Trotoar Pecas Ndahe

Maret 2nd, 2009 § 101 Komentar

Komunitas blogger Bundaran Hotel Indonesia (BHI) terancam pindah tempat nongkrong. Kalau terpaksa pindah markas, lantas apakah nama mereka harus berubah?

Sinyal buruk itu sebenarnya sudah saya dengar sejak pekan lalu lewat milis BHI. Tapi baru Ahad kemarin mendapatkan semacam konfirmasi melalui sebuah tulisan pendek di Kompas Minggu dengan judul menohok: JANGAN GUSUR KAMI.

anak-anak bhi ngumpul

Sekilas aktivitas blogger komunitas BHI. (Foto minjem entah punya siapa).

Apakah gerangan penyebabnya?

Syahdan pada dua atau tiga pekan lalu, kawan-kawan blogger BHI saling memberi tahu melalui milis bahwa trotoar di depan Plaza Indonesia tak boleh lagi dijadikan sebagai tempat nongkrong. Bila ada warga Jakarta — siapa pun dia — yang kedapatan duduk-duduk di pinggir trotoar itu, para petugas keamanan yang diperintahkan oleh manajemen Plaza Indonesia bakal mengusir mereka.

Beberapa kawan meragukan kabar itu. “Itu kan ruang publik. Apa hak mereka mengusir?” begitu komentar satu dua anggota milis. Sebagian lagi mendebat, “Ah, itu berita hoax.” Tapi yang lainnya mengaku melihat sendiri ada orang yang diminta pergi dari kawasan trotoar itu.

Karena tak ada kesimpulan, seliweran email di milis itu berakhir dengan keputusan anggota BHI untuk ramai-ramai membuktikan sendiri dengan kongko bersama di tepi trotoar di depan Plaza Indonesia — markas BHI selama hampir tiga tahun terakhir ini — pada Jumat pekan lalu. Apa yang terjadi?

Budi Suwarna, wartawan Kompas yang malam itu kebetulan ada di lokasi untuk mewawancarai anak-anak BHI, melaporkan:

Ketika beberapa anggota BHI duduk di ubin taman Plaza Indonesia, dua petugas keamanan dengan halus mengusir mereka. Petugas itu beralasan, keberadaan mereka mengurangi ketertiban dan keindahan. Angota BHI juga dituduh membuang sampah di sekitar taman.

Namun, anak-anak BHI bergeming. Mereka bersikeras bahwa pelataran Plaza Indonesia adalah area publik yang dibangun dengan dana pajak sehingga bisa diakses siapa pun. Mereka juga keberatan dituduh membuang sampah sembarangan dan mengganggu ketertiban.

Saya mengetahui kelanjutan debat antara satpam Plaza Indonesia dan kawan-kawan BHI di milis. Debat ternyata berlangsung alot. Tapi toh keputusan akhir tak berubah. Trotoar itu tetap terlarang untuk nongkrong.

Perdebatan selesai karena hujan turun. Kawan-kawan BHI terpaksa bubar dan mencari tempat berteduh. Tapi sebuah pertanyaan tertinggal: Di manakah sebenarnya batas antara ruang publik dan privat di tempat itu?

Setahu saya, ruang publik adalah tempat yang mampu menampung beragam entitas sosial: individu, komunitas atau perkumpulan, dengan minat beragam. Trotoar termasuk ruang publik. Ia menjadi hak para pejalan kaki. Ia membuat sebuah bangunan tak menjadi asing dengan lingkungannya.

Para pemilik bangunan memang berhak membuat batas, memagari propertinya. Masalahnya, pengelola Plaza Indonesia tidak membuat pagar pembatas. Pembatas yang mereka klaim adalah ubin tinggi taman yang berdiri tepat di ujung trotoar jalan milik pemerintah. Dengan demikian, selama seseorang tidak menyentuh ubin itu, mereka tidak melanggar area Plaza Indonesia. Tapi mengapa Plaza Indonesia berkukuh melarang siapa pun duduk-duduk di trotoar?

Saya ndak tahu. Saya hanya ingat. Dulu, Departemen Pekerjaan Umum pernah memuji Plaza Indonesia sebagai salah satu bangunan di Jakarta yang masih ramah pada para pejalan kaki.

Plaza Indonesia adalah contoh kontainer yang mencoba merespons bundaran Hotel Indonesia dengan meletakkan bangunannya mendekati jalan dan jalur pejalan kaki, serta menyediakan gerbang masuk untuk pejalan kaki … Bangunan seperti ini yang semakin sulit ditemui di Jakarta. — Humas PU.

Saya percaya manajemen Plaza Indonesia tentu tak ingin citra dan reputasinya yang bagus di masa lalu jadi tercoreng gara-gara aturan baru ini. Saya juga yakin, sebagai salah satu pelopor pertokoan mewah di Jakarta, Plaza Indonesia mestinya bisa mengatasi persoalan macam ini dengan lebih elegan.

Kalau masalahnya adalah kebersihan, barangkali ada baiknya jika di tempat itu disediakan lebih banyak lagi tempat sampah. Tempat sampah dibikin yang artistik sekalian untuk menunjang desain bangunan. Memang butuh biaya, tapi kalau lingkungan jadi bersih, tentu tak ada salahnya bukan?

Nah, jika yang jadi perkara itu mengenai ketertiban dan keamanan, silakan saja menempatkan petugas keamanan. Kehadiran petugas barangkali akan membuat lingkungan trotoar aman. Copet tak mendekat. Yang nongkrong pun tak berani mengusili pejalan kaki perempuan yang lewat. Tapi tak perlulah para petugas itu sampai melarang orang duduk-duduk atau sekadar meletakkan pantat melepas lelah di tanggul trotoar.

Saya tahu benar bahwa kawan-kawan blogger BHI bukan dari jenis kelompok yang suka mengganggu orang lewat. Mereka kaum terpelajar. Beberapa di antara mereka adalah karyawan dari sejumlah perusahaan terkemuka. Dan mereka pun tak mendominasi trotoar seperti pedagang kaki lima.

Mereka malah aktif ikut menjaga kebersihan lingkungan dengan memungut dan mengumpulkan sampah lalu membuang ke tempat sampai sesuai kongko-kongko. Mereka hanya butuh tempat berkumpul, semalam dalam sepekan, hanya di Jumat malam, di tepi trotoar. Tempat itu untuk rehat, reriungan, setelah mereka penat dihajar pekerjaan sepekan penuh seraya menatap gemerlap lampu jalanan dan bintang-bintang di kejauhan. Kalau dipaksa pindah tempat nongkrong, mereka jadi harus ganti nama. Bukan Komunitas Bundaran Hotel Indonesia lagi, tapi entah apa. Kasihan …

Selalu ada jalan tengah untuk dua kepentingan yang belum sejalan. Selalu ada peluang untuk mendapatkan solusi yang baik bagi kedua belah pihak. Moga-moga manajemen Plaza Indonesia mampu memilih yang terbaik bagi keduanya.

>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah sampean juga merasa kian sulit menemukan ruang publik di tengah belantara Jakarta yang semakin sumpek ini?

Tagged: , , , , , ,

§ 101 Responses to Trotoar Pecas Ndahe

  • Sharon mengatakan:

    kalau di Bangkok kemarin, malah trotoar mall nya GEDE banget dan dikasih banyak tempat yang memang untuk duduk-duduk. Indah pula, banyak air mancurnya

  • cahsholeh mengatakan:

    Setahu saya, ruang publik adalah tempat yang mampu menampung beragam entitas sosial: individu, komunitas atau perkumpulan, dengan minat beragam. Trotoar termasuk ruang publik. Ia menjadi hak para pejalan kaki. Ia membuat sebuah bangunan tak menjadi asing dengan lingkungannya…

    Artinya memang bukan untuk nongkrong, melainkan untuk berjalan kaki, hehehe…

    • Ndoro Kakung mengatakan:

      pejalan kaki yang capek boleh duduk di situ kan? :D

  • Gage Batubara mengatakan:

    wah.. dimana lagi saya bisa menemui ndorokakung sambil duduk ditrotoar?

  • ichanx mengatakan:

    hmmm… dikirain pelarangan nongkrong itu diperintah pemda (or sejenisnya). Taunya hanya kebijaksanaan sepihak dari Plaza Indonesia ya? ckckck…

  • meong mengatakan:

    gimana dg pedagang kaki lima yang menggusur hak pejalan kaki dengan memakai trotoar sbg tempat mereka buka usaha?

    ah ah ah…

    betapa aku merindukan kota yang ramah terhadap ibu, anak, dan keluarga…

  • Kyai slamet mengatakan:

    Akankah satpol pp dan trantib memukuli blogger2 itu? (doh)

  • aerapianggis mengatakan:

    ajak nongkrong aja petinggi2nya PI :P , tar kalo tau enaknya nongkrong d trotoar pasti percekcokan (baca:penggusuran) g bakal terjadi lagi :D

  • suryaden mengatakan:

    semoga bisa dibedakan kaki dua dan kaki lima… jangan-jangan…

  • mikow mengatakan:

    @ichanx & kyai slamet : sudah sering pas kami nongkrong di sana lagi ada razia dari satpol pp tapi mereka ga pernah menegur atau memukuli kami karena kami hanya duduk2 dan mengobrol.

  • Sharon mengatakan:

    @mikow ga dirazia soalnya ga jualan atau buka lapak gitu, ya ga?

  • Yeni Setiawan mengatakan:

    ono fotoku!
    *ra penting*

  • DV mengatakan:

    Wah kok seribet itu pada akhirnya..?
    Tapi uniknya kok bisa mangsuk KOMPAS ya..?
    Sangar ik :)

  • Daus mengatakan:

    Umm. Memang sih, trotoar bukan untuk nongkrong. Waktu saya datang ke sana juga agak merasa “risih” ya karena merasa nggak proper aja nongkrong di trotoar.

    Tapi bukannya BHI ngumpul menjelang tengah malam ya? Artinya tidak akan mengganggu pejalan kaki (karena memang sudah langka pejalan kaki malam-malam begitu, hehehe).

    Cari tempat lain, ra usah ganti nama Ndoro, sekaliah sebagai sebuah monumen ketertindasan, owalah!

  • ajengkol mengatakan:

    Kalau terancam dilarang trus mau pindah Monas ? Susah juga . . wong namnya BHI

  • nicowijaya mengatakan:

    *menunggu tanggapan dari manajemennya*

  • fickry mengatakan:

    Anggota BHI nulis di surat pembaca!!! Biar direspon dg cepat.
    *keanehan bangsa ini makin memprihatinkan*

  • Toni @ NavinoT mengatakan:

    Coba lain kali kalo ketemuan pake jas dan dasi, yg cewe pake gaun. Jgn lupa bawa tas2 kertas besar bertulis merek terkenal. Mungkin pihak PI jadi segan menggusur:d

    Ah, PI, kamu kok aneh gitu sih?

  • om4gus mengatakan:

    Ganti aja dulu namanya jadi “bhi perjuangan” atau “bhi reformasi” sampai boleh ngumpul?Ngumpul disana lag4…
    kalau di jakarta biasanya berhasil ;-)

  • Wow … masyak tega gitu? Kayak ngak ada kerjaan aja mereka he he … apa perlu di demo he he

  • Pitra mengatakan:

    Kalo depan mall PI diusir, pindah aja ke depan kolam BHI.. :D Kan lebih luas, dan itu sudah di luar area PI pula.

    Namun, ada baiknya sih kalau hal seperti ini sih diomongin bareng dengan pengelola PI. Pendekatannya, ngomong kalau PI bisa menjadi mall yg ramah bagi warga Jakarta dgn membiarkan trotoar di hadapannya menjadi kegiatan warga Jakarta beraktivitas. :D

  • abu salam mengatakan:

    wah.. ini kan sekedar masalah bisnis ndoro … Plaza indonesia makin lama kan makin tenggelam diantara plaza lainnya jadi kalo disaingi lagi sama komunitas BHI ya makin habis dia… pendekatannya coba geser dikit aja duduknya didalam starbuck PI .. wah djamin aman dan sentosa deh… whakakk…

  • dnial mengatakan:

    Wew…. sampaikan ke manajemen saja. Siapa tahu pak Satpam itu hanya menjalankan perintah.

  • edratna mengatakan:

    Yang sulit namanya udah kadung BHI ya…
    Dan kalau nongkrongnya pindah, dan PI dimuat seperti di Kompas kemarin…sebetulnya PI yang akan mendapat citra buruk….

  • abdee mengatakan:

    Perlukah demo ke PI ?…..

  • jafis mengatakan:

    mungkin PI akan menyediakan tempat khusus buat anak-anak BHI.. diruang loby mungkin? hehehheh

    pesan untuk anak2 BHI :
    enjoy aja man! banyak kok pejabat yg seenaknya pake fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, lahh kalian cuma pake trotoar doang…masak nggak boleh?

  • bangsari mengatakan:

    Wah, makasih update tulisannya ndoro…

    btw, malam minggu kemarin sepulang dari WI, saya sudah sempat mampir HI ketemu endik disana. meski ada beberapa satpam terus berseliweran, tapi tak ada pengusiran lagi. setidaknya sekitar sejaman saya disana, ndaka ada pengusiran itu.

    tapi anehnya, satpam itu ngapain buat apa ditaruh disitu? ini yang saya belum dapat jawabannya.

    • kyai slamet mengatakan:

      itu bukan satpam asli, intel BIN

      • Billy Koesoemadinata mengatakan:

        hus! jangan sembarangan nuduh! ntar ada ‘sodaranya’ pollycarpus loh..

  • dilla mengatakan:

    belum pernah diusir soale belum pernah ikutan nongkrong :P *takut masuk angin*
    Ganggu ketertiban gimana sih? kan waktunya malem menjelang tengah malem gitu tho?

  • pitik mengatakan:

    iya kasihan itu anak2 BHI…ndak bisa saru lagi..kasihan pak…kasihan….

  • pinkina mengatakan:

    halah…ndak onok potoku…eneke pitoh thok

  • BayuHebat mengatakan:

    Weleh belum sempet saya kongkow ama BHI di “BHI” nya . yah kalau digusur trus pigimana?

  • nothing mengatakan:

    mungkin karena bawa pitik malam malam, jadinya diusir. karena itu pitik suka nelek sembarangan

  • frozenmenye2 mengatakan:

    walaupun bukan salah satu komunitas blogger BHI, tapi saya juga kadang-kadang suka nongkrong di situ…seneng aja sama view dan suasananya di sekitar situ pas malam hari. wah… bisa kehilangan spot favorit nih kalo gitu…pakde…

  • Rizal mengatakan:

    wew ,
    padahal nongkrong di trotoar itu asik \m/

  • rama mengatakan:

    Turut prihatin ndoro, meskipun “mengganggu ketertiban” itu agak-agak nggak singkron sama BHI … mungkin sebaiknya didiskusikan sama pengelola BHI.
    Tapi biasanya kayak gini kan Anget-anget telek pithik, hehehe

  • serdadu95 mengatakan:

    Mungkin kalo di dalam plasa malah ndak diusir Ndor. Belum pernah dicoba kan nongkrong di dalam? cobalah.

    Ato mungkin, sekali-kalilah blanja da sana… biyar ada simbiosa mutualisma-nya. Masak cuman nongkrong ajahh. (*dikemplang*)

  • Chic mengatakan:

    haduh… saya baru dua kali ikut nongkrong di sana, mukhtamar aja belum pernah ikut.. hwaaaaa.. mosok sudah mesti pindah? ga seruuuuu.. :|

  • bahtiar mengatakan:

    udah boleh nongkrong lagi, asal :

    1. ga boleh suit2 kalo ada “temon” lewat
    2. ga boleh buang sampah sembarangan
    3. ga boleh tidur-tiduran, apalagi tidur beneran berselimut sarung
    :)

  • dony mengatakan:

    yah :(
    semoga memang udah terselesaikan yah masalahnya

  • Hedwig™ mengatakan:

    owalah.. trotoar itu buat kongkow tho.. ta kira buat liwat sepeda motor, parkir sepeda motor dan tempat juwalan makanan :-)

  • Mahmud mengatakan:

    Alhamdullilah, saiki wis etok nongkrong maneh, aku melu seneng..

  • Mahmud mengatakan:

    lho potoku kok medeni yooo…lhoooo

  • Titis Sinatrya mengatakan:

    Hanya satu kata ” Lawan”.

  • antown mengatakan:

    saya dapat kabar malah pas hari minggu sore, doh telat banget. kalo duduk2 di trotoar berarti itu masih boleh. bukan begitu seharusnya…?

  • kita mengatakan:

    wahhh..saya gak tinggal di jakarta sayangnya ndoro..

  • Dedi Dwitagama mengatakan:

    satam or agen BIN itu curiga … kongkow ko pada bawa laptop … :)

  • arya mengatakan:

    @presidente bahtiar
    huwahahaha situ tuh yg seneng tidur krukupan sarung. wakakakaka.
    jd orang ndeso di jakarta emang susah. mencari sedikit ruang buat bernafas aja dihardik (bukan hardik supitek)

  • andrias ekoyuono mengatakan:

    saya malah denger kabar ada mal yang akan mencanangkan diri sebagai mal komunitas, kita tunggu aja :-)

  • Billy Koesoemadinata mengatakan:

    wah, kalo sampe pindah, ntar nama komunitasnya ganti dong..

    lagipula, itu kebijaksanaan siapa sih? aneh..

    harusnya PI terima kasih tuh sama komunitas B-H-I, kan lingkungan depannya, ‘diramein’ dan ‘dijagain’ pas malem2..

    emang susah kalo udah soal bisnis

  • ipang mengatakan:

    ternyata bukan cuma perumahan yang bisa di gusur, tapi juga tempat nongkrong… bener2 terlalu…

    sekalian aja pindah ke depan istana negara…he he he…

  • Treante mengatakan:

    karena saia gak tinggal di jakarta saia gak tau seprti apa tepatnya…

    tapi kalo masalah trotoar, kayaknya dibanyak tempat–gak cuma di jakarta–juga kayak gitu…

  • hanny mengatakan:

    aku ingin trotoar yang lapang, yang gak disesaki pedagang kaki lima sampai kita susah jalannya, yang gak bolong-bolong, yang gak penuh sampah, yang gak dilewati motor yang mengklakson pejalan kaki dengan sombongnya, seakan-akan mereka BERHAK lewat situ sementara pejalan kakinya harus minggir dengan resiko keserempet mobil yang lewat di jalan raya. aku ingin trotoar yang lapang dan bersih, yang ada bangku-bangku semennya buat orang-orang supaya bisa duduk-duduk di sore hari menikmati pemandangan kota. berhubung dekat pemilu, biarkan saya teriakkan pesan ini: “pemimpin yang baik itu bisa dilihat dari caranya memperlakukan dan menghargai para pejalan kakiiii!!!!!!”

  • Donny Dhirgantoro mengatakan:

    terbukti plaza indonesia bukan punya orang indonesia…
    bikin aja bunderan bloger nanti orang indonesia nggak boleh lewat
    *apa sih?*

  • tukangrusuh mengatakan:

    coba deh usul gimana trotoarnya dibuat lebar. jadi, selain bisa buat pejalan kaki bisa juga buat nongkrong. gag menuhin tempat(wong sudah dibuat lebar trotoarnya hhee…^^)

  • gabybali mengatakan:

    Mengkhayal ada anak2 BHI di Bali, seru tuh lesehan style dgn para blogger..
    Tapi kalo disini jadinya mungkin bisa BSS (Bunderan Simpang Siur), di By Pass Jl.Ngurah Rai, overlooking Planet Hollywood & Duty Free Shop, under Patung Dewa Ruci sing guuede iku. Ada air mancurnya juga kok….

    Ndukung anak2 BHI tetep di BHI ! Sip!

    @Bahtiar : “Temon” apaan sich?

  • bahtiar mengatakan:

    @gabybali : temon = wedok = cewek, bahasa walik’an ala jogja

  • pecinta indonesia mengatakan:

    biar sama-sama enak,
    sekali-kali iklan mereka dimuat di BLOG,
    gratis lagi!

  • nurrahman18 mengatakan:

    salam buat BKI..:D

  • ricohsanusi mengatakan:

    bentuk protes pihak manajemen PI mungkin,
    kog cuman kongkow doank sih, lah mbok masuk beli apa gitu di PI..
    klo bisa juga sesekali PI dipromosiin di blog gitu..

  • dedi mengatakan:

    Turut berduka cita buat rekan-rekan BHI. Tetapi, sebenarnya duka cita ini sudah ada sejak lama. Karena kian hari, “ruang publik gratisan” di negeri ini terus tergerus, terus… dan terus… Intinya, entah kapan itu, orang-orang kere macem saya–sebenernya mau bilang “orang kere macem kita”, tapi takut nanti ada orang yang nggak kere tersinggung :D –ini bakal susah ditemuin di nengeri ini. Khususnya di ibu kota tercita Jakarta..

    Semoga nanti ada ada orang orang kere yang mendadak kaya dan peduli sama kawan-kawannya yang masih kere kayak saya ini, dan ngasih izin supaya pelataran hotel, apartemen dan mal mewahnya buat ditongkrongin. Ya, minimal buat ngasoh kalo pas capek habis jalan…amieennn..

  • Indrayana MB. mengatakan:

    Halah…

    Baru punya niatan mau ikutan kongkow ama BHI di “BHI” nya Jum’at depan…. yah kalau digusur trus pigimana?

  • ayahibu mengatakan:

    Pindah aja ke trotoar depan istana yull.. hi hi hi..

  • geRrilyawan mengatakan:

    wah…belum pernah ikutan nongkrong nih….
    padahal pengen ngikut…tapi nanti jangan demo anarkis lho ya…

  • cK mengatakan:

    perlukah kita demo?

    *ngacir*

  • mesin kasir mengatakan:

    bukan hanya PKL namun BKL blogger kaki lima,
    lol

  • kw mengatakan:

    yup. pindah ke bawah patung saja… :)

  • syaifuddin mengatakan:

    jakarta memang makin gak ramah, Ndoro. lama-lama semua jengkal tanah jadi bangunan komersil. kita mo jalan pun jangan2 disuruh bayar. huh.

  • geblek mengatakan:

    jah kok sedih gini, gak rela ah. rame rame pasang button penolakan penggusuran !

  • Dony Alfan mengatakan:

    Wah, ‘si kumis’ harus kasih jalan keluar nih :D

  • budimeeong mengatakan:

    saya ndak pernah kesana ndor… :cry: maklum ga tinggal di Jakarta…

  • [...] Tulisan lain: + Ndoro Kangkung: Trotoar Pecas Ndahe [...]

  • Julie mengatakan:

    Aneh ya, Ndoro… Terkadang, hal-hal yang semestinya berada di ruang privat kita, menjadi konsumsi publik. Tapi ada pula hal-hal yang disediakan untuk publik, diklaim sebagai ruang privat.

  • eMo mengatakan:

    kok jd mengingatkan sama kampanyenya VH1 ya.. :D

  • xu_ban mengatakan:

    wah pancen wedhus,
    jeneng wedhus yo nesu nak sukete di idak2
    hehe

  • DIAJENG mengatakan:

    Sepertinya para blogger dijakarta harus punya tempat sekertariat sendiri buat ngumpul-ngumpul nich… ya tempatnya boleh kost..boleh sewa…atau mungkin boleh beli…tentunya dananya bisa di ambil dari kas para blogger….gimana ndoro kakung apakah bisa di koordinir tuh usul saya ? :)

  • DIAJENG mengatakan:

    yang pastinya kan para blogger sudah banyak yg bekerja..banyak yg sukses…ndak ada salahnya kita buat satu wadah…trus punya kas…dan bisa di manfaatkan untuk satu tujuan yag akan kita bahas rame2…..bukan begitu bukan ? ;) )

  • joule mengatakan:

    Hm, sebenarnya alasan pihak Pengelola melakukan tindakan ini untuk tidak mengizinkan ini cukup jelas.

    memang anda membayar pajak namun disatu sisi lain, ketertiban umum pun harus kita perhatikan.

    Mungkin menurut pihak pengelola, mereka sering mendapat keluhan dari tenant atau pun pejalan kaki di sekitar sana sehingga mereka mengambil “Action” ini.

    Ada hal lain yang harus kita ketahui, tidak selamanya hal yang kita anggap baik itu baik untuk orang lain. Jakarta merupakan kota yang heterogen dan memiliki tingkat mobilitas tinggi jika memang hampir 90% warga yang melintasi trotoar dan pihak tenant terganggu maka anda harus mengerti hal ini dan lakukan komunikasi terbuka dengan pihak pengelola.

    mengutip quote anda

    Selalu ada jalan tengah untuk dua kepentingan yang belum sejalan. Selalu ada peluang untuk mendapatkan solusi yang baik bagi kedua belah pihak. Moga-moga manajemen Plaza Indonesia mampu memilih yang terbaik bagi keduanya.

  • nusantaraku mengatakan:

    Sudah bertahun-tahun, tapi masalah ini tidak mampu dikelola dengan baik oleh pemerintah untuk memberikan lowongan pekerjaan pada masyarakat.

  • ainun mengatakan:

    BHI jadi BLI : Bunderan Langsat Indah . Kikkikkkkkikkk

  • oscar mengatakan:

    tau nggak tuh plaza indonesia punya siapa?

  • agus_cijanggot mengatakan:

    jgn ketipu sama strateginya pi, ya mirip2 strategi parpol-lah jual konflik , ini udh berapa hari diomingin, jadinya pi “wawar” gratisan, tapi bhi-nya jg makin terkenal juga kok !!! nongkrong-nya terusin, rencana-nya mau ikutan nih. slam kenal

  • entah1982 mengatakan:

    ketika memang kemerdekaan kita dirampas……

  • junggenteng mengatakan:

    jauh sebelum privatisasi bumn, sudah duluan privatisasi ruang publik!!!!!!!!!!!!!!

  • borsalino mengatakan:

    ajak saja para petinggi PI itu nge-blog …
    berikan pelatihan buat blogger pemula itu …
    dan saban minggu tepat di jumat malam jadikan ajang kongkow … di BHI …!

  • [...] only meet up in the online realm; they also meet each other regularly in the real life. Citing from this famous Indonesian blogger, in Jakarta (the capital city of Indonesia), the bloggers meet up quite regularly (in this post, [...]

  • ikhsan mengatakan:

    “duduk di trotoar aja di larang ”
    tanya kenapa ???

  • hariadhi mengatakan:

    Sebenarnya kalau Plaza Indonesia cukup lihai, pojok itu bisa dibangun jadi tempatnya orang-orang pintar, ndoro. Bangunlah kafe, taman, atau tempat nongkrong lain yang cozy dan komersialkan sekalian. Jangan orang-orang kelas atas terus yang dimanjakan di sana.

  • keluarga dirmanto mengatakan:

    wah.. kapan yah kita bisa ikutan nongkring :)

  • roberthendrik mengatakan:

    waduh ternyata bukan hanya PKL yang bisa digusur..

  • mas stein mengatakan:

    makanya kalo nongkrong ajak-ajak om serdadu95, biar kalo ada security ndableg dikeplak sama om serdadu :mrgreen:
    *dipopor SS-1*

  • avianto mengatakan:

    Cuma mau sharing: http://www.flickr.com/photos/superamit/sets/444564/ – cobain aja di depan PI hehehe :P

  • Rusa Bawean mengatakan:

    kenak gusur….
    sayang ya, kan jadi harus nyari tempat baru
    padahal belum tentu tempat baru akan lebih nyaman

  • cak uding mengatakan:

    duduk duduk lebih dari 3 orang bisa dianggap demo… hahahahahahaha ** joking **

  • radonk mengatakan:

    loh bukannya fungsi trotoar bwat pejalan kaki bkn bwat nongkrong, bukan bwat buka lapak..*netral*

  • [...] Wicaksono: Trotoar Pecas Ndahe [...]

  • Ndoro Seten mengatakan:

    terus piye kelanjutane Ndoro?

  • rendy mengatakan:

    kapitalis memang kejam,jangan tkt ms gr2 gt doank kekeluargaan bubar….godluck truz BHI…

  • roelus mengatakan:

    Plaza adalah ruang publik. Sudah saatnya para bloggers mengusir satpam Plaza Indonesia yg mengganggu mereka saat nongkrong di ruang publik.

  • Penginapan di jakarta mengatakan:

    terus sekarang jadi nongkrong di tenmpat barunya ..??

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Trotoar Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 258 pengikut lainnya.