Kemarau Pecas Ndahe
September 3rd, 2009 § 61 Komentar
:: untuk seseorang yang selalu tersenyum
Perempuan wangi pandan rubuh di peraduan dengan perasaan remuk redam. Sembilan purnama sudah lelaki hujan melayap ke negeri atas angin. Tapi tak ada sebaris kabar maupun setangkai puisi yang terkirim.
Malam pun jadi ungu. Dan siang jadi merah. Angin bersekutu dengan hujan. Berubah menjadi badai.
Ditemani sepisau sepi, di tengah gamang yang menikam, perempuan wangi pandan melepas hasrat pada pucuk-pucuk cemara yang menari resah. Diambilnya sebilah buluh dengan surai-surai di ujungnya. Dicelupkannya ke dalam secawan tinta. Lalu dituliskannya bait-bait liris di atas selembar daun yang mengering. « Read the rest of this entry »