Lompat ke isi

Kemarau Pecas Ndahe

September 3, 2009
oleh Ndoro Kakung

:: untuk seseorang yang selalu tersenyum

kalungPerempuan wangi pandan rubuh di peraduan dengan perasaan remuk redam. Sembilan purnama sudah lelaki hujan melayap ke negeri atas angin. Tapi tak ada sebaris kabar maupun setangkai puisi yang terkirim.

Malam pun jadi ungu. Dan siang jadi merah. Angin bersekutu dengan hujan. Berubah menjadi badai.

Ditemani sepisau sepi, di tengah gamang yang menikam, perempuan wangi pandan melepas hasrat pada pucuk-pucuk cemara yang menari resah. Diambilnya sebilah buluh dengan surai-surai di ujungnya. Dicelupkannya ke dalam secawan tinta. Lalu dituliskannya bait-bait liris di atas selembar daun yang mengering.

lihatlah, lelakiku!
kemilau cahaya berkeredep
seuntai bintang jatuh di pinggir jalan
mengapa kau tak memungutnya dan mengalungkannya ke leherku?
kau bisa mengelusnya, tersenyum kepadanya
membawaku mengenang masa lalu
ketika matahari dan bulan berlumur madu

Setangkai ranting cemara luruh begitu perempuan wangi pandan mengukir kata terakhir. Gerimis turun. Dan angin berdesir-desir menerbangkan helai-helai rambut perempuan pandan yang hitam.

Kemarau September ternyata mendapat jeda. Butir-butir keperakan gerimis lima menit telah membuat perempuan wangi pandan bagaikan terlempar ke masa silam. Ketika lelaki hujan mewarnai hidupnya setiap hari sepanjang waktu. Ia ingat, setiap musim semi tiba, lelaki hujan selalu membacakan puisi-puisi Sara Teasdale menjelang tidur.

Salah satu favorit lelaki hujan adalah April Song.

Willow in your April gown
Delicate and gleaming,
Do you mind in years gone by
All my dreaming?

Spring was like a call to me
That I could not answer,
I was chained to loneliness,
I, the dancer.

Willow, twinkling in the sun,
Still your leaves and hear me,
I can answer spring at last,
Love is near me!

Kini, setelah sekian purnama berlalu, perempuan wangi pandan seakan-akan masih bisa menikmati merdunya nyanyian bulan April yang selalu didendangkan lelaki hujan.

Hari-hari warna-warni memang sudah berakhir ketika musim semi pergi. Dan musim penghujan digantikan kemarau yang panjang. Namun perempuan wangi pandan seperti masih bisa menyesap harum kesturi terakhir yang pernah menguar dari dada lelaki hujan.

Hidup tak pernah sama lagi.

Selamat hari Kamis, Ki Sanak. Apakah sampean merasa kemarau September ini kian panas?

61 Komentar leave one →
  1. September 3, 2009 4:13 pm

    posisi pertamax aman gan ;)

  2. September 3, 2009 4:14 pm

    ini puisi apa gimana ndoro :lol:

    tumben mellow sanget

  3. September 3, 2009 4:16 pm

    Keduaaxxxx

  4. September 3, 2009 4:17 pm

    Gile udah keduluan orang lain hehe….

  5. September 3, 2009 4:27 pm

    Maaf Ndor, sebagai fansmu. Saya merasa rangkaiannya membosankan. :D

    • September 3, 2009 4:30 pm

      hihihi … :D

      • September 4, 2009 3:52 pm

        kena batunya ndoro..hihihi

      • September 5, 2009 4:37 pm

        persis sama ndoro.. boring .. beda sama tulisan ndoro yg laen… yang laen…. yah yang laen ituh… hihihihi :D

  6. September 3, 2009 4:32 pm

    wah

  7. September 3, 2009 4:36 pm

    weh..weh..ndoro…kok bisa bikin puisi juga neh…..

    tapi untungnya puisinya ga begitu bagus….ha..ha…

    sebab kalo bagus nanti ikut jadi saingan para penyair yah…ha..ha…

  8. September 3, 2009 4:55 pm

    ndoro,nanya *keredep* itu apa??
    btw….puisinya kurang gimana gitu …:D
    lagi melow yah >:D<

  9. September 3, 2009 4:58 pm

    Wah sudah merambah jadi penulis cerpen nich ndoro :roll: , teruskan ndoro kali aja ada yang tertarik untuk dijadikan senandung menjelang tidur :mrgreen: .

  10. September 3, 2009 5:02 pm

    Ahaa….postingnya kali ini lain dari biasanya. Ini nyanyian kemarau yang mendayu. Tapi tempatku (Jogja) masih hujan, lho Ndoro

  11. September 3, 2009 5:08 pm

    kalo post romantical menye2 model gini sampeyan jadikan buku, aku pasti beli bukunya, nggak akan minta jatah :D

  12. September 3, 2009 5:17 pm

    Mudah2an ga terlalu panas bgt Ndoro kemaraunya !
    Ndoro Puitis jga y !

  13. September 3, 2009 5:22 pm

    wow.. kembali ke khittah rupanya…
    selamat ndor…
    kayaknya makin bulan makin panas aja ndor…
    :)

  14. September 3, 2009 6:23 pm

    Dan ndoro tenggelam dalam pekatnya malam.. :D
    Kata para abegeh, lebaaaaayyyy

  15. September 3, 2009 6:36 pm

    saya tau makna ceritanya…

    tapi puisinya?

    :D

  16. September 3, 2009 7:39 pm

    udah beberapa kali ini sempat hujan tangerang, tapi panasnya tetap hehe

  17. September 3, 2009 7:48 pm

    Kemarau kie sumuk! :lol:

  18. Mr. dab tautan tetap
    September 3, 2009 9:29 pm

    Kemarau ini membuat, matahari & bulan ku memerah tersapu kabut asap yang pekat, mungkinkah ini kiriman asap california, ataukah ulah tetanggaku yang bukak lahan berpindah.

  19. September 3, 2009 10:51 pm

    nggak mau mencela atau memuji tapi mengapresiasi karya orang lain. Entah bagus atau tidak…
    lanjut Ndoro

  20. September 3, 2009 11:06 pm

    benar benar jiwa seni
    salam jurnalis

  21. September 3, 2009 11:13 pm

    iya ndoro kemarau itu panas

  22. September 4, 2009 6:50 am

    kemarau itu juga memanaskan hati….

  23. September 4, 2009 7:18 am

    Ouch ! <3 :)

  24. September 4, 2009 7:23 am

    Wah, musim kemarau dan hujan itu apa masih terdefinisi tho Ndor?
    Sepertinya kan tiap waktu bisa hujan dan tiap hari bisa panas?
    Tapi aku selalu mencintai September… pertanda awal datangnya akhir tahun dengan akhiran “ber”.. “ber”.. “ber”….

  25. September 4, 2009 8:43 am

    like this

  26. September 4, 2009 9:25 am

    lirih banget prosanya…i like this…

  27. September 4, 2009 11:39 am

    kita termasuk orang serba salah kalo dikasih pad ngeluh kalo air sumurnya kering sedangkan kalo hujan kebanjiran maka dari itu kit harus selalu bersyukur kepada ALLAH SWT apa DIA berikan kepada kita

  28. September 4, 2009 11:47 am

    ihiiiiiiyyy..

  29. September 4, 2009 12:48 pm

    uhuuuuk… uhuk… jadi sekarang masih kepanasan?

  30. September 4, 2009 5:30 pm

    jadi HAUS mbaca tulisan ini…

  31. September 4, 2009 8:11 pm

    saya suka kalimat terkahir

    “Hidup tak pernah sama lagi”

    dalam sekali makna yang disembunyikannya

  32. September 5, 2009 2:28 am

    wah… apa karena bulan puasa ya…kok postnya bertema kemarau???

  33. September 5, 2009 5:52 am

    ora mudenk aku…

  34. September 5, 2009 6:43 am

    So sweet!

  35. September 5, 2009 8:41 am

    *maap* maksa banget ndoro :)

  36. September 5, 2009 8:48 am

    As always…. Keyen abis bis.. bis……

  37. September 5, 2009 8:52 am

    As always
    Keren abis… bis.. bis…

  38. September 6, 2009 3:36 am

    kering kerontang, ngelak ndoro…

  39. novaprambudi tautan tetap
    September 6, 2009 6:22 am

    baru saja turun hujan ndor..

  40. September 6, 2009 7:07 am

    wew… baru kali ini baca tulisan ndoro kyk gini.. kakakakakkk..

  41. September 6, 2009 12:46 pm

    pecas ndahe artinya apa ya?

  42. September 6, 2009 3:18 pm

    Kok orang2 pada bilang puisi…

    Sepertinya ini sajak…

  43. September 6, 2009 3:29 pm

    bagus kok….

  44. September 6, 2009 3:49 pm

    September iki jan edan panasnya……. dan sumuknya ndak bisa bikin ngeh mellow nya si ndoro.

  45. September 6, 2009 11:48 pm

    puisi nya menarik tenan.. boleh di copy nda ndoro.. buat bahan bahsai indonesia di sekolah.. jangan lupa ndoro link ya di http://mp3news2009.blogspot.com/2009/08/apakah-ruang-keluarga-adalah-jantung.html mohon komentar web nya…
    terima kasih banyak..

  46. September 7, 2009 1:00 am

    Bikinnya sambil nunggu bedug yah ?

  47. September 7, 2009 12:48 pm

    Bingung :(

  48. September 7, 2009 1:27 pm

    wah ada bakat jadi sastrawan juga nih…? wkwkwk :mrgreen:

  49. September 7, 2009 3:26 pm

    puisinya,..melow,….hik,…hik

  50. September 7, 2009 4:37 pm

    dikota palembang juga panas terasa menyengit ki sanak..
    ditambah penuhnya kabut asap akibat terbakarnya hutan rimba..
    sungguh godaan di kala bulan ramadhan…

  51. September 7, 2009 11:27 pm

    i call it, collaboration of El Nino n Ramadan….panas nian…

  52. September 8, 2009 3:54 am

    Surabaya panas sekali, katanya akibat El Nino. Ini akan berlangsung sampai Maret 2010. Kita dianjurkan untuk waspada agar bencana tak menimpa kita.Misalnya jangan tiduran sambil rokokan atau rokokan sambil tiduran, rumah seisinya bisa ludes sebelum lebaran.
    Salam hangat dari Surabaya

  53. September 8, 2009 2:49 pm

    iya ndoro..panas..nas..nas…..

  54. September 8, 2009 10:26 pm

    Di Bekasi khususnya Cikarang rumah saya panas juga ga ketulungan, sampe magrib aja masih terang, si matahari belum mau pulang2.

    Benar-benar panas ndoro, podo nek ngono yo..

  55. September 9, 2009 9:54 am

    hari gini masih lebay aja, ndor? hihihi :D

    “sebilah buluh dengan surai-surai di ujungnya” ==> kok saya membayangkan kemoceng, ya? (something is definitely wrong with me) hehehe.

    *peluk-peluk*

  56. September 10, 2009 6:44 am

    Ngiih kahanan ting pundi-pundi sami…. ketigo ngentang-ngentang.. meh Pecas Ndahe..

    Lam kenal ndoro kakung saking putunipun ting rantau niki

    masmomat

  57. September 10, 2009 6:47 am

    nggih ndoro.. ting pundi2.. niki ketigo ngentang-ngentang… meh mawon pecas ndahe…

    lam kenal ndoro
    masmomat

  58. September 10, 2009 5:08 pm

    ndoro ndoro, ayo ikut duaduana. soakan lancar ya ndro. biar sukses kyk ndoro. hrs segera suksessssss :)

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS