Siapakah sebenarnya Artalyta Suryani? Pengusaha wanita? Makelar perkara? Kurir? Boneka? Dalang atau …
Sebelum sampean mengambil kesimpulan, marilah bertamasya sejenak menelusuri kliping-kliping media massa.
Untuk membantu sampean, saya bagikan apa saja yang sudah saya peroleh. Mungkin sampean juga sudah pernah mendapatkannya dari blog, milis, atau sumber lain. Saya cuma ikut mereproduksi belaka.

[fotonya pinjam paman tyo]
Kisah ini diawali ketika Kejaksaan Agung mengumumkan penghentian penyelidikan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia yang menyangkut Sjamsul Nursalim pada 27 Februari 2008.
Sore harinya, Jaksa Urip Tri Gunawan dan Artalyta berkomunikasi lewat telepon. Beginilah petikan percakapan mereka. Artalyta (A), Urip (U).
A: Halo? Sudah beres?
U: Sip. Sudah beres. Pokoknya nggak ada macam-macam.
A: Pokoknya ini Minggu (2 Maret 2008), aku sudah ada. Aku sudah siap. (uang US$ 660 ribu).
U: Garuk-garuk ya? Aku kan garuk-garuk tangan ini.
A: Garuk-garuk tangan?
U: Ngerti toh?
A: Oh iya..
U: Pokoknya tenang aja, aman sekali pokoknya.
A: Ya udah ini jangan terlalu lama, barang itu di rumahku kelamaan, di brankasku.
U: Aku kan juga mengamankan dokumen-dokumen itu semua nanti ya itu kan. Yang ex-ex kemarin itu harus tak amankan semua. Jangan sampai muncul ke mana-mana. Tapi sesuai aku bilang kemaren nggak ini.
A: Yang bilang kemarin berapa? Kan enam.
U: Belum bonusnya ya? Aku garuk-garuk kepala itu?
A: Aku udah komit, aku udah putus bicara itu sama ibu.
U: Gitu ya…tambahi dikitlah…
Pada 2 Maret 2008, dua hari setelah Kejagung menghentikan penyelidikan kasus BLBI, keduanya kembali bercakap-cakap. Urip menanyakan alamat tempat pengambilan uang kepada Artalyta.
U: Jalan apa?
A: Terusan Hang Lekir. Kawasan Simprug WG9. WG nomor sembilan. Rumahnya itu di huk, yang gede tinggi itu.
U: Nomor mobil DK 1832. Halo ibu, saya sudah di depan rumah ini.
A: Ooo … klakson aja klakson.
Setelah itu, aparat Komisi Pemberantasan Korupsi meringkus jaksa Urip.
***
Selain dengan jaksa Urip, Artalyta berhubungan dengan Kemas Yahya Rahman (saat itu Jaksa Agung Muda Pidana Khusus) pada 29 Februari 2008. Beginilah petikan percakapan antara Artalyta (A) dan Kemas (K):
A: Halo.
K: Halo.
A: Ya, siap.
K: Sudah dengar pernyataan saya? Hehehe.
A: Good, very good.
K: Jadi tugas saya sudah selesai.
A: Siap, tinggal…
K: Sudah jelas itu gamblang. Tidak ada permasalahan lagi.
A: Bagus itu.
K: Tapi saya dicaci maki. Sudah baca Rakyat Merdeka?
A: Aaah … Rakyat Merdeka nggak usah dibaca.
K: Bukan, saya mau dicopot hahaha. Jadi gitu ya…
A: Sama ini mas, saya mau informasikan.
K: Yang mana?
A: Masalah si Joker.
K: Ooooo nanti, nanti, nanti.
A: Nggak, itu kan saya perlu jelasin, Bang.
K: Nanti, nanti, tenang saja.
A: Selasa saya ke situ ya…
K: Nggak usah, gampang itu, nanti, nanti. Saya sudah bicarakan dan sudah pesan dari sana. Kita….
A: Iya sudah.
K: Sudah sampai itu.
A: Tapi begini, Bang…
K: Jadi begini, ini sudah telanjur kita umumkan. Ada alasan lain, nanti dalam perencanaan …
***
Nah, di bawah ini petikan rekaman percakapan via telepon antara Artalyta alias Ayin dan Untung Udji Santoso (Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara). Percakapan terjadi beberapa jam setelah jaksa Urip Tri Gunawan tertangkap pada 2 Maret 2008. Begini petikan wawancara antara Untung (U) dan Ayin (A).
U: Memang dikasih berapa duit?
A: 660 ribu dolar.
U: 4 M.
A: 6 M.
U: Lailahailallah!
A: Jadi bagaimana ini menyelamatkan itu semua, orang-orang kita?
U: Nggak iso ngelak kalau 6 M. Gila.
A: Jadi gimana?
U: Tak pikir enam atus juto gitu.
A: Nggak, itu banyak. Gimana?
U: Itu untuk siapa?
A: Ah, ya udahlah. Sekarang kita jalan keluarnya gimana?
U: Aduh biyung gimana?
A: Heh.
U: Sik…sik… Kalau kayak gitu, susah itu.
A: Aku kena loh, Mas kayak gini.
U: Lah iya.
A: Aku bilang kan ajudanku.
U: Ajudan kok duite samono gede ne. Soko ngendi? Ngarang ae. Yo wes. Gimana caranya hubungi Antasari.
A: Ya, coba sampeyan telepon dulu.
U: Udah, mati teleponnya.
A: Mati? Dicari. Suruh nyari dong. Feri (Direktur Penuntutan KPK Feri Wibisono) suruh nyari.
U: Feri juga nggak ngangkat.
A: Jadi gimana? Ini kan mesti ngamanin bos kita semua.
U: (terdiam lama).
A: Aku jawabnya apa ya? Sekarang anakku kan masuk lewat belakang. Dia pegang juga. Dia masuk (tiba-tiba terinterupsi, Artalyta seperti menyuruh seseorang di rumahnya melakukan sesuatu).
U: Usahakan cepat you keluar. Nyari Antasari deh.
A: Ya, di mana dia rumahnya?
U: Di anu, di BSD. Waduh, tapi saya tidak tahu juga rumahnya. Tapi jangan, jangan ke rumahnya. Ketemu di mana, di hotel atau di mana gitu deh.
A: Ya, aku kan udah mau dibawa. Sampeyanlah yang kejar, yang nyari dia, Mas. Kan nggak kentara kalau sampeyan.
U: Ya, iya. Tapi teleponnya aku nggak ngerti rumahnya (suara Untung terdengar gelagapan). Teleponnya nggak diangkat, aku sudah minta Wisnu (Jaksa Agung Munda Intelijen Wisnu Subroto).
A: Sekarang susulin.
U: Tak telepon dulu.
A: Sekarang sampeyan susulin, gerilya sama Wisnu.
U: Aku udah telpon Wisnu, demi Allah ini.
A: Kata Wisnu apa?
U: Aku sudah dibuka teleponnya. Aku juga nggak buka. Kamu punya nomor lainnya nggak? Nggak punya, lah gimana? (Untung menirukan perkataan Wisnu padanya ke Artalyta).
A: Sekarang aku kan mau dibawa. Supaya keterangannya sama gimana? Nanti kan kena gimana? Kan jangan sampai kena semua.
U: Kenapa sih kok bingung gini? Aduh, gawean ae.
A: Makane. Makanya, aku dari luar Jakarta, dia (Jaksa Urip) maksa (ambil uang US$ 660 ribu) hari ini.
U: Uhhh, kacau kabeh. (menghela nafas). Saya kira you di rumah saja. Nanti you ditangkep kejaksaan.
A: Hah?
U: Ditangkep oleh jekso. Mau diskenariokan gitu loh…
A: Hah? Kenapa-kenapa Mas?
U: Mau diskenariokan begitu. Namun, neng endi iki?
A: Nggak, udah aman. Ini nomor lain. Aku di dalem rumah.
U: Nanti biar saja, kamu nanti yang ngambil kejaksaan.
A: Ho..oh
U: Si Urip (Jaksa Urip Tri Gunawan) dicekal KPK. Awakmu di kejaksaan. Loh ini kok sudah penyelesaian begini. Kok ada uang begini. Maksudnya apa begini loh kenapa-kenapa?
A: Kan saya bilang, saya tidak ada keterkaitannya juga dengan BLBI dan saya nggak ada….
U: Jangan ngomong begitu. Nggak ada keterkaitannya. Biar saya saja yang mancing. Bilang saja ada hubungan dagang sama dia. Terserahlah.
A: Lalu bilang apa?
***
Oke, Ki Sanak. Apa yang ada di pikiran sampean sekarang? Silakan direnung-renungkan dulu sebelum berkomentar atau mengambil kesimpulan.
Buat saya, ini sebuah dagelan paling ndak lucu di Republik Suap. Bayangkan, yang tersangkut perkara ini adalah para jaksa, penuntut perkara, penegak hukum. Apa ndak kelewatan itu?
Ndak heran kan bila wabah korupsi benar-benar susah diberantas. Lah wong jaksa itu salah satu harapan kita membasmi penyakit laknat itu je, eh kok mereka malah berselingkuh dengan penjahat.
Tapi, jangan patah semangat, Ki Sanak. Selalu ada cahaya di ujung lorong yang gelap. Dan, selalu lebih baik menyalakan lilin ketimbang memaki gelap, kata pepatah usang itu …
>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Siapa yang pertama kali sampean telepon hari ini?
Juni 16, 2008 pukul 10:33 pm
semangkin sangar saja republik dagelan ini
Juni 16, 2008 pukul 10:37 pm
rekayasa, dari acara remaja sampai berita, semua rekayasa
Juni 16, 2008 pukul 10:45 pm
Blekuthuk monyor-monyor, bojleng-bojleng iblis laknat, tambah gak karu-karuan
Juni 16, 2008 pukul 10:49 pm
Tapi lucu lho, Ndoro. Yang paling lucunya itu waktu Jamdatun (Untung Udji Santoso) membantah kalau penangkapan Ayin itu memang sudah diskenariokan Kejagung.
Dan untung saja, KPK berhasil menghentikan dagelan lucu ini. Semoga nggak semakin lucu lagi.
Juni 17, 2008 pukul 12:23 am
masih berapa panjang ujung lorong itu ndoro?
yang akan aku telepon hari ini, supervisor pabrik. minta ijin berangkat siang.
Juni 17, 2008 pukul 12:39 am
Ya, asal jangan sampai terowongan itu ambruk terlebih dahulu…
Hari ini saya malah belum telpon siapa-siapa..
Juni 17, 2008 pukul 1:00 am
walaupun menyalakan lilin, saya tetep memaki kok ndoro, saya ikhlas loh memakinya..
*ndoro, nomer telpon ndoro berapa? sini, tak telpone*
Juni 17, 2008 pukul 1:05 am
tante girang ya?
Juni 17, 2008 pukul 1:39 am
kok koyo dagelan metaram ngene ndoro…
Juni 17, 2008 pukul 1:59 am
ya harapan kita untuk masa depan indonesia yang cerah tinggal blogger…
untunglah saya bukan blogger .. lho..
Juni 17, 2008 pukul 2:12 am
Aku ndak bisa nelp siapa2..
ESIA ku gak ada pulsanyaaa
Juni 17, 2008 pukul 2:17 am
hahaha….
terlalu banyak korupsi terungkap akhir2 ini …
Sesuai hukumnya,.. selalu ada gerbang besar buat keluarnya duit biaya ongkos ini itu ..
itu sih teorinya, ndoro …
oh ya satu lagi… ini
A: Jadi gimana? Ini kan mesti ngamanin bos kita semua.
U: (terdiam lama).
see?
Juni 17, 2008 pukul 2:20 am
anehnya manusia itu: gak punya duit, susah. banyak duit, susah juga… jadi piye?
Juni 17, 2008 pukul 6:46 am
Seharusnya pertanyaan pertama saat menelpon adalah :
Is this line secured?
OK, let’s talk business.
Juni 17, 2008 pukul 7:04 am
Wah, ndoro, tengkyu untuk posting ini. Semakin jelas masalahnya sekarang.
Cuma bisa bilang… GILINGAN YEEEEE…
Juni 17, 2008 pukul 7:17 am
bener-bener ndak lucu
Juni 17, 2008 pukul 7:31 am
Wah dagelan tenan ndoro, ijin kopas ke milis ya ndoro
Juni 17, 2008 pukul 7:49 am
Mohon maaf sebelumnya Ndoro, mau tanya saja, source dari percakapan ini legal kah (maksud saya : dari sumber yang jelas kah) dan tidak dilakukan pengeditan sama sekali ?
Masih kurang faham juga, apakah rekaman percakapan bisa digunakan sebagai alat bukti di pengadilan ?
Kalau tidak bisa dibuat sebagai alat bukti, dagelan ini nampaknya cocok diperagakan aja di depan meja hijau….terus dibuat Live Event
Juni 17, 2008 pukul 8:04 am
udah bikin dosa, masih aja sempat-sempatnya bilang Laillahailallah. Astaghfirullah
Juni 17, 2008 pukul 8:40 am
6 m itu sebanyak apa om?? aku belom pernah liat ujud nya
Juni 17, 2008 pukul 8:40 am
Ada pembeli dan ada penjual Ndoro, jadi rame dehhh…..
Juni 17, 2008 pukul 8:42 am
# Mas Galih !
Istighfar dan mengucap Tahlil Lailahailallah adalah kewajiban sebagai Ummat Muslim. Alloh, SWT Maha Pengampun. Kebetulan yang berbuat dosa ini menghasilkan banyak uang, lha …. sekali berdosa aja dia dapet 6M… coba kalau kita bicarain orang lain, udah dosa, nggak dapet duit lagi…..
Juni 17, 2008 pukul 8:50 am
Saya hari ini pertama kali telpon Ibu…..
Bilangnya gini…..ketoprak humor vs Dagelan yang menang pasti sutradaranya….:))
Juni 17, 2008 pukul 9:03 am
belum semua di buka itu om rekamannya.
kalos emua di buka lebih geger lagi :D.
Mantep euy kpk. polisi harusnya pake sadapan juga dung, alat sadapnya jangan cuma dipake sadap aktifis doang
Juni 17, 2008 pukul 9:12 am
Komplit… komplit… komplit!
>> Semangat hari Selasa Ndoro, siapa lagi yang akan disadap hari ini?
Juni 17, 2008 pukul 9:29 am
Semoga keadaan semakin seri di hari-hari mendatang dan bisa mengalihkan perhatianku dari Euro 2008.
Mulai pake bahasa simbolis di telpon!
Juni 17, 2008 pukul 9:40 am
Bener-bener dagelan yang ndak lucu di selasa pagi yang lengas ini, Ndoro…
Yang pertama kali kutelepon pagi ini, Aa, Ndoro. Mengingatkannya minum susu dan mengirimkan doa untuk mengumpulkan rejeki yang berkat.
Juni 17, 2008 pukul 10:09 am
Gak iso ngomong, ndoro…
Juni 17, 2008 pukul 10:09 am
Selasa ini, telpon jaksa ah… mo minta ijin liat tumpukan duit
Juni 17, 2008 pukul 10:15 am
asyu!!!!!!!
Juni 17, 2008 pukul 10:28 am
selasa pagi, aku ditelpon mantan pacar, yg ngebangunin biar gak telat ngantor…
dan beneraaan… aku gak kenal sama U1 & U2, gak kenal sama A apalagi sama K… *haiyaah* aku bukan pedagang berlian… juga bukan ibu rumah tangga…
Juni 17, 2008 pukul 10:31 am
Pengen nelpon sampeyan, neng ndak punya nomer teleponne sampeyan….
Selamat hari selasa, juga. Habis baca ini ngelu endasku pak…
Juni 17, 2008 pukul 11:04 am
saya hari ini mau tilpon tante Ayin, kok “jatah” saya belum di transfer…
Padahal saya sudah habis-habisan..
Juni 17, 2008 pukul 11:15 am
duite kira2 brapa meter yaaa???
Juni 17, 2008 pukul 12:04 pm
Hari ini, yang kutelp pertama kali teman saya Ndoro, malam tadi jam 00.15 WIB. Mau kangsenan nonton balbalan bareng!
Juni 17, 2008 pukul 12:06 pm
U : nggak iso ngelak nek 6 M.
(lagi mbayangke nek aku salah satu dari mereka) deuuhh panik panik….
Juni 17, 2008 pukul 12:26 pm
ini versi lengkapnya tho Ndor..? wah, nda’ asik baca Kompas, mo usul ama kantor tukar langganan Tempo aja opo ya..
btw Ndor, saya baru kepikir.. gimana korupsi bisa dibrantas lha wong penegak hukumnya sontoloyo gitu..
untung ada KPK.. uhm.. KPK ngemban amanah nda’ ya..
apa ini cuma gebrakan pembuka trus nanti2nya juga sama aja..?
Nda’ tau lah Ndor, nda’ brani berasumsi.. think positif aje kali ye..
hari ini belom tilpun siapa2, soalnya saya lg ngirit pulsa nih
Juni 17, 2008 pukul 12:45 pm
isthigfar untuk segala dosa,
amin untuk segala doa.
belum telpun siapa2, lagi nesuan je..
Juni 17, 2008 pukul 1:05 pm
Ya gitu deh, ternyata wajah ayu cuma sebagai sarana untuk memperoleh kekayaan dan menyiasati, jadilah kemayu tapi bahaya dan penuh tipu daya, begitupun masih sanggup untuk berbohong didepan khalayak dengan wajah yang seolah tidak berdosa ! ya ini contih manusia berbulu domba… kira2 dia nanti masuk syurga atau neraka ya?
Juni 17, 2008 pukul 1:20 pm
ini bener2 bikin ngakak ndoro,,hehe
btw satu2nya hal yang bikin aku malu jadi indonesian citizen tuh cuman atu, bukan..bukan soal sampah tapi soal banyaknya mafia korupsi inih,, ;p
Juni 17, 2008 pukul 2:17 pm
apakah di republik ini ada konspirasi semacam di sinetron ‘prison break’ itu ???
klo jaksa saja korupsi… bisa-bisa dari dulu kerjaannya cuma kongkalikong aja tuh ama para koruptor…
btw.. blom nelpon sapa2 ndoro…
Juni 17, 2008 pukul 3:02 pm
bisa dbikin pilem bioskop tuh…
Juni 17, 2008 pukul 3:04 pm
tiap tanggal 24 biasanya saya garuk2 tangan juga :p
Juni 17, 2008 pukul 3:30 pm
Keren yak..kayak di pilem2…. *wakakak*
Juni 17, 2008 pukul 4:13 pm
heheee.. nyengir baca percakapan nya
ayo dibongkar smuanya..
biar makin jelas deh borok2nya.
tp kalo udah kebongkar, kasusnya mo dituntaskan ato mo di-peti-es-kan..?
inget, ini endonesah nDoro.. smua bisa terjadi..
*bikin pesimis..*
brapa nomor nDoro? saya mo tilpun nDoro ajalah..
Juni 17, 2008 pukul 4:22 pm
gak siya-siya anggaran milyaran ituh…*tika pake akun nico*:D
Juni 17, 2008 pukul 4:40 pm
Hendarman Supanji harusnya lebih jantan seperti Habib Riziq yang pasang badan atas kesalahan “pengikutnya”, karena “korps kejaksaan” adalah tanggung jawabnya. Monggo Mas Hendarman mundur mawon…
Juni 17, 2008 pukul 5:19 pm
OOT
kalo diliat dari percakapan itu mereka “wong jowo” semua yaa…ck ck ck ngisin-isini
Juni 17, 2008 pukul 7:06 pm
Tengkyu mai Pren..
Yu sudah meringanken tugas ane’..
Asal yu jangan coba cari ungkit kesalahan ane di masa lalu..
ente bakalan kalah kertu…
Juni 17, 2008 pukul 7:43 pm
>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Siapa yang pertama kali sampean telepon hari ini?
sayah nelepon nganu…
Pake Esai..
*kipas2in gosip sekalian*
Juni 17, 2008 pukul 8:57 pm
Ndor, Panjang gitu, mana yang di jadiin ringtone?
Juni 17, 2008 pukul 10:32 pm
wuih… dapet dari mana ya sadapan telp ini?
serams!
ah mending nyadap pohon karet kekekeke
selamat hari slasa juga ndoro
Juni 19, 2008 pukul 12:50 am
Tadi pagi sih nyobain nelepon ndoro. Tapi “tut tut tut tut” terus. Ndoro udah masuk KPK yah sekarang? Jabatannya apa?
Juni 19, 2008 pukul 8:26 am
Dicari operator telpon yg ga bisa disadap!
Juni 19, 2008 pukul 12:28 pm
Ehm… bisa minta rekaman percakapan Paman Tyo sama Ndorokakung gak yach?? Buat tak posting di Bloqku *peace*
Juni 19, 2008 pukul 1:33 pm
Oalah. Jadi begitu toh ceritanya? Ck…ck…ck…Mbulet terus ya.
Juni 19, 2008 pukul 1:53 pm
kalau semua telepon jaksa disadap, mungkin akan banyak kursi jaksa yang kosong karena banyak yang terlibat dalam jual-beli perkara ….
Juni 19, 2008 pukul 2:49 pm
Sepertinya dari RI akan berganti nama menjadi *RR* dan bukan tidak mungkin menjadi RS
RR: Republik Rusak
Juni 19, 2008 pukul 2:59 pm
6M = 6 kali Mencret2x .. ck ck ck .. semakin edan dunia ini …
Juni 19, 2008 pukul 7:23 pm
mantep ya ndoro… salut saya dengan ibu ayin itu.. bisa ngangkangi aparat “pengangkang hukum indonesia”
tapi bener.. selalu ada harapan…
asal ndoro mencalonkan diri jadi KEJAGUNGnya
Juni 19, 2008 pukul 10:49 pm
Indonesah Bubar ajalah…
Juni 21, 2008 pukul 5:13 am
sepertinya kalau dilihat dari logatnya, si “U” ini blogger juga
Juni 22, 2008 pukul 9:19 pm
komodifikasi…
Juni 23, 2008 pukul 2:03 pm
Keliatan agak mencurigakan. Bahaya juga nih orang.
Juni 24, 2008 pukul 7:51 pm
[...] Kisah penyadapan telpon Artalyta dan Jaksa Agung Urip Gunawan tentu sodara udah tau. Apa aja yang mereka berdua bisik-bisikin di telpon juga dah banyak beredar di milis, forum dan blog. Kasus yang diawali ketika Kejaksaan Agung mengumumkan penghentian penyelidikan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia yang menyangkut Sjamsul Nursalim pada 27 Februari 2008 ini sukses dikuak KPK berkat sadap menyadap bekerjasama dengan operator dalam rangka Lawful Interception. [...]
Juni 25, 2008 pukul 10:32 am
duh… bayangin aja, berapa anak SD yg bisa dibiayain dengan duit segitu
mudah2an Kau ampuni mereka, Gusti…
Juli 4, 2008 pukul 1:30 pm
Balada tante girang dengan Jamput, Jancuk dan Jembut……
Di sebuah kerajaan yang bernama Melasnesia, hiduplah seorang perempuan yang biasa dipanggil tante girang. Mengapa? Konon si tante setiap hari selalu girang, bahkan tak jarang bersorak kegirangan. Tante ini cukup kaya raya atau istilah gaulnya tajir. Pa…
Juli 6, 2008 pukul 8:33 pm
[...] aparat penegak hukum di negara kita . Bermula dari hasil sadapan KPK atas percakapan telepon Artalyta Suryani berisi penyuapan terhadap Jaksa Urip dan dihentikannya kasus BLBI oleh Kejagung, rekaman antara [...]
Agustus 10, 2008 pukul 8:52 pm
[...] gesture yang menggambarkan bagaimana dia dibuat pusing gara-gara ulah beberapa anak buahnya yang telpon-telponan dengan Artalyta dan disadap oleh KPK itu. Lembaga yang dia pimpin pun seolah sudah kehilangan wibawa di mata [...]
September 5, 2008 pukul 2:12 am
wualahhhhh,,,mangkin runyam aja nih,,,,
September 18, 2008 pukul 4:00 pm
howeeeek.numpang muntah paku cilik2…