Di pinggir-pinggir jalanan Jakarta, pohon-pohon muda mencoba bertahan dari cuaca. Dahan pada pokok-pokok tua masih tegak, memang, dan daun-daunnya melanjutkan suasana teduh.
Tapi kota metropolitan yang bulan depan berumur 481 tahun itu, yang terdiri dari gedung-gedung jangkung dan gubug-gubug reyot, tiap kali harus menghadapi apa yang telah banyak mengikis peninggalan leluhur: iklim.
Di atas Jakarta, udara lembap, matahari terik. Dan kemudian ada polusi — tanda perubahan hari ini. Apa sebenarnya yang harus dipertahankan jika ada yang harus dipertahankan di antara tembok-tembok menjulang itu?
Mungkin kenang-kenangan, sesuatu yang rupanya begitu penting. Tentang amuk dan kerusuhan. Penjarahan. Tentang tangis dan kesedihan. Tentang jasad-jasad gosong. Tentang perempuan-perempuan yang diperkosa.
Manusia adalah makhluk khusus: ia mengingat-ingat. Di hadapannya, kematian menjadi sebuah paradoks: ajal berarti jalan ke keabadian, tapi sekaligus juga ancaman akan ambruknya kenangan.
Sementara itu, kita tak mau lupa. Kita tak mau dilupakan. Sejarah ditulis.
Di Macondo, kota khayali dalam novel Gabriel Garcia Marquez, Seratus Tahun Kesendirian, orang pernah terlalu sibuk bekerja. Begitu sibuknya mereka hingga tak tidur, dan — setelah wabah tak bisa tidur itu menyebar — suatu gejala lain pun kemudian timbul: orang mulai kehilangan ingatan.
Mereka bahkan lupa pada nama benda dan realitas. Akhirnya mereka pun hidup dengan “dunia kenyataan yang imajiner”, di mana “seorang ayah diingat samar-samar sebagai lelaki berkulit gelap yang tiba di awal April, dan seorang ibu diingat hanya sebagai wanita hitam yang mengenakan sebentuk cincin emas di tangan kiri”.
Betapa menyedihkannya.
Maka, kita tak ingin tinggal di Macondo dan menderita amnesia. Dalam Seratus Tahun Kesendirian, Jose Arcadio Buendia juga mencoba melawan amnesia itu. Ia menuliskan nama benda-benda, sebagaimana kita menulis tambo.
Sejarah, bagaimanapun juga, memang suatu ikhtiar melawan lupa. Yang jarang kita sadari ialah bahwa sejarah adalah sebuah ikhtiar yang lemah, terbatas, dan tak lengkap.
Apa, misalnya, yang kita ketahui ihwal kerusuhan Mei sepuluh tahun yang lalu? Adakah dalangnya? Apakah ia sesuatu yang spontan?
Kita tak tahu bagaimana orang bisa begitu beringas dan menindas orang lain. Kita tak tahu bagaimana waktu itu mereka bergerak, membabat, menjarah.
Saya tak tahu. Ingatan, juga pengetahuan, saya tak lengkap. Masih banyak keping puzzle yang hilang dalam lembaran sejarah yang kelam itu.
Siang ini, sepuluh tahun setelah hari yang mencekam itu, langit Jakarta masih seperti dulu. Panas. Lembap.
Mei 14, 2008 pukul 12:16 pm
iya ndoro, jangan sampe kita melupakan apa yang sudah pernah terjadi, dan moga - moga jangan sampe terulang lagi …
jasmerah lah pokok e
Mei 14, 2008 pukul 12:24 pm
Kira-kira yang lupa itu kesindir nggak ya ndoro?
Atau jangan-jangan ntar cuma asal komentar aja?
Mei 14, 2008 pukul 12:27 pm
duh, tapi sulit untuk mencari sejarah yang “benar”.
Mei 14, 2008 pukul 12:42 pm
memori yang terlalu penuh bisa bikin heng ndoro mas.
otak manusia juga sudah dirancang untuk memilih memori apa yang diinginkan untuk diingat. tak terbayang jika otak manusia bisa menampung semua memori segala tindakan yg telah dilakukan pemiliknya. pasti manusia hanya akan sedih … dan … sedih … tak bisa melangkah ke depan …
tapi kalo pemerintah sih, mungkin pilih hilang ingatan aja ya.
daripada pusing ….
Mei 14, 2008 pukul 12:54 pm
Kenapa memori baru muncul setelah 10 tahun? Terlalu lama, penyimpangannya juga sudah terlalu jauh …
Mei 14, 2008 pukul 1:08 pm
ga tau kenapa, membaca ’seratus tahun kesunyian’nya Gabriel, membuat saya ketakutan karena seperti melihat negeri ini beberapa tahun lagi. rasanya benar2 sunyi
Mei 14, 2008 pukul 1:10 pm
btw…. ndoro bisa inget ya nama2 di buku itu satu per satu? saya nggak
>>>warga indo banget, pelupa :p
Mei 14, 2008 pukul 1:36 pm
tahu itu terkadang bisa sangat menakutkan
Mei 14, 2008 pukul 1:59 pm
tadi malam, saya baru saja membaca jurnal yang saya buat 10 tahun yang lalu. waktu itu umur saya 14 tahun.
Rasanya seperti terlempar ke situasi mencekam waktu itu..
Mei 14, 2008 pukul 2:09 pm
Mari berdoa, agar mereka yang duduk di kursi kekuasaan diberi berkah, terkena SINDROM HYPERTHYMESTIC. Supaya mereka selalu ingat atas semua janji yang pernah diucapkan. Amin.
Mei 14, 2008 pukul 2:55 pm
10 tahun yg lalu kuping panas dan jari pada keriting ngetik pesan pager utk orang2 yg ketakutan. masih inget seorang cewek panik kirim pesan minta kerabatnya balik ke lokasi penjarahan utk ngambil anjingnya yg ketinggalan di dalam toko. pesannya mungkin baru sampai 30-60 menit kemudian krn antrian, kesian.
kalo saja saya punya database pengiriman pesan pager pada saat itu.
Mei 14, 2008 pukul 3:11 pm
Memang manusia itu tempatnya salah dan lupa…
Mei 14, 2008 pukul 10:09 pm
langit surabaya peteng dedet … la wong dalu ndoro
Mei 15, 2008 pukul 7:55 am
Luka itu terlalu dalam untuk saya ingat kembali;
Solo, 10 tahun silam
ketika mobil dihentikan di tengah jalan, diminta keluar
dan dibakar di depan mata
: perih, Ndoro
bahkan untuk sekedar mengingatnya…..
Mei 15, 2008 pukul 9:45 am
Seratus Tahun Kesendirian? Kok buku Gabriel terjemahan punya saya di rumah itu judulnya “Seratus Tahun Kesunyian” ya Ndoro? Beda versi ya?
Mei 15, 2008 pukul 11:00 am
keren, ndoro. saia suka tulisan ini.
Mei 15, 2008 pukul 12:33 pm
Iiiih… serem sekali untuk dikenang!
Mei 15, 2008 pukul 4:11 pm
karena bahasa kita tak mengenal past-tense. mungkin.
Mei 15, 2008 pukul 4:21 pm
Kebenaran memang selalu menakutkan untuk di beritakan, hanya orang orang yang beranilah yang sanggup menceritakan. Tetapi ketakutan yang mentut orang agar memiliki keberanian.
Salam kenal.
Mei 15, 2008 pukul 5:55 pm
*menunggu kapan jakarta hilang, tinggal puing peradaban*