Elegi Pecas Ndahe

Januari 10th, 2009 § 36 Komentar

Sepucuk surat jatuh ke sungai. Arus yang liar menghanyutkannya ke sana kemari. Seorang pengelana menemukannya pada sebuah pagi, ketika gerimis jatuh setengah hati.

Diambilnya surat yang ditulis di atas kertas biru itu lalu dibacanya. Pelangi mewarnai langit di cakrawala ketika pengelana itu mulai membaca kalimat pertama.

“Kepada perempuan wangi melati yang selalu menanti di dini hari. Dari lelaki pengejar matahari.”

Pengelana mengernyitkan dahinya saat membaca larik-larik kalimat yang tak biasa itu. Ia lalu merebahkan badannya yang penat ke atas hamparan savana yang masih basah oleh gerimis.

Lelaki pembuat surat ini mungkin sedang mengigau ketika menulis. Barangkali setengah majenun. Begitu pengelana membatin. Tapi ia penasaran juga, lalu meneruskan membaca surat yang tulisannya nyaris memudar itu.

“Perempuan wangi melati, kutulis surat ini setelah tujuh purnama kau terbang bersama bayang-bayang. Kau bilang butuh ruang, juga jarak.

Untuk apa? Aku bertanya.

Kau jawab demi kita.

Kita adalah gagasan yang rumit. Antara ada dan tiada. Pernah ada masanya kau dan aku satu. Tapi tak menjadi kita.

Kita mungkin seperti matahari dan hujan. Bisa melahirkan pelangi, tapi tak selalu di ranjang yang sama.

Kita barangkali sebuah angan yang absurd. Tentang unifikasi sebuah relasi yang menggetarkan, sekaligus memedihkan.

Itu sebabnya, mungkin, kau butuh jarak dan ruang. Demi kita.”

Pengelana mengambil jeda. Diembuskannya napas yang panjang, lalu matanya menerawang, ke arah langit yang sebentar lagi memerah. Ia seperti mendengar angin mendesah-desahkan nyanyian, sebuah elegi pagi.

Sekali lagi dipandangnya surat itu. Lalu disusurinya setiap baris kalimat yang tertera. Embun baru saja lekas ditiup cahaya, secepat mata pengelana melahap setiap kata.

“Duhai perempuan wangi melati. Aku tahu kita tak hidup di taman tempat berteduh. Pun juga di telaga yang tenang. Hidup kita adalah kereta harapan yang bersicepat dengan waktu.

Aku juga mengerti penantianmu di setiap dini hari — menungguku mengejar matahari, memburu cerah hati — membuatmu ditikam sepisau sepi.

Kau boleh sebut diriku Sisipus dari Negeri Dongeng. Kau boleh katakan diriku pecundang tolol dari Bukit Sia-sia. Tapi perlu kau tahu, aku pun melakukannya demi kita.”

Ugh, kita. Pengelana itu mencibir. Ia seolah mendengar kicauan pungguk yang merindukan bulan.

“Duhai perempuan wangi melati. Tujuh purnama kulewati seraya meringkus sepi. Sendiri. Aku sesat dalam tanya dan … “

Hanya sampai di situ kalimat itu terbaca oleh pengelana. Tulisan selanjutnya pudar tersapu air. Pengelana jadi penasaran dan menebak-nebak apa gerangan kalimat berikutnya.

Adakah perempuan wangi melati sempat membacanya? Adakah lelaki pengejar matahari beroleh jawab? Pengelana terus bertanya dan bertanya …

>> Selamat hari Sabtu, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean sudah melihat matahari?

Tagged: , , , , ,

§ 36 Responses to Elegi Pecas Ndahe

  • mantan kyai mengatakan:

    elegi pasti tidak sama dengan epahit apalagi ekecut :-D

  • hedi mengatakan:

    karena ini masih dini hari, aku belum liat matahari, hujan deras pula :P

  • cK mengatakan:

    perempuan wangi melati? kok kayak kuburan ya, ndoro? :P

  • Gage Batubara mengatakan:

    Sepertinya lelaki pengejar matahari itu tak bertanya pada perempuan bermelati, dia hanya tampak gundah pada dirinya sendiri.

  • sandal mengatakan:

    malem-malem baca cerita panjang..

  • restlessangel mengatakan:

    *ngguyu dhewe baca komennya mantan kyai*

    saya tadi menikmati sore hari yg basah ditemani alunan konser burung blekok, kenari, gereja, entah apalagi, plus ditabuhi kecipak kolam, kodok yg lg pemanasan utk konser malam, dan orong-orong.
    tanpa matahari. dan damai.

  • Mas Kopdang mengatakan:

    makan bakso di pinggir pesarean.
    banyak rasa campur ngeri.
    mau ngaso dari pekerjaan.
    iseng-iseng komen saya isi.

    hanya sekadar. :P

  • amril mengatakan:

    Sebuah elegi yang indah dan menggetarkan, Ndoro.
    Saya belum lihat matahari sekarang Ndoro, lha wong, masih dini hari, mana ada matahari? hehehe… :D

  • abu salam mengatakan:

    “Duhai perempuan wangi melati. Tujuh purnama kulewati seraya meringkus sepi. Sendiri. Aku sesat dalam tanya dan … “

    Dasar lelaki kurang kerjaan… hik….3x

  • sobatsetia mengatakan:

    selamat hari sabtu juga ndoro … sudahkah kita usir sepi kita hari ini?..

  • Ben mengatakan:

    Wuih, puitis banget ik … jan ciamix tenan jee hahohahoheho

    Salam
    Ben,
    yang ada pula di http://benagewe.blogdetik.com

  • rayearth2601 mengatakan:

    ini masih ada sambungannya jugakah eleginya ??

    matahari di luar sedang panas, tak sanggup ku menatapnya, hanya bisa menikmati kehangatannya

  • ikhsan mengatakan:

    so sweet

  • abdee mengatakan:

    tulisan akhir pekan yang penuh kata-kata indah. menghanyutkan dan menentramkan.

  • opappi mengatakan:

    saya boleh jadi pengambara nya ngg ndoro?

  • yati mengatakan:

    upsss….suratnya nyaris sama :( dan saya lom posting. pasti tar dikira niru2 ndoro…

  • bodrox mengatakan:

    Baru tujuh purnama Om, belum kerennnnn… Aku sudah ngerasain yang 90 purnama :) hi.. hi.. hi..

  • Frenavit Putra mengatakan:

    Saya da menatap matahari mulai pagi tadi ndoro… hmmm…

  • londri mengatakan:

    ya saya setuju banget…

  • suryaden mengatakan:

    ngerti aku, kalo ketemu pasti udah dihadang KPK…

  • Genduk mengatakan:

    kyakyakya…
    dongeng permintaankuuuuuu….. (dance)

  • JalanSempit mengatakan:

    aku pernah menjadi seorang pengelana yang bertanya pada perempuan wangi melati, pertanyaan yang tak terdengar dan takkan pernah dia menjawabnya, mengapa kau tinggalkan ruang hatiku yang hangat tuk mengejar bule impian di lembah bersalju, putih membekukan, dingin dan mengharap kehangatan..

  • karina mengatakan:

    aih aih…
    puitis sekali kiranya kisanak ini

    heheu.
    mampiir… ?>.<

  • antown mengatakan:

    malam ini muncul bulan purnama

  • silent reverie mengatakan:

    Terperangkap di antara warna nyata dan mutiara damba, perempuan wangi melati beranjak pergi sejenak… tuk lebih memahami sebuah kata “kita”.
    Lalu, ia kembali… dengan setangkup haru dalam rindu…

  • pecinta Indonesia mengatakan:

    e-legi,
    hari pasaran legi ya?

  • Donny Verdian mengatakan:

    Terik, Ndoro.. Terik matahari hari ini!
    Disitu terik ndak..? Terik tahu apa terik tempe..? :)

  • rayearth2601 mengatakan:

    masih bersambungkah cerita ini ?

    ditunggu sambungannya ndoro

  • mayssari mengatakan:

    si lelaki tak lagi mengejar matahari, karena perempuan itu tak lagi memiliki wangi melati…

  • hanny mengatakan:

    saya tak perlu melihat matahari. cukup merasakannya.

  • Puteri Angin mengatakan:

    Sisa kalimat di ujung surat memaku mata pengelana.

    “Surga ini tidak sempurna, kasihku. Tapi dia milik kita. Dan hanya ini yang kita punya.”

    Pengelana terpaku. Tergugu.

    • uli mengatakan:

      masa sih?????????????

  • Blog Instan mengatakan:

    walah, ga mudheng :-?

  • Blog Competition 2009 mengatakan:

    hmmmmmmmm keren juga imajinasinya

  • uli mengatakan:

    ????????????????????????????????????????????????????????????????????

  • nining mengatakan:

    perempuan wangi melati lg baca ni ndoro,, hehhe
    puitis bgt ndoro,,

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

Please log in to WordPress.com to post a comment to your blog.

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Elegi Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 253 pengikut lainnya.