Lompat ke isi

Muchdi Pecas Ndahe

Juli 1, 2008
oleh Ndoro Kakung

Pada dasarnya, saya baik dengan semua orang. Kalau orang baik kepada saya, saya bisa bersikap lebih baik kepadanya. Sebaliknya, kalau orang jahat kepada saya, saya bisa lebih jahat kepada orang itu. — Muchdi Purwoprandjono [mantan Deputi V/Penggalangan Badan Intelijen Negara] dalam wawancara dengan majalah Tempo.

Aha, kebaikan dan perbuatan baik rupanya membutuhkan prasyarat. Ini seperti kalimat yang biasa menyembur dari bibir pasangan yang sedang dimabuk asmara, “Kalau kau mencintaiku, aku akan mencintaimu dua kali lebih banyak. Tapi, kalau kau tak cinta, mana sudi aku mencintaimu.”

Well, hidup rupanya tak mengajarkan kita kesediaan memberi lebih dulu, dengan tulus. Kebajikan baru terlaksana setelah ada kebaikan yang mendahuluinya.

Adakah Muchdi beroleh ilmu yang sama seperti itu sehingga kalimatnya terdengar kering? Entah. Saya bukan hakim yang berhak memutuskan dia bersalah atau tidak.

Sejauh yang terbaca, Muchdi bisa berbuat lebih jahat kepada orang yang [dianggapnya] berbuat jahat kepada dirinya.

Apakah almarhum Munir telah berbuat jahat kepadanya? Munir, pejuang hak asasi manusia, meninggal di atas pesawat Garuda dalam penerbangan menuju Belanda. Mungkin dia dibunuh. Siapa pembunuhnya? Apakah Muchdi, intel kawakan itu, terlibat? Adakah Muchdi memiliki motif?

Muchdi, Prabowo Subianto, dan Chairawan [ketiganya pernah di Kopassus], disebut-sebut terlibat penculikan aktivis anti-Orde Baru pada 1997. Almarhum Munir adalah salah satu tokoh yang gencar mengungkap kasus penculikan itu.

Sejarah mencatat, tiga perwira itu lalu diajukan ke Dewan Kehormatan Perwira yang diketuai [waktu itu] Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Subagyo H.S. Dan akhirnya, mereka dibebastugaskan.

Apakah Muchdi dendam pada Munir? Apakah dia punya motif?

Ah, kalimat itu terus berputar di ingatan saya. “Kalau orang jahat kepada saya, saya bisa lebih jahat kepada orang itu … “

>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Apakah sampean masih punya dendam pada seseorang hari ini?

35 Komentar leave one →
  1. Juli 1, 2008 10:56 am

    Ngapain juga dendam disimpan,Ndoro. Capek…

  2. Juli 1, 2008 10:59 am

    Ya…ya…ya…intel konon katanya emang begitu Ndoro!!! Dendam??? Jangan Ndoro…saya ga dendam hari ini!!!

  3. Juli 1, 2008 11:00 am

    hahaha….feel kita sama ndoro waktu mbaca kalimat itu. Quote itu sudah menjelaskan banyak hal sebetulnya. …tapi saya pribadi yakin ada yang lebih punya kapabilitas daripada Muchdi

  4. Juli 1, 2008 11:19 am

    kirain ada poto lagi :D

  5. Juli 1, 2008 12:29 pm

    yah gitu namanya manusia..
    tidak lepas dari kekurangan..

  6. Juli 1, 2008 12:54 pm

    Ngomongin soal BIN kok situsnya terus error?
    Kebetulan?

  7. Juli 1, 2008 1:03 pm

    Apa di bumi ini yang tak membutuhkan prasyarat Ndoro?

  8. Juli 1, 2008 1:12 pm

    kebenaran itu tak selalu baik…

  9. Juli 1, 2008 1:21 pm

    Ah..quote Muchdi PR yang Ndoro kutip, bikin batin saya nyeri.

    Ngomong-ngomong, kok situs http://www.ndorokakung.com malah masuk ke http://www.ndorokakungmu.wordpress.com ? Situsnya error ya Ndoro? Jangan-jangan…ada seseorang yang merasa ndoro telah berbuat jahat kepadanya ? Hehehe…:D

  10. hanny tautan tetap
    Juli 1, 2008 1:39 pm

    lho, layout-nya ganti? segeran yang lama, ah :D dendam? saya sih tak punya dendam. semoga ndoro juga tak punya hihihihi :D

  11. Juli 1, 2008 1:45 pm

    jadi sepertinya gara – gara ngomongin intel , ndorokakung.com langsung ngejengking, wah wah …

    dendam ? saya dendam kemaren dateng telat jadi gak dapet kaos firefox …

  12. Juli 1, 2008 1:50 pm

    Om Chairawan sempat jadi komandan korem 011/lilawangsa pasca tsunami.
    setelah itu die menjadi kepala BIN wilayah NAD, kalo tidak slah sampe saat ini.
    saya pernah bertemu muka om-om tersebut, entah om-om tersebut ingat saya atau tidak. maklum saya hanya orang kecil

  13. Juli 1, 2008 3:16 pm

    kalo saya ndak ada dendam, ndoro. Ndak baik dendam itu buat kesehatan.. :D

  14. Juli 1, 2008 4:52 pm

    dendam apa dendam??

  15. tunggonono tautan tetap
    Juli 1, 2008 5:05 pm

    Saya udah mbaca semua di majalah TEMPO nya, Ndoro…
    Sampe merinding aku… sangar tenan ya orang itu hihihi..

    Dendam? Tanpa dendam, kadang hidup jadi tak terlecut untuk bergerak lebih cepat lagi!

  16. Juli 1, 2008 5:18 pm

    kok nggak ada gambarnya Muchdi. mana sih orangnya?

    yang itu tuh .. :D

  17. Juli 1, 2008 5:26 pm

    dendam sama ndoro? rugi… :lol:

    eh dek anto ada lagi. ke mana aja, nto? ke lampung atau bogor? :P

  18. Juli 1, 2008 5:28 pm

    2 orang lagi masih punya dendam??

    ah,.. sudahlah..
    2009 nanti, 2 orang lainnya jadi pemain juga :D

  19. Juli 1, 2008 5:28 pm

    ngiri dotkom sama yg selalu nolongain ndoro…

    mbok suruh bantuin aku menyelesaikan masalahku ndoro… :(

    lah masalahmu apa to, nduk? :D

  20. Juli 1, 2008 9:23 pm

    pindah ngeblog yah ndoro :D

  21. Juli 2, 2008 8:27 am

    Dendam? Nggak ah Ndoro, saya itu cepat melupakan hal-hal yang sudah lalu koq…

    Kadang bernasalah juga sih, hal-hal yang perlu diingat malah ikut terlupa…:-D

  22. Juli 2, 2008 12:07 pm

    Yah..saya dendam sama Ndoro, karena ngga datang ke Bandung kemarin ini…

    haduh, ampyun aki … maapken :D

  23. Juli 2, 2008 2:43 pm

    Ampiuuun Ndoro … jangan dendam pakiu :D

  24. Juli 2, 2008 3:01 pm

    lha ya emang gitu tho?
    secara reflek kita mesti jadi sebel sama yang jahat ma kita.
    secara reflek kita mesti mau ndak mau punya beban harus baik sama yang ramah banget ke kita.

  25. Juli 2, 2008 3:38 pm

    baik dan jahat itu kan relatif Ndoro.. :lol:

  26. Juli 2, 2008 4:43 pm

    dendam kesunat…. waduh sakit…:D

  27. Juli 2, 2008 6:38 pm

    Dendam, ya iya lah… masa iya iya dong, hehehe

  28. Juli 2, 2008 7:32 pm

    Dendam numpuk bisa sontoloyo tuh om :D

  29. Juli 2, 2008 8:11 pm

    Persisnya kita itu, kalau orang minta tolong ‘kan kita maunya ditolong dulu… :lol:

  30. Juli 3, 2008 7:33 am

    muchdi sontoloyo!

  31. Juli 3, 2008 2:49 pm

    chairawan sempat menjadi komandan korem 011/lilawangsa pasca tsunami. Kalo tidak salah sekarang masih menjadi kepala BIN wilayah NAD.

  32. Juli 11, 2008 7:00 pm

    wah sontoloyo tenan

  33. November 28, 2008 5:34 pm

    Walah … walah … dendam nich ye

  34. boyoh tautan tetap
    Desember 19, 2008 9:41 pm

    Si A***ng Munir modar. Alhamdulillah.

    Wong A***ng Pengkhianat bangsa mah memang harus modar. Bangsa sendiri dijual ke bangsa lain.

    Seharusnya BIN nggak usah ngerepotin Pak Muchdi, aku juga sanggup membunuh Si A***ng Munir itu.

  35. Januari 9, 2009 7:16 pm

    Dengan kedok HAM, seorang bisa leluasa jalankan misinya. Bisa-bisa yang bunuh pihak asing dnegan tangan orang indonesia sendiri agar Indonesia tambah parah.Pa lagi tuh si Usman Hamid suak bikin opini agar seseorang yang dicurigainya segera disidang, eh hukum tak bisa pakai dasar opini.Pokoknya kalau sudah tdk ingin hidup tenang di Indonesia silakan ke LN saja, masih banyak anak2 bangsa yang mau membangun negara ini dengan kearifan Indonesia.Jgn sekali2 runtuhkan negaraku…jangan sekali2 hancurkan bangsaku……Merdeka

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS