Mengapa seseorang yang tengah berkuasa cenderung semena-mena?
Gara-gara membaca kalimat itu di sebuah majalah, seorang kawan lalu bertanya kepada Paklik Isnogud, “Manakah yang lebih baik, di bawah kekuasaan orang atau menjadi penguasa?”
Paklik yang arif bijaksana pun menjawab, “Di bawah kekuasaan orang.”
“Mengapa?”
“Orang yang di bawah kekuasaan orang lain senantiasa diberitahu oleh yang berkuasa bahwa ia salah, baik ia memang bersalah atau tidak. Ini memberinya kesempatan memperbaiki diri dengan menelaah dirinya sendiri, sebab terkadang ia memang bersalah.
Sementara itu, orang yang berkuasa hampir selalu membayangkan dirinya atau peraturannya benar, hingga ia pun cuma sedikit punya kesempatan untuk menyiasati tingkah lakunya sendiri.
Itulah sebabnya orang yang di bawah kekuasaan orang lain pada gilirannya akan menjadi penguasa, dan para penguasa akan jatuh ke status orang yang dikuasai.”
Benarkah begitu?
>> Selamat berakhir pekan, Ki Sanak. Semoga sampean menjadi penguasa sejati — sekarang atau nanti.
Tag: kebajikan, kekuasaan, kepemimpinan, pemimpin, penguasa
Juli 4, 2008 pukul 4:35 pm
Penguasa dengan mental bos
Ingat peraturan dasar bos yang itu ndoro :
Pasal 1 : bos tidak pernah salah
pasal 2 : jika bos salah, lihat pasal 1
Juli 4, 2008 pukul 4:39 pm
roda akan selalu berputar ya ndoro?
Juli 4, 2008 pukul 4:44 pm
nah itu klo yang di bawah kekuasaan mau introspeksi..klo ga??
yah jadi pada sok pinter..
akhirnya rusuh deh..
Juli 4, 2008 pukul 5:00 pm
pengen jadi orang berkuasa tapi baik hati
*haiah..
Juli 4, 2008 pukul 5:57 pm
ah gak semuanya gitu kok… tapi kebanyakan emang gitu..
Juli 4, 2008 pukul 6:24 pm
bukanya setiap manusia sudah menjadi penguasa untuk dirinya sendiri ndoro?
Juli 4, 2008 pukul 6:27 pm
Kalau ngga ada bawahan mana ada atasan Ndoro ?
Juli 4, 2008 pukul 6:44 pm
Terima kasih, Ndoro..
Semoga njenengan juga bisa jadi chairman sejati..
Juli 4, 2008 pukul 6:45 pm
masalahnya, penguasa di negara kita itu sontoloyo…
Juli 4, 2008 pukul 6:50 pm
[...] girang2 aja ya, malah pamer ke reporternya kalo jualannya laku keras. Miris… seandainya saja pejabat-pejabat sontoloyo itu betul-betul memikirkan rakyat.. mungkin negara kita ga akan semiris [...]
Juli 4, 2008 pukul 9:44 pm
gimana caranya jadi penguasa yang bener ya?
Juli 4, 2008 pukul 10:03 pm
sepertinya kok lebih enak
“menjadi penguasa dibawah kekuasaan Tuhan :)”
apa jadinya jika semua orang ingin dibawah penguasa. lalu siapa yang akan jadi penguasa?
IMHO, makin berkuasa orang ya makin tinggi pula konsekwensinya. its just a matter of choice. toh semakin mulia pula mereka ketika mampu menghadapi godaan2nya. pikiran sederhana saya, orang kaya yang baik hati dan dermawan, penguasa yang adil dan bijaksana, orang pintar yang rajin membagi ilmu jauh lebih mulia daripada yang lainnya. meskipun resikonya orang-orang tersebut juga bisa berada didasar kehinaan jika berbuat sebaliknya.
kurang adil rasanya jika akibat perbuatan penguasa sontoloyo di negeri sontoloyo ini, maka kita akhirnya jadi mengeneralisasi semua penguasa. dimata saya, cukup banyak penguasa yang tidak sontoloyo :). entah dinegeri sebrang, atau dimasa lalu.
ini cuma komentar anak kecil ndoro. mohon dimaklumi kalo ngawur
Juli 4, 2008 pukul 10:06 pm
jadi ingat ajaran Confusius kalau negara akan makmur jika semua orang menjalankan perannya dalam kehidupan dengan baik. Raja bertindak seperti layaknya raja, menteri bertindak seperti layaknya menteri, ayah bertindak seperti ayah dan anak bertindak seperti anak..
Masalahnya sekarang ini orang sering untuk menjalankan perannya dalam kehidupan….
http://janganserakah.wordpress.com
Juli 4, 2008 pukul 10:32 pm
yang di bawah kekuasaan akan naik menjadi penguasa
setelah menjadi penguasa akan turun lagi
apakah begitu terus???
roda terus berputar
Juli 4, 2008 pukul 10:32 pm
ah, kl saya sih ga prnh pengen jd penguasa
baik sekarang maupun nanti..
asiiikkk udah akhir pekan lg niy..
Juli 4, 2008 pukul 11:57 pm
numpang nge-test gravatar ndoro
muncul ndak ya?
Juli 4, 2008 pukul 11:58 pm
koq nggak muncul
padahal ngikut gravatar
Juli 5, 2008 pukul 2:52 am
Lebih enak jadi pemimpin. Dengan menjadi pemimpin, otomatis ia akan mempunyai kekuasaan.
Sementara menjadi penguasa, belum tentu ia bisa memimpin (dengan benar)
Juli 5, 2008 pukul 3:09 am
Dalam salah satu surat terakhirnya, Soe Hok Gie sempat mengkritik teman-temannya sendiri dengan kata “Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.”…
Ya begitu itu yang terjadi sekarang, i penguasa adalah bekas orang yang ‘merasa’ tertindas.
Juli 5, 2008 pukul 7:32 am
sepertinya memang lbh enak di bawah kekuasaan orang..
tapi bukannya kita selalu berada di bawah kekuasaan orang yang di atas kita? entah itu orang tua..pemimpin..dan Tuhan..
dan mungkin kita akan menjadi penguasa atas beberapa orang juga? misal penguasa diri sendiri..menguasai bawahan (kalo ada)
jadi intinya sih..kita berada di dua sisi..dan yang penting bagaimana kita bisa menempatkan diri aja…
Juli 5, 2008 pukul 9:44 am
Hidup TIDAK seperti roda yang berputar (bosen donk diatas & dibawah mulu ).HIDUP ITU seperti PERJALANAN NAIK TANGGA.Setiap anak tangga yang kita naiki adalah SEBUAH UJIAN buat perjalanan hidup kita.JADI kalo kita LULUS dalam UJIAN ini maka kita akan naik keanak tangga selanjutnya.KARENA AKAN SELALU ADA UJIAN UNTUK SETIAP KENAIKAN KUALITAS MANUSIA.
JADI,bagi mereka yang TIDAK NAIK atau malah JATUH KEBAWAH itu berarti MEREKA TIDAK LULUS UJI.
DENAGN DEMIKIAN,setiap manusia pada dasarnya bisa untuk selalu SURVIVE dan terus sukses dalam hidupnya,DENGAN SYARAT selalu bisa MELEWATI SETIAP UJIAN KEHIDUPAN dengan baik.INILAH YANG SANGAT TIDAK MUDAH.Karena semua manusia itu tidak ada YANG SEMPURNA.
TAPI YAKINLAH,bahwa kita diciptakan dengan kelebihan & kemampuan masing2.JADI kita harus selalu memaksimalkan potensi yang kita miliki.SATU CATATAN LAGI adalah selalu ingat & mendekatkan diri pada TUHAN.
SEMOGA KITA SELALU BISA MENJADI MANUSIA YG BERMANFAAT BAGI KEBAIKAN SELURUH ALAM.
Juli 5, 2008 pukul 11:39 am
kalo lelananging jagad itu penguasa yang menguasai dunia bagian mana ndoro? dan apakah kelak akan tumbang juga?
Juli 5, 2008 pukul 1:48 pm
ah…. penguasa ternyata tidak mempunyai cermin
Juli 5, 2008 pukul 1:50 pm
tp sepertinya akupun tak punya cermin jg
Juli 5, 2008 pukul 2:10 pm
menjadi penguasa pasti selalu memiliki “kelebihan” dari yang dikuasai, oleh karena itu menjadi penguasa pasti lebih enak dari yang dikuasai. Ini kan masalah superiority dan inferiority, yang superior tentu harus “lebih” dari yang inferior.
Berbeda dengan pemimpin dan yang dipimpin. Pemimpin kadangkala atau bahkan seringkali tidak lebih pintar dari yang dipimpin. Jadi banyak kita ketemukan pemimpin yang sontoloyo tadi.
Juli 5, 2008 pukul 4:13 pm
Kalo penguasa slalu berasal dari yang dulunya ‘merasa’ tertindas,ya mpe kapanpun kecenderungan utk mjd pnguasa sontoloyo pasti akan terjadi..skr,brp byk penguasa yg sadar kalo ada yg lebih Maha Kuasa lg sehingga dia tdk brkuasa semenamena n tdk jd sontoloyo?
Juli 5, 2008 pukul 6:03 pm
iya, apalagi ada yang sok menjadi penguasa alam maya seperti dia.
eh cobain trik ini deh.
1. Buka http://www.google.com
2. Ketik “Temukan Roy Suryo” (tanpa tanda kutip)
3. Klik “I’m Feeling Lucky” atau “Saya lagi beruntung”
4. Lihat apa yang terjadi
Juli 5, 2008 pukul 6:04 pm
“Penguasa” juga punya satu teori lain :
Karena dulu tertindas, sekarang bisa menindas.
Juli 5, 2008 pukul 7:02 pm
emang gitu mas,kalo mau malam pasti sinar matahari mulai berkurang tapi kalo lagi panas ?! emh,… pasti panas banget dan baru tau kalo itu matahari?! hehehe
Juli 6, 2008 pukul 10:36 am
Eh, bukannya kekuasaan tertinggi ada di tangan… RAKYAT?
Juli 6, 2008 pukul 12:13 pm
Pengusa sejati berarti Tuhan dunk.
Juli 6, 2008 pukul 1:32 pm
power tends to corrupt
Juli 7, 2008 pukul 9:04 am
inilah ‘IMPERIUM DEGLENG’ ITU !
Juli 7, 2008 pukul 1:54 pm
Amin ndoro, amiiiiin…
Juli 8, 2008 pukul 9:15 am
sewenang-wenang = tidak/tanpa semena-mena
semena-mena = tidak sewenang-wenang
akgirnya kamus pun membingungkan.
yang bikin kamus adalah penguasa bahasa?
Juli 11, 2008 pukul 6:26 pm
SEMOGA KITA SELALU BISA MENJADI MANUSIA YG BERMANFAAT BAGI KEBAIKAN SELURUH ALAM.