Mumbai Pecas Ndahe

November 30th, 2008 § 37 Komentar

Peluru tak bermata karena itu dia tak bisa membedakan antara kawan atau lawan. Begitu juga tak setiap bom bisa membedakan anak yang menangis atau bapak yang tengah mencari sesuap nasi. Tak setiap bom membinasakan batas antara yang bersalah dan tak bersalah.

Tapi zaman berubah. Pernah ada masanya, dulu, ketika seorang panglima bahkan melarang para prajuritnya merusakkan pohon-pohon. Yang sipil, tak berdaya, dibiarkan, walaupun mereka di pihak lawan. Yang tak mengangkat senjata dilindungi.

Dan ternyata zaman berubah dengan cepat, dengan ganas, sedih — seperti di Mumbai, Rabu malam lalu. Bagaikan kawanan serigala kelaparan, segerombolan orang bersenjata merangsek sejumlah tempat di jantung bisnis India itu.

Gerombolan itu menyiramkan peluru dan melempar granat. Dalam sekejap jasad-jasad pun bergelimpangan berlumuran darah di lantai restoran, di selasar hotel, di emperan peron stasiun.

Atas nama siapakah mereka berlaku kejam? Agama? Negara? Keyakinan? Teror atau senang-senang belaka?

“India memang negeri yang sedih, Mas,” kata Paklik Isnogud dengan suaranya yang melodius itu seraya melipat koran yang baru dibacanya. “Pertikaian antarumat beragama terus terjadi sepanjang masa.

Dan kita ingat Gora. Dalam kisah yang ditulis Rabindranath Tagore, Gora adalah seorang bayi yang dipungut seorang wanita Brahmin, dan tumbuh jadi seorang yang terlalu yakin. Berapi-api, Gora hanya kenal satu kebenaran: kebenaran Hinduisme.

Di India, Gora mendapatkan tempatnya. Ia adalah contoh seorang yang mengira, bahwa India sama dan sebangun dengan Hinduisme. Bahwa kebudayaan India tak pernah tumbuh dalam kebhinekaan. Bahwa Islam dan Kristen di negeri itu tak bisa diperlakukan sama dengan Hinduisme.

Tapi Gora cuma tokoh novel, dan seperti banyak tokoh novel, ia kemudian menyadari kesalahannya. Tagore membuatnya tiba-tiba tahu: Gora, anak Brahmin yang tampan itu, sesungguhnya dulu seorang bayi berdarah Irlandia. Ia tak murni Hindu, bahkan lebih celaka dari seorang Sudra.

Akhir kisah ini merupakan pesan penting bagi India. Sebab kata Gora, Hari ini aku benar-benar seorang India. Dalam diriku tak ada lagi pertentangan antara Hindu, Muslim dan Nasrani. Hari ini tiap kasta di India adalah kastaku, makanannya adalah makananku.

Tagore, tentu saja, bukan cuma hendak mengumandangkan kesatuan India. Ia juga hendak berbicara tentang kesatuan manusia. Tak ada tempat lain yang lebih cocok barangkali selain India untuk ujian mengenai kesatuan itu — suatu kesatuan yang begitu penting, tapi begitu rapuh.

Mungkin karena itulah India, yang akhirnya harus mengalami banyak bentrokan dan perpecahan karena agama, tak cuma melahirkan Tagore. Dari debunya yang letih dan tua bangkit Gandhi, juga Radhakrishnan.

Apakah jadinya seandainya India tak dipimpin oleh orang seperti Gandhi dan Radhakrishnan? Apakah jadinya jika di India tak ada suara Tagore?

Kita tak tahu. Mungkin sekali India memang tak punya banyak pilihan selain melahirkan tokoh-tokoh besar itu: mereka yang tergetar lebih oleh penderitaan manusia ketimbang kepentingan kaumnya sendiri — mereka yang mengetuk tiap pintu tertutup agar terbuka.

Sebab alternatifnya adalah kehancuran. Kerusuhan yang terjadi sekitar berpisahnya Pakistan dari India — untuk jadi negara tersendiri, berdasarkan satu agama, yakni Islam — adalah contohnya. Ratusan ribu orang jadi korban. Pengungsian. Kekerasan. Tentu saja api dan darah. Dan darah itu masih juga tumpah hingga pekan lalu.

Semuanya bukti bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di celah-celah orang-orang yang datang mempersembahkan diri dalam iman yang berbeda itu. Kadang sumber tenaga yang menakjubkan. Kadang, lebih sering, guncangan yang destruktif.

Lantas kalau kita bandingkan dengan negeri kita ini Mas, apa yang sampean lihat? Apakah kita sudah melahirkan seorang Tagore atau Gandhi yang lain? Padahal negara kita juga sering didera ujian mengenai kesatuan. Dan, kita juga rapuh. Tapi lihat ….”

Paklik Isnogud tak menyelesaikan kalimatnya. Saya tak tahu apa yang ada di benaknya, juga kalimat yang tak diteruskannya itu. Ahad malam kian pengap dan panas …

>> Selamat hari Ahad, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean sudah menikmati liburan?

Tagged: , , , ,

§ 37 Responses to Mumbai Pecas Ndahe

  • VHA mengatakan:

    ^_^

    hari ini saya SANGAT menikmati liburan dirumah dengan TIDUR!!

  • Catshade mengatakan:

    Zaman sekarang, Ndoro, adalah zamannya perang asimetris. Membunuh sesama manusia atas nama kehormatan dan keyakinan pun sudah tidak lagi didasarkan atas semangat kekesatriaan (kirim surat dulu, janjian di suatu tempat dan waktu -apa ini cuma romantisasi sejarah saya saja?)…tapi sudah berlandaskan prinsip ekonomi: yang penting alat dan caranya murah, cepat, dan efisien dengan dampak yang sebesar-besarnya di pihak musuh.

  • waterbomm mengatakan:

    entahlah ndoro, tak dapat berkata-kata..

  • ndebakulsempak mengatakan:

    Saya Hanya pengen damai aja ga ada kisruh :)

  • arya mengatakan:

    Gora-Gora baru ada di berbagai tempat saat ini. dengan berbagai wujud dan latar belakang. dan sayangnya, mereka tak bisa dikendalikan oleh Tagore

  • arya mengatakan:

    eh iya, sama juga dengan saudara tuanya india, pakistan juga negeri yang murung.

  • geRrilyawan mengatakan:

    kita tuh buta semua ndoro…buta sama persamaan apa yang kita punyai. jarang ada yang liat, yag diliat malah beda suku, beda ras, beda agama, beda status sosial, beda semua pokoknya….

    sesuatu yang berlebihan dalam hala apapun menurut saya nggak baik juga…

  • mantan kyai mengatakan:

    saya pilih damai didalam liburan ndor :D

  • dikrezz mengatakan:

    Wahai, wahai. . .
    apalagi yang perlu kalian tangisi dari negeri sungai gangga?

    bukankah negeri yang dikatai ‘kafir’ dan penyembah ‘berhala’ tersebut telah membuktikan kesuciannya dengan melahirkan orang-orang seperti Mahatma Gandhi dan Bunda Theresa…

    Sebaliknya kitalah bangsa celaka, karena sudah merasa lebih suci, mulia dari umat lain lalu tanpa malu menyatakan diri sebagai ‘martir’ tetapi tangan kita penuh berlumuran dengan darah orang-orang yang tidak bersalah. . .

  • antown mengatakan:

    *batal berlibur syuting ke bollywood

  • Epat mengatakan:

    semoga tidak terjadi di negeri ini…

  • Anang mengatakan:

    damai di bumi, damai di langit!

  • ricohsanusi mengatakan:

    hari ahad saya maen futsal ma teman2 lama sekalian menjaga silaturahmi,
    untungnya pertandingan berjalan damai, tidak ada kerusuhan pemain & suporter, damai..

  • Frenavit Putra mengatakan:

    Mendambakan Perdamaian di Atas dunia kita berpijak ini…

  • restlessangel mengatakan:

    dan mnrt berita di media, gerombolan teroris yg sudah menewaskan lebih dr 190 orang, melukai lebih dr 300 orang, membuat berbagai negara kalang kabut, ternyata ‘cuma’ terdiri dr 10-11 orang ??? (unsure)

  • geblek mengatakan:

    liburan yg membosankan weekend ini

  • dana mengatakan:

    Kan di Indonesia ada ndoro.

  • Erm@n mengatakan:

    damai adalah impian setiap orang yang berpikir normal……!!!

  • pecinta Indonesia mengatakan:

    bukankah AS juga menyerang & membunuh ribuan orang di Irak & Afganistan?

    Teroriskah ia?

    jika kita masih mau berpikir jernih dan mempunyai hati nurani.

  • nadvi mengatakan:

    duh padahal saya suka lo nonton film india *gak nyambung*

  • dikrezz mengatakan:

    Masih terngiang ditelinga saya suara Gandhi yang menyampaikan perjuangannya melalui jalan ahimsa (tanpa kekerasan) untuk melawan penindasan kulit putih terhadap kulit berwarna di india atau kalau mau dipersempit lagi penjajah inggris melawan pribumi india. . .

    Dia dengan lantang menolak segala politik balas dendam dengan cara-cara hina yakni pertumpahan darah, dan menggantinya dengan perjuangan rakyat yang lebih
    lembut dan elegan, akhir dari semua itu telah tertulis di buku-buku sejarah Dialah yang menjadi pemenang.

    Namun, seperti kisah para nabi dan orang-orang suci yang terdahulu, iapun wafat oleh para pembenci kedamaian, selongsong peluru menembus raganya, menjemput sang MAHATMA (berjiwa besar) Gandhi, sang martir mulia. . .

    dia telah (sekali lagi) menunjukan syahid itu pada dunia, syahid yang sebenarnya. . .

  • Maximillian mengatakan:

    Jadi ingat dengan Argumentating India-nya Pak Amartya Sen. Dibalik segala kecarut- marutan India, orang di luar mereka melihat ada sejarah besar yang pernah dan akan mereka wujudkan lagi. India selalu punya masalah, namun, masalah itu justru yang membuat “mereka” menjadi besar wujudnya.

  • Nyante Aza Lae mengatakan:

    klo hari libur…apapun yg terjadi, diusahaain deh tuk jalan2 sm keluarga, klo g kapan lg??

  • rezco mengatakan:

    mumbai sodaranya bombay ya ndoro!

  • yanti mengatakan:

    Dalam keadaan seperti ini… ideologi… hanyalah… sebuah alasan…
    Alasan untuk memuaskan nafsunya… nafsu membunuh… nafsu menguasai nafsu balas dendam dan banyak nafsu yang lain…
    Sama seperti sebab-sebab pertikaian lainnya.
    Agar individu-individu tersebut dapat mencapai apa maunya.
    Jika setiap manusia paham dan menjalankan ajaran ideologinya masing-masing.. dapat dijamin… bahwa tak akan ada permusuhan.
    Jadi… sekali lagi… ini bukan salah.. ideologi… tapi salah penganut ideologi.. yang kurang dapat memahami dan menjalankan aturan ideologinya sesuai aturannya masing-masing
    (Waduuuhhhh….. sekali-kali aku boleh serious ya… mbah…)

  • dyhary mengatakan:

    Orang India perlu muter lagunya Nasidah Ria, “Perdamaian”.

  • M4nk mengatakan:

    Merdeka!!!
    *jadi inget iklan yg ntu – obsesi orator – *
    =-=-=-=
    ahh pengen tau kalimat Paklik yg tidak diteruskan ntu… *me-nebak2*

  • kuyus mengatakan:

    Hidup cuma sebentar, kenapa musti musuhan ya. Dimata tuhan kita semua sama .. yang membedakan hanyalah nilai kebaikannya. Jadi kita mulai dari lingkungan terkecil yuk ..
    Membina kerukunan dan kesatuan dalam budaya dan adat yang berbeda. Bukanlah perbedaan membuat kita jadi kaya?
    *mudah2an nyambung*

  • kutuloncat mengatakan:

    kenapa sih musti pake bom? kenapa gak pake kentut aja? lebih baik bau kentut beraroma bawang daripada bawang beraroma mesiu toh….

  • den Koplak mengatakan:

    waduh tambah pusing ndoro, kenapa ya manusia tega saling membunuh, saling membenci, saling mendendam, saling sikut, saling menjatuhkan, saling menganiaya, saling merendahkan, saling menyingkirkraan, saling meledek, saling menjelek-jelekan, saling gontok-gontokan, saling menipu, saling ngrasani, saling tendang,….

    padahal manusia kan makhluk ciptaan Allah yang paling berakhlak dan paling berbudi luhur karena dirancang dengan “cetakan” serupa dengan gambar dan rupa Allah… tapi nyatanya tingkah manusia kadang lebih rendah dari binatang… nilai manusia kadang lebih murah dari ayam kampung… orang tega membunuh sesamanya gara-gara uang 10.000 perak…

    Aaah sudahlah… untung masih ada juga kebaikan dari hati manusia yang selalu menjadi pemegang melawan kejahatan…

    ngomong apa lagi ya ndor? Mo tidur aahh

  • silent reverie mengatakan:

    akh, jadi sedih… :(

  • Donny Verdian mengatakan:

    Yang lucu lagi dalam sebuah forum di internet saya menemukan pendapat yang menyatakan bahwa AMERIKA adalah dalang peristiwa Mumbai.

    Lalu tiba-tiba saya merasa sangat kasihan padanya… Amerika jadi seperti kambing putih yang dibedaki arang hingga hitam dan jadilah kambing hitam.

    *terpingkal-pingkal*

  • sadyo mengatakan:

    Jamane wis jaman edan,
    Ne’ Ora melu edan ora keduman….

    Kebenaran sejati hanya milik Tuhan, kita manusia hanya bisa berprasangka, hanya dengan hati yang jernih, kita dapat melihat dengan lebih bijaksana…

    Dapatkah Kita ???

  • Pelintas mengatakan:

    @ Donny :

    Keliatannya pendapat yang anda baca itu cukup naif ya.

    Paling tidak itu suatu gambaran betapa sudah begitu buruknya citra pemerintah negeri itu dengan segala kebijakan politik luar negerinya, sudah sejak jauh dibelakang dulu ,dunia jadi acak acakan begini karena sepak terjangnya.

    Yang anda baca itu tampaknya memang terlalu naif,tapi terpingkal ?
    kan katanya kebebasan bicara ?

    dan kebebasan terpingkal tentunya.

  • Kardjo mengatakan:

    Seandainya paklik Pramoedya A Toer bisa disandingkan….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mumbai Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 338 pengikut lainnya.