Jalan di depan rumah saya memang satu arah. Pengguna jalan hanya boleh melintas dari barat ke timur. Mereka yang melanggar, jika tepergok pak polisi, ya kena tilang.
![]()
Begitulah yang terjadi siang itu. Ketika sedang menanti taksi yang hendak membawa saya bandar udara, tiba-tiba sepasang polisi memepet pengendara sepeda motor persis di depan rumah saya. Polisi lalu meminta surat-surat si pengendara sepeda motor itu.
Apa kesalahan si pengendara motor?
Rupanya dia melaju dari timur ke barat, alias melanggar aturan satu arah yang berlaku di jalan depan rumah saya.
Samar-sama saya mendengar percakapan antara polisi dan pengendara sepeda motor itu. Rupanya pengendara sepeda motor itu meminta maaf atas kesalahannya seraya menjelaskan bahwa dia sebetulnya warga di jalan itu.
Ajaib. Pak Polisi itu ternyata memaafkan dan membiarkan pengendara sepeda motor melanjutkan perjalanan tanpa kena tilang. Tak lupa polisi itu wanti-wanti agar pengendara sepeda motor hati-hati di jalan.
Dalam hati saya bertanya-tanya, mengapa pak polisi begitu baik hati? Apakah memang polisi di Yogyakarta pada umumnya baik? Apakah peraturan itu tak berlaku untuk warga setempat?
>> Selamat Senin malam, Ki Sanak. Apakah sampean pernah bertemu polisi yang baik hati?
Agustus 11, 2008 pukul 10:58 pm
mungkin karena itu bukan jalan protokol
Agustus 11, 2008 pukul 11:02 pm
Jadiingat lagu kang Iwan:
“Tawar-menawar,… harga pas, …tancap gas…”
Ada adegan itu ndak, ndoro
Agustus 11, 2008 pukul 11:38 pm
kok baik bgt sih….. tanya kenapa?
Agustus 11, 2008 pukul 11:39 pm
@Kardjo: melihat Jogjanya kok kayaknya ndak ada harga pas gitu.. gratis..:)
Saya pernah ketemu polisi yang baik hati, kemarin jumat di prapatan ring road - jakal sedang membantu menyeberangkan si buta…
Agustus 11, 2008 pukul 11:41 pm
kayaknya orang yg ditilang, ternyata anaknya komandan si pak polisi
*jadi balik nilang*
Agustus 11, 2008 pukul 11:56 pm
kemarin saya niat membuntuti pulisi dines malam yang nyari mangsa, tapi lampu belakangnya ga nyala. harusnya dia nilang dirinya sendiri. kampret sialnya ga dapat potonya, syit!
Agustus 12, 2008 pukul 12:14 am
Hongib yang kayak gitu sewu siji ndor…
Tp saya salut buat mereka yang bersih
Agustus 12, 2008 pukul 12:26 am
soalnya pak polisi takut,.. ibu2 di foto udah siap pentungan
Agustus 12, 2008 pukul 1:30 am
di Jogja, toleransi adalah ketika tidak ada yang menabrak..
Agustus 12, 2008 pukul 1:47 am
polisi yg berbudi mulia? Ato pengendara yg beruntung? Terserah kisanak saja.
Agustus 12, 2008 pukul 2:44 am
Dan malam ini sang polisi membuka internet dirumahnya, dalam hati dia berkata “tuh kan beneran yang tadi diseberang adalah ndoro lelaning blog….untung siang tadi ndak macem-macem saya, bisa jadi pergunjingan buruk di blog ini”
huehehehehe
Agustus 12, 2008 pukul 3:08 am
Saya jadi ingat sewaktu itu menonton acara tentang polisi yang enggan menulis surat tilang. Hukuman yang sering dia berikan kepada pelanggar tata tertib adalah dengan cara membuang kunci mobil ke selokan atau ke atas truk. Pokoknya dibuat sedemikian rupa sehingga sang pengemudi kapok dan pengalaman menerima hukuman tersebut teringat sepanjang masa. Kadangkala perbuatan baik dari polisi lebih kental untuk diingat dibandingkan dengan hukuman berupa uang.
Agustus 12, 2008 pukul 6:35 am
mungkin pak polisinya tetanggaan, masih satu propinsi.
Agustus 12, 2008 pukul 7:30 am
kenapa baik hati? lha kok sampeyan heran ada polisi baik hati? memang begitu kan?
Agustus 12, 2008 pukul 8:22 am
mungkin masih sodara kali, Ndoro ;))
Agustus 12, 2008 pukul 8:28 am
Lha, di mana-mana polisi juga pasti tiba-tiba jadi baik kan kalau di dekatnya ada wartawan…bawa kamera pula!
Agustus 12, 2008 pukul 8:34 am
Mau tanya alamat mungkin polisinya ndoro…..
Agustus 12, 2008 pukul 8:36 am
tuh polisi kali aja udah pernah baca postingan ndoro tempo hari :Pelanggaran Pecas Ndahe. Jadi dia takut untuk bikin ulah lagi. Apalagi ngeliat Ndoro bawa2 kamera.. waahhh keder dia
Agustus 12, 2008 pukul 9:23 am
Wah, ini pasti pasti karena ada Ndoro…
mbawa kamera lagi…
**pengen terlihat baik ON eta mah**
Agustus 12, 2008 pukul 9:24 am
Motor yah? Pagi ini saya juga udah ribut karena tetangga saya ribut-ribut perkara kecelakan motor, anaknya yg SMA dituduh menabrak seseorang yg mengaku anak si tertabrak di sebuah jalan di warung bambu-, karawang. Sang anak yg juga anak didik privat les english saya tidak terima karena ia merasa terfitnah, justeru dia-lah yang menolong si korban, sementara sang penabrak yg kaburlah yg sesungguhnya telah melemparkan kambing hitam.
Celaka, batin saya. Melihat wajah jujur anak tetangga saya, saya pun turut campur, maklum pagi tadi ayah sang anak tidak ada di rumah sehingga sayapun terpaksa turun tangan untuk mengusir sang penuntut yg konon anak sang tertabrak.
“Jika benar anak kami yg menabrak ibu situ, kami bersedia mengganti pengobatan sang korban, tolong anda datang lagi nanti setelah ayah anak ini sudah pulang. Kalo perlu kita selesaikan secara hukum.. jika benar anak kami yg menabrak biar polisi yg menentukan, jika ternyata salah, maka kami akan balik menuntut anda..!!
Ternyata saya bisa menggertak juga. Sambil melirik kurang suka terhadap saya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, sang penuntut yg mengaku anak korbanpun beranjak memutar motornya dan pulang setelah saya katakan alamat kami jadi jaminan.
Fiuh.. mudah-mudahan cerita ini ada perkembangannya esok..sehingga ada bahan nge-blog lagi..
“Halo pak polisi warung bambu..? Ada yg baca tulisan ini..?
klik ini utk melihat: video terbaru saya..
Agustus 12, 2008 pukul 9:35 am
adaapa diselipan surat2 motornya tuw….kalau ama pulisi, kudu tetap bermuka manis sambil mengangsurkan kedamaian dalam lipatan surat2 kendaraan…kalau pake muka ndongkol…hiks…belum nyoba :p
Agustus 12, 2008 pukul 9:40 am
fiuh, pengendara motor yang beruntung
Agustus 12, 2008 pukul 9:44 am
Mohon maap, anak buah saya lalai. Harusnya semua pelanggaran ditindak. Namanya juga polisi, lalai adalah hal biasa. Sama kayak waktu ayin mainin hp di dalam tahanan. Maklumlah lha saya pernah poto bareng je!
Wuakakakak…
Agustus 12, 2008 pukul 9:55 am
lho polisi kan ga boleh langsung represif
Agustus 12, 2008 pukul 10:06 am
tumben pak polisinya baik
loh kok “tumben” emang biasanya gimana? hehehehe
Agustus 12, 2008 pukul 10:21 am
polisi itu anomali seperrtinya
Agustus 12, 2008 pukul 10:29 am
Mungkin keliatannya sang kutilang ndak punya uang…
Agustus 12, 2008 pukul 10:36 am
wah tumben..
tanya kenapa?
Agustus 12, 2008 pukul 10:37 am
Baru tgl 12, jadi belum perlu uang kali ndoro ;))
Agustus 12, 2008 pukul 10:44 am
Kan warga situ, jadi gak bawa dompet
Agustus 12, 2008 pukul 11:05 am
saya juga pernah alami hal serupa. waktu dr bantul kan ada razia. saat itu kan wajibnya pengendara motor pake 2 spion standard, tapi ada pengendara yg hanya pake 1 spion di kiri. Pak polisi bilang ” Mas, besok spionnya dipindah ke kanan ya…” …. baik bener ya….
Agustus 12, 2008 pukul 11:38 am
Lho, Ndoro rumahnya di situ tho? Lha tiap hari lewat dong saya …
Agustus 12, 2008 pukul 12:13 pm
itu di jalan apa ya?
Agustus 12, 2008 pukul 2:07 pm
…ditilang?? pernah
…uang damai? pernah
…jadi polisi? ga ahhhhh…
Agustus 12, 2008 pukul 2:08 pm
….oya ada yg kelupaan, ntar lain kali saya aplod rekaman negoisasi sama polisi.:-)
Agustus 12, 2008 pukul 2:41 pm
polisi baik hati? emang ada?
Agustus 12, 2008 pukul 3:43 pm
Saya selalu ketemu polisi baik ya. Pernah pas ada razia, semua motor dihadang untuk kenalan, saya yang saat itu sedang boncengin bekas pacar dan bawa anak di depan gak di stop. Sampe 3 kali malah. Disitu-situ juga, jalan dekat setu ke arah pemda cibinong.
Agustus 12, 2008 pukul 3:48 pm
Andai semua polisi baik hati, pasti pelanggaran merajalela dimana-mana
Agustus 12, 2008 pukul 4:10 pm
munkin takut sama ndoro yang lagi bawa poto ..
Agustus 12, 2008 pukul 4:14 pm
kalo di jakarta namanya polese,
di jogja namanya mpolosi,
di arab namanya folisi,
aneh yah…hahahahahahha….
Agustus 12, 2008 pukul 4:38 pm
itu diskriminasi bukan, ndoro..?
Agustus 12, 2008 pukul 4:44 pm
sebelumnya tuh polisi udah tau kalo lagi di liatin ma ndoro…takut di posting beritanya…eh ternyata beneran wakakakak….
Agustus 12, 2008 pukul 7:55 pm
kemarin sya yang digertak pak polisi ndoro….
untung bisa kabur.
Agustus 13, 2008 pukul 5:30 am
Berapa ya gaji polisi dan tunjangannya di negara yang ideal menurut panjenengan? Ada yang tahukah kisanak???
Agustus 13, 2008 pukul 9:28 am
Eh ternyata yang ditilang itu ortu cewe polisinya…pantes baik bangeeet..:$
Agustus 13, 2008 pukul 11:59 am
baca komen nya alle :
huahaahahahahaha..iya tuh..kyknya takut ma ibu2 itu ndoro….hihihihihihi….
Agustus 13, 2008 pukul 1:24 pm
btw rumahnya dimn to? kyk pnh liat disekitar LPP jlan solo atau di sekitar purawisata..?
Agustus 13, 2008 pukul 5:32 pm
Yahh, kalo yang kayak gini mahhh dah gak heran ndoro, dah jamak banget.
Dulu pernah tuh ndoro saya di daerah senayan, polisinya sepertinya tidak ada, trus udah lampu KUNING… dan saya sedang terburu2… DAn seprtinya gak ada polisi yg jaga didaerah sana siang2 gini… “hmm, pada makan siang kaliii”
Saya pikir, gapapa deh… masih ada beberapa detik, masih kuning ini, belum merah… Ehhhh, ternyata saya salah perhitungan… Tahu2 ada polisi menggunakan motor “CHIPS” wannabe… yg mengejar saya dan memberhentikan mobil saya…
Pas dia tanya mbak tahu kesalahan mbak… dengan memelas saya menajwab, “Maap pak, saya gak liat”… Polisi nanya, “Gak liat kalo lampunya udah kuning?… mo merah???”
Saya bilang, “Enngghhh, enggak pakkkk, Saya gak liat tadi bapak ada dimana…”, Trus dia bilang…”Jadi kalau saya gak keliatan, anda mau seenaknya nerobos lampu merah?”
“Ih, itu khan tadio masih kuning pak”
“tidak bisa mbak. Coba saya lihat STNK anda…”
Nahhh, ini yg saya tunggu2 kok dari tadi… kasih lihat… trus menikmati matanya terbelalak sebentar, mulutnya menganga, lalu bilang sama saya,
“Eng.,.. INI KARTU NAMANYA siapa mbak, Errr… maksud saya apanya Embak… ”
“Ohh, itu Adik Papa saya, silahkan pak kalo mo ditilang, nanti biar paman saya aja yang ngeluarin, Saya udah deket ini… cuma mo kesenayan kok, TILANG AJAH… ”
Lahhh, dengan tersipu2 malu dia bilang, “Gak usah mbak, bawa aja… TAPI LAIN KALI HATI2 yach… bahaya loh nembus lampu kuning gitu”
Baik Pak, Makasih banyak pak, saya pergi dulu…
Dan saya segera ngacir… tanpa menoleh lagi. hakahakhakahakhakahak..
Anyway…
Soal kartu nama itu… SUMPAH MAMPUS, GUE GAK KENAL SAMA YG PUNYA KARTU NAMA… gak sengaja saya nemuin kartu nama itu di dompet papa saya… trus saya ambil aja, taruh di STNK… buat “JAGA-JAGA”, hakahakahakhakahakahakahak…
Agustus 13, 2008 pukul 5:54 pm
Semoga makin banyak polisi yang baek hati. Asal tetap tegas menjalankan tugas aja tapinya, tapi susah pastinya…
Agustus 14, 2008 pukul 8:17 pm
saatnya memberi sedikit apresiasi pada polisi–
Agustus 15, 2008 pukul 1:15 am
ternyata polisinya juga orang sekitar situ ndoro… wkakakakak,,, ngacir…..
Agustus 15, 2008 pukul 2:12 pm
Takut ndoro. Polisinya takut kena keroyok orang sekitar. Kan kalo keroyokan dia tetep kalah. Lha wong cuma sendiri. Kali aja yg ditilang ketua preman situ. Biar kata polisi, pasti takut lah.
Agustus 16, 2008 pukul 10:15 am
Kesalahan kecil ga pa pa lah
Agustus 19, 2008 pukul 6:17 pm
@silly
Kartu nama siapakah itu?
Kartu nama nDoro ya?
Agustus 19, 2008 pukul 6:45 pm
[...] identitas pemilik tempelan di pantat motor ini juga diduga mampu mengamankan urusan “tilang menilang” di jalan [...]
Agustus 19, 2008 pukul 9:48 pm
Huadoh, pak. Orang lagi sial malah difoto..
Di daerah rumah saya juga begitu.
Ada rambu-rambu dilarang belok kanan, tapi malah pada belok kanan.
Alasannya sama, biasanya yang berani belok kanan itu penduduk sekitar — termasuk saya. Haha!, jadi ngerasa ngga enak.
Agustus 26, 2008 pukul 2:07 am
jadi inget pengalaman jaman dulu. kna tilang gara-gara ngelanggar verbooden. stnk di bawa ama pak plokis. gw uber mpe kantor plokis. gw disuruh masuk ke ruangan. di tanyain macem-macem. cerita kalo gw nak fak. hukum. terakhirnya dimaafin. cuma di bilang jangan di ulangin lagi. heE,, beruntungnya dirikuw ini