Lompat ke isi

Arisan Pecas Ndahe

Juli 11, 2008
korupsi anggota dpr

WAKIL RAKYAT STOP KORUPSI

Korupsi mungkin seperti arisan: yang mengunduh berganti-gantian. Hari ini si A, besok si B, lusa si C, dan seterusnya. Dan di ujungnya sana, semua kebagian, semua senang. Hidup jalan terus.

Adakah yang bisa kita lakukan untuk membasminya? Kalaupun ada, dari mana memulainya?

“Sulit, Mas. Tapi kita bisa asal punya niat dan hati yang teguh. Sebab, daya rusak korupsi yang terbesar justru memang terjadi pada saat suram seperti ini: kita tak tahu lagi di mana yang salah dan bagaimana mengatasinya,” begitu Paklik Isnogud pernah bercerita.

Sore itu, ketika matahari nyaris lengser di ufuk barat, kami baru saja selesai menonton berita di televisi yang menayangkan persidangan kasus suap yang melibatkan anggota DPR dari Partai Persatuan Pembangunan, Al Amin Nasution.

Dalam sidang itu sempat diputarkan rekaman pembicaraan antara Al Amin dan orang yang menyuap. Kamera sempat menangkap ekspresi wajah para hakim yang menahan senyum sewaktu rekaman itu diperdengarkan. Saya tak tahu apa mengapa tuan-tuan kadi itu seperti tersipu malu.

“Sampean tahu, Mas. Korupsi ialah kanker yang akhirnya mengeremus harapan dan kepercayaan,” Paklik melanjutkan kalimatnya. “Korupsi meludahi kemungkinan bahwa di sekitar masih ada orang yang bersih.

headline koran tempo

edisi 9 Juli 2008

Pada tingkat yang paling destruktif itulah korupsi membawa semacam pemerataan, semua orang dianggap cuma cari untung sendiri-sendiri,” kata Paklik Isnogud.

“Bagaimana memberantasnya, Paklik?”

“Becerminlah ke Filipina, Mas.”

“Filipina? Kenapa, Paklik?”

“Syahdan pada 1975, di tengah korupsi yang berkecamuk dan kelak menjeratnya, Marcos memanggil Hakim Plana. Ia memberi hakim itu satu tugas yang singkat dan jelas: sikat korupsi.

Hakim yang disebut bagaikan serigala menyendiri ini kemudian menemukan bagaimana korupsi berjalan di Filipina. Ada yang disebut lagay. Ini berarti uang semir — untuk mempercepat pemrosesan satu dokumen pajak.

Ada yang disebut arreglo — dan ini yang sangat merugikan negara. Dengan metode ‘bisa diatur’ ini, seorang pembayar pajak yang seharusnya membayar sejuta peso akan cuma menyerahkan 500 ribu peso saja. Dari yang 500 ribu itu, 350 ribu peso masuk ke tas petugas pajak (itulah yang disebut arreglo), dan sisanya masuk kas negara.

Bentuk korupsi yang lain adalah extortion. Korbannya bisa jadi pembayar pajak yang tak bersalah. Dengan keruwetan sistem pembayaran pajak, ia bisa digertak — dan terpaksa memberikan suap buat si petugas yang mengancam itu.

Di samping semua itu, ada bentuk-bentuk korupsi ke dalam biro sendiri. Misalnya dengan mengeruk pajak yang sudah dibayarkan atau mencetak lebih banyak cukai rokok ketimbang semestinya.

Apa yang bisa dilakukan Hakim Plana di hadapan semua itu?

Arkian, Plana pun bertindak cepat. Ia menyusun satu sistem evaluasi prestasi yang baru, yang tak bergantung pada keputusan seorang atasan yang mensupervisi.

Ia juga membentuk dua tim pemberi informasi, dari kalangan militer dan sipil, untuk mengamat-amati siapa yang menipu pajak dan siapa yang terima sogok ia menindak para pelanggar, terutama di tingkat atas, dengan cepat dan terbuka.

Beberapa perubahan dalam undang-undang dan sistem pelaporan pajak juga diadakan, begitu pula mutasi terus dilakukan. Dan, konon Plana berhasil,” kata Paklik mengakhiri kisahnya.

“Sekilas, saya melihat modus yang sama di sini. Bentuk-bentuk korupsi di Filipina yang sampean sebutkan itu, juga ada di sini, cuma beda nama. Tapi, kita seperti tak punya niat memperbaiki, melainkan malah menyuburkan praktek laknat itu. Dan, satu lagi Paklik, kita tak punya Hakim Plana.”

>> Selamat hari Jumat, Ki Sanak. Siapakah yang hendak sampean suap hari ini?

46 Komentar leave one →
  1. Juli 11, 2008 12:48 am

    semoga koruptor yang lain juga terungkap kasusnya.
    Met hari jumat ndoro, saya gak mau nyuap siapa2 hari ini tp mau nyemplungi kotak amal aja di masjid :D

  2. Juli 11, 2008 1:25 am

    Repot juga cari Hakim Plana kayak gitu, Ndoro…

    Seperti kata Paklik Isnogud, jaman sekarang susah percaya pada pemegang kekuasaan. Nanti setelah Hakim Plana ditunjuk, eh, ternyata orangnya bajigur juga.. Kan ya repot…

    *Plana itu nama orang apa jabatan to Ndoro?

    nama orang.

  3. Juli 11, 2008 1:41 am

    Nyuap? Hari ini saya ndak rencana nyuap siapapun tapi ya embuh ding.. tergantung ada pulisi yang nangkap saya apa ndak di jalan raya nanti, Ndoro :)

  4. Juli 11, 2008 2:20 am

    kurupsi kenapa pada tidak sadar ya,
    tiap kali denger baca kata kurupsi
    malah
    emosi
    aku

  5. Juli 11, 2008 3:20 am

    Saya nyuapin mulut saya sendiri aja deh, ndor..

  6. proletarman tautan tetap
    Juli 11, 2008 3:50 am

    klo sekarang Filiphina ga beda jauh ama kita ndoro. Sama2 korup. Mungkin pemberantasan korupsinya mati bersamaan dengan matinya si Hakim.

    setidaknya kita punya KPK ndoro..
    Hidup KPK..
    salam
    http://proletarman.wordpress.com

  7. Juli 11, 2008 5:10 am

    yg mo sy suap adek saya ndoro, supaya sy bisa maen hihi~

  8. Juli 11, 2008 6:55 am

    ganti rezimnya ndoro.
    pengennya sih nyuap malaikat tp tak tahu caranya…:)

  9. Juli 11, 2008 6:55 am

    mengeremus.. bhs mana iru nDor..?

    asik, udah jumat lg.. saya mo nyuap ketupat sayur ajalah nDor..

  10. Juli 11, 2008 7:37 am

    yah…gimana negara mau bebas korupsi kalau hukum belum bisa ditegakkan dengan baik…

  11. Juli 11, 2008 7:45 am

    Mungkin perlu semacam slogan

    Boleh korupsi asal jangan merugikan negara dan rakyat

    *putus asa*

  12. Juli 11, 2008 7:58 am

    Saya tak nyuapin (calon) istri saya aja ndoro, hihihi.

    Yaa semoga dengan banyak yg ketangkep seperti ini, korupsinya bisa lebih dikurangi.
    [-o<

  13. Juli 11, 2008 8:05 am

    Kalo marcos yang mempelopori pemberantasan korupsi, mengapa marcos dianggap biangnya korupsi? bingung aku…

  14. ngisin2i tautan tetap
    Juli 11, 2008 8:11 am

    nyuapin anak saya aja, ndoro … disuap aja makannya masih susah bgt.
    kayaknya kalo ada koruptor dipancung di tengah lapangan yg diliat orang banyak, baru para koruptor2 lain bisa mikir.
    kalo udah begini, jangan dengarkan teriak2 HAM … ke mana HAM saat koruptor2 itu menilep hak jutaan rakyat negeri ini?

  15. Juli 11, 2008 8:20 am

    Terima saja ide cerdas ato tololnya bulyan royan. Pancung!

  16. adipati kademangan tautan tetap
    Juli 11, 2008 9:01 am

    kalo ndak ada hakim plana di Indonesia, ya impor saja. Toh kemungkinan disono masih ada stock

  17. Juli 11, 2008 9:18 am

    tapi ternyata paklik malaikat tidak bisa disuap untuk menutupi dosa kita, syukurin loe…

  18. Juli 11, 2008 9:30 am

    saya hari ini sudah menyuap Anya. Bener, nggak bohong. Dia saya suapi dengan biskuit bayi dicampur susu. Wah, lahap bener dia makannya…

  19. Juli 11, 2008 9:49 am

    Marcos yang nyuruh?

    Mestinya si Hakim pertama-tama nanya Imelda, beli sepatu pake duit apa/siapa?

  20. Juli 11, 2008 10:26 am

    Makanya, kata GusDur para Wakil Rakyat gak mau lagi makan di restoran. Karena mesti bayar sendiri dan Nyuap sendiri. :oops:

  21. Juli 11, 2008 10:33 am

    Iya bener tuh Ndoro, dipancung aja. Ndak usah pakai diadili di pengadilan, orang hakim-hakimnya juga setali tiga uang.

    *emosi*

    btw, selamat hari Jum’at juga ndoro. saya mau nyuap ke mulut sendiri.

  22. Juli 11, 2008 10:33 am

    harusnya hukuman bagi koruptor disamakan dgn hukuman bwat pengedar narkoba. klo perlu hukuman mati diberlakukan untuk koruptor diatas 100juta, pasti keder wes iku….
    lumayan kan bwat mengurangi jumlah penduduk indonesia, khususnya ngurangi jumlah penduduk yang brengsek kekeke

  23. gntong tautan tetap
    Juli 11, 2008 11:05 am

    Wah, semua juga maunya begitu, tapi itu berarti kita harus ngubah KUHP… sekarang siapa yang sanggup mengubah KUHP yang sudah berantakan begini???

    baca dan komentari blog saya di http://airdiataskrisan.wordpress.com

  24. Juli 11, 2008 11:44 am

    Ternyata nggak perlu repot-repot nyari dolar buat nyuap-nyuap.
    Sewa aja cewek b’baju putih, alah…

    Kalau gini rasanya nggak ada yang bisa dipercayai di dewan sana….

    Btw, oh ini hari Jumat to, nggak sadar.

  25. Juli 11, 2008 12:51 pm

    bener ndoro.. kita gak ada hakim yg bisa di andalkan untuk jadi hakim plana ituh…

    jd gimana nih proses pembasmian anggota dpr yg korupsi?

  26. Juli 11, 2008 1:20 pm

    Waduh-waduh kalo kita mah perlu tuh hakim plana, tapi kayakny susah ndoro soalnya hakim sama jaksa sdh kongkalingkong …:)

    Salam kenal,
    itsar

  27. mr.bambang tautan tetap
    Juli 11, 2008 2:13 pm

    Eh… pas acara ultahnya balibul kemarin itu, ada inisiatif bikin arisan blogger lo….

  28. Juli 11, 2008 3:21 pm

    hmmm.. jadi inspirasi baru, tar kalo punya anak, boleh juga kalo dikasi nama “Plana” biar bisa basmi korupsi.

  29. Juli 11, 2008 3:58 pm

    mari melakukan yang terbaik dalam kondisi yang kita punyai sekarang.

  30. Juli 11, 2008 5:39 pm

    kalo nyuap mulut harimau, biar mau nerkam koruptor itu,
    boleh gak ndoro??

  31. Juli 11, 2008 5:46 pm

    kapan kelarnya sih.
    coba klo diberlakukan hukum islam, klo korupsi potong tangannya :p

  32. Juli 11, 2008 5:50 pm

    setuju.klo bisa dibikin martabak ja :D

  33. Juli 11, 2008 6:43 pm

    Pertanyaan hari ini bagi penjabat :

    Siapakah yang nyuap saya hari ini ???

  34. Juli 11, 2008 6:51 pm

    tapi di philipina katanya korupsi masih lanjut :D

  35. Juli 11, 2008 6:55 pm

    @windra: bisa juga, siapa yang akan saya suap hari ini :D

  36. Juli 11, 2008 11:17 pm

    Korupsi itu apa?

  37. khendra tautan tetap
    Juli 12, 2008 8:22 am

    Untuk mmulai suatu prubhan, di mulailah dri lingkungan kita sendiri, trutama dlm kluarga, dmìkian ptuah orng bjak ( Mm….kra2 bgitu klo gak salah ^ ^”) Tp itu sulit, lha wong anakku yg umr 5taun aja dah bsa nyogok ! krna tau tlah mmbuat sbuah ksalahn, tu anak Nyuap dng cra mjetin aku spaya gak kna marah,lha pye? rategel tho?
    eh?? apa itu bsa di blang praktik suap ya??? lam knal ndoro

  38. Juli 12, 2008 2:57 pm

    Anak Ndoro, nyuapin anak… :lol:

  39. Juli 12, 2008 2:58 pm

    Anak.. Ndoro, nyuapin anak… :lol:

  40. Juli 12, 2008 5:12 pm

    anakku hari ini tidak mau taksuapin. mau makan sendiri, katanya …..

  41. Juli 12, 2008 6:56 pm

    Gak usah jauh2 mikirnya… Terpikir gak sih bagaimana perasaan anak istrinya kalau kelakuannya sampai terungkap, terbongkar…

    Kamrin waktu nonton TV, dengerin si Al Amin yg (maaf) sungguh menjijikkan kelauannya itu, yang pertama kali terbayang diwajah saya bukan nasib bangsa ini seperi yg diributin org… TAPI ISTRINYA… bagaimana perasaan istrinya … keluarga istrinya… keluarga dia… haduh, sakit banget pasti…

    Istrinya malah yang udah dikekang tidak boleh nyanyi karena merasa SANGGUP membiayai istrinya (EGOISME LaKI2… sucks), kini harus mendengar suaminya ditelanjangi didepan umu, dan ditonton oleh seluruh masyarakat diseluruh indonesia… Duhhhhh, rasanya saya bisa benar2 ngerasaain apa yg dia rasain…

  42. Juli 12, 2008 7:43 pm

    darimana kita memulai untuk memberantas korupsi?

    DARI KITA SENDIRI…!!!!

  43. Juli 12, 2008 11:57 pm

    suap menyuap udah kayak “dihalalkan”. ngawur tenan.

  44. Juli 13, 2008 12:23 pm

    Kita ga punya hakim Plana, tapi masih punya KPK, ndoro. Berharap sajalah Antasari bakal terus garang sampai selesai jabatannya nanti.

    Dari sendiri tetap yang paling afdol. Gampang kok, hindari korupsi rambu (patuhi peraturan lalu lintas), korupsi waktu (datang kerja/kuliah tepat waktu, yang gw juga ga terlalu bisa heheheh), korupsi pikiran (perbanyak membaca, kurangi menonton)

    Hari ini sayah mau menyuap mulut sendiri aja, ndoro.

  45. Juli 16, 2008 2:49 pm

    Dimana ada pengunduhan kalau tidak ada pengunggahan..hmm..

  46. serimpi tautan tetap
    November 25, 2008 7:34 pm

    Wabah ini sebenarnya virus yang paling ganas, lebih ganas daripada HIV. Penularannya sangat mudah karena virus ini berbasis di OTAK dan HATI. Sedangkan OTAK dan HATI orang Indonesia mudah terkena virus yang sudah merajalela sampai pelosok. Beberapa orang ditangkap tapi banyak orang baru terjangkit. VAKSIN yang paling mujarab mungkin PENJARA yang memberi pelajaran OTAKnya atau AGAMA yang mengobati HATInya. Kalau mau saran Sering aja selancar di Web, disana banyak cara untuk mendapatkan UANG tanpa harus KORUP.

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS