..he he
Maret 24, 2008 pukul 9:35 am
gak ada tuh, ndoro. jgn2 udah dihapus ya..
Maret 24, 2008 pukul 10:09 am
sepakat, kita harus bersyukur. cuman untuk sampai kesitunya susah ndoro.
oh ya iya blognya sudah di hapus.
Maret 24, 2008 pukul 10:33 am
Membantu ndoro sinuwun kakung, alamat blognya ada yang kurang, http://sekrupkapitalis.dagdigdug.com/
Memang meriah isinya.
Maret 24, 2008 pukul 10:35 am
ada gula, ada sekrup.. begitu pepatah mengatakan..
Maret 24, 2008 pukul 10:56 am
bukannya ada gula ada sirup om..??
mw nyoba mampir sana dulu..
tks link-nya..
Maret 24, 2008 pukul 12:08 pm
ih, aku nggak libur selama long weekend.
dan hari ini juga aku bekerja.
Maret 24, 2008 pukul 12:39 pm
duh kok sampe dibahas di sini sih ndoro? dalam perjanjian kemarin, ini kan rahasia kita berdua saja
*koprol ke TKP*
Maret 24, 2008 pukul 12:51 pm
Luncur ke TKP…lho…kok yang keluar Miyabi…hahaha
Maret 24, 2008 pukul 2:24 pm
salem kenal…
wes jan luchu dan menghibur tenan kie…
Maret 24, 2008 pukul 3:15 pm
kayaknya kenal sama mas sekrupnya, ndoro sekrup… eh ndoro kakung
Maret 24, 2008 pukul 3:48 pm
Lha ini mungkin pemiliknya hehehe !
Maret 24, 2008 pukul 5:55 pm
another ndoro’s blog ? lelananging jagad, kagungan kathah blog, ing tlatah jowo
Maret 24, 2008 pukul 6:06 pm
punya nya ndoro kakung to..? pantes kok dianalisis dan diripiyu
Maret 24, 2008 pukul 7:59 pm
wah ada peribahasa yang menyatakan dimana ada skrup disana ada semur eh emur hehehe
Maret 25, 2008 pukul 3:14 am
[...] kok commennya banyak banget. Selidik punya selidik ternyata banyak sesama sekrup yang mampir dari blognya Ndoro Kakung Pecas Ndahe. Sampe-sampe Ndoro Kakung bikin [...]
Maret 25, 2008 pukul 5:48 pm
sini sini tak sekruP.. hhahah :p
Mei 19, 2008 pukul 9:34 pm
[...] seperti mereka membuat saya sering membatin, mungkin orang-orang seperti inikah yang disebut sekrup kapitalis seperti yang pernah diceritakan sang pewarta jagat [...]