“Saya mau jadi oposisi. Saya ogah memimpin meski saya bisa memimpin jauh lebih baik,” begitu seseorang berkata kepada saya.
“Kenapa?” saya bertanya. “Cobalah sesekali menjadi pemimpin dan mengubah keadaan. Mungkin lebih baik. Daripada hanya jadi tukang teriak di luar garis, mending sekalian ikut main.”
“Nggak ah. Saya kan masih muda. Memimpin itu ntar kalau dah tuwir nanti, dan bisa bilang, ‘been there, done that’.”
Oh, ok. Tapi, apakah anak muda harus selalu berbeda? Harus mengambil tempat di seberang?
Mungkin benar kata orang bahwa selalu bersama-sama itu tak selamanya berarti baik. Kadang ketidakkompakan justru diperlukan. Kenapa?
“Di Jepang orang pun berbicara tentang harmoni dalam sebuah ide, atau ‘rumah’ kita. Tapi partai-partai politik seringkali terdengar sebagai sebuah rumah gila. Masing-masing gaduh oleh pertikaian antara habatsu,” kata Paklik Isnogud.
Paklik menjelaskan tentang perlunya berbeda pada saya, pada suatu malam yang lengas di rumahnya. Suara burung hantu sesekali terdengar di atas pohon.
“Habatsu? Apa itu, Paklik?”
“Habatsu itu kelompok-kelompok dalam partai, Mas. Di Jepang, ada sebuah masa ketika Partai Liberal-Demokrat berkuasa. Ia bukan saja terbentuk oleh dua partai. Masing-masing partai yang tergabung juga membawa kelompok yang bertentangan dalam dirinya.
Ada persaingan sengit antara orang-orang yang memasuki kehidupan politik dengan latarbelakang sebagai birokrat. Mereka menghadapi tojin, yang karir politiknya berasal dari lembaga perwakilan tingkat bawah sampai atas.
Ada pula orang-orang yang berkelompok di bawah satu bos karena sang oyabun mampu mengumpulkan dana politik. Uang ini penting, tentu saja. Dua puluh lima tahun lalu, diperkirakan 100 juta yen diperlukan untuk kampanye agar seorang calon anggota partai menang. Sekarang mungkin lebih.
Seorang calon yang menerima bantuan dari seorang oyabun dengan demikian masuk, dan setia, kepada sang bos sebagai pemimpin kelompok.”
“Jika demikian halnya, apakah sebenarnya yang menyebabkan sejumlah habatsu timbul? Perbedaan ideologiskah, Paklik?”
“Agaknya bukan, Mas.”
“Prinsip?”
“Juga hampir tak pernah. Partai Liberal-Demokrat menamakan diri pragmatis. Dan itu artinya ia tak terlalu repot dengan ideologi ataupun prinsip.
Barangkali kata yang paling dekat untuk menjelaskan fenomena khas Jepang ini ialah ‘kesetiaan’. Kesetiaan itu terjalin dalam hubungan antara pemimpin dan pengikutnya. Dengan kata lain, ikatan pribadi begitu penting.
Ada yang mengecam kehidupan politik macam itu sebagai satu penerusan dari masa feodal lampau. Di masa yang telah lewat itu, para hamba sahaya bergabung di bawah seorang tuan: para samurai mengabdi kepada seorang shogun, pribadi.
Ada pula yang menganggapnya sebagai semacam kemacetan sistem demokrasi yang sebenarnya: partai pada akhirnya selalu dikuasai orang konservatif, dan kehidupan politik pada akhirnya berkisar pada kehidupan tokoh-tokoh.
Lagi pula, bukankah ketidakkompakan yang terjadi karena itu bisa merusak? Tidakkah partai lebih sering digiring oleh oportunisme, dan tak ada perekat ideologis yang mempertautkan faksi yang berpecah-pecah?
Pada akhirnya, kita tahu, ada hal-hal yang berguna dalam ketidakkompakan Partai Liberal-Demokrat. Yang pertama ialah guna kehidupan demokrasi itu sendiri. Partai itu untuk masa yang akan datang nampaknya tetap akan jadi partai yang memerintah. Seandainya ia utuh bersatu, ia mungkin sekali jadi otoriter.
Pemimpinnya, sebagai Perdana Menteri Jepang, bisa bersifat diktatorial. Ketidakkompakan atau fasionalisme dengan demikian jadi semacam penangkal sikap otoriter oligarkis yang bisa terjadi.
Kedua, betapapun juga habatsu itu merupakan peluang untuk khalayak ramai yang ingin mengemukakan ide mereka, usul mereka dan rencana mereka. Dengan demikian cukup tersedia alternatif lain dalam tubuh partai yang memerintah. Sebab ketika partai-partai oposisi begitu lemah, saluran yang paling efektif hanya lewat unsur-unsur dalam partai yang berkuasa yang tidak satu warna.
Memang, dapat dibayangkan bahwa ide atau usul dari pelbagai suara di bawah itu pada akhirnya akan disaring, dan mungkin ketajamannya hilang.
Tapi demokrasi agaknya harus menghargai keniscayaan kompromi. Demokrasi juga — dengan demikian — harus menerima perbedaan.”
“Salahkah ketidakkompakan, Paklik?”
“Di Partai Liberal-Demokrat di Jepang jawabnya ialah tidak selalu. Kita mungkin perlu tahu bagaimana jawabnya di di tempat lain: di Indonesia, di ranah blog …”
Malam semakin larut di rumah Paklik Isnogud. Saya pun mohon diri dengan segudang pertanyaan yang terus berkecamuk di kepala.
>> Selamat hari Rabu, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean sudah merasa kompak dengan siapa pun?
Juli 16, 2008 pukul 8:52 am
sesekali oposisi gk papa pakde
biar gayeng
Juli 16, 2008 pukul 8:58 am
emang lebih enak jadi oposisi, tinggal mengkritik aja.
misale BBM dinaikkan, ikut protes, padahal dulu pas dia jadi nonoposan, juga menaikkan BBM
hanya contoh
Juli 16, 2008 pukul 9:00 am
Ah, di Indonesia ini oposisi hampir gak ada bedanya dengan yang memerintah kok… Ketika si oposan akhirnya dapet giliran memerintah, kebijakannya ya sami mawon
Juli 16, 2008 pukul 9:04 am
Oposisi itu rumusnya gampang. Kebijakan = anti kebijakan. Dukungan = Kritikan. Klo rumus umumnya seperti ini;
N = - N
Juli 16, 2008 pukul 9:14 am
oposisi kan berada di seberang. kalo orang yang di seberang itu teriak (meskipun jumlahnya sedikit) akan ditoleh oleh orang, akan mendapat simpati, kemudian musnah tidak berarti
Juli 16, 2008 pukul 9:19 am
Saya dah merasa kompak dengan kasur.
Juli 16, 2008 pukul 10:25 am
Mau nyaleg ya ndoro?
Juli 16, 2008 pukul 10:36 am
Pokoknya mbela siapapun selain yang berkuasa, pasti terkenal
Juli 16, 2008 pukul 11:26 am
konflik itu biasa, yang penting ngopi bareng isek kepenak
Juli 16, 2008 pukul 11:35 am
kalo blogger ama RS ituh sapa yang oposisi ya?
Juli 16, 2008 pukul 11:46 am
Thonxxx:: menyebalkan semuanya, duh gusti sampai kapan bangsaki menjadi bangsa dagelan.
Juli 16, 2008 pukul 11:53 am
and an opponent can indeed be so inspirational! ha!
Juli 16, 2008 pukul 11:58 am
oposisi perlu, seperti halnya ada kiri dan kanan
Juli 16, 2008 pukul 12:01 pm
wah mau jadi oposisi kah ndoro?
menag harus ada 2-2nya sebagai penyeimbang dalam pemerintahan
Juli 16, 2008 pukul 12:06 pm
kayak pernah denger kata ‘oposisi’……….
Juli 16, 2008 pukul 1:05 pm
kalo beda gitu, di negara kita biasanya diselesaikan dengan cara mbikin partai baru. hahahahaha…
Juli 16, 2008 pukul 1:28 pm
oposisi = opo ( apa ?) sisi = sisi ( perspektif )
= selalu mempertanyakan perspektif yg lain.???
halah…mekso
selamat hari rabu, ndoro…
sy dah kompakan sm cem-ceman hari ini.
Juli 16, 2008 pukul 1:40 pm
ganbatte kudasai aku ra weruh jawane
Juli 16, 2008 pukul 1:48 pm
asal jangan jadi oposisi istri orang aja ndoro.. wkwkwk
Juli 16, 2008 pukul 1:59 pm
ingat2 klo sudah jadi opsisi yang sukses ya ndoro, jangan sampai berulah bahkan kepergok sama psk apalagi menerima uang sumbangan pihak ketiga …
Sip selamat hari rebo kliwon , saya mencoba kompak dengan tukang nasi dekat rumah
Juli 16, 2008 pukul 2:35 pm
MnurutQ jg lebih enak jadi oposisi..
Juli 16, 2008 pukul 2:58 pm
Panjang Ndoro…
Juli 16, 2008 pukul 3:01 pm
Ada pemilihan umum untuk jadi oposisi?
Juli 16, 2008 pukul 3:11 pm
kritik diperlukan untuk membangun katanya pak dhe
tp apa iya itu terjadi klo diterapkan di indonesia
bangsa ini klo di kritik dianggapnya menghina
Juli 16, 2008 pukul 4:04 pm
Ndutz masih mikir dalam kehidupan Ndutz manah yg bisa diterapkan dengan idealisme ini
*halah
Juli 16, 2008 pukul 4:37 pm
ahhhhh 2 hari ini saya bertanya sesuatu dan menemukan jawaban nya disini..
Juli 16, 2008 pukul 4:45 pm
Tidak ada oposisi, tidak selalu bisa seimbang. Ada oposisi, selalu ada yang bisa digebuk.
Salam kenal:)
Juli 16, 2008 pukul 5:01 pm
iso.ku komentar -kyk yg dilakukan skr-
,jd ku kykny lbih cocoG
oporayamOposisiWis to, cocog karo regane endhoG. . .
Juli 16, 2008 pukul 5:45 pm
nah kalo Oplosan di Jepang juga ada ndoro? kalau di sini kan (misalnya) ada yang menjadi Oposisi terhadap kenaikkan BBM ada juga yang menjadi pengecer Oplosan BBM.
hihihi…
Juli 16, 2008 pukul 6:24 pm
oposisi perlu loh dalam demokrasi…
Juli 16, 2008 pukul 6:26 pm
jadi oposisi karena kalah aja dalam pemilu, kalau nggak kalah mah nggak bakalan jadi oposisi ……
Juli 16, 2008 pukul 7:22 pm
Yang jelas kita berdua selalu kompak bukan ndoro?…
Juli 16, 2008 pukul 7:32 pm
saya lebih memilih ‘keragaman’ dari pada ‘ketidakkompakan’ , dan memang keragaman perlu ndoro, klo semua orang kompak, gak idup donk hidup, klo semua orang melakukan dan memikirkan hal yang sama =D. Ranah blog saya rasa juga penuh dengan keragaman, dan itu yang bikin blog itu menarik bukan ?
Juli 16, 2008 pukul 9:39 pm
Indonesia, banyak menghasilkan kaum revisionis daripada kaum revolusionis.
Juli 16, 2008 pukul 9:46 pm
saya cuma bisa bilang salam kenal dari bandung
http://esaifoto.wordpress.com
Juli 16, 2008 pukul 10:25 pm
untung saja di Indonesia gak diterapkan oposisi
Juli 16, 2008 pukul 11:35 pm
salam kenal dari saya
saya baru buat blog baru jadi tolong bantuan dan bimbinganya
Juli 16, 2008 pukul 11:54 pm
kalau dikaji OPOSISI dari kata jawa Opo dan Sisi, OPO artinya apa, SISI artinya bagian berarti OPOSISI artinya = opo bagianku
kalau di pisah O = keheranan terhadap sesuatu, cntoh = ooo, ayu to.
posisi = tempat dimana sesuatu berada. jadi oposisi berarti kehewanan terhadap tempat dimana ia berada, alias tidak punya tempat alias bingung…
Juli 17, 2008 pukul 12:14 am
mungkin karena gagal jadi oposan, mangkanya banyak orang lantas bikin oplosan… *halah*
Juli 17, 2008 pukul 8:04 am
Walah beritanya kok sulit to Ndoro. Yang mudah-mudah aja, biar tukang becak, pembantu, dan kuli kayak saya ini bisa memahami.
Dulu waktu kecil saya biasa baca Tempo dan paham. Sekarang sudah (maaf) sarjana baca Tempo malah mumet, gak mudeng.
Juli 17, 2008 pukul 8:18 am
Setuju
Rumus yg bagus bro …
Ndoro, kalo di Indonesia saya melihat 2 hal:
1. Para elite egonya kuat sekali, beda dikit sama yg memimpin partai ngambek bikin partai baru. yg mimpin juga sama begitu kalah singkirkan, buang!
2. Para elite partai bilang bikin partai untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Opo iya? Bukan sebaliknya utk memperjuangan kepentingan masing2, rakyat hanya dijadikan ‘tumpangan’. Jika benar tentunya nyusun program kerjanya, milih tokoh-tokohnya dilakukan secara terbuka mulai dari bawah (rakyat) baru naik ke atas, bukan sebaliknya ditetapkan dr ‘atas’ baru ‘jualan’ ke rakyat.
Gimana Ndoro?
Juli 17, 2008 pukul 9:17 am
Yang anggota DPR nya gebuk-gebukan waktu sidang itu Jepang bukan ya?
Juli 17, 2008 pukul 2:12 pm
Oposisi terlindung dalam semangat mayoritas, sekaligus tenggelam dalam stagnansi (mungkin), yang tidak banyak merubah diri.
Juli 17, 2008 pukul 9:06 pm
Kenapa ya pakde, aku selalu merasa si beringin itu habis-habisan meniru LDP ..? sampe pada penerapan Market-Oriented Party yg baru2 ini diumumkan itu Pakdhe…
Juli 24, 2008 pukul 10:43 pm
waduh… ndak tertarik ikut2 partai politik. mending jadi pengusaha… kalo banyak duit tinggal mencalonkan diri jadi presiden