Embun Pecas Ndahe

Aku melihat senyummu tadi pagi, Jeung. Sebentar saja. Ia mengintip dari balik daun-daun cemara. Lalu lesap bersama embun yang menguap.

Secepat itukah kau pergi, seperti gerimis kepagian? Kenapa?

Mestinya kau tahu, aku bukan pangeran negeri kabut — penunggang kuda putih dengan gandewa di tangan. Jadi usahlah kau takut. Lalu beringsut. Menjauh. Dengan lembut.

Aku cuma pengelana murba yang berlawalata sepanjang masa. Rumahku udara. Pergi ke mana suka. Senjataku kata. Tamengku cinta. Jalanku sunyi. Arahku matahari.

Aku lahir pada musim semi di kilometer nol. Ayahku matahari, ibuku rembulan. Ibuku bersalin tak lama setelah hujan dan matahari bercumbu, lalu melahirkan pelangi. Langit redup. Awan runduk. Burung-burung beterbangan seperti arak-arakan kebahagiaan yang menunggang senja di kejauhan.

Ibuku bercerita, aku menangis keras ketika pertama kali menjilat udara. Kaki menendang, tanganku mengentak. Jumpin’ Jack Flash!

Aku besar dalam kelimun mega-mega. Malam inangku, siang temanku. Hamparan bintang-bintang peraduanku. Dan semesta taman bermainku.

Aku menadah air mata bidadari setiap pagi. Membelai angin setiap hari.

Hingga kau datang dan merobek kesunyian.

Ya kamu. Perempuan dengan segerobak letih dan lesu. Tubuh lisut. Kuyu. Dan bibirmu kelu.

Malammu racun, siangmu topeng. Langkahmu oleng.

Kamu rama-rama dengan sayap yang retak. Tertatih terbang arungi ruang dan waktu yang tak pernah beku.

Mungkin kamu lahir di musim panas, ketika La Nina dan El Nino bersekutu menghumbalang bumi. Lintang kemukus dini hari. Yang berpendar sebentar, lalu mati.

Barangkali para bidadari tengah merajut sedih ketika kau hadir di sini. Aku tak mengerti. Aku cuma tahu ada luka di matamu. Kepedihan yang dalam. Tapi hanya itu. Selebihnya kabut biru.

Tentu saja aku kehilangan — sangat — saat bayangmu lindap. Aku jadi sepi sendiri, ditikam sepisau sunyi. Kamu pasti tak tahu aku telah berjalan melintas waktu mengejar jejakmu. Nyaris letih dan lunglai di ujung harapan semu.

Dan kini, setelah kau moksa, apa lagi yang tersisa selain hampa …

45 Tanggapan ke “Embun Pecas Ndahe”

  1. nothing Berkata:

    :)

  2. Aris Heru Utomo Berkata:

    murba, kelimun, lindap, … ah kata-kata baru yang aku tak tau maknanya :)

  3. a0z0ra Berkata:

    Puisinya bagus skali.. thank u udah sharing ndoro

    BTW moksa itu apa ya :)

  4. bambam Berkata:

    wah..keto’e ndoro lagi tanggal tua..
    berpuisi mewakili prasaan rekeningnya..he..
    *kabor*

  5. kw Berkata:

    oscar lawalata disebut2, artinya apa ndor? :)

  6. Silly Berkata:

    **sayup2… lagunya ari laso: ‘HAMPA’ berkumandang**

    Entah dimana.. dirimu berada…
    hampa terasa.. hidupku tanpa dirimu..
    akankah disana.. kau merindukan aku..
    seperti diriku.. yang slalu merindukanmu..
    selalu merindukanmu…………

  7. venus Berkata:

    ada luka di matamu. kepedihan yang dalam. AGAIN????? oh, please….

    lukaku, tuan
    arak-arakan rindu yang mengepung penjuru kota
    bagai angsana, runduk tersedu saat senja tersungkur
    jauh di ujung cakrawala

    kuapok! hahaha…bongkar2 tesaurus lagi aaahhh…

    seriously. ini masih ngebahas perempuan itu kah, ndoro?

  8. venus Berkata:

    jumpin’ jack flash, paint it black, spider to the fly, injih. halah.

  9. Silly Berkata:

    Ndoro, silly mo nanya… ndoro yakin anak kandungnya matahari???… soalnya gini yach, nih aku quote deh:

    Aku lahir pada musim semi di kilometer nol. Ayahku matahari, ibuku rembulan. Ibuku bersalin tak lama setelah hujan dan matahari bercumbu, lalu melahirkan pelangi.

    Kalo ndoro adalah pelangi… berarti anak hasil perselingkuhan hujan dan matahari (bukan rembulan)…
    Tapi kalo bukan… trus bapaknya sapa yach, secara yang bercumbu khan matahari ama hujan… kok yang hamil dan melahirkan si Rembulan???…

    hmmm… sorry, merusak suasana yach, hihihi…
    Pareng ndoro,
    -silly-

    **dilempari bom molotov**

  10. leksa Berkata:

    SIAL!
    kenapa justru malah baca ini. Melengkapi rindu redam saya sepanjang malam..
    *nyesel buka blog ndoro…

  11. raka Berkata:

    keren. bener-bener ditulis dengan gaya liris.
    @a0z0ra : Moksa itu mengangkasa menuju nirwana. Ato pencapaian tingkat kesadaran yang leih tinggi dari kesadaran biasa.

  12. kucluk Berkata:

    wa….
    nangis tersedu-sedu
    -gak bisa memahami soale-

  13. dew Berkata:

    jadi inget tulisan ini, ndoro :D

    Bapakku anggrek bulan, putih dari hutan, Ibuku mawar merah di taman, dekat pagar pekarangan. Bertemu suatu pagi di pelabuhan. Melahirkanku. Bayi merah muda kemboja. Bunga kuburan. Cala Ibi.

    sedangkan aku, adalah buah perkawinan pagi dan malam, seperti senja, jejak akan terhapuskan dengan segera, kecuali kamu mampu mengabadikannya. dalam kenangan.

  14. Jed Berkata:

    wah bisa romantis juga neh ndoro kakung….sekaligus menyeramkan hehehehe

  15. bangsari Berkata:

    hebat! luar biasa!

    iki nulis opo to ndoro? angel men.

  16. Chic Berkata:

    wooooh.. mellow di akhir pekan, Ndoro??

  17. daustralala Berkata:

    Sapardi, beware!

  18. suprie Berkata:

    wah… dalem juga yah puisinya.

    gak salah klo ndoro di sebut Lelananging Jagad

    *menjura pada Lelananging Jagad*

  19. Titis Sinatrya Berkata:

    Thiink:: Yang belum sampai pencapaian pemahaman tetap teruslah menuju meski dengan merangkak …

    Rrrruar Biasa Ndoro, ndak salah sebagai Maha Guru BLOG

  20. dil Berkata:

    “Ya kamu. Perempuan dengan segerobak letih dan lesu. Tubuh lisut. Kuyu. Dan bibirmu kelu.”

    ah…bukan aku de kayanya.. jangan nuduh sembarangan dong ndoro… *kikikikikikikikk*

  21. munyuk pemalu Berkata:

    kalo aku….
    “ayahku matahari, ibuku rembulan. melahirkan aku sebagai gemintang”

    *cepet2 bongkar tulisan lama juga :p

  22. sintaro Berkata:

    ndoro “mengejar jejakmu” itu mirip peter pan yah :-)

  23. ika Berkata:

    aiih makin lama makin romantis aja neh ndoro,,hohohohoho

  24. sapi Berkata:

    aku lahir dari batu, ditempa guntur diguncang hujan, dibelai matahari, diajari rembulan
    aku
    sun go kong

  25. hanny Berkata:

    duh. ngilu bacanya hehehe :p

  26. wawankibc Berkata:

    Salam Kenal, aku juga seperti burung-burung terbang bahkan menatap masa depan yang kadang bersembunyi di balik awan

  27. wawankibc Berkata:

    hehe

  28. Jongos58 Berkata:

    hi hi hi ..
    ndoro sudah bisa “berjalan melintas waktu”
    kesadaran yang begitu tinggi

    boleh belajr dong ndoro….
    jangan-jangan ada disebelahku ni si ndoro…
    hiii …

  29. adien Berkata:

    salam..

    Aku cuma pengelana murba yang berlawalata sepanjang masa. Rumahku udara. Pergi ke mana suka. Senjataku kata. Tamengku cinta. Jalanku sunyi. Arahku matahari

    GW BGT hehe :)

  30. Blog Strategi + Manajemen Berkata:

    Great post, Ndoro. Great post.

  31. mbakDos Berkata:

    bukankah sudah sepanjang malam kita berjumpa? :-)

  32. Blog Kenthir Berkata:

    hmm…

  33. atta Berkata:

    oalah
    ya jelas salah alamat ya saya ini
    la wong konsultasi start up company kok sama penyair?
    hahahahahah

  34. annots Berkata:

    apakah ini bisa disebut postingan menye-menye? *kontak antobilang*

  35. Totok Sugianto Berkata:

    duh, kenapa bisa nulis seperti ini sih… kenapa saya gak bisa ya :D

  36. PPC Indonesia Berkata:

    Jadi terharu…pengen nangis nih

  37. goop Berkata:

    rocio, tetes embun
    suci… murni…
    bukankah besok pagi akan datang lagi? dengan kabut, tersembunyi
    mendekatlah…mendekatlah…dan jamahlah

  38. yogie Berkata:

    wah….ora mudeng aku…

    ndoro, bahasanya ketinggian tuh….

  39. Embun Berkata:

    Sebentar lagi aku harus pergi
    tak kuat aku bertahan disini
    terhalau mentari yang memanggangku laksana api
    namun esok aku pasti kembali
    dan berharap akan terus disini
    sampai
    waktuku kembali
    dan aku akan pergi lagi
    perlahan tapi pasti
    dan akhirnya
    tak akan pernah kembali
    selamanya tak kembali…

  40. gali tenan Berkata:

    Kok jadi sedih semua sih…

    hehehe
    akhirnya aku mulai juga nih…..
    semoga bisa terus ikut meramaikan dunia blogs ini dengan tenan-an.

    heheh

  41. eckonop Berkata:

    Lumayan dapet contekan..hehehee

  42. stey Berkata:

    mau dibuat sms tapi kok panjang amat yah?

  43. munyuk elek Berkata:

    Mestinya kau tahu, aku bukan pangeran negeri kabut - Tapi aku Pangeran Dangdut….
    Aku bukan pengemis cintaaaaaaaaa

  44. silent reverie Berkata:

    Dengarlah matahariku suara tangisanku, kubersedih karena panah cinta menusuk jantungku…

  45. zeenqu Berkata:

    Asik, penuh makna dan ah….
    Ndoro, kasih tips menulis yang indah dong…

Tinggalkan Balasan