Aku melihat senyummu tadi pagi, Jeung. Sebentar saja. Ia mengintip dari balik daun-daun cemara. Lalu lesap bersama embun yang menguap.
Secepat itukah kau pergi, seperti gerimis kepagian? Kenapa?
Mestinya kau tahu, aku bukan pangeran negeri kabut — penunggang kuda putih dengan gandewa di tangan. Jadi usahlah kau takut. Lalu beringsut. Menjauh. Dengan lembut.
Aku cuma pengelana murba yang berlawalata sepanjang masa. Rumahku udara. Pergi ke mana suka. Senjataku kata. Tamengku cinta. Jalanku sunyi. Arahku matahari.
Aku lahir pada musim semi di kilometer nol. Ayahku matahari, ibuku rembulan. Ibuku bersalin tak lama setelah hujan dan matahari bercumbu, lalu melahirkan pelangi. Langit redup. Awan runduk. Burung-burung beterbangan seperti arak-arakan kebahagiaan yang menunggang senja di kejauhan.
Ibuku bercerita, aku menangis keras ketika pertama kali menjilat udara. Kaki menendang, tanganku mengentak. Jumpin’ Jack Flash!
Aku besar dalam kelimun mega-mega. Malam inangku, siang temanku. Hamparan bintang-bintang peraduanku. Dan semesta taman bermainku.
Aku menadah air mata bidadari setiap pagi. Membelai angin setiap hari.
Hingga kau datang dan merobek kesunyian.
Ya kamu. Perempuan dengan segerobak letih dan lesu. Tubuh lisut. Kuyu. Dan bibirmu kelu.
Malammu racun, siangmu topeng. Langkahmu oleng.
Kamu rama-rama dengan sayap yang retak. Tertatih terbang arungi ruang dan waktu yang tak pernah beku.
Mungkin kamu lahir di musim panas, ketika La Nina dan El Nino bersekutu menghumbalang bumi. Lintang kemukus dini hari. Yang berpendar sebentar, lalu mati.
Barangkali para bidadari tengah merajut sedih ketika kau hadir di sini. Aku tak mengerti. Aku cuma tahu ada luka di matamu. Kepedihan yang dalam. Tapi hanya itu. Selebihnya kabut biru.
Tentu saja aku kehilangan — sangat — saat bayangmu lindap. Aku jadi sepi sendiri, ditikam sepisau sunyi. Kamu pasti tak tahu aku telah berjalan melintas waktu mengejar jejakmu. Nyaris letih dan lunglai di ujung harapan semu.
Dan kini, setelah kau moksa, apa lagi yang tersisa selain hampa …
April 25, 2008 pukul 2:35 am
April 25, 2008 pukul 3:34 am
murba, kelimun, lindap, … ah kata-kata baru yang aku tak tau maknanya
April 25, 2008 pukul 5:26 am
Puisinya bagus skali.. thank u udah sharing ndoro
BTW moksa itu apa ya
April 25, 2008 pukul 5:37 am
wah..keto’e ndoro lagi tanggal tua..
berpuisi mewakili prasaan rekeningnya..he..
*kabor*
April 25, 2008 pukul 6:26 am
oscar lawalata disebut2, artinya apa ndor?
April 25, 2008 pukul 7:22 am
**sayup2… lagunya ari laso: ‘HAMPA’ berkumandang**
Entah dimana.. dirimu berada…
hampa terasa.. hidupku tanpa dirimu..
akankah disana.. kau merindukan aku..
seperti diriku.. yang slalu merindukanmu..
selalu merindukanmu…………
April 25, 2008 pukul 7:24 am
ada luka di matamu. kepedihan yang dalam. AGAIN????? oh, please….
lukaku, tuan
arak-arakan rindu yang mengepung penjuru kota
bagai angsana, runduk tersedu saat senja tersungkur
jauh di ujung cakrawala
kuapok! hahaha…bongkar2 tesaurus lagi aaahhh…
seriously. ini masih ngebahas perempuan itu kah, ndoro?
April 25, 2008 pukul 7:26 am
jumpin’ jack flash, paint it black, spider to the fly, injih. halah.
April 25, 2008 pukul 7:27 am
Ndoro, silly mo nanya… ndoro yakin anak kandungnya matahari???… soalnya gini yach, nih aku quote deh:
Aku lahir pada musim semi di kilometer nol. Ayahku matahari, ibuku rembulan. Ibuku bersalin tak lama setelah hujan dan matahari bercumbu, lalu melahirkan pelangi.
Kalo ndoro adalah pelangi… berarti anak hasil perselingkuhan hujan dan matahari (bukan rembulan)…
Tapi kalo bukan… trus bapaknya sapa yach, secara yang bercumbu khan matahari ama hujan… kok yang hamil dan melahirkan si Rembulan???…
hmmm… sorry, merusak suasana yach, hihihi…
Pareng ndoro,
-silly-
**dilempari bom molotov**
April 25, 2008 pukul 7:51 am
SIAL!
kenapa justru malah baca ini. Melengkapi rindu redam saya sepanjang malam..
*nyesel buka blog ndoro…
April 25, 2008 pukul 8:05 am
keren. bener-bener ditulis dengan gaya liris.
@a0z0ra : Moksa itu mengangkasa menuju nirwana. Ato pencapaian tingkat kesadaran yang leih tinggi dari kesadaran biasa.
April 25, 2008 pukul 8:19 am
wa….
nangis tersedu-sedu
-gak bisa memahami soale-
April 25, 2008 pukul 8:59 am
jadi inget tulisan ini, ndoro
sedangkan aku, adalah buah perkawinan pagi dan malam, seperti senja, jejak akan terhapuskan dengan segera, kecuali kamu mampu mengabadikannya. dalam kenangan.
April 25, 2008 pukul 9:14 am
wah bisa romantis juga neh ndoro kakung….sekaligus menyeramkan hehehehe
April 25, 2008 pukul 10:06 am
hebat! luar biasa!
iki nulis opo to ndoro? angel men.
April 25, 2008 pukul 10:37 am
wooooh.. mellow di akhir pekan, Ndoro??
April 25, 2008 pukul 10:43 am
Sapardi, beware!
April 25, 2008 pukul 10:50 am
wah… dalem juga yah puisinya.
gak salah klo ndoro di sebut Lelananging Jagad
*menjura pada Lelananging Jagad*
April 25, 2008 pukul 10:54 am
Thiink:: Yang belum sampai pencapaian pemahaman tetap teruslah menuju meski dengan merangkak …
Rrrruar Biasa Ndoro, ndak salah sebagai Maha Guru BLOG
April 25, 2008 pukul 10:59 am
“Ya kamu. Perempuan dengan segerobak letih dan lesu. Tubuh lisut. Kuyu. Dan bibirmu kelu.”
ah…bukan aku de kayanya.. jangan nuduh sembarangan dong ndoro… *kikikikikikikikk*
April 25, 2008 pukul 11:56 am
kalo aku….
“ayahku matahari, ibuku rembulan. melahirkan aku sebagai gemintang”
*cepet2 bongkar tulisan lama juga :p
April 25, 2008 pukul 1:39 pm
ndoro “mengejar jejakmu” itu mirip peter pan yah:-)
April 25, 2008 pukul 3:16 pm
aiih makin lama makin romantis aja neh ndoro,,hohohohoho
April 25, 2008 pukul 4:07 pm
aku lahir dari batu, ditempa guntur diguncang hujan, dibelai matahari, diajari rembulan
aku
sun go kong
April 25, 2008 pukul 5:59 pm
duh. ngilu bacanya hehehe :p
April 25, 2008 pukul 6:50 pm
Salam Kenal, aku juga seperti burung-burung terbang bahkan menatap masa depan yang kadang bersembunyi di balik awan
April 25, 2008 pukul 6:52 pm
hehe
April 25, 2008 pukul 6:53 pm
hi hi hi ..
ndoro sudah bisa “berjalan melintas waktu”
kesadaran yang begitu tinggi
boleh belajr dong ndoro….
jangan-jangan ada disebelahku ni si ndoro…
hiii …
April 25, 2008 pukul 7:43 pm
salam..
GW BGT hehe
April 25, 2008 pukul 8:55 pm
Great post, Ndoro. Great post.
April 25, 2008 pukul 10:56 pm
bukankah sudah sepanjang malam kita berjumpa?
April 25, 2008 pukul 11:04 pm
hmm…
April 25, 2008 pukul 11:07 pm
oalah
ya jelas salah alamat ya saya ini
la wong konsultasi start up company kok sama penyair?
hahahahahah
April 26, 2008 pukul 4:27 am
apakah ini bisa disebut postingan menye-menye? *kontak antobilang*
April 26, 2008 pukul 4:31 am
duh, kenapa bisa nulis seperti ini sih… kenapa saya gak bisa ya
April 26, 2008 pukul 7:26 am
Jadi terharu…pengen nangis nih
April 26, 2008 pukul 7:57 am
rocio, tetes embun
suci… murni…
bukankah besok pagi akan datang lagi? dengan kabut, tersembunyi
mendekatlah…mendekatlah…dan jamahlah
April 26, 2008 pukul 1:54 pm
wah….ora mudeng aku…
ndoro, bahasanya ketinggian tuh….
April 27, 2008 pukul 1:02 am
Sebentar lagi aku harus pergi
tak kuat aku bertahan disini
terhalau mentari yang memanggangku laksana api
namun esok aku pasti kembali
dan berharap akan terus disini
sampai
waktuku kembali
dan aku akan pergi lagi
perlahan tapi pasti
dan akhirnya
tak akan pernah kembali
selamanya tak kembali…
April 27, 2008 pukul 8:20 am
Kok jadi sedih semua sih…
hehehe
akhirnya aku mulai juga nih…..
semoga bisa terus ikut meramaikan dunia blogs ini dengan tenan-an.
heheh
April 27, 2008 pukul 10:42 pm
Lumayan dapet contekan..hehehee
April 28, 2008 pukul 4:19 pm
mau dibuat sms tapi kok panjang amat yah?
April 28, 2008 pukul 8:32 pm
Mestinya kau tahu, aku bukan pangeran negeri kabut - Tapi aku Pangeran Dangdut….
Aku bukan pengemis cintaaaaaaaaa
April 30, 2008 pukul 1:53 am
Dengarlah matahariku suara tangisanku, kubersedih karena panah cinta menusuk jantungku…
Mei 4, 2008 pukul 8:24 am
Asik, penuh makna dan ah….
Ndoro, kasih tips menulis yang indah dong…