Lompat ke isi

Rembulan Pecas Ndahe

Agustus 22, 2008
oleh Ndoro Kakung

Perempuan itu bermata rembulan. Hangat dan meneduhkan. Parasnya setenang Danau Kelimutu. Aku bertemu dengannya di tepi pagi yang getir. Selepas purnama kelima di tengah musim semi.

Tubuhnya wangi melati. Senyumnya segar tomat ranum. Rambutnya gelap malam tanpa bintang. Langkahnya seriang kupu-kupu di taman bunga.

Ia tengah berlawalata menyusuri sepi saat kami bersua. Kami lalu berbincang ringan di pojokan lapangan rumput, di atas bangku kayu mahoni. Di atas, kulihat langit biru tebal. Awan menggeletar jemu dikalang angin selembut beludru.

Aku ingat, perempuan itu duduk setelah meletakkan secangkir kembang warna-warni di atas meja. Sekilas kulihat ada roncean mawar hutan di kepalanya.

“Mari, temani aku duduk di sini melewati sunyi,” ia meminta.

Aku mengangguk, dan duduk di sampingnya.

Ia mendesah perlahan sebelum membuka mulutnya. Sebentar saja. Kalimatnya segera mengalir lancar seperti deras Sungai Mahakam. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah matahari pagi. Setiap dengus napasnya menari bagaikan rama-rama senja.

Perempuan nirwana itu berkisah tentang padang savana dan seorang satria yang bertualang di atas pelana kuda. Jalannya gontai dibalut layu. Lesi. Luyu. Sayu. Satria itu berkelana di antara kelimun sengkarut. Setiap jejak kakinya berkelindan dengan badai.

Aku mendengar setiap kata yang keluar dari bibir merah gulalinya dengan gulana tak terperi. Kubayangkan lelaki itu telah mengarungi lima benua, tujuh samudera, berpuluh-puluh tundra. Ia mungkin pernah menginjak dan terpelanting di atas hamparan lumut hijau.

Adakah dia berkawan? Adakah beban membolot kakinya? Apakah lukanya teruk?

Perempuan itu tak menjawab. Ia malah memamerkan gigi seputih susu dalam senyumnya yang terkembang selebar layar pinisi.

“Satria itu ada di tubir nasib yang telah dipahatkan atas dirinya. Ia meronta. Tapi, hidup tak melulu seperti dalam fabel,” begitu perempuan itu berkata.

Hidup mungkin seperti kawah yang menggelegak riuh. Penuh justa dan nista. Ketika di dalamnya, barangkali kau terluka. Kadang perih tak tepermanai. Sesekali kau tumbang.

Tapi, usahlah engkau semak hati, Tuan. Kuatlah seperti baja. Teguhlah seperti karang. Jangan biarkan roda kehidupan menggilas hatimu yang gamam.

Bangkitlah. Jadilah saga. Taklukkan dunia. Seperti sang satria. Sebab, ketika matahari berselingkuh dengan hujan dan melahirkan pelangi, selalu ada aku di ujung cakrawala.

Sedetik setelah mengucapkan kalimat itu, perempuan bermata rembulan itu berdiri, membungkus kepalanya dengan mafela kesumba, dan berlalu. Aku tergugu dalam bisu seperti menelan biji duku.

Ketika sadar, aku pun berteriak, “Tunggu. Tunggu dulu. Jangan kau pergi dulu, Puan,” pintaku. “Aku belum mengenalmu. Siapakah gerangan dirimu? Siapa namamu?”

Perempuan itu menghentikan langkahnya. Menoleh. Lalu tersenyum. Dia mengulurkan tangan, mengajakku bersalaman.

“Perkenalkan, namaku harapan.”

:: untuk semua perempuan yang telah mengguyurkan keteduhan dan memberi saya gagasan dalam diam.

>> Selamat hari Jumat, Ki Sanak. Apalah hari ini sampean sudah menemukan seorang perempuan hebat?

65 Komentar leave one →
  1. Agustus 22, 2008 12:56 am

    Pertamaxx !!!!
    belum !! belum dapat wanita hebat, padahal setiap harinya aku selalu mencari-cari tapi belum diketemukan !!
    wahai wanita hebat dimanakah engkau bersembunyi !!

  2. Agustus 22, 2008 1:20 am

    Semoga saja hari ini aku bisa bertemu dengan nya.

  3. Agustus 22, 2008 3:17 am

    pernah ndoro…
    beberapa tahun usang dahulu…

  4. yudhi tautan tetap
    Agustus 22, 2008 3:29 am

    wakakakakkakakakakkaa

  5. Agustus 22, 2008 5:23 am

    Waaa… banyak dapet kosakata baru, ada yang tau di mana cari KBBI online ga ya?

    sampean bisa buka kamus di sini.

  6. Agustus 22, 2008 5:33 am

    hemm…

    aku udah!!

  7. Agustus 22, 2008 6:13 am

    lha, saya perempuan hebat. *nyisir rambut*

  8. Agustus 22, 2008 6:18 am

    he..he…he…ada telepati kayaknya nih…aku belakangan ini sedang mikirin Pandora…
    Tapi bahasanya indah mendayu-dayu, cuma sempat tersenyum juga membaca “Ia malah memamerkan gigi seputih susu dalam senyumnya yang terkembang selebar layar pinisi.” he..he..he…pinisi yang berlayar jauh biasanya layarnya lumayan compang-camping kayaknya…tapi delima merekah juga tampaknya tidak seindah senyum selebar pinisi terkembang…he..he..he…

  9. Agustus 22, 2008 6:45 am

    saya sudah

  10. Agustus 22, 2008 7:22 am

    *kok jadi deg2an ya*
    i found it in my own ndoro :D
    Happy friday!!

  11. Agustus 22, 2008 7:23 am

    ThinxXX: ini ndoro posting yang aku tunggu selama setengah putaran bumi.

  12. Agustus 22, 2008 7:40 am

    puitis banget, keren!
    sudah sering ndoro, meski belum pernah sekalipun menyapanya. :(

  13. Agustus 22, 2008 8:21 am

    sudah, ndoro

  14. Agustus 22, 2008 8:35 am

    Wahh.. Bener2 kosakata rumit banget..
    Akankah harapan mau menyapaku?

  15. Agustus 22, 2008 8:40 am

    “Sebab, ketika matahari berselingkuh dengan hujan dan melahirkan pelangi, selalu ada aku di ujung cakrawala.”

    Selingkuh memang bisa menciptakan keindahan dan harapan ya :D

  16. Agustus 22, 2008 8:40 am

    Pengrajin kata yang penuh daya bius. Mempesona.

  17. Agustus 22, 2008 9:00 am

    salam
    Ah aku selalu menyukai dan mencintai harapan

  18. Agustus 22, 2008 9:05 am

    seperti aini ketika berlari dan terjatuh, lututnya lecet dan berdarah. kataku, menangis tak apa-apa, tapi segera bangun. jatuhmu yang membuat lututmu berdarah, akan membuat lutut dan kulitmu sekuat baja.

    oiya, kalo saya kung, sudah nemu lelaki hebat :) )

  19. Agustus 22, 2008 9:08 am

    ehem … melankolis dan mengurap rasa, selamat hari jumat juga ndoro…

  20. Agustus 22, 2008 9:08 am

    Sudah pernah ke Danau Kelimutu Ndoro?? :)
    danau itu memang terlihat tenang sekali dibalik 3 warnanya, tapi sesungguhnya danau itu menyimpan sejuta misteri.

    Selamat hari Jumat juga Ndoro, ah…saya sudah menemukan perempuan yang hebat Ndoro :)

  21. Agustus 22, 2008 9:17 am

    saya sudah ndoro!

  22. Agustus 22, 2008 9:21 am

    :) ibu saya perempuan hebat, ndoro!

  23. Agustus 22, 2008 9:24 am

    makasih lho, ndoro. saya tidak menyangka gara-gara meeting kemarin ndoro jadi terinspirasi menulis ini. hihihihih. *kaburrrr cepat-cepattt*

  24. Agustus 22, 2008 9:36 am

    pacar saya sudah

  25. kontring tautan tetap
    Agustus 22, 2008 9:44 am

    Adakah beban membolot kakinya? Apakah lukanya teruk?

    wow… apa pula itu artinya?
    bolot=pendengaran kurang?
    teruk=parah?

    wah hrs belajar bhs indon lg niy

  26. Agustus 22, 2008 10:00 am

    waduh. jadi inget SRI-ku .. hiks nang balio SRI nang muliho :( (

  27. Agustus 22, 2008 10:12 am

    haduh..saya jadi puspas bacanya :)

  28. Agustus 22, 2008 10:14 am

    lokasinya di alun-alun utara yaks :D

  29. Agustus 22, 2008 11:26 am

    Saya beruntung, Ndoro. Dah dapat … alhamdulillah

  30. Agustus 22, 2008 11:54 am

    *menerawang jauh kedalm pikir dan hati*

  31. Agustus 22, 2008 1:19 pm

    hmmm .. 7 samudera?
    cuma ada 5 ndoro, samudera pasifik, atlantik, hindia, arktik, dan selatan ;)

  32. Agustus 22, 2008 1:21 pm

    Sudah 11 tahun yg lalu saya temukan….dan sekarang ada disamping saya.

  33. Agustus 22, 2008 1:56 pm

    hmm…
    ketika kata terbebas dari makna…
    angan mengelana tanpa rangka…
    kisah nyata jadi ceritera…
    *perempuan: selalu saja asyik untuk dituturi…*
    ThinxXX: ini ndoro posting yang aku tunggu selama setengah putaran bumi.
    —>ada yang tertarik menemukan siapa Satria dan Rembulan? Temukan Jawabnya di Cerpenista! Yuk…!

  34. Agustus 22, 2008 2:27 pm

    nyuruh siapa lagi ya buat komen?
    *bingung*

  35. Agustus 22, 2008 2:56 pm

    Perempuan hebat? Ngga nemu Ndoro, yang saya temukan hanya wanita terhebat. Wanita yang punggung tangannya kucium tadi pagi, Ibuku.

  36. Agustus 22, 2008 3:15 pm

    duh…bahasinya bagus benjet………….kwerenz…….

  37. Agustus 22, 2008 3:22 pm

    pernah… tadi pagi pas bercermin ;)

  38. Agustus 22, 2008 3:26 pm

    Alhamdulillah sudah ndoro walopun lum resmi :p

  39. Agustus 22, 2008 3:26 pm

    wonder women di manakah dirimu? *loh?*

  40. Agustus 22, 2008 3:28 pm

    setiap saat ndoro…saya! :d

  41. Agustus 22, 2008 4:04 pm

    Diantara warna-warni gemulai… pengguyur keteduhan, adakah warna istimewa nan bermakna… dan meneduhkan hingga merasuk sukma?

  42. Agustus 22, 2008 4:09 pm

    …ntar ndoro, aq ambil kamus dulu

    ..ngacir ke perpustakaan :-)

  43. Cak Uding tautan tetap
    Agustus 22, 2008 5:24 pm

    Ndoro, tulisan sampeyan selalu membuat …. ahhhhhh tak bisa berkata kata…..

  44. Agustus 22, 2008 5:58 pm

    Waduh Ndoro … hiks …

  45. Agustus 22, 2008 7:22 pm

    aaahh.. indah sekali.. ndoro kayaknya udah setingkat nich ma kahlil gibral ^ ^,

  46. Agustus 22, 2008 7:43 pm

    sedang cari…

  47. Agustus 22, 2008 7:51 pm

    kirain pas pertama2 tadi ini cerita horor!
    wekekekek!

  48. Agustus 22, 2008 8:55 pm

    Speechless and hopefully…

  49. Agustus 22, 2008 9:50 pm

    sudah nemu, tadi lagi main sinetron … ooh luna maya ku

  50. Agustus 22, 2008 10:59 pm

    Hanya antara sekira dan sekitar
    Antara saya dan kamu adalah sama
    Dalam rumah yang harum
    Jamah saya, syurgai saya dan inilah jadah saya …

    ah perempuan …. [puisi balasan]

  51. Agustus 22, 2008 11:04 pm

    rasanya saya udah deh… :)

  52. Agustus 23, 2008 12:34 am

    romantis :D

  53. Agustus 23, 2008 12:43 am

    Sudah ndoro, saya sendiri….Hihihihihi…Narsis akut!

  54. Agustus 23, 2008 12:57 am

    Selamat hari sabtu para ndoro dan para kisanak! tdk adakah selain perempun yg kalian temukan hari nanti?

  55. Agustus 23, 2008 2:34 am

    wooowww…good diksi….

  56. Agustus 23, 2008 7:00 am

    rung nemu ndoro. isih nylungsep…

  57. Agustus 23, 2008 12:28 pm

    Of course already ndoro… I’ve found it in… ME, My Self. :D

  58. Agustus 23, 2008 1:50 pm

    sampean membuat hamba terperosok dalam lubang kekaguman, ki sanak…

  59. Agustus 24, 2008 9:38 am

    minta ijin copy pastr ndoro..mau saya print trus saya laminating, saya sertakan mawar putih…..ah, apakah dia yang duduk didepanku pas 17an ituh???

  60. Agustus 25, 2008 1:03 am

    Manteb tnan prosane, sekelas Dee lho…
    Jawaban dari pertanyaan terakhir: BELUM, ndoro. Mbok saya dicarikan perempuan Jakarta yang sexy, metropolis, kosmopolit, tapi masih seneng makan nasi uduk dengan cara dipuluk :D

  61. Agustus 25, 2008 2:58 pm

    ndoro dan kisanak nyaa…

    menyentuhh…

    ndoro , kulo mampir :D

  62. Agustus 25, 2008 5:03 pm

    aih..
    kok sayah diomong2in disini..

  63. Agustus 25, 2008 7:46 pm

    pantesan perasaanku ngga enak..
    kisah yg lama kututupi..
    ah, sudahlah.. hihi…

  64. Agustus 27, 2008 9:02 pm

    :clingak-clinguk: perempuan hebat saiah mana ya??

  65. Agustus 27, 2008 10:22 pm

    wuih…..perempuan bernama harapan….

    HADIRRRR!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS