Lompat ke isi

Kupu-kupu Pecas Ndahe

Januari 15, 2009
oleh Ndoro Kakung

:: untuk mereka yang ditinggal sendiri ::

Orang tuanya menjuluki perempuan itu Balam Penari. Meski parasnya sama sekali tak mirip burung balam, perempuan itu memang pintar menari. Geraknya luwes. Gemulai. Dan setiap kali dia menari, bunga-bunga di taman bermekaran. Matahari bergilar-gilar. Angin melambai-lambai.

Perempuan Balam Penari lahir pada musim semi. Ketika langit dipulas selarik pelangi. Wajahnya berpendar-pendar bagaikan baiduri. Rambutnya harum mewangi.

Ia dibesarkan oleh hujan dan diasuh oleh peri-peri hutan nan rupawan. Embun di pucuk daun adalah menu sarapannya. Cahaya menemani siangnya. Gelap malam menyelimuti tidurnya.

Setelah beranjak dewasa, paras Balam Penari kian bercahaya, seperti sinar rembulan di musim panas. Tubuhnya nyaris sempurna, mulus seperti patung pualam yang dipahat para seniman Yunani. Matanya yang hitam kelam membuat semua lelaki yang menatapnya pasti bakal rela melakukan apa saja. Bahkan memetik bintang pun mereka akan dengan senang hati melaksanakan.

Tapi Balam Penari bukan perempuan sembarangan. Ia satu bintang di langit kelam. Begitu jauh, tapi begitu cemerlang. Sinarnya rimba pesona bagi banyak pria. Terasa dekat, namun tak terjangkau. Ia datang setiap malam, tapi bukan demi satu orang.

Sampai suatu pagi di musim penghujan, ketika gerimis jatuh berkeping-keping, Balam Penari bertemu lelaki pendongeng dinihari. Darah seolah berhenti. Lidah beku. Tulang melemas saat mereka beradu-pandang. Mata lelaki pendongeng dinihari begitu dalam, teduh, tenang, seperti telaga. Dan Balam Penari pun langsung terpanah api bahagia.

Sejak itu, hidup Balam Penari berubah bagaikan pasar malam yang riuh. Lelaki pendongeng dinihari itu telah meniup jantungnya jadi kupu-kupu, membuatnya bisa menari di taman surgawi.

Balam Penari suka sekali jika lelaki pendongeng dinihari bersandung sendiri.

Lady, when you love me I feel
Home-sweet-home inside of your Sublime
This Garden’s sure to grow you know
Our love is just like Summertime
Parrots eye the fruit and we make love
Between the harpsichords and lutes?
Our greenlimbs intertwine, you know
Our love is just like Summertime

Our souls collide
We slip and slide
We feel no pain
And with our lives locked together
We weather the Wind and Rain
We grow the Farm
We’re safe from Harm
Inside this Circle of Summertime
Both of us know is our Love

Lovers from the Past with poison smiles
All pray our love will never last
But we are Trees not Vines, you know
Our love is just like Summertime
As the song begins these shipwrecks fade
Behind a wave of violins;
Vivaldi made us rhyme, you know
Our love is just like Summertime…

Hidup mereka memang seperti musim panas. Gemuruh yang membuat pepohonan liyut. Daun-daun meranggas. Dan udara lengas.

Sayang seribu sayang. Jalanan mereka tak selalu ke bukit sama mendaki, ke lurah sama menurun. Pada sebuah pagi yang muram, Balam Penari terbangun dan menemukan selembar daun lontar pengganti lelaki pendongeng dinihari yang setiap malam dipeluknya sepenuh hati.

Di atas lontar yang lisut itu tertera selarik kalimat yang digores dalam gegas. Pendek saja. Dari lelaki pendongeng dinihari untuk Balam Penari sang kekasih hati.

Aku pergi mengejar takdirku. Dan mungkin tak kembali lagi.

Balam Penari seperti disengat kilat jutaan kilowat begitu membaca pesan singkat itu. Tapi anehnya, air matanya tak tumpah. Ia tahu, bukan badannya yang remuk, hanya hatinya yang berkeping-keping.

Di balik cakrawala, ribuan kilometer dari tempat peraduan Balam Penari, lelaki pendongeng dinihari telah berubah dari kepompong menjadi kupu-kupu …

>> Selamat hari Kamis, Ki Sanak. Apakah sampean pernah mengalami metamorfosa?

43 Komentar leave one →
  1. Januari 15, 2009 4:00 am

    Ini kadonya? Hihihi…makasih, ndoro. Tapi msh gak ngerti, kenapa balam penari? Saya pengen jadi daun aja *ditabok*

  2. Januari 15, 2009 4:07 am

    kalo kamu jadi daun, banyaklah ulat yang akan menggigitimu..

  3. Januari 15, 2009 4:31 am

    pernah ndoro…. dari demonstran menjadi aparat….

  4. Januari 15, 2009 4:55 am

    pernah… :-D

  5. Januari 15, 2009 5:33 am

    Wah…agak tersindir saia..
    Scr pernah kutulis sajak ttg metamorfosa, dekat tapi jauh, satu bintang di langit kelam…

    Seperti menggambarkan diri saia.. *halah,gubrag*

  6. Januari 15, 2009 6:01 am

    Pernah Ndoro, metamorfosa dari orang ndeso di Indonesia jadi orang ndeso di Australia :)

  7. Januari 15, 2009 6:06 am

    pernah dan harus bermetamorfosa ndoro…,
    dan itu bukan sendirian kok, akeh kancane…

  8. Januari 15, 2009 6:11 am

    Metamorfosa? Menjadi apa sajalah, asal tidak menjadi bajingan :D

  9. Januari 15, 2009 6:21 am

    Sedang!
    *garuk-garuk*

  10. Januari 15, 2009 7:26 am

    Iya,,pernah ndoro, tp setelah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, kembali lg jd kepompong… :twisted:

  11. Januari 15, 2009 7:29 am

    metamorfosa?ya mesti tho, mosok mo jadi kepompong terus..
    Btw,buat simbok tho? Simbok memang pesona bagi banyak pria..hihihihi..met ultah mbok :D

  12. mlayu tautan tetap
    Januari 15, 2009 8:30 am

    metamorfosa? tentang kebersamaan dan kesendirian?
    setelah waktu berjalan, bahwa keduanya sama-sama sangat berartinya, bukan begitu ndoro?

  13. Januari 15, 2009 9:00 am

    pasti cepat atau lambat kita bakalan mengalami metamorfosa, ya kan ?

  14. Januari 15, 2009 9:48 am

    Boleh boleh….

  15. Januari 15, 2009 10:22 am

    eh.. Simbok Venus itu bermetamorfosa gitu? :shock: *lospokus*
    tapi Simbok memang mempesona kok kayak kupu-kupu.. :mrgreen:
    met ulang tahun Mbooooook
    *peluk-peluk*

  16. Januari 15, 2009 10:27 am

    metamorfosa jadi ndorokakung…….ngaburrrrrrr…!!!!

  17. Januari 15, 2009 10:39 am

    aku pergi mengejar takdirku ……. ah lembut nian

  18. Januari 15, 2009 11:03 am

    kayaknya sekarang saya bermetamorfosa jadi blogger nih…hee

  19. Januari 15, 2009 12:53 pm

    Pernah..

  20. Januari 15, 2009 1:38 pm

    hm….

  21. Januari 15, 2009 1:47 pm

    masih kepompong nih, mudah2an gak ada ular lapar yang siap menyantap. hehhehehe

  22. Januari 15, 2009 2:15 pm

    sepertine saya juga butuh metamorfosa…*btw saya takut dengan ulat*..jangan2 sekarang lagi jadi ulat…duh atuuuuuuuutttttttt

  23. Januari 15, 2009 2:20 pm

    rambutnya harum mewangi ………..
    (mbak .. mbak balam… pake saampo apa ya????)

  24. Januari 15, 2009 3:23 pm

    kupu2,, aku mungkin pergi dan takkan kembali lagi.. tapi, bisakah kau mencariku?? *jangan kaya’ sephia.. ga balik, tapi ga boleh nyari juga :P

  25. Januari 15, 2009 3:36 pm

    ada yang pernah bilang, “ketika kamu jatuh cinta, kamu akan merasa ribuan kupu-kupu menggelitik perutmu, dan itu akan membuatmu selalu tersenyum…”
    masih utang cerita ya aku? :D dooohh… *kabur diem2*

  26. Januari 15, 2009 6:46 pm

    pernah donk…

  27. Januari 15, 2009 6:56 pm

    kadang dia tersenyum dalam tangis
    kadang dia menangis di dalam senyuman
    oh… apa yang terjadi, terjadilah…

    *untuk kupu2 malam*

  28. Januari 15, 2009 7:03 pm

    ini sedang dlm proses metamorfosis, ndoro! mboook jangan pingsan denger pacific place donk!!! hehehe cup cup cup

    ah pingsan lagi :D

  29. Januari 15, 2009 9:24 pm

    ndoro, kenapa harus seniman Yunani sih? *pertanyaan beneran ini*

    iseng aja, co *jawaban beneran*

  30. Januari 15, 2009 10:02 pm

    aku mau kok disuruh nemenin balam penari :P

  31. Januari 15, 2009 10:48 pm

    Saya pengen metamorfosa jadi Tony Stark! :mrgreen:

  32. Januari 16, 2009 4:48 am

    metamorfosa??
    tanya pak marsudiyanto, ahlinya…

  33. Januari 16, 2009 7:34 am

    sama kaya budimeeong, pernah jadi kupu-kupu, tapi bermetamorfosa terbalik jadi kepompong. Sekarang mw jadi kupu-kupu lagii….

  34. Januari 16, 2009 8:57 am

    aku mbayangkan si Balem berparas cantik ndoro

  35. Januari 16, 2009 10:36 am

    baru jadi kepompong sayah ndoro

  36. Januari 17, 2009 1:02 am

    Smoga lagi dalam proses. tapi ga tua tuch…metmorfosa dri apa ke apa. masih samar-samar.

  37. Januari 17, 2009 1:04 am

    semoga tidak menjadi kupu-kupu malam

  38. Januari 17, 2009 12:25 pm

    burung balam itu seperti apa ya ?

  39. Puteri Angin tautan tetap
    Januari 20, 2009 1:57 am

    Serentang sempit masa yang dimilikinya, meski sejuring tak berarti, penuh berisi lelaki pendongeng dini hari. Seletik ruang dalam pikiran berisi cinta yang tak lindap. Ceruk sunyi yang diisinya padat-padat dengan memori tentang dia yang tak kembali. “Terimakasih, lanangku. Segalanya sudah lebih dari yang pantas kuterima,” bisiknya pada pucuk cemara.

  40. Januari 27, 2009 8:55 pm

    gak ngerti bahasa tingkat tinggi

  41. dafitawon tautan tetap
    Februari 2, 2009 10:49 am

    burung balam di rimba …

    salam kenal
    http://firman.web.id

  42. Juli 20, 2010 1:12 pm

    jd ap y ndoro,, ap aj yg bgus deh,, hihihi

Lacak Balik

  1. sometimes you have to go a little crazy to stay a little sane » Blog Archive » kado

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS