Lompat ke isi

Ahmadiyah Pecas Ndahe

April 17, 2008
oleh Ndoro Kakung

Dari koran-koran yang beredar pagi ini, saya membaca berita yang kurang mengenakkan dan mengganggu sarapan saya. Begini beritanya …

Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan merekomendasikan agar warga Ahmadiyah menghentikan kegiatannya dan diberi peringatan keras. Alasannya, kegiatan dan penafsiran Ahmadiyah menyimpang. “Ahmadiyah menyimpang dari ajaran pokok (agama Islam),” kata Wishnu Subroto, Jaksa Agung Muda Intelijen sekaligus Wakil Ketua Badan Koordinasi, di Jakarta kemarin.

Badan Koordinasi mengusulkan agar Ahmadiyah dibubarkan apabila tak mematuhi rekomendasi ini. Keputusan Badan Koordinasi akan dituangkan dalam surat keputusan bersama antara Jaksa Agung, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Agama.

Dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa campur tangan negara berjuntai-juntai begitu jauh hingga ke urusan iman dan kepercayaan?

Karena penasaran, saya membuka arsip-arsip lama di pabrik saya dan menemukan sebuah laporan menarik tentang peristiwa yang terjadi 75 tahun yang silam, tepatnya 29 September 1933. Laporan itu saya tulis kembali di sini, barangkali berguna buat sampean untuk lebih memahami apa itu Ahmadiyah, bagaimana bangsa ini menghadapi aliran itu, dan mengapa begitu kontroversial hingga sekarang.

Begini kisahnya … [disclaimer: posting ini sangat panjang].

Syahdan orang berjejal di sebuah tempat di Gang Kenari, Salemba, Jakarta Pusat. Mereka mengikuti perdebatan antara dua orang tokoh: Nama terkenal A. Hassan yang mewakili Pembela Islam dan Abu Bakar Ayub dari Ahmadiyah Qadian.

Pada akhir itu juga pihak Pembela Islam menerbitkan rekaman debat tersebut yang kemudian dicetak ulang 40 tahun kemudian. Pada halaman-halaman pertama boleh dibaca keterangan yang menggambarkan jalannya perdebatan:

Rapat dihadiri oleh lebih kurang 2.000 orang. Wakil pers yang datang: Keng Po, Sin Po, Pemandangan, BintangTimur, Sikap Adil, Sumangat, Senjata Pemuda Jawa Barat, Ceto Welo-Welo.

Wakil-wakil perkumpulan yang datang: Persatuan Islam, Pendidikan Islam, AnNadil Islamie, Persatuan Islam Garut, MAS Garut, Persatuan Islam Leles, Islamiyah Jatinegara, Perukun Kebon Sirih, Salamatul- Insan, Al Irsyad, PBO. Pukul 20.00, rapat dibuka oleh Ketua, tuan Mohd. Muhyidin, dengan lebih dahulu mengucapkan seperti berikut.

“Tuan-tuan putera dan puteri. Saya mengucapkan terima kasih atas kedatangan sekalian. Ternyatalah perdebatan ini dapat perhatian yang penting. Saya harap supaya tuan-tuan sekalian akan tinggal dengan iman, seperti kemaren.

Sekarang akan diperingati lagi kepada tuan-tuan supaya janganlah mencela atau mengeluarkan perkataan atau isyarat-isyarat yang memihak ke salah satu partai yang sedang berdebat. Barang siapa tiada menurut akan aturan ini, saya akan ambil tindakan. Ingatlah, walaupun tidak setuju juga impan sahaja dalam hati. Tetaplah memegang aturan seperti kemaren malam.

Topik yang akan dibicarakan malam ini adalah, apakah sesudah Nabi Muhammad S.A.W. akan ada lagi nabi atau tidak. Pihak Ahmadiyah akan mengasih keterangan, dalil-dalil yang menguatkan pendiriannya, bahwa sesudah Nabi Muhammad, ada nabi lagi yang tidak membawa syare’at.

Pembela Islam akan kasih keterangan sesudah Nabi Muhammad tidak akan ada Nabi lagi, walaupun yang tiada membawa syare’at baru. Saya persilakan tuan Abu Bakar Ayub; waktunya satu jam paling lama; janganlah menyimpang dari rel.”

Tuan A. Hassan: Tuan Ketua dan Yuri! Saya minta bicara.
Tuan Ketua: Apa panjang?
Tuan A. Hassan: Cuma perkara yang kemaren malam sahaja
Tuan Ketua: Jangan sekarang dibicarakan.
Tuan A. Hassan: Saya majukan pertanyaan, apakah aturan tetap seperti kemaren atau ada robahnya, karena praktek kemaren tidak baik.
Tuan Ketua: Saya tidak mengizinkan. Saya pegang aturan yang
sudah ditetapkan oleh kedua belah fihak.
Tuan A. Hassan: Karena tuan Rahmat Ali mendustakan saya.
Tuan Ketua: Saya minta tuan tunduk kepada aturan.

Tuan Hassan lalu duduk.

Itu bukanlah satu-satunya debat antara Ahmadiyah dan kaum muslimin umumnya. Zaman itu adalah zaman ketika kebebasan mimbar terbuka penuh. Sedang munculnya organisasi-organisasi pembaharuan Islam di awal abad 20, seperti Muhammadiyah Al-lrsyad atau Persatuan Islam, telah menyebarkan satu udara di mana kegemaran berdebat secara terbuka tumbuh menjadi satu institusi yang di belakang hari boleh mengejutkan para penyelidik yang kurang teliti.

Dari besarnya perhatian — baik pers maupun para pengunjung luar kota — terhadap debat di atas diketahui bahwa pada 1930-an itu masalah Ahmadiyah bukan masalah yang asing bagi rakyat muslimin umumnya. Bahkan boleh dipastikan ia lebih aktuil di masa-masa tersebut dibanding sekarang ketika sudah begitu banyak soal-soal lain yang lebih merebut minat umat beragama.

Orang seakan-akan baru diingatkan kembali ketika dari Mekkah, dari satu muktamar organisasi-organisasi Islam sedunia beberapa waktu yang lalu, datang keputusan yang mengkafirkan Ahmadiyah Qadian. Disusul dengan berita remang-remang tentang beberapa kericuhan di Pakistan negeri asal Ahmadiyah akibat keputusan tersebut.

Tidak begitu banyak yang diketahui orang tentang perincian peristiwa tersebut secara jelas. Namun, dari berita-berita kecil di koran-koran didapat kesan bahwa di negeri yang baru pecah dua itu gumpalan sentimen yang rupanya sangat berakar — antara kaum Ahmadiyah Qadian dan umat muslim umumnya — memang cukup kuat untuk menimbulkan ledakan setiap waktu.

Bagaimana di Indonesia? Tak ada ledakan apa pun — setidaknya hingga laporan ini ditulis pada September 1974 oleh majalah Tempo. Syukurlah. Di kalangan muslimin Indonesia Ahmadiyah kurang-lebih hanya menduduki tempat pengenalan samar-samar.

Mereka tahu ada Ahmadiyah Qadian dan ada Ahmadiyah Lahore. Bedanya tak begitu jelas; tapi yang pasti Ahmadiyah Qadian meyakini Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) sebagai Nabi — meskipun hanya Nabi yang menghidupkan kembali ajaran Rasulullah Muhammad S.A.W. dan bukan Nabi yang membawa syari’at baru.

Sedang yang Lahore menganggap Ghulam Ahmad sekedar seorang Mujaddid Pembaharu untuk abad ini — tak beda dengan pembaharu-pembaharu untuk abad-abad terdahulu seperti Iman Syafi’i Al-Ghazali, Ibnu Taimiah dan lain-lain. Para pembaharu ini menurut mereka juga menerima wahyu hanya saja bukan wahyu kenabian (TEMPO, 18 September 1971).

Terhadap Ahmadiyah Lahore memang bukan tidak pernah terjadi serangan dari kalangan muslimin selebihnya. Bahkan pada masa hidupnya HOS Tjokroaminoto, bapak pergerakan rakyat itu sendiri pernah terlibat dalam satu debat terutama dengan kalangan Muhammadiyah: tentang penilaian terhadap tafsir Qur’an yang ditulis Maulana Muhammad Ali bapak aliran Lahore.

Meski begitu, reaksi yang lebih berat tentulah ditujukan kepada Ahmadiyah Qadian. Debat A. Hassan lawan AlBakar Ayub sendiri hanyalah salah-satu bentuk reaksi tersebut.

Di Sumatera Barat, misalnya, tujuh tahun sebelum itu telah tampil aji Rasul — nama populer Dr. Abdul Karim Amrullah ayah Hamka — yang menulis sebuah buku berbahasa Arab berjudul Al-Qaulush Shahieh (Sabda Yang Benar) buat menyerang habis kaum Qadian. Buku tersebut lantas dibalas oleh lawannya dengan judul yang juga dalam bahasa Arab, Izharul aqq (Kumandang Kebenaran).

Majalah seperti Pedoman Masyarakat yang terbit di Medan (1937) maupun Panji II/Masyarakat di Jakarta tak ayal pula memuat tulisan-tulisan yang “menguliti” Ahmadiyah. Pada 1936, misalnya, majalah ini memuat tulisan keras yang kemudian dibalas oleh Abu Bakar Ayub (lawan debat A Hassan) dengan brosurnya berjudul Bantahan Lengkap.

Beberapa bulan lalu janji juga memuat terjemahan Ali Aman dari ulama An-Nadi yang juga merupakan serangan kepada kaum Qadiani. Tetapi mengapa Sumatera Barat dalam hal Ahmadiyah lebih dahulu terdengar beritanya daripada Jakarta misalnya?

Orang tahu, daerah peninggalan Imam Bonjol ini pusat pergerakan dari pembaharuan keagamaan. Dan memang di sinilah pertama kali Ahmadiyah Qadian menjejakkan kaki. Sudah sejak tahun 20-an perguruan Sumatera Thawalib lembaga pendidikan Islam yang bersejarah melihat-lihat keluar untuk memperluas orientasi bagi memperkaya idham modernisme Islam.

Sebagaimana Imam Bonjol pada abad sebelumnya berlayar ke jazirah Arab dan berkenalan dengan aliran Wahabi, demikian pula beberapa orang murid Sumatera Thawalib pada 1922 pergi berlayar — tetapi bukan ke Mekkah.

Atas anjuran Labai El Yunusiyah, ulama besar dan ayah Rahmah El-Yunusiyah yang terkenal, tiga orang anak muda tersebut pergi ke India. Mereka adalah Ahmad Nurdin, Abu Bakar Ayub sendiri dan Zaini Dahlan.

Ini memang suatu keluar-biasaan. Alkisah, setelah berkeliling di negeri Hindustan, mereka konon tak mendapati perguruan yang mereka maksud — sebab semuanya “sama saja denan yang sudah mereka pelajari” memang harus dipercaya.

Maka, akhirnya mereka mendengar tentang Qadian dan pergi ke sana meskipun banyak mahasiswa Islam di perjalanan melarang. Kesudahannya sudah bisa ditebak.

Tahun 1924, ketiga-tiganya bertemu dengan Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad Khalifah ke-II dari Ghulam Ahmad menurut faham kaum Qadian — dan mereka langsung minta dikirim mubaligh ke Indonesia. Maka, berangkatlah ke sini Maulvi Rahmat Ali. Kapalnya hinggap di Aceh — dan dari sini entah naik apa pergi ke Padang dan Bukittinggi.

Di sinilah benih pertama ditabur. Dan di sini pula setahun kemudian ayahanda Hamka (pribumi Indonesia pertama yang mendapat titel Doktor dari Universitas Al-Azhar Kairo) menulis bukunya yang telah disebut yang dengan tegas menganggap kaum Ahmadiyah Qadian berada di luar Islam — bahasa populernya kafir.

Tapi sementara itu, mubaligh Rahmat Ali yang juga berhadapan dengan A. Hassan dalam debat di atas — naik kapal lagi dan pergi ke Jakarta. Dari sini ke Bogor dari Bogor ke Bandung. Dan menyebarlah faham Ahmadiyah di Jawa Barat. Bahkan Jawa Barat dihitung-hitung merupakan daerah di mana pengikut mereka paling banyak sampai sekarang.

Rahmat Ali tidak pergi berdakwah ke Yogya. Di sini sudah lebih dahulu bermukim mubaligh India yang lain — hanya saja dari Ahmadiyah Lahore. Pada 1924 dua belas tahun setelah Muhammadiyah berdiri dan setahun sebelum datangnya mubaligh Qadian ke Aceh dan Minangkabau dua orang ulama Hindu muncul di Yogya. Mereka itu Maulana Ahmad dan Mirza Wali Ahmad Baig.

Tidak begitu jelas siapa yang mengundang mereka — kalaupun ada. Tapi ceritanya kedua mubaligh itu semula hendak pergi ke Hongkong — hanya saja di Singapura konon tertarik ke Indonesia karena mendengar kuatnya zending dan misi Kristen di sini. Bagaimana sambutan kalangan Muhammadiyah?

Mereka dielu-elukan. Sementara Maulana Ahmad pulang kembali ke India Miria Wali Ahmad Baig diberi tempat tinggal di Jalan Gerjen Kauman di rumah milik Haji Hilal — tokoh Muhammadiyah dan ayah ‘Aisyah Hilal yang terkenal itu.

Pengurus Besar Muhammadiyah menyambut mereka dalam Kongresnya yang diadakan tahun itu: di sini Maulana Ahmad melontar pidato dalam bahasa Arab, sementara rekannya berusaha berkomunikasi dengan pidato bahasa Inggris.

Inilah cerita tentang Yogya. Rumah tempat Ahmad Baig tinggal menjadi tempat bertemu orang-orang Muhammadiyah khususnya yang muda-muda. Mereka terutama belajar bahasa Inggris. Bahkan jangan lupa: ke sini pula sering datang HOS Tjokroaminoto dan para anggota Sarekat Islam.

Itu adalah masa ketika SI dan Muhammadiyah berbaur demikian rupa. Adapun Cokro sudah tentu tidak sekadar belajar bahasa Inggeris. Diam-diam rupanya pemimpin ini menterjemahkan Tafsir Qur’an Maulana Muhammad Ali MA LLB (Presiden Ahmadiyah Lahore) ke dalam bahasa Melayu.

Itu bahkan dikerjakan di dalam kapal beliau sebagai wakil SI bersama Haji Mas Mansur dari Muhammadiyah berangkat ke Mekah untuk Mu’tamar ‘Alam Islami. Persaudaraan Muhammadiyah dan Ahmadiyah bahkan lebih kelihatan tatkala beberapa pemuda Muhammadiyah kemudian dikirim ke Lahore.

Mereka adalah Kyai Ma’sum almarhum (terakhir ikut gerombolen Kahar Muzakar), lantas Kyai Sabit dari Wonosobo yang di belakang hari menjadi aktivis PKI dan Jumhan, putera K.H.A. Dahlan. Putera pendiri Muhammadiyah ini yang di tanah India berganti nama menjadi Irfan meninggal di Bangkok sebagai mubaligh Lahore.

Tetapi, persaudaraan memang tak pernah bisa mulus terus-menerus. Kiai Dahlan meninggal sudah. Muhammadiyah akhirnya menghadapi kenyataan bahwa betapapun juga terdapat perbedaan-perbedaan doktrin tertentu dengan saudara-saudaranya dari Hindi itu.

Benar bahwa Ahmadiyah yang Yogya ini bukan aliran Qadian yang secara sangat prinsipiil punya perbedaan asas dengan mereka. Namun penafsiran-penafsiran kaum Lahore (tentang Isa, tentang Adam pengertian mu’jizat pengertian wahyu tentang Isra Mi’raj beberapa hal tentang sorga-neraka misalnya) dirasa “kelewat jauh”.

Kesadaran terhadap perbedaan tersebut berkelindan pula dengan beberapa friksi yang terjadi antara perkumpulan tersebut dengan SI. Memang tidak boleh dikatakan hanya faktor keagamaan yang mendasari ketidak-akuran Muhammadiyah dan SI meskipun pentolan-pentolan SI seperti Tjokro — dan jangan lupa Haji Agus Salim — dikenal “bersaudara lekat” dengan Lahore.

Iklim politik dan beberapa hal lain memegang peranan. Tetapi yang agaknya termasuk penting ialah adanya pejabat-pejabat Belanda dari Islamietische Zazen yang sering “bertamu” baik ke rumah Tjokro maupun ke rumah H. Fakhruddin pengganti KHA Dahlan — dan selalu ada saja hal-hal yang mereka bawa yang menyebabkan hubungan SI-Muhammadiyah makin kurang harmonis.

Boleh diingat pula bahwa masalah kooperasi dan nonkooperasi dengan Gubernemen waktu itu sudah timbul: dan sementara SI memilih nonkooperasi Muhammadiyah memanfaatkan subsidi pemerintah untuk program-program sosialnya.

Yang menarik ialah, pada 1927 kembali datang seorang ulama dari India ke Yogya. Namanya Abdul ‘Alim Siddiqui. Dan Muhammadiyah sebagaimana yang mereka lakukan dahulu pada kedatangan mubaligh Lahore, menyambut tamu tersebut. Kali ini dengan sebuah pengajian umum — dan pengajian ini menyerang Ahmadiyah baik Qadian maupun Lahore secara luar-biasa sengit.

Tak begitu jelas apakah hal itu melukai perasaan Cokroaminoto yang justeru sedang menterjemahkan tafsir Qur’an karangan pemimpin Lahore — atau barangkali tokoh-tokoh SI yang lain. Tapi kemudian SI pada tahun itu juga dalam kongresnya di Pekalongan memutuskan untuk menjalankan disipin partai kepada warganya yang juga menjadi anggota Muhammadiyah: mereka dipersilakan minggir.

Ini tak urung mengingatkan orang kepada tindakan serupa yang dilancarkan SI pada 1921 kepada anggota-anggotanya yang komunis. Tak heran bila Muhammadiyah yang pada tahun-tahun 1922 dan 1924 telah bersedia bersama-sama SI menyelenggarakan ‘Kongres Al-Islamli Cirebon dan Garut’ — dengan pembicaraan lebih luas dari sekadar soal-soal agama — tidak bersedia ikut dalam Majelis Ulama yang dahulu direncanakan bersama.

Majelis itu akhirnya hanya berarti Majelis Ulama PSI dibentuk pada 1928 dalam Kongres di Yogya. Di forum ini iuga dibicarakan Tafsir Qur’an yang sedang dikerjakan Tjokroaminoto, Mr. A.K. Pringgodigdo dalam bukunya, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, ada menyatakan bahwa lantaran dan bagian-bagian pertama tafsir itu ternyata hanya saduran dari tafsir kaum Lahore, timbullah di kongres itu perlawanan yang keras.

Maka, tampillah Agus Salim: beliau ini menerangkan bahwa dari segala jenis tafsir, tafsir Lahore yang paling baik untuk memberi kepuasan kepada pemuda-pemuda Indonesia yang terpelajar.

Wibawa dua tokoh besar itu saja rupanya tak cukup: perlawanan baru mereda setelah diambil keputusan uutuk menunda penerbitan selanjutnya sampai Majelis Ulama mengambil ketentuan. Dan ketentuan itu diambil dalam rapat Majelis tahun itu juga di Kediri. Isinya: terjemahan boleh diteruskan asal dilakukan dengan pengawasan Majlis. Dalam forum ini Tjokro tampil bersama Mirza Wali Ahmad Baig sang mubaligh Lahore.

Reaksi kaum ulama sudah tentu belum selesai. Kongres Muhammadiyah diadakan tahun itu juga di tempat yang sama. Sidang, selain mencela keras disiplin partai SI yang dikenakan kepada anggota organisasi agama non-politik seperti Muhammadiyah, menyatakan tidak bisa membenarkan tafsir Qur’an karangan Maulana Muhammad Ali tersebut. Alasan: tidak cocok dengan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Maka “naik kuda”-lah Tjokroaminoto. Tokoh ini dengan segera datang ke Yogya bersedia menghadapi sebuah debat terbuka mengenai itu tafsir yang heboh. Tokoh-tokoh lanjut usia yang berada di sana waktu itu boleh menceritakan jalannya peristiwa begini: Pertemuan diadakan di Pakualaman sebagian besar dihadiri orang-orang Muhammadiyah.

Alangkah ributnya hadirin waktu itu. Sangat ribut sampai-sampai pidato tokoh tua ini tidak terdengar. Lalu, naiklah Tjokro — kalau tidak salah ke atas meja — sembari berseru dengan suaranya yang dahsyat, “Ini Tjokroaminoto keturunan ksatria! Mau ribut, coba ribut!”

Hadirin pun heninglah. Namun tak ada perdebatan.

Tafsir itu akhirnya terbit pada tahun itu juga (1928). Orang bisa melihatnya sekarang di museum: baru jilid I-III berisi juz ‘Amma atau bagian ke-30. Di dalam kata pengantar bisa pula dibaca tulisan Agus Salim yang dengan bersemangat membela tafsir itu. Tapi itu Agus Salim.

Bagi ulama Muhammadiyah lebih selamat bila mereka menyingkiri segala cara penafsiran yang bagi mereka sama dengan pengertian ta’wil. Ta’wil satu kata yang biasa digunakan untuk mengecam adalah “penyeret-nyeretan teks” ke arah maksud-maksud yang jauh yang lazimnya sudah direncanakan lebih dulu.

Semua lektur Ahmadiyah kemudian mereka hindari. Tertanggal 5 Juli 1928 Pengurus Besar Muhammadiyah mengeluarkan maklumat ke cabang-cabangnya di seluruh pelosok. Isinya: melarang mengajarkan ilmu dan faham Ahmadiyah di lingkungan Muhammadiyah.

Maklumat tersebut hanyalah paralel belaka dengan keputusan lain yang diambil dalam Kongres tahun itu juga yang mengecam disiplin partai SI plus Tafsir Muhammad Ali.

Dalam kongres tersebut juga terjadi semacam kjegaduhan: yakni ketika sidang membicarakan persoalan Djojosugito dan Muh Husni. R. Ng. Djojosugito, direktur yang pertama dari Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogya waktu itu Ketua Muhammmadiyah cabang Purwokerto.

Sedang Husni tak lain Sekretaris Jenderal PB Muhammadiyah. Kedua-duanya adalah tokoh-tokoh Ahmadiyah. Tetapi pro dan kontra untuk menggeser mereka rupanya berjalan sengit dalam sidang. Maka berdirilah Kiai Abdullah Sirad — sambil menangis.

“Kiai mohon kepada sidang supaya demi persaudaraan Islam, semua hiruk-pikuk itu dihentikan saja. Supaya kedua tokoh itu sendiri disuruh memilih: atau Muhammadiyah atau Ahmadiyah.”

Kedua-duanya, di bawah tekanan perasaan, memilih yang terakhir.

Sudah tentu. Baik Djojosugito maupun Husni termasuk orang-orang pertama yang berhubungan dengan mubaligh Lahore Mira Wali Ahmad Baig. Djojosugito bahkan di belakang hari dikenal sebagai penterjemah tafsir The Holy Quran — yang dikerjakan Tjokroaminoto ke bahasa Melayu — kali ini ke bahasa Jawa. Tetapi keputusan untuk memilih juga mengenai seorang tokoh lain.

Meskipun kedudukannya dalam Muhammadiyah tidak begitu penting, ia harus disebut sebagai orang pertama dalam usaha penyebaran faham Ahmadiyah Lahore. Ialah Sudewo guru HIS Muhammadiyah.

Di belakang hari orang tahu belaka bahwa hampir semua terjemahan lektur Ahmadiyah ke dalam bahasa Belanda tak lain berkat jerih-payah tangannya. Yang terpenting tentu saja kembali Tafsir Maulana Muhammad Ali.

Rupanya begitu Tjokroaminoto terlibat dalam polemik mengenai terjemahan tafsir tersebut ke bahasa Melayu Sudewo diam-diam menterjemahkannya ke bahasa Belanda dan itulah de Heilige Qoern, terbit pada 1935 beriringan dengan pengantarnya, Inleiding tot de Studie van Den Heilige Qoer’an.

Waktu itu Ahmadiyah sebagai organisasi belum lagi berdiri. Dan justru disiplin organisasi Muhammadiyah tersebut memaksa tokoh-tokoh seperti Djojosugito dan Moh. Husni mencari wadah lain buat aktivitas mereka.

Pada tahun itu juga mereka mendirikan Indonesische Ahmadiyah Beweging — mendapat badan hukum pada 1929 yang sekarang dikenal sebagai Gerakan Ahmadiyah-Lahore Indonesia (GAI). Bedakan dari Jamaah Ahmadiyah Indonesia atau JAI perkumpulan kaum Qadian.

Kecil saja perkumpulan Ahmadiyah itu. Hanya 10 atau beberapa belas orang yang menyatakan bai’at (pra setia) pada tahun tersebut. Bahkan kemudian ketika anggota Muhammadiyah sudah berjumlah lebih setengah juta (SI pada 1918 sudah beranggota 800. 000 sedang Muhammadiyah ketika Ahmadiyah Lahore berdiri beranggota 175 ribu) anggota gerakan Lahore hanya berjumlah 500 sampai seribu orang. Dengan catatan terdapat juga para simpatisan, yakni mereka yang mengikuti pengajian-pengajian di cabang-cabang. Di Jawa Timur misalnya, di mana gerakan Lahore terhitung kuat (terutama Kediri) simpatisan itu berjumlah lima ribu orang.

Adapun organisasi kaum Qadian sendiri (JAI) paling banyak sekarang beranggota 20.000 orang di seluruh tanah-air.

Jadi ternyata kedua perkumpulan yang hampir sama terkenalnya dengan Muhammadiyah itu bukan perkumpulan yang “laku”. Mengapa?

Beberapa hal mungkin bisa menjelaskan sebab-sebabnya. Untuk menjadi anggota GAI (Lahore), misalnya, orang harus bersedia menyerahkan 1/16 penghasilannya kepada organisasi. Mereka yang tidak mampu diberi batas minimal 1 persen.

Bagi Ahmadiyah Qadian (JAI) bahkan pungutan itu minimal 1/16 dan maksimal 1/3. Itu semuanya di luar zakat yang wajib untuk semua orang Islam yang besarnya 1/40 alias 2 persen dari harta-lebih dan bukan dari penghasilan.

Bisa disimpulkan bahwa seperti dinyatakan tokoh-tokoh Ahmadiyah sendiri mereka yang menyatakan bai’at dan masuk organisasi adalah orang-orang yang dengan sendirinya bersedia menjadi aktivis yang bisa juga berbentuk dakwah pribadi.

Dan dakwah memang dilaksanakan dengan rajin khususnya oleh jemaat Qadian — meskipun tidak boleh dikatakan melebihi atau sama gencar dengan da’wah kalangan Kristen. Hanya saja bisa dilihat bahwa dalam pelaksanaan dakwah kedua kelompok itu tetap saja konvensionil.

Yang mereka “serang” biasanya adalah alam pikiran: mereka menyebarkan brosur-brosur atau melayani debat. Padahal sebagian besar rakyat bukanlah orang-orang yang “rasionil” dan siap berubah pendapat lewat pikiran.

Banyak orang misalnya tertarik kepada Muhammadiyah — yang dulu juga dikenal ahli berdebat –justru oleh amal sosialnya seperti sekolah-sekolah dan rumah sakit-rumah sakit yang banyak. Sedang kaum Ahmadi tidaklah masyhur dalam bidang ini.

Tetapi sebaliknya mereka pun tidak pernah menggunakan taktik “pintu belakang” atau membonceng kekuatan-kekuatan lain secara tidak sportif dan karena itu tak pernah terdengar berita kericuhan di Indonesia dalam hal Ahmadiyah. Toh faktor materi ajaran sendiri turut pula menentukan.

Untuk Ahmadiyah Qadian seorang yang sudah memeluk agama Islam lazimnya akan bukan main sulitnya menerima seorang Nabi lain (Ghulam Ahmad) setelah Nabi Muhammad meskipun bukan Nabi yang membawa syari’at.

Kenyataan menunjukkan bahwa selamanya akan terdapat cukup banyak yang mampu membendung umat mereka dari dakwah kaum Qadiani.

Itulah sebabnya mengapa Ahmadiyah yang sebuah ini lebih bisa berkembang di negeri-negeri non-Muslim seperti Afrika (Barat). Majalah Time, misalnya, pernah menulis bahwa di beberapa tempat di sana “satu orang masuk Kristen dan 10 orang masuk Ahmadiyah” — sebagai perbandingan.

Sampai-sampai sambutan yang diterima Hafiz Mirza Nazir Ahmad (yang oleh orang Qadian dianggap Khalifah ke-III Nabi Mirza Ghulam Ahmad) ketika tokoh ini datang ke sana pada 1970, boleh mengherankan orang-orang di luar.

Bagai menyambut Paus layaknya kepala-kepala negara bahkan menunggu kedatangannya di lapangan terbang. Boleh ditambahkan bahwa di Afrika konon, Ahmadiyah juga dikenal sebagai perkumpulan sosial. Beberapa rumah sakit dan sekolah misalnya mereka dirikan — walaupun di hampir tiap negeri anggotanya tetap saja merupakan kelompok minoritas.

Kebesaran syi’ar seperti itu sudah tentu tidak pernah dialami golongan Lahore. Pertama karena, setelah kelompok ini tidak mengakui Ghulam Ahmad sebagai Nabi — dan dengan demikian juga tidak punya khalifah ia pun pada dasarnya tidak merupakan organisasi yang ketat.

Di tiap-tiap negeri hanya terdapat perkumpulan-perkumpulan yang relatif bebas, yang hubungannya dengan Presidennya di Lahore semata-mata sekadar korespondensi — mereka misalnya menerima kiriman majalah The Light, karena berlangganan.

Bahkan hanya satu-dua orang, dari tokoh-tokohnya di Indonesia sekarang yang sudah pernah melihat kota di Pakistan itu — berbeda dengan jemaat Qadiani, yang bahkan untuk tabligh masih tetap rnemakai tenaga-tenaga Pakistan.

Kolonel II. Sutjipto SH, Sekjen PB GAI (Lahore), menerangkan kedudukan organisasinya seperti ini: “Bukan oderbouw apa-apa. Kami ini muslim, dan menjadi muslim juga tidak berarti kami onderbouw Arab. Jadi kami memang tidak organisasi-sentris, tapi lslam-sentris. Kapan saja tidak diperlukan menyebut organisasi, dan cukup Islam saja, itu pun bagi kami tidak menjadi soal. Bahkan akhirnya: Ada atau tidak ada GAI, bagi kami tidak penting. Tidak ada pun tidak apa,” katanya.

Kalau sudah begitu, bisalah dipahami mengapa dakwah (dalam arti memperbanyak anggota resmi) bukan yang paling penting bagi mereka.

Sebab yang paling penting ialah, “bagaimana pikiran-pikiran kami dapat diterima sebanyak-hanyak orang, seluruhnya atau sebagiannya,” kata Sutjipto.

Dan untuk itulah diadakan GAI dan dilakukan dakwah — tentu saja, menurut jalan yang mereka tempuh sejak pertama, melalui buku-buku dan brosur-brosur.

Harus diakui bahwa dari segi ini mereka sudah mencapai hasil. Tafsir M uhammad Ali yang telah dibicarakan itu boleh diambil sebagai contoh pertama.

Terjemahannya ke bahasa Melayu yang dikerjakan Tjokroaminoto memang tidak terkenal akhirnya, selain juga tidak selesai dan hanya merupakan dokumentasi di museum.

Tapi, De Hedige Qoer-an, terjemahannya ke bahasa Belanda oleh Sudewo — bersama pengantarnya — boleh dicari di semua rumah tokoh-tokoh Islam intelektuil angkatan sebelum perang.

Boleh dipastikan mereka menyimpan itu kitab. Demikian pula buku Muhammad Ali Mehammad De Profeet (Sukabumi 1932) atau buku Khwaja Kamaluddin et Geheim van Het hetaat of Het Evangelie van De Daal (Yogya 1929). Kedua-duanya juga terjemahan (dari bahasa Inggris) oleh Sudewo.

Mengapa buku-buku tersebut begitu terkenal? Antara lain karena tokoh-tokoh Muhammadiyah tahun 20-an itu, yakni sayap intelektuilnya yang berpendidikan Barat, juga menjadi anggota Jong Islamieten Bond yang bersejarah.

Sudewo misalnya banyak mengisi majalah JIB yang bernama HetLicht dengan ajaran Ghulam Ahmad versi Lahore yang dia terima dari Mirza Wali Ahmad Baig.

Tak heran bila semangat intelektuil seperti itu, apa lagi diyakini bersumber dari Islam, banyak memikat kaum tepelajar yang memang sedang berada dalam kegandrungan untuk “memadukan antara reliied an wetenschap ” — istilahnya waktu itu.

Lebih lagi, mengingat banyaknya kaum intelektuil Islam yang masih berada di luar JIB yakni tokoh-tokoh yang dinilai “tipis agamanya” — pada waktu itu didirikan pula di Yogyakarta perkumpulan Muslim Broederschap di bawah asuhan Djojosugito dan Moh Husni. Di sini misalnya berkumpul Mustopo, Sjamsuridjal, Sudewo, Mohammad Kusban — dan menerbitkan sebuah majalah berbahasa Belanda pula bernama Correspondentie Blad.

Perkumpulan ini boleh dibilang hanyalah wadah lain bagi Ahmadiyah Lahore selain (atau sebelum adanya) Ahmadijah Beweging. Tidak berlebihan bila misalnya Jusuf Wibisono SH, orang tua yang juga anggota Muhammadiyah dan salah-seorang dari banyak rekan-rekannya yang dahulu aktif dalam JIB, mengatakan bahwa “aliran Lahore banyak sekali meninggalkan karya monumental.”

Ia sendiri mengaku, meskipun tidak pernah menjadi anggota gerakan tersebut, “ikut mempropagandakan agar buku-buku mereka dibaca banyak orang lain.”

Mengapa? “Karena bisa menenteramkan fikiran.”

Lihatlah misalnya, De Heilige Qoer-an sudah habis dipesan dahulu dari pelosok-pelosok, umumnya kaum terpelajar, sebelum percetakannya sendiri selesai.

Karena itu, tak heran pula bila di masa sebagian intelektuil Islam berpendidikan Barat merasa kikuk karena agama yang mereka peluk dianggap “begitu buruk”.

Ir. Soekarno sendiri tidak absen dalam mengejar buku-buku Ahmadiyah — sampai-sampai sebuah koran di Jakarta memberitakannya sebagai telah membentuk cabang gerakan Ahmadiyah di tempat perjuangannya di Ende.

Soekarno misalnya, seperti juga Jusuf Wibisono dan boleh dipastikan banyak yang lain, menyatakan secara jelas bahwa buku Khwaja Kamalludin Het Cehebn van Het Bestaan itu — yang di belakang hari diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Rahasia Hidup — sebuah karya brilian.

Bagaimana pula pengaruh Ahmadiyah Lahore dalam PSII? Sudah tentu tak ada — secara resmi. Hanya saja, di samping tak begitu jelas berapa banyak tokoh PSII yang kecipratan Ahmadiyah, jelas bisa dilihat bekas Tjokroaminoto yang sekaligus menyangkut Ahmadiyah sampai sekarang.

Boleh dibandingkan misalnya kertas bai’at Partai tersebut, yang diucapkan seorang calon anggota pada waktu pelantikan sebagai warga baru, dengan kertas bai’at model Ahmadiyah. Mirip. Maka tak heran bila dalam bukunya Islam dan Sosialisme Tjokroaminoto banyak sekali mengutip dari Maulana Muhammad Ali. Sedang bukunya Tari Agama Islam boleh dibilang 95 persen adaptasi buku Muhammad Ali Mohammad The Prophet.

Tetapi bahkan Moh. Natsir, murid ulama A. Hassan musuh Ahmadiyah Qadian itu, menggunakan banyak keterangan Mohammad Ali (Lahore) untuk catatan kaki sebuah bukunya tentang salat. Juga buku kecil Agus Salim tentang Isra Mi’raj (dicetak kembali oleh Tintamas pada 1966) yang nyaris merupakan pindahan dari The Holy Qur’an Muhammad Ali untuk bagian yang sama — yakni jalan pikiran yang mengantarkan kepada kesimpulan bahwa Isra Mi’raj itu peristiwa rohani dan bukan peristiwa fisik.

Adapun Bahrum Rangkuti, pada 1949 seniman ini menterjemahkan Bentuk Dasar Ekonomi lama karangan Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifah ke-II Ahmadiyah Qadiani. Setelah itu bisa pula ditunjuk Tafsir Qur’an Departemen Agama.

Tafsir ini tidak hanya menukil The Holy Qur’an Muhammad Ali maupun The Holy Quran Yusuf Ali, tapi bahkan menterjemahkan mentah-mentah sebagian pengantar The Holy Qur’an Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad di atas (TEMPO, 12 Januari 1974).

Kesimpulan yang paling menonjol dari seluruh “peninggalan” Ahmadiyah ialah: mereka telah memberikan senjata yang bagus bagi umat Islam setidak-tidakna dalam apologi — menghadapi serangan Eropa yang terutama santer sampai sesudah Perang Dunia ke-I.

Senjata ini adalah salah-satu dari dua senjata: yang pertama telah diberikan oleh Muhammad Abduh, Rasyid Ridha atau Jamaludin Al-Afghani, yang telah lebih dahulu dibaca di Indonesia.

Merekalah yang dikenal pertama kali menaikkan harga diri umat muslim dari menampakkan keindahan Islam di atas agama dan faham -faham Eropa yang selama ini mereka pandang dengan perasaan minder.

Tetapi, Muhammad Ali dan buku-buku kaum Ahmadi telah “menyerang dengan lebih langsung”. Buku-buku yang mengupas Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan kitab-kitab agama-agama lain, berasal dari mereka — hal-hal yang tidak pernah muncul dari bumi Mesir atau Arab umumnya sampai pada tahun-tahun yang lebih akhir.

Seakan-akan mewarisi ilmu ulama klasik Syahrastani yang mengarang kitab Al-Milal wan-Nihal (Agama-Agama dan Pandangan-Pandangan Hidup — buku perbandingan agama yang pertama di dunia), dari India bermunculan buku-buku kristologi menurut versi Islam.

Itulah yang diterjemahkan atau menjadi sumber penulisan baru di Indonesia. De Bronnen van Het Christendom, misalnya, karangan Sudewo terbit pada 1931 di Sukabumi. Seiring dengan itu adalah De Ceboerte van Jezus in Het Licht van Den Heiligen Qoer-an, terjemahan Sudewo dari pengarang Basyarat Ahmad, terbit di Yogyakarta.

Pada 1937, muncul pula dari Ahmadiyah Qadian empat buah buku dan brosur: Jezus Dalam Bibel serta Nabi lsa Anak Allah: — oleh M. Sadiq HA, terbitan Medan dan Jakarta. Dua yang lain adalah kebenaran Nabi Muhammad.

Menurut Bijhel oleh M. Rahmat Ali HAOT, Jakarta. Itulah buku-buku perbandingan agama atau kristologi yang pertama kali di tangan umat Islam di Indonesia.

Baru sesudah itu, di belakang hari, mahasiswa Islam di sini menerima buku perbandingan agama Prof. Dr. Syalabi (Kairo). Djarnawi Hadikusumo lantas mengarang pula dua jilid komentar terhadap Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Drs Hasbullah Bakry menulis Nabi Isa Dalam Al-Quran dan Nabi Muhammad dalam Bibel. Tapi yang sangat populer adalah brosur-brosur kecil keluaran Jajasan Pembela Islam (YAPI) dan penerbit Anoa di Surabaya.

Di sini menulis orang-orang muda dengan voltase tinggi sebagian dari mereka ini warga Ahmadiyahl Qadian seperti Saleh A. Nahdi. Pada umumnya semuanya berpikir menurut jalan pikiran Ahmadiyah.

Tapi itu berarti bahwa jalan pikiran Ahmadiyah diterima orang boleh dikatakan hanya “pada segi-seginya yang praktis untuk pembelaan Islam”. Bila seorang khatib muda naik di mimbar Jumat dan “mengupas” Bibel dan mengutip Muhammad Ali, atau kadang-kadang Mirza Basyiruddin tanpa menyebut sumber, dan dengan itu telah mengesankan keluasan berfikir yang cukup, galibnya ia tidaklah bermaksud mempropagandakan Ahmadiyah.

Pikiran-pikiran Ahmadiyah itu telah demikian saja merupakan satu bagian tak terpisahkan dari pemikiran Islam mutakhir. Mereka ini, setelah tidak bisa menerima Ghulam Ahmad sebagai Nabi (kalau bisa tentulah mereka masuk jemaat Qadiani), biasanya tidak begitu peduli apakah Ghulam Ahmad memang Pembaharu yang diutus Allah (seperti diyakini kaum Lahore), atau Yesus dan Imam Mahdi yang seperti dijanjikan dalam hadis Ibnu Majah akan bangkit mendukung syari’at Muhammad (seperti diyakini baik Qadiani maupun Lahore).

Bagi umumnya umat muslimin, hadis-hadis semacam itu termasuk jenis “hadis-hadis rawan”, yang boleh menimbulkan banyak penafsiran dan umum tertimbun di bawah hadis-hadis yang mereka anggap lebih praktis dan langsung berhubungan dengan amal.

Adalah menarik bahwa bagi aliran Lahore sendiri “masa kerja” ajaran Mirza Ghulam Ahmad sebagai Mujaddid pilihan Allah akan sudah bisa berakhir dengan berakhirnya abad tahun Hijrah yang sekarang yakni enam tahun Iagi — sementara insya Allah sudah muncul Mujaddin pilihan yang lain.

Dan bagaimana lantas nasib GAI?

“Terserah beliau nanti,” jawab tokoh-tokoh mereka. Ini secara diametral membedakan aliran Lahore dari Qadian. Yang terakhir ini menganggap Ghulam Ahmad tokoh satu-satunya dan setelah tiga abad nanti akan menjadi lantaran bagi bersatunya dunia di bawah Khalifah beliau.

Moertopo SH misalnya — Ketua PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang Qadian menyatakan bahwa cita-cita terakhir Islam memanglah membentuk sebuah dunia dengan seorang pemimpin rohani tertinggi — apa boleh buat: “kira-kira seperti yang dicita-citakan dunia Katolik.”

Ini selain kurang populer di kalangan Islam umumnya juga menyebabkan mereka — terutama kalangan intelektuilnya yang cenderung tetap membuka pintu bagi pembaharuan-pembaharuan sepanjang bisa dibenarkan — memandang jemaat Ahmadiyah sebagai semacam ikatan yang akhirnya bahkan tidak “membebaskan”, begitu konon istilahnya Pegangan teguh kepada Mujaddid pilihan sendiri sudah dengan sendirinya melenyapkan kemungkinan ijtihad yang kebetulan tidak sesuai dengan sang Mujaddid.

Alhasil, minus kepercayaan-kepercayaan dasar terutama dari aliran Qadian, pikiran-pikiran Ahmadi memang baru menimbulkan bekas. Sekarang misalnya dunia Islam — seperti diwakili Syekh Mahmud Syaltut dari Al-Azhar dan lain-lain — sudah mengakui bahwa Isa benar-benar wafat dan bukan diangkat ke langit hidup-hidup seperti penafsiran kaum Sunni sebelumnya.

Jusuf Wibisono juga menyebut misalnya betapa fikiran-fikiran Muhammad Ali mempengaruhi pemikiran Islam tentang ekonomi. Dalam hal riba, merekalah yang mengumumkan bahwa yang dimaksud riba adalah rente dengan motif penindasan.

Sesuai dengan bunyi Quran: “Jangan kamu menindas dan jangan kamu ditindas” (la tazhlimun wala tuzhlamoun). Benar masalah riba tersebut telah disinggung dalam tafsir Al-Manar ‘Abduh & Rasyid Ridha.

Namun penafsiran yang oleh Jusuf Wibisono dibaca dari Muhammad Ali tersebut, seperti dikatakannya membuka pintu bagi eksistensi bank asal tak menuruti syarat di atas. Jusuf Wibisono sendiri memang tidak bisa menerima misalnya penafsiran yang terlalu jauh dalam Tafsir Muhammad Ali Untuk ayat-ayat mu’jizat.

“Bagi saya”, katanya, “kalau Nabi Musa memecah laut dengan tongkat, ya kejadiannya memang begitu. Bukan misalnya ditafsirkan bahwa tongkat itu lambang kekuasaan dan mereka menyeberang dalam keadaan laut kering dan sebagainya.”

Tetapi pro dan kontra terhadap pikiran-pikiran Ahmadi, dengan asumsi pertama bahwa dari mereka banyak bisa diambil hal-hal yang elok, menunjukkan kedudukan ajaran ini dalam sejarah pemikiran Islam di Indonesia.

Sesudah masuknya kitab-kitab dari Timur Tengah di akhir abad 19, yang menumbuhkan perkumpulan-perkumpulan tajdid (pembaharuan) seperti Muhammadiyah dan lain-lain, dan sebelum datangnya konsep-konsep yang relatif lebih jelas seperti pemikiran-pemikiran tentang negara dari Iqbal atau Seyd Amir Ali, di Indonesia terhembus udara India yang merupakan sebuah titik yang penting, meskipun lazimnya dilupa.

Nama Mirza Ghulam Ahmad sendiri seakan-akan hanya terbaca samar-samar di sini. Bahkan tafsir Muhammad Ali yang diterjemahkan antara lain oleh Tjokroaminoto itu, tidak mengupas apa-apa tentang salah seorang tokoh dunia ini.

83 Komentar leave one →
  1. trika tautan tetap
    April 17, 2008 11:45 am

    byuh tibakne duowo critane ket jaman biyen..
    lha terus piye penake ndoro…
    *binngung*

  2. April 17, 2008 11:46 am

    Ampun ndoro, ampun panjang-panjang postingnya…

  3. April 17, 2008 11:49 am

    wah, panjang juga ya? hahaha

    mending tak print, bacane sambil makan siang aja. :D

  4. April 17, 2008 12:00 pm

    wah edyan dowo tenan..
    sip ndoro :D

    *amatiryangsedangcoba2*

  5. April 17, 2008 12:03 pm

    Iki ndoro kerjo nang paberik opo sih?, kok arsip-e lengkap tenan, nang kompas tah?

  6. April 17, 2008 12:06 pm

    terimakasih ndoro… sudah men”scan” dan memposting artikel ini. :)

  7. April 17, 2008 12:06 pm

    puaanjang dan lama. bener pul diprint .. karo mangan rawon enak ki .. hahaha
    pesenanku om, endiii?

    pesenan tentang solo ya? durung, bal :D

  8. April 17, 2008 12:28 pm

    sip, dadi ngerti cerito sejatine….
    sampeyan oleh satus untuk posting ini, hehe

  9. April 17, 2008 1:07 pm

    ampuuun ndoroooooo

  10. April 17, 2008 1:09 pm

    gila juga jadi wartawan, kerjaannya bikin beginian…

    bertolak belakang dengan programer yah. Kalau programer diharapkan bikin ketikkan pendek, biar orang lain mengerti, kalau wartawan mesti bikin ketikkan yang panjang biar jelas maknanya…

    salut5x

  11. April 17, 2008 1:11 pm

    ” [disclaimer: posting ini sangat panjang].”

    harusnya diganti [disclaimer: posting ini benar-benar amat sangat panjang nian sekali banget kebangetan sebanget banget nya].

  12. April 17, 2008 1:18 pm

    wah panjang juga ya TM

  13. April 17, 2008 1:42 pm

    semua itu tergantung aja om ….

    mereka (ahmadiyah) itu ngaku dari muslim atau tidak ?? kalo iya, dia udah merusak sisi aqidah islam sendiri. Sudah jelas dikatakan di kitab-kitab baik itu Al Qur’an dan Hadist, bahwasanya Rasulullah itu penutup para nabi, jadi setelahnya ga ada lagi nabi, mo entah itu bawa syariat baru atau tidak !!

    kalo dia mengklaim bukan dari Islam, ya silakan aja mereka bikin agama baru. Seperti halnya Syiah itu agama sendiri dan BUKAN dari Islam.

    Wallahu’alam bi shawab …

    (mungkin sebagai rujukan : http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=70 )

    • damarHtirto tautan tetap
      Desember 28, 2009 12:45 pm

      lihat aja apa yang mereka lakukan di afrika, eropa, amerika dan dimana-mana. Awasi dengan baik!!!! Kalau mereka suka berbuat kerusakan, penuh dengki dan menghasut Pasti bukan umat Muhammad SAW. Kalau mereka cinta damai, mbangun mesjid di-seluruh negri dimuka bumi, Pasti mereka umat Muhammad SAW . kan gitu. Berlomba-lombalah dalam kebaikan. Wass

  14. April 17, 2008 2:14 pm

    saya gak tahu apa semua membaca sampai habis kayak saya. tapi tetep aja harus dibaca lagi nanti setelah pulang.

    btw spam protectionnya kekecilan ndoro

  15. April 17, 2008 2:28 pm

    wah panjang juga yaā„¢

    ndoro, saya save dulu ya. mumet bacane. :roll:

  16. April 17, 2008 2:31 pm

    iya, tangannya panjang bener. lalu apa sih yang ndak diurusi sama pemerintah kalok gitu ya, semua2 dicampuri.
    eh ada ding… saking sibuknya ngurusi yang beginian, yang harusnya diurusi kok ya malah ndak dijamah ;-)

  17. April 17, 2008 2:50 pm

    aih..saya udah mencoba tabah sampe akhir buat mbaca..tapi ternyata ndak sanggup…harus 3 babak ini..

  18. April 17, 2008 2:52 pm

    Wadooohh…panjang amat postingannya, ndoro?? Ntar yang baca pada turu loo…trus ndorokakung marah2, ‘KALIAN HARUS MALU PADA RAKYAT!’ hehehe…

  19. April 17, 2008 2:54 pm

    Terima kasih mau ngos-ngosan menurunkan artikel. Bermangpaat dunyo ngaherat, Ndoro…

    Keren!

    Jadul itu berilmu dan berpulitik dijadiken ajang membela ideologi dan kemaslahatan bersama. Ada perpecahan dan bawa-bawa garis darah (“Tjokro dengan turunan ksatria-nya) namun tetap dalam garis batas..

    Lha sekarang punya ilmu sedikit dijadiken lahan golek mutik tok!

  20. April 17, 2008 2:58 pm

    akhirnya ndoro punya posting yg lebih panjang drpd commentnya

  21. April 17, 2008 3:00 pm

    maaf numpang tanya:

    Dengan plot cerita th 20-an, Hasyim Ansyari-(Kakeknyah Gus Dur) Nahdhiyin belum muncul ya?

    Oh ya, Ahmad Dahlan bikin Muhammadiyah itu terinspirasi dengan Muhamad Abduh kan..dan M. Abduh itu pun mulai mengeluarkan banyak pengaruhnya setelah bersentuhan dengan filsuf barat..

    Lha, kita sama Barat aja udah antipati, nguasai Barat ndak, Timr ya setengah.. dengan ilmu sacupret sudah ngelarang dan bilang ndak boleh sana-sini…

  22. April 17, 2008 3:11 pm

    wheew … panjangnya … dach baca sampai habis tapi nggak ngerti … dan harus baca lagi keknya …

    mang kesimpulannya apa to ndoro … :D

  23. hardjagembus tautan tetap
    April 17, 2008 3:13 pm

    Lha nek bukan pemerintah yang mutusin, siapa coba ? apa dibiarin gontok-gontokan karena prinsip yang jelas-jelas beda ?. semua agama -besar- di dunia, saya kira sama, tidak mentolerir penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan, kecuali sang penyimpang menyatakan bukan lagi bagian agama tersebut. Atas nama HAM, harus juga atas nama KAM (kewajiban asasi manusia). Nuwun. Sorry banget nggih, Ndor!

    ndak usah minta maaf ke saya, mas :D

  24. April 17, 2008 3:15 pm

    wah, panjang juga ya! <<< komentar standar :p
    saya pernah membacanya sebagian…di mana ya? lupa.

    saya cuma mo bilang; yang ribut2 biasanya emang orang yang ga tau sejarah. ga tau sejarah ya ga bisa bertindak bijak dan ga bisa menghargai perbedaan. hehehe…komentar sok tau :p

  25. April 17, 2008 3:49 pm

    walah kok panjang sekali

  26. April 17, 2008 4:14 pm

    Wah, postingan berat ini…

    Kalo saya sih tetep setubuh eh setuju sama BAKORPAKEM, coz saya dah liat sendiri. Di daerah saya ada, tapi kecil banget.

    Yang penting, umat Islam jangan anarkis…

  27. April 17, 2008 4:34 pm

    referensi yang sangat bagus dan komprehensif..
    saya juga ndak setuju jika melihat perbedaan Islam dengan pemaksaan. Bung Karno dalam suratnya di Ende jaman pembuangan sudah menulis mengenai hal ini, yang justru sama dengan pergolakan pemikiran Islam saat ini.
    Intinya, saya setuju kalau kebenaran tidak melulu berdasarkan versi kita.

  28. April 17, 2008 4:45 pm

    sebaiknya negara tidak mengurusi keyakinan warga negaranya. keyakinan itu adanya di dalam hati. negara tidak bisa mengubah keyakinan warganya. memang negara bisa mengubah tulisan dalam ktp. tapi yang didalam hati adalah urusan masing-masing warga negara. keyakinan itu tidak bisa dipaksakan dengan selembar peraturan, fatwa, surat keputusan, rekomendasi dan lain-lain.

    bukan begitu ndoro?

  29. April 17, 2008 4:49 pm

    Salah satu solusi jika tidak ingin masalah ini berlarut-larut setahu saya adalah Ahmadiyah mau mengakui sebagai agama baru. Karena kalau terus tidak mau mengakui sebagai agama baru, maka ya tetap akan ada konflik dengan umat Islam yang beriman kepada Nabi Muhammad sebagai penutup Nabi dan Rasul.

    OOT : Daripada pake Spam protection itung-itungan kayak anak SD, mending pake plugin WP-Spam Free saja ndoro.
    http://wordpress.org/extend/plugins/wp-spamfree/

  30. April 17, 2008 5:15 pm

    Berhubung ilmu agama saya cekak, ndak mudeng sama sekali soal tata negara, apalagi hukum, jadi hanya ingin berkomentar bahwa postingan yang satu ini ruarrr biasa panjangnya. this is one hell of a extraordinarily long post (udah mirip cincha lawrah blom?).

    Namun demikian bolehlah saya berurun pikir, bahwa negara kita ini kan negara hukum, bukan negara agama, dasarnya Pancasila, landasan hukum tertingginya adalah UUD 1945.

    Semoga saja alasan yang dikemukakan bukan alasan bahwa ajaran atau kepercayaan tertentu itu salah. Karena, CMIIW, negara tidak memiliki kewenangan untuk menentukan keyakinan atau kepercayaan yang benar maupun yang salah.

    Harusnya yang dilarang itu yang benar-benar memunculkan potensi (dan bahkan sudah memanifestasikan) ancaman terhadap kedamaian dan ketentraman masyarakat, seperti membakar, merobohkan, bacok sana sini, anarkis dan yang sak kepenake dewe…

    BTW, kalau diadakan referendum aja gimana ya? Hehehe…

    this is one hell of your extraordinarily long comment. tumben :D

  31. April 17, 2008 8:59 pm

    Sebaiknya pemerintah ndak usah ngurusin yang gituan, urus saja orang-orang yang kelaparan, secara pribadi sikap saya tetap menganggap saudara-saudara saya dari Ahmadiyah tetap adalah orang muslim, dan mereka berhak mengaku mereka adalah orang muslim, terlepas mereka memiliki metode baru dalam menafsiri kenabian dalam al-qur’an, dan saya yakin Islam tidak akan rusak karena hanya salah tafsir, tapi lebih dari itu apapun agamanya jika Indonesia negerinya mereka berhak untuk mendapat perlindungan -kecuali kepentingan politik berkehendak lain-

    Ndor hemat saya penyerangan kepada kelompok ahmadiyah belakangan ini disebabkan oleh adanya faktor lain, bukan murni membela Islam, lha wong Islam ndak perlu dibela kok…ah jadi serius.

  32. April 17, 2008 9:55 pm

    Lho…iya, kok semua jadi serius…hehehe.
    Lha yo maturnuwun banget sampean posting yg satu ini karna saya jadi tau sejarahnya…sejauh ini saya ndak pernah mempermasalahkan hal2 beginian…karna konflik ini ndak akan selesai sampai kapanpun juga…yo wislah yg penting saya masih bisa memilih mana yg terbaik buat saya…

  33. April 17, 2008 9:59 pm

    ngos-ngosan juga baca sampai selesai :D
    pemerintah emang ga perlu ngurusin begituan sampek dalem, tapi masyarakat juga harus belajar menerima perbedaan apapun, atau kalau mau protes pake cara yang beradad lah, jangan pake kekerasan (primitif)…

  34. April 17, 2008 11:39 pm

    ugh ah ah uh…
    kesel ndoro
    terus enaknya gimana ndoro?

  35. mbambungan tautan tetap
    April 17, 2008 11:58 pm

    lho yak gimana si.. menteri agama itu nabi barunya jaksa2 itulak sahabat2e ya peraturan harus ditegakkan dong kalo ada yang nggak setuju silahkan nyebrang lautan ke maleisa keq ke timor leste keq terserah embuh sakkarepmu dewek lah nyong mau nurut aturan sajah wong inyong wong endonsiah.

  36. April 18, 2008 9:10 am

    Pak,

    Terima kasih, kutipannya. Lebih lengkap lebih bagus toh. Kalau boleh tahu sumbernya dari media apa nih pak?

  37. April 18, 2008 10:26 am

    oOo begitu

    * riplay first *

    ndoro, kalo pake epiphany kok kursornya gag bisa nangkring di sepam proteksyen to ?
    langsung mbalik ke websait :(

    ndoro diskriminatip

    * laporkan ke komnas blog *

  38. April 18, 2008 10:47 am

    ah menarik sekali, terima kasih mau memuatnya di blog mbah :)

    salam dari jogja

  39. Abiha tautan tetap
    April 18, 2008 1:10 pm

    Pahin…
    Alasan pemerintah tentunya sekedar stabilitas agar menarik investasi (asing).

    OOT, tentang ‘nabi’, beberapa tahun lalu saya sempat memantau di TV-TV (asing via saluran berlangganan) tentang seseorang yang ditunggu-tunggu pidatonya. Ketika ia mulai berpidato, semua stasiun TV berita ‘live’ mulai mengutip perbagian pidatonya, ticker-ticker breaking news gantian berkedip.
    Berganti topik dan kalimat, kembali ticker-ticker berkedip, latar merah atau hijau. Tampilan tabel-tabel gonjang-ganjing, angka meloncat-loncat, garis grafik naik turun tidak tentu.
    Selesai ia berpidato, semua TV berita membacakan ‘breaking news’ mengutip orang tadi.
    Angka-angka di seluruh dunia kemudian bergeser cepat.

    Orang tadi namanya Alan Greenspan.

    Mulanya saya entengi saja, tapi beberapa hari kemudian ketika belanja bahan keperluan usaha, harga naik 10-15% akibat langsung dari ‘fatwa’ orang tadi.
    Pemat tenan! Benar-benar ‘nabi’ jaman baru.

  40. April 18, 2008 1:14 pm

    Tak, sangka sampeyan puinteerr buanget tibake, pakdhe Ndoro…
    Terimakasih sudah mau bertele-tele memuatnya di sini wawasan tentang sejarahnya ada….
    Kapan-kapan bikin postingan macem gini lagi ya Ndor!

  41. April 18, 2008 2:48 pm

    Mengapa negara tidak boleh campur tangan dalam urusan iman dan kepercayaan? Ngga cuma Indonesia lho yang campur tangan. Vatikan dan Malaysia adalah salah dua contohnya. Di India dan Thailand malah rakyatnya yang kepingin negara campur tangan untuk menjadikan agama Hindu dan Buddha sebagai agama resmi. Sampai berdarah-darah. Di China dan Rusia sana (dulu sempat), kehidupan agama juga disekat.
    Kita nikmati saja kenyataan hidup ini ndoro. Kalau ngga pingin negara campur tangan, ya mungkin kita bisa pindah saja jadi warga negara Amerika Serikat sana.

    saya memang mau pindah ke Amerika kok. ini lagi nyari green card :D

  42. April 18, 2008 4:09 pm

    Majelis itu akhirnya hanya berarti Majelis Ulama PSI dibentuk pada 1928 dalam Kongres di Yogya. Di forum ini iuga dibicarakan Tafsir Qur’an yang sedang dikerjakan Tjokroaminoto, Mr. A.K. Pringgodigdo dalam bukunya, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, ada menyatakan bahwa lantaran dan bagian-bagian pertama tafsir itu ternyata hanya saduran dari tafsir kaum Lahore, timbullah di korupsi itu perlawanan yang keras.

    korupsi? apa mungkin maksud sebenarnya adalah kongres?

  43. April 18, 2008 4:27 pm

    Maka ā€œnaik kudaā€-lah Tjokroaminolo. Tokoh ini dengan segera datang ke Yogya bersedia menghadapi sebuah debat terbuka mengenai itu tafsir yang heboh. Tokoh-tokoh lanjut usia yang berada di sana waktu itu boleh menceritakan jalannya peristiwa begini: Pertemuan diadakan di Pakualaman sebagian besar dihadiri orang-orang Muhammadiyah.

    Lha ini siapa lagi ini Tjokroaminolo? Tjokroaminoto?

    wah iya, salah ketik, seperti soal kongres dan korupsi itu. mungkin karena terlalu hot memusuhi soal korupsi, jadi salah ketik. maap :D … sudah dikoreksi pak eko, thanks.

  44. April 18, 2008 5:08 pm

    ndoro…ada kemungkinan kah kalo pelajaran agama di sekolah sejak dari SD ampe SMA dan bahkan kuliah terpengaruh oleh ajaran ahmadiyah? kalo iya ada pengaruhnya, artinya secara ga langsung juga ikut mengamalkan ajaran ahmadiyah dunks..setelah saya baca postingan ndoro yang sangat panjang ini ampe habis, jadi kepikiran..

    btw..ini postingan yang sangat menarik, ndoro. matur nuwun nggih..

  45. April 18, 2008 8:42 pm

    panjang banget…

  46. April 19, 2008 5:41 am

    #iwan awaludin; Tentang Vatikan, itu catatan lain, lihat lagi sejarahnya

    #simbah;

    setahun sebelum datangnya mubaligh Qadian ke Aceh dan Minangkabau dua orang ulama Hindu muncul di Yogya. Mereka itu Maulana Ahmad dan Mirza Wali Ahmad Baig.

    hindu? hindustan? hindi?

  47. April 19, 2008 12:44 pm

    mantab nih ndoro kakung..

  48. April 19, 2008 4:36 pm

    ga cape ngetiknya ? berapa hari selesainya ?

  49. April 19, 2008 7:16 pm

    udah selesai baca..setelah mencoba mengurut berkali2 setingan dan latar ceritanya…*diantara kesibukan, hiks..

    komentar saya?
    “Kesan agama menjadi sama dengan partai. Karena ketika orang bertanya kamu dari partai mana? partai A B C atau D?”

    dan layaknya partai, ada penguasa dengan segala mimpi akan kekuasaannya…

    Beragama untuk kekuasaan….

  50. April 23, 2008 9:48 am

    Ulasan yang panjang, lengkap dan bagus. Di dunia ini tidak ada kebebasan yang hakiki. Satu contoh perbandingan:
    Kita tinggal di lingkungan yg tenang lalu suatu hari datanglah tetangga baru yg mengusik lingkungan kita.
    Tetangga kita ini punya hobi menyalakan radio sekeras-kerasnya. Tentu saja tetangga2 di lingkungan kita pun merasa terganggu. Awalnya mereka hanya bicarakan masalah itu sesama mereka aja. Lama kelamaan jengkel juga dan akhirnya mereka datangi langsung tetangganya itu. Mereka minta ke tetangganya untuk merubah kebiasaan menyalakan radio dgn keras. Tapi hal itu tidak digubris jg, akhirnya para tetangga itu lapor ke RT dan meminta RT setempat utk menegur tetangganya yang susah diatur itu.
    Itulah mungkin sekelumit ilustrasi tentang kondisi Ahmadiyah sekarang ini. Indonesia memang bukan negara agama tetapi Indonesia pun bukan negara sekuler.

  51. April 25, 2008 2:54 pm

    sy stuju sm bung YUDEE

    kl mreka kluar dr islam dan membentuk agama bru ya monggo..silahkan didaftarkan di depag dan depkumham..tp klo keukeuh ngaku sbg org islam ya sudah sepantasnya para ulama dan ulil amri meluruskan “islam”

    bgi sy pribadi statemen bhwa Muhammad SAW sbg nabi terakhir adlh harga mati

  52. April 26, 2008 1:18 am

    ASS.ehm, artikelnya trnyata bsa jga dijadikan salah stu rferensi prnyataan.tapi wlaupun begitu.yang namanya menjalankan ajaran islam kan harus kaffah,sesuai printah ALLAH.&dijalankan sesuai syariah yg tlah ditetapkan.dan itu dah saklek,g bsa dgaggu lagee.mskpun katane sampeyan tadi “mengapa kq pemerintah hrus campur tangan begitu jauh dlm urusan keimanan&keprcyaan”.
    ya, memang pmerintah sbgai ULIL AMRI kta, hrus brtindak tgas gtu.lha wong AHMADIYAH sdh brani2nya nodai agama islam, yg mana hnya diridhoi ALLAH ni.lha kalo misale pmrintah /Bakorpakem g bertindak gitu.ajran islam di indonesia kn nantinya bsa terkontaminasi ke-kaffahannya.hayo nek wis ngono piye jare,opo smpeyan cma pngen nulis+mlongo thok.

  53. April 26, 2008 10:30 am

    bahasan yang bagus dan detail bisa jadi bahan untuk referensi.

  54. April 26, 2008 3:05 pm

    “Atas anjuran Labai El Yunusiyah, ulama besar dan ayah Rahmah El-Yunusiyah yang terkenal, tiga orang anak muda tersebut pergi ke India. Mereka adalah Ahmad Nurdin, Abu Bakar Ayub sendiri dan Zaini Dahlan.”

    Sekedar informasi, sepulangnya ke kampungnya di Bukittinggi, Ahmad Nurudin berdebat dengan beberapa tokoh Islam setempat termasuk dari Tawallib, dan hasil akhir perdebatan adalah kesepakatan mutlak bahwa aliran Ahmadiyah yang diperkenalkan Ahmad Nurudin adalah sesat. Bahkan Ahmad Nurudin dilarang menginjakkan kakiknya di perguruan tersebut.

    Perdebatan2 sejenis, baik skala kecil dan besar, sebenernya udah banyak terjadi di masa lalu. Umumnya Ahmadiyah selalu berada di pihak yang terpojokkan alias gak bisa bertahan dengan dalil2nya. Mungkin itu sebabnya saat ini Ahmadiyah gak mau melayani tantangan debat terbuka mengenai aqidah mereka. Lain halnya kalo perdebatan membahas kekerasan dan pelanggaran HAM, Ahmadiyah dengan penuh semangat tampil kemuka sebagai korban.

    Merekalah yang dikenal pertama kali menaikkan harga diri umat muslim dari menampakkan keindahan Islam di atas agama dan faham -faham Eropa yang selama ini mereka pandang dengan perasaan minder. — waduh, ini klaim dari mana mas? hehehe

    Tetapi sebaliknya mereka pun tidak pernah menggunakan taktik ā€œpintu belakangā€ atau membonceng kekuatan-kekuatan lain secara tidak sportif dan karena itu tak pernah terdengar berita kericuhan di Indonesia dalam hal Ahmadiyah.

    Btw, kalo mas lebih teliti menggali sejarah Ahmadiyah di Indonesia (terutama Qadian), seingat saya sejak masa2 sebelum kemerdekaan, udah beberapa kali terjadi keributan2 antara umat Islam dengan penganut Ahmadiyah (mungkin skalanya gak sebesar sekarang karena jumlah penduduk saat itu masih sedikit) setidaknya di sumatera barat dan sekitarnya, jakarta, dan di beberapa daerah di jawa barat. Kebetulan data2 tersebut saya baca beberapa taun yang lalu, dan udah lupa sekarang dimana catatannya. (maaph… hehe). Seperti sekarang, hmmm… Apa mencari dukungan dengan membelokkan fakta penodaan agama menjadi pelanggaran HAM bukan merupakan salah satu bentuk “taktik pintu belakang”? Jujur aja, mayoritas orang saat ini menjadi penuh simpati ke Ahmadiyah karena mereka begitu kuat menggembar-gemborkan kekerasan yang dialaminya oleh oknum2 Islam garis keras. Ahmadiyah berhasil memainkan taktik sebagai “pihak yang dizolimi”, namun menyamarkan pasal-pasal penodaan agama yang sebenernya tidak terbantahkan.

    Mengenai buku-buku “Ahmadiyah” yang menjadi rujukan tokoh2 Islam masa lalu saya pikir wajar aja. Masa-masa akhir abad 19 dan awal abad 20 adalah masa2 ulama Islam Indonesia mulai melek pengetahuan. Semua buku, baik Ahmadiah, Syiah, Fiqh berbagai mahzab, termasuk tentang pandangan sufi, salafi, dll adalah bacaan umum orang-orang intelek masa lalu (Muhammadiyah, SI, Al-Irsyad, bahkan NU) yang haus akan pengetahuan agama Islam dari berbagai sudut pandang. Contohnya aja, dulu bahkan 10 Muharam (Assyura) dirayakan di beberapa tempat di Indonesia, bahkan sempet dijadiin hari libur hingga awal Indonesia merdeka. Padahal Syiah di Indonesia sangat sedikit jumlahnya. Jadi gak tepat kalo mas menggambarkan sedemikian besar pengaruh buku-buku Ahmadiyah di perkembangan Islam Indonesia. Pengaruhnya ada, tapi porsinya cukup kecil dan saya fikir gak begitu signifikan. Levelnya sama aja bahkan lebih kecil dari buku2 lain (contohnya Syiah yang saya kemukakan tadi).

    Btw, salut buat postingannya.. Nice… Lam kenal

  55. SAKINULWADI tautan tetap
    Mei 1, 2008 11:03 pm

    Sesat dari iman, berarti kufur..sesat dari kufur, berarti iman donk..so, sesat dari kesesatan? itu harus..asal jgn sesat dari iman aja, ya kan ndoro? trus, apa bener kita udah beriman? iman kepada apa dulu..! harus jelas jg kan..? semua orang kan beriman..iman kpd Allah, berarti kufur terhadap kebathilan..kufur kpd Allah, berarti iman terhadap kebathilan. nah loo, udah kufur belum ma kebathilan? yakin udah? coba ukur dulu deh..klo blm, berarti kita masih kufur ma Allah donk..trus, apa ukuran iman? apa benar iman itu berarti percaya? wah klo cm percaya, gampang banget jd orang beriman, cukup dalam hati aja..Ruang iman kan ada tiga (klo salah,tolong di ingetin ya ndoro..?) hati, ucapan and perbuatan, yg bs diisi ajaran Allah, bs jg ajaran bathil (spt kapitalisme, komunisme, individualisme, sihir, n bnyak lg deh..), bs juga campur aduk. gmn tuh? yah, yg lain di hati, lain di mulut, lain pula di perbuatan, alis MUNAFIK! wah, itu msh sm jg dgn sesat. cnth, ada yg ngaku islam dg lima rukunnya. ngakunya mau dg zakat, e..riba di embat jg. ngaku syahadat, e..kapitalisme dirujuk jg..so, mari introspeksi diri rame-rame, MUI jg. biar iman gak cm di tataran gagasan aja, mgomong doang aja. tp jg diwujudkan dalam ucapan n perbuatan. itu baru objektif..cocok antara gagasan gd kenyataan. Wallahu a’lam..

  56. Mei 23, 2008 4:05 pm

    SIKAP BIJAK TERHADAP PERBEDAAN KEYAKINAN

    Sudah menjadi sejarah perjalanan agama-agama didunia bahwa pemerintahan yang ada pada saat agama tersebut diturunkan selalu merasa memiliki wewenang untuk menentukan boleh/tidaknya suatu agama dipeluk oleh rakyatnya.
    Hal tersebut bisa kita saksikan mulai nabi Musa as, nabi Isa as bahkan Nabi Muhammad saw.
    Dari semua kondisi tersebut, seakan-akan pemerintahan telah memproklamirkan diri sebagai sesosok yang tahu segalanya bahkan terhadap hal-hal ghoip antara makluk dengan Sang Penciptanya.
    Pemerintah telah mensyaratkan kepada rakyatnya agar memilih agama hanya kepada agama-agama yang telah mendapat sertifikat ā€œhalalā€, walaupun kebebasan memilih agama adalah hak yang paling asasi yang diperoleh dari Sang Penciptanya, bukan dari pemerintahan.
    Bila rakyat meyakini agama yang tidak tersedia diantara pilihan ā€œhalalā€ tadi, maka pemerintah akan menghukum rakyat yang mbalelo tersebut.
    Bahkan, di Indonesia, suatu agama yang menurut pemerintahan lama dianggap terlarang, ketika terjadi pergantian kepemimpinan nasional, agama tersebut bisa dianggap ā€œhalalā€ dipeluk. Sungguh di Indonesia, sertifikat ā€œhalalā€ suatu agama sepertinya cukup bergantung selera pemimpin nasional saja. Sederhana sekali.

    KONSTITUSI NEGARA INDONESIA

    Didalam system pemerintahan Indonesia yang didirikan dengan memperhatikan kemajemukan, sesungguhnya rakyat telah mendapatkan kepastian bahwa negara sebagai penjamin dan tidak ikut campur atas kebebasan agama yang dipilih oleh setiap individu.
    Hal ini bisa kita lihat pada sila pertama Pancasila yaitu ā€œKetuhanan Yang Maha Esaā€ yang mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan kepercayaan dan agamanya masing-masing.
    Undang Undang Dasar Negara menjamin kebebasan beragama, dalam Bab XI, Agama, Pasal 29 UUD 45 menyatakan:
    1. Negara berdasar atas ketuhanan Yang Maha Esa;
    2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

    KEHIGUPAN BERAGAMA DI INDONESIA

    Konstitusi negara Pancasila dan UUD 1945 dalam kenyataannya belum cukup mengantarkan Bangsa Indonesia kepada kebebasan beragama sepenuhnya. Masih terjadi tindakan-tindakan anarkis dan pengusiran-pengusiran terhadap kelompok-kelompok yang dianggap sesat.
    Ironisnya, kelompok yang melakukan tindakan anarkis bahkan menganjurkan untuk membunuh sekalipun justru dibiarkan tanpa proses hukum, malah beberapa pemerintahan daerah yang seharusnya mengamalkan Pancasila dan UUD 1945 justru berperan untuk melanggar konstitusi-nya sendiri dengan memproduksi perda-perda yang bertentangan dengan kebebasan beragama.

    Berbeda paham adalah suatu keniscayaan dalam sebuah masyarakat majemuk, bahkan dalam satu agama sekalipun. Perbedaan tersebut adalah suatu realitas sosial dan sejarah manusia seperti firman Allah swt sbb: ā€œDan seandainya Allah swt. menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu semua satu umat saja. Akan tetapi, Dia hendak menguji kamu dengan apa yang Dia berikan kepada kamu, ……… (QS Al-Mâ’idah, 5:48)

    PEMERINTAH DAN MUI

    Sering kali, didalam melakukan penangkapan dan pemrosesan hukum penganut suatu golongan yang dianggap sesat, pemerintah mengawali dengan menggunakan dasar hukum fatwa MUI yang telah memberi sertifikat ā€œsesat menyesatkanā€. Yang perlu dipahami bahwa MUI hanyalah perwakilan sebagian dari sekian banyak golongan dalam Islam. Seharusnya MUI menyadari bahwa perbedaan penafsiran, yang berasal dari sumber hukum sama, adalah rahmat dan banyaknya golongan dalam Islam ini juga sudah di isyaratkan (dinubuatkan) oleh Nabi Muhammad saw. Sertifikat ā€œsesat-menyesatkanā€ hanya mampu dikeluarkan oleh Allah swt sebagaimana firman-Nya : “Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(68:7)
    Bila selama ini MUI sering memutlakkan kebenaran hanya kepada dirinya, secara tidak langsung sesungguhnya MUI telah mempertuhankan diri sendiri. Apakah dengan menangkap para pengikut golongan yang telah dianggap sesat oleh MUI, pemerintah & polisi juga ingin ikut mempertuhankan diri sendiri?
    Keyakinan tidak bisa berubah hanya karena diancam penjara, dan ini bisa kita lihat pada pemimpin sebuah aliran yang dianggap sesat dimana setelah keluar dari penjara, tetap saja tidak berubah keyakinannya.
    MUI tidak menyadari bahwa fatwa sesat yang dikeluarkannya telah dijadikan pembenar atas semua perusakan, pengusiran dan tindakan anarkis lainnya meskipun ketika efek ini disampaikan ke MUI, dengan enteng MUI mengatakan bahwa urusan kekerasan kemanusiaan adalah urusan pemerintah dan kepolisian. Sesungguhnya, fatwa adalah saran, yang namanya saran boleh diikuti ataupun diabaikan. Sebagaimana manusia biasa, tidak selamanya saran ulama adalah benar, hal ini seperti yang ditegaskan oleh Nabi Muhammad saw bahwa Islam hanya akan tinggal namanya, Al Quran hanya tinggal tulisannya dan ulama-ulama akan menjadi manusia paling buruk di kolong bumi ini, karena dari mulut-mulutnya akan keluar fitnah-fitnah.
    Bagaimanapun juga, kebenaran tafsir yang kita pegang selama ini adalah kebenaran tafsir versi manusia yang tentunya dikaji dengan segala keterbatasan manusia, bukan kebenaran tafsir hakiki dari Allah swt yang seratus persen dijamin kebenarannya. Jadi cukup fatwa yang menyejukkan dan membawa kedamaian saja yang kita ikuti bukan fatwa yang menyebabkan perpecahan dan tragedi kemanusiaan.

    SIKAP PEMERINTAH DAN MUI YANG SEHARUSNYA

    a. Kembali ke komitmen awal didirikannya Negara di atas kemajemukan dan melindungi keberagaman tersebut;
    b. Pemerintah tidak ikut campur dan tidak memihak dalam perbedaan paham itu. Yang harus dibela adalah prinsip konstitusi, sejauh tidak ada yang menyalahi konstitusi pemerintah harus tetap berdiri ditengah dan tidak ikut campur mengharamkan atau melarang eksistensi pemahaman agama manapun. Intervensi pemerintahan terhadap keberagaman pemahaman agama hanyalah dalam upaya menjalankan hukum yang berlaku saja, mencegah dan menghukum, siapapun yang melakukan kekerasan, anarkis dan pemaksaan paham agama kepada yang lain.
    c. Pemerintah harus membedakan kehidupan publik dan kehidupan pribadi.
    d. MUI harus memposisikan diri sebagai perekat dan penjaga kerukunan atas kemajemukan golongan dan menyadari batas-batas kewenangan manusia.
    e. Semua pihak harus menyadari bahwa perbedaan keyakinan adalah wajar. Kita cukup mencegah agar keluarga kita tidak bergabung dengan golongan yang kita anggap sesat saja namun jangan sampai kita menghakimi golongan yang di stempel sesat tadi..

    Waullahuaklam bi showab

  57. Juni 6, 2008 11:50 am

    pinjem artikelnya ya untuk blogku mbahe …oranggilasaja.multiply.com

  58. Juni 10, 2008 2:14 am

    nah lo…!

  59. Juni 11, 2008 12:08 pm

    weleh…weleh…
    kita ni masih mohon jalan lurus kepada Allah SWT, dengan baca Al Fathihah, ya mohon petunjuk lewat shalat tahajut atau apalah namanya, terutama bagi para pengambil keputusan biar gak salah baik pemerintah atau siapa saja, jangan asal memutuskan lewat logika saja walau itu juga perlu. Sekali lagi mohon petunjuk ke Allah…. ke Allah… bukan main kira-kira gitu lho…
    tks

  60. Juni 11, 2008 12:11 pm

    ya bener mas kita harus memohon kepada Allah biar semuanya jelas mana yg bener n tidak. Al Qur’an dan Hadist sebagai pedoman, tetapi ambil keputusan harus tetap mohon kepada Allah biar dapat Ridhlo akan keputusan tersebut. gitu baru benerrrrrrrrrrrrrrr….

  61. Juni 17, 2008 4:04 pm

    Enak juga ya buka-buka arsip lama.

  62. Juni 23, 2008 5:54 pm

    Gak perlu panjang x lebar karna jadinya Luas. Singkat kata mereka para pembela Ahmadiyah adalah “Abdullah bin Ubay bin Salul (kaum Munafikin)Modern, Mereka itulah yang katanya ngaku Islam tapi Phobia berat ama Islam, malah sekutu setia kaum kuffar !!

    • damarHtirto tautan tetap
      Desember 28, 2009 12:35 pm

      udah kukitari seantero negara, ahmadiyah selalu ada disana. Dan yang aku tahu, tak pernah ada warta mereka berbuat onar dan kerusakan. Menurut saya, itu artinya mereka mengamalkan ajaran Islam dengan benar. Berbuat kebaikan adalah ciri orang yang hatinya baik, imannya kuat, halus perangainya, manut keteladanan Rasullulah SAW…semoga.Amin

  63. Pembela_Islam tautan tetap
    Juni 24, 2008 7:10 am

    Bagi saudara-saudara non-Islam, sebaiknya jangan ikut campur dulu. Semua ini tidak ada relevansinya dengan kebebasan beragama. Yang terjadi adalah Ahmadiyah menodai agama Islam dengan konsep keagamaannya yang menyimpang. Dan kami, umat Islam, sedang berjuang membela agama yang lurus.
    Kami tidak sudi Islam menjadi seperti agama Nasrani yang konsep keagamannya beragam: Protestan, Katolik, Advent, dsb.
    Dalam buku-bukunya, Ahmadiyah meng-kafirkan orang-orang Islam yang tidak mengakui Gulam Ahmad sebagai Nabi.
    Lalu mengapa kita umat Islam tidak boleh tersinggung dan tidak boleh mengatakan bahwa Ahmadiyah sesat?
    Jangan halangi kami menjaga kesucian agama kami dari segala penodaan. Bahkan Nabi Muhammad SAW yang mulia tak segan-segan memerangi nabi-nabi palsu di jamannya.

  64. Juli 9, 2008 10:12 pm

    mm.. Rekomendasi BAKORPAKEM sekarang masih berlaku gak ya, secara hati nurani melihat bobroknya kasus suap kejaksaan nyatanya memang manusia gak berhak menuduh sesat suatu golongan/manusia lain..
    Itu adalah hanya kewenangan Tuhan Maha Suci. Dan jika ini dilanggar, hukum pun bekerja ke si pengambil hak Tuhan itu.

    • damarHtirto tautan tetap
      Desember 28, 2009 8:24 am

      menarik untuk disimak….banyak baca, tambah wawasan…apa lagi yang ini nih…..

  65. sedemir tautan tetap
    November 3, 2008 11:49 am

    Islam tidak mengenal keragaman? Sebelum ngomong begitu dan mau menyelesaikan ahmadiyah, selesaikan dulu tuh perbedaan Sunni Syiah kalau memang Islam tidak beragam. Yang ngomong begitu biasanya dari Ikhawnul Muslimin. Lah bukannya ente juga adalah SEKTE BARU dalam Islam? hehehehe

    • damarHtirto tautan tetap
      Desember 28, 2009 12:10 pm

      saya yang awam, sebelum nimbrung/ikutan mohon maklum. Jangan tulisan ini dijadikan penerapan UU- IT karena ada yang tersinggung.
      Beliau pernah bersabda di alhir zaman umat Beliau akan terpecah dalam banyak firqah. Oleh sebab itu. ambil kesamaan saja yang merupakan rukun Islam dan rukun iman. Iya kan? Menurut saya, barang siapa telah menjalankan dan meyakini serta mengerti akan apa yang terkandung, pastilah mereka cinta damai dan suka bernuat amal soleh.
      Tak mungkin umat Muhammad SAW yang benar, menjalankan korupsi, pengrusakan tempat ibadah umat lain. Semua tndakannya pasti yang baik-baik, dan tak suka menjelekkan orang. Pasti lebih menyukai perdamaian daripada perang, lebih menyukai kebersihan jiwa dan raga. Semoga yang demikian segera terwujud. Amin

  66. deddy tautan tetap
    Desember 19, 2008 1:47 pm

    Buat kaum muslimin
    Silahkan anda kunjung link dibawah ini agar anda semakin tahu akan kesesatan ahmadiyah.
    http://islamic.us.to

  67. deddy tautan tetap
    Desember 19, 2008 1:48 pm

    Bagi yang ingin mengetahui diskusi-diskusi ahmadiyah & menambah wawasan serta ilmu ttg ahmadiyah bisa menuju kesini..

    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showforum=7

  68. randy tautan tetap
    Januari 3, 2009 2:17 am

    Intinya Ahmadiyah itu sesat!!!

  69. dildaar80 tautan tetap
    April 9, 2009 9:00 pm

    “intinya ahmadiyah tidak sesat!!!”
    Silahkan menuju kesini alislam.org

  70. dildaar80 tautan tetap
    April 9, 2009 9:03 pm

    Menjelang hari H pemilihan umum legislatif, muncul aksi unjuk rasa pembubaran Ahmadiyah. Unjuk rasa dengan mengatasnamakan Forum Umat Islam itu memunculkan kembali isu lama yang sebenarnya sudah direspons oleh pemerintah dengan penerbitan Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri Nomor 3 Tahun 2008, Nomor KEP-033/A/JA/ 6/2008, dan Nomor 199 Tahun 2008. Dalam SKB yang terdiri atas enam poin itu sangat jelas posisi Ahmadiyah.
    Di dalam SKB tersebut jelas terbaca bahwa Ahmadiyah sebagai organisasi punya hak yang sama dengan organisasi lainnya untuk hidup di Indonesia. Namun, Ahmadiyah sebagai sebuah ajaran yang mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad merupakan penyimpangan yang menyesatkan dan karenanya harus ditindak. Keputusan ini merupakan langkah moderat yang diambil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam merespons keberadaan Ahmadiyah di tengah keragaman. Karena itu, bila ada tuntutan untuk membubarkan Ahmadiyah sementara ia tidak lagi menyebarkan dan meyakini ajaran sesatnya, hal tersebut merupakan bentuk diskriminasi yang dapat mengancam siapa saja.
    Dengan SKB yang sangat jelas tersebut, menjadi tanda tanya besar ketika masalah Ahmadiyah dimunculkan kembali menjelang pemilu ini. Bahkan dengan ancaman pemboikotan terhadap pemilu. Kita patut curiga ada dalang di balik aksi tersebut yang ingin mengacaukan pemilu dengan isu yang sama sekali tak terkait dengan pemilu.
    Kalau memang betul mewakili umat Islam, seharusnya berkaca pada sikap Rasulullah dalam menghadapi perbedaan, bahkan terhadap Yahudi sekalipun. Tak pernah sekali pun Rasulullah memerintahkan umatnya untuk membubarkan kepercayaan atau agama tertentu. Rasulullah justru mendekatinya dengan sikap santun dan bijak sehingga menggugah orang-orang sesat tersebut menjadi orang yang benar. Inilah yang seharusnya kita kembangkan di tengah beragam keyakinan menyimpang tumbuh di kalangan masyarakat.
    Karena itu, selama kita percaya kepada demokrasi dan merasa sebagai umat beragama, mari kita kawal bersama proses pemilu ini dengan baik sebagai bentuk aktualisasi dari keimanan kita. Mari kita ciptakan negara ini penuh kedamaian dan bebas dari ancaman dan tindakan diskriminatif yang dilarang oleh aturan negara dan agama.
    Isy Kariman
    Kompleks DDN, Pondok Labu, Jakarta Selatan
    karimanisy@yahoo. com
    korantempo.com/opini

  71. insan tautan tetap
    April 17, 2009 2:40 am

    numpang promosi pak… http://www.muhammadinsan.wordpress.com

  72. aNDRE tautan tetap
    September 11, 2009 5:33 pm

    Lah pokonya Bagiku mah Ahmadiyah Aliran sesat dan menyesatkan, dan bagi pengikutnya aku sarankan segeralah bertobat kembali ke Ajaran yang benar, Ahmadiyah bukan islam karena islam hanya mengakui Nabi dan Rasul terakhir itu Muahammad SAW, dan tidak ada nabi lagi setelahnya, baik itu nabi penerima wahyu ataupun nabi penerus ajaran,
    Sekali lagi Ahdaiyah adalah sesat dan menyesatkan dan harus ditiadakan dibumi pertiwi indonesia ini.

    • damarHtirto tautan tetap
      Desember 28, 2009 12:17 pm

      maaf, zaman dahulu ada sejarah kelam dikalangan umat Rasullulah SAW. Mereke tega membunuh para Khalifah, karena ikutan para pemimpin umat yang menjalankan POKOKNYA (aku yang paling benar) yang lain HARUS dihabisin . Semoga yang seperti ini tak ada di NKRI. Cinta damai Saja adanya. Amin

      • damarHtirto tautan tetap
        Desember 28, 2009 12:28 pm

        pertanyaan yang selalu menggoda hatiku….
        Mengapa mereka dulu membunuh khalifah?? Bukankah mereka ada di jamannya, mestinya bisa tahu persis, bahwa membunuh sesama muslim itu tidak boleh, apa lagi khalifah.

        Didesaku banyak petani, mereka menanam padi yang bermanfaat bagi banyak orang…..
        Dikotaku banyak orang menebar benci dengan pawai-pawai, bahkan ceramah yang menghalalkan darah

  73. Desember 29, 2009 9:02 am

    @Pembela Islam, justru Ahmadiyah yang sedang giat2nya ‘mekuruskan’ ajaran2 suci Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW. Ahmadiyah telah berhasil menterjemahkan Al Quranul Karim kedalam 100 bahasa dunia, dan ini diakui oleh dunia Islam, lihat Quran bahasa Indonesia sumbangan Kerajaan Arab Saudi. Ahmadiyah telah banyak mendirikan masjid di Canada, Amerika, Eropa Barat, Eropa Timur dan Benua Afrikca.
    Mubaligh2 yang mewaqafkan diri sepenuhnya telah ribuan orang dikirim keseluruh penjuru dunia untuk syiar Islam, berdakwah memperkenalkan dan mengajak banyak orang dekat kepada Allah SWT dan megikuti tauladan dan sunah Yang Muia Muhammad Rasulullah SAW.
    Terus terang saya bellum pernah melihat hal2 yang telah dilakukan oleh AHmadiyah juga dilakukan oleh golongan Islam lainnya (ada 73 firqah seperti yang diterangkan dalam hadits), sekalipun mereka bersatu padu membentuk suatu organisasi dunia, tetap tidak mampu bersaing dalam memajukan Islam dengan Ahmadiyah.
    Telah lama Televisi milik Ahmadiyah mengudara 24 jam sehari, 7 hari seminggu untuk berdakwah, tanpa selingan infotainment sedikitpun.

  74. bakul telo tautan tetap
    Juli 30, 2010 8:32 pm

    byuh … kesuksesan duniawi koq dijadikan ukuran kebenaran beragama. ck.ck.ck.ck.
    agama berasal dari budaya. MANUSIA YG TIDAK BERBUDAYA, TIDAK AKAN BISA MENGENAL AGAMA.
    pusat2 peradaban tua ribuan tahun yg lalu (yunani, itali, timur tengah, india, tiongkok, indian di amerika latin) selalu menghasilkan suatu bentuk budaya dlm olah pikiran dan jiwa, atau yg kita kenal sekarang sebagai AGAMA.
    Seiring dg perkembangan budaya manusia dari abad ke abad, berkembang pula kemampuan budaya dlm olah pikiran dan jiwa tsb, disinilah terjadi seleksi thd hasil budaya lama. Mampukah menjawab perkembangan peradaban manusia ? sdh bnyk budaya olah pikiran dan jiwa yg tersingkir dari muka bumi ini, atau minimal ditinggalkan pengikutnya.
    Apakah Agama yg anda anut akan tersingkir ? semua tergantung perkembangan budaya manusia di masa yg akan datang.

  75. camat tautan tetap
    Juli 31, 2010 5:36 am

    Di kitab suci agama manapun, yang ditindas biasanya membawa kebenaran. Mana mungkin penindas mendapat kepercayaan Allah Swt untuk memperjuangkan kebenaran.

    Buat SBY dan antek-anteknya : kalian adalah pengkhianat PANCASILA, membiarkan kesewenang-wenangan berlangsung di depan mata adalah sama dengan mendukung kezaliman itu.

Lacak Balik

  1. Ndoro Kakung Pecas Ndahe
  2. Ikatan Alumni SMK Telekomunikasi Malang » Blog Archive » Kebangsaan Kita

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS