Apalagi yang kau cari kawan? Pertandingan usai sudah. Tak ada lagi umpan-umpan matang di depan gawang. Tendangan salto. Sistem 4-3-3. Pertahanan gerendel. Peluh. Ganjalan. Gol. Penalti. Kartu merah. Hasrat reda, gairah jadi kuyu, seperti umbul-umbul yang kena hujan.
Orang pulang dan berhitung, tentang ongkos beli karcis dan beli obat antiserak. Akuntansi, perhitungan utang dan piutang — dan kecemasan untuk tidak kebagian tempat dalam hidup — kembali mengambil peran.
Hidup jalan terus, dengan pesona dan keberengsekannya. Kita bertemu kembali dengan lawan dan kawan-kawan lama. Kita hadapi lagi urusan lama dan baru, seperti dulu. Yah, masih yang itu-itu juga.
Mari kembali ke pojokan kedai kecil, tempat kita biasa minum secangkir teh tarik. Kau tentu masih ingat kedai itu bukan?
Tempat itu masih lengang tampaknya ketika kulalui tadi. Tapi, agak di bagian dalam ada sepasang anak muda merayakan sebuah pernikahan. Mereka menari dengan lagu pada akordeon. Pengantin dusun yang riang.
“Apakah jadinya hidup ini jika kegembiraan kecil seperti itu hilang, jika kafe kecil ini berubah jadi restoran besar, jika desa ini berubah jadi Paris atau New York?”
Aku sempat memandangi pasangan-pasangan itu, yang menari, dengan gelas anggur di tangan, dan dengan ketawa dan nyanyi yang mulai terhuyung-huyung.
“Kita beruntung tinggal di Indonesia. Orang masih bisa menghibur diri, menyanyi dan menari, dan tak cuma menunggu acara musik televisi. Kau tentu menyukai dusun-dusun di khatulistiwa itu, bukan? Mungkin lebih nyaman dari tempat mana pun di dunia ini.”
Sebentar, kau ingat-ingatlah dulu dusun-dusun yang pernah kau kenal. Di sana memang ada kegembiraan, juga pengantin, meskipun tanpa tarian dan anggur. Di sana ada kedai, juga orang menembang atau bermain gamelan. Tapi di sana ada kemiskinan. Dan kepadatan.
“Di Dunia Ketiga orang berseru untuk industrialisasi, modernisasi. Mobil, TV, pabrik, dan entah apa lagi didatangkan. Apa yang sebenarnya hendak didapat? Kebahagiaan?”
Entahlah. Aku lebih suka memungut selembar daun yang jatuh, dan menciumnya. “Harum daun ini adalah sebagian tari surga yang hampir hilang.”
Masalahnya, tak setiap orang sadar tentang arti kehilangan. Apa pula yang dianggap “kesedihan dan kesakitan?” Dan oleh siapa? Oleh mereka yang tak ingin kehilangan surga semula yang lebih tenteram? Atau oleh mereka yang menginginkan surga baru?
Dua sisi itu adalah kenyataan-kenyataan kita, dan dua sisi itu bergolak di tengah kita. Dan pergulatan antara keduanya bukanlah sekadar pergulatan antara keindahan daun dan kemegahan pabrik.
Yang terjadi akhirnya adalah pergulatan yang lebih kasar: pergulatan kepentingan — mungkin kepentingan seorang atau lebih, nun di atas sana yang tak semua kita tahu.
>> Untuk seorang teman yang kehilangan masa lalu. Kenyataan memang bisa sangat pahit, seperti secangkir kopi di Senin sore, Ki Sanak.
Juni 30, 2008 pukul 4:08 pm
Hidup adalah perjuangan tanpa henti henti.
Jadi, mari terus berjuang meskipun Indonesia ga berubah.
Juni 30, 2008 pukul 4:18 pm
*jadi inget kampung halaman
Juni 30, 2008 pukul 4:38 pm
Yang saya cari… harapan. Harapan semoga Jerman menjadi juara di Piala Dunia dan Piala Eropa berikutnya. *masih sedih Jerman kalah*
Juni 30, 2008 pukul 4:41 pm
Mengena, Ndoro… mengena!
Kalau nggak ada pahit mana mungkin ada manis, ya ndak ?
Juni 30, 2008 pukul 4:48 pm
Ya….mak nyessssssssssss…..!!!
Juni 30, 2008 pukul 4:54 pm
“kehilangan hanya ada ketika kita merasa memiliki,” ujar noe letto…
Juni 30, 2008 pukul 4:54 pm
KEDULUAN # 2,
JADI RINDU KAMPUNG HALAMAN.
Juni 30, 2008 pukul 5:20 pm
ughh…ajibb…dalem banget ndoro
Juni 30, 2008 pukul 5:30 pm
Terima kasih Ndoro, saya jadi napak lagi di tanah
Juni 30, 2008 pukul 5:58 pm
sangat penting untuk tidak melupakan darimana asal usul kita ya ndoro …
*menunggu air matang untuk bikin kopi *
Juni 30, 2008 pukul 6:05 pm
hidup itu dinamis. Jangan sering menoleh ke belakang, cukup masa lalu sebagai pelajaran mawon..
Juni 30, 2008 pukul 6:25 pm
Baru sadar saya ternyata indonesia seindah itu.
Juni 30, 2008 pukul 6:37 pm
;))
Juni 30, 2008 pukul 10:21 pm
Bagiku hidup adalah perjuangan .. Mari Berjuang (lho nyambung gk yo ? )
Juni 30, 2008 pukul 11:05 pm
setelah kita bangun dari mimpi, kenyataan pahitlah yang kita hadapi, pertanyaannya adalah sampai kapan kita bermimpi? dan sampai kapan kita bisa mewujudkan mimpi indah itu?
Juni 30, 2008 pukul 11:35 pm
jadi inget berenang di sungai..manjat2 pohon mangga..naek kerbau..the lost memory of an innocent child
semoga malam ini bisa memimpikan masa kecil yang indah itu..
Juli 1, 2008 pukul 1:28 am
menangislah bila harus menangis, karena kita semua manusia… (lirik dewa)
Juli 1, 2008 pukul 2:16 am
mari tetap perjuangkan bangsa ini!!!
pemilu bentar lagi tiba…… (gak nyambung)
Juli 1, 2008 pukul 3:07 am
saya ga pernah mmerasa kehilangan masa lalu,..
atau
tidak mau tepatnya..
sebisa mungkin di repro dalam imaji2 baru. Karena dari sana lahir kesadaran untuk tetap berdiri tegak di tengah-tengah…
Juli 1, 2008 pukul 4:34 am
besok jumat, tanggal 4 di Jogja bakal ada pentas Living Fossil. Dengan sebuah ‘kemauan’ seseorang bisa mengembalikan masa lalu yang sudah terkubur menjadi fosil ingatan, lalu membawanya ke masa kini.
ayo ndoro, kalo berani ke jogja sini!
Juli 1, 2008 pukul 8:47 am
sayangnya kebahagiaan tidak bisa dibeli oleh yang kaya gitu ndoro.
Juli 1, 2008 pukul 9:10 am
Surga baru? Huh, itu cuma ilusi, yang hanya menghasilkan tingkat kriminalitas yang tinggi, polusi, pemanasan global. Sampai di suatu titik manusia akan merindukan surga lama mereka, surga dalam arti yang sesungguhnya.
Juli 1, 2008 pukul 9:53 am
Kita harus bangkit !
Juli 1, 2008 pukul 10:23 am
“sampai kapan mimpi-mimpi itu kita beli..
sampai nanti, sampai habis terjual harga diri..”
by : Iwan Fals - Mimpi yang terbeli
Juli 1, 2008 pukul 11:11 am
good posting
Juli 1, 2008 pukul 2:08 pm
[...] Ndoro Kakung si bloger tua Bergaya bagaikan anak muda Austin Power jadi idola Rambut kribo hiasi kepalanya [...]
Juli 2, 2008 pukul 2:37 am
argh euro sudah habis!! saatnya kembali beraktifitas normal
Juli 4, 2008 pukul 8:25 pm
putik, filosofis……mendadak pgn kuliah privat soal filosofi hidup….
Juli 11, 2008 pukul 7:02 pm
duh bingung bacanya