Audisi Pecas Ndahe

Oktober 19th, 2009 § 68 Komentar

calon menteri tes kesehatan

Di panggung Puri Cikeas itulah sebuah pertunjukkan berlangsung. Para aktor dan aktris berjalan terbungkuk-bungkuk manis sekaligus takzim. Paras sumringah. Senyum cerah. Lalu tangan yang melambai pada para juru foto. Lampu kilat menyala. Kamera televisi menyorot.

Dan sebuah teater pun dimulai. Tapi ada pula yang menyebutnya sebagai sinetron kejar tayang.

Entah mana yang benar. Saya hanya jadi teringat pada novel Milan Kundera pada 1990. Novel itu dalam bahasa Ceko disebut Nesmrtelnost dan dalam bahasa Inggris disebut Immortality. Di novel itu, Kundera memperkenalkan sebuah istilah baru: “imagologi”.

Kata ini merangkum banyak hal yang sebenarnya sama: kegiatan biro iklan, manajer kampanye politik, ahli desain, penata rambut, dan tentu saja para bintang pertunjukkan. Sebuah pencitraan. Imaji yang dipoles-poles.

Adalah layar televisi yang menasbihkan pencitraan itu menjadi sebuah drama. Tanpa air mata. Yang penting mencuri perhatian orang. Meski lama-lama banyak yang muak juga.

Televisi bisa menipu, dan menyesatkan. Layar kaca itu memiliki realitasnya sendiri. Yang sering kali jauh berbeda dengan realitas kita sehari-hari. Karena itu, para penguasa sebaiknya membaca pepatah Ethiopia ini: “Bila yang dipertuan agung lewat, petani yang bijak pun membungkuk dalam-dalam — dan dengan diam-diam mereka kentut.”

Kentut — suara tak kentara yang meletup dari perut dengan bau yang duilah dan sangat tak sopan itu — ternyata adalah cara para petani — sebagai orang-orang yang ditundukkan — untuk menyelamatkan harga diri.

Dan itu adalah contoh yang paling gamblang bagaimana orang-orang yang tak berdaya menyanggah secara bersembunyi mereka yang kuat-dan-kuasa. Itu adalah contoh a hidden transcript, untuk meminjam istilah James C. Scott: suatu ungkapan yang tak segera diketahui, ketika yang menindas bertemu dengan yang ditindas.

Di panggung itulah suatu teater berlangsung, berdasarkan atas suatu naskah sandiwara yang dusun untuk konsumsi publik. Suatu public transcript, kata Scott. Dalam transkrip ini, sang dipertuan agung harus lewat dengan uborampe dan asesori keagungan. Dalam transkrip ini pula sang petani harus menyambutnya dengan terbungkuk-bungkuk. Dan tanpa kentut.

Jelas bahwa naskah yang disusun oleh penguasa ini ingin memproyeksikan sosok kaum elite yang bertahta menurut citra yang mereka kehendaki. Dan untuk itu, penting sekali berpenampilan yang impresif. Bisa berarti rambut yang disisir rapi. Gesture yang tertata. Dan orasi yang meyakinkan.

Akankah pencitraan itu akan berhasil?

Kesalahan para penguasa — dan juga sebagian ahli ilmu politik — ialah bahwa mereka cuma memfokuskan pandangan pada public transcript: apa yang nampak di panggung.

Mereka melihat bahwa bila di negeri tak nampak ada oposisi, tak nampak ada pers yang berani, tak nampak protes atau keluhan keras, maka itu berarti golongan yang berkuasa telah berhasil: mereka berhasil menciptakan stabil masyarakat, atau mereka berhasil melahirkan orang-orang (terutama pers?) yang pengecut dan cepat puas.

Dalam suasana itu terjadilah apa yang disebut oleh Antonio Gramsci sebagai “hegemoni” kemampuan golongan yang menguasai untuk meyakinkan golongan yang dikuasai, bahwa membangkang adalah suatu dosa besar.

Padahal kita tahu, Vaclav Havel — yang menyaksikan bagaimana sebuah kekuasaan yang nampaknya kukuh mendadak tumbang di Cekoslovakia — pernah berujar, “Masyarakat adalah seekor hewan yang sangat misterius…. Tak seorang pun di antara kita yang tahu akan semua kemungkinan yang tidur lelap dalam roh penduduknya.”

>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah sampean juga menonton tayangan audisi para menteri di televisi?

Tagged: , , , , ,

§ 68 Responses to Audisi Pecas Ndahe

  • samsth mengatakan:

    Pertamax

    Dagelan saja itu,….

    • samsth mengatakan:

      tapi harap saja kinerja mereka baik..
      semoga

      *ga yakin

  • Prasetya yudha mengatakan:

    Smoga menteri yg dipilih nanti,bersama rakyat bisa membawa indonesia lebih baik dari 5 tahun sblumnya. Kita sbgai wong cilik,hanya bisa berharap to ndor..:-)

  • ikhsan mengatakan:

    Kayak indonesian idol aja :D

    • dobelden mengatakan:

      ikhsan idol toh?? hihihi

  • Ruhcitra mengatakan:

    Celakanya … kebanyakan kita masih (atau dibuat makin?) lebih suka menonton daripada ‘membaca’. :) Selamat nyeneni, kalau mujur … kalau apes, ya diseneni, Ndoro …

  • Ekodeto mengatakan:

    Audisi menteri…kejadian biasa yang dibikin seolah-olah luar biasa!

  • DV mengatakan:

    Saya menikmati dagelan itu dari internet saja, Ndoro!
    Semoga acara ‘bagi-bagi kue’ nya menyenangkan semua partai dan masyarakat bisa ikut-ikutan senang :)

  • Amim mengatakan:

    Setiap orang atau setiap partai punya kepentingan yang saya yakin mengedepankan kepentingan bangsa. Setiap orang atau setiap partai mungkin memiliki formula berbeda untuk memajukan bangsa ini… Mudah2an kabinet terpilih adalah anak bangsa terbaik..AMIN

  • Amim mengatakan:

    Terlepas dari metode audisinya semoga Indonesia dipimpin oleh orang2 yang profesional dan amanah…

  • kenyo mengatakan:

    kalo ndoro cocoknya jadi menteri apa ya? hehehe…

  • Jokostt mengatakan:

    Dagelan apalagi ini, Ndoro! Ah, aku kok jadi apatis gini. Tidak baik itu. Mudah2an tontonan seleksi para menteri ini tidak seperti wajah tayangan sinetron di TV kita yang nggemesi dan bikin aku moh melihatnya. Mudah2an.

  • atta mengatakan:

    Haduh, saya jadi minder; referensi tulisannya itu loooh :D

    Ah ya, saya masih harus menyaksikan drama secara langsung sehari lagi :D

  • cahbalapan mengatakan:

    kok ya sempet2nya nonton opera sabun kayak gitu to?!

  • Pakde Cholik mengatakan:

    Manusiawi sekali kok, namanya juga usaha. Mudah-mudahan mereka memang profesional dan juga bermoral plus keimanan dan ketaqwaan yang kokoh kuat. Dengan modal itu diharapkan pengabdian mereka kepada negara dan bangsa bisa baik.

    Itu juga belum seberapa. Bandingkan dengan para abdi dalem, yang harus benar membungkuk manakala sang raja lewat, itu juga terjadi di Indonesia masa kini bukan.

    Ada juga yang kalau salaman mencium tangan yang disalami. Saya sih nggak pernah salaman lalu mencium tangannya walau ilmu agama mereka (katanya) hebat. Cukup salaman tangan saja.
    Salam hangat dari Surabaya.

    • mesin kasir mengatakan:

      setuju pak dhe, salaman biasa aja deh

  • lilliperry mengatakan:

    fotonya pada habis berendam ya itu ndor.. haha
    pengumumannya hari ini ya… semoga acaranya seperti audisi nyanyi2 itu, lebih menghibur :D

  • matika_ku mengatakan:

    politisi kita gak mau kalah sama artis, yang penting nampang di media.
    prestasi biasa-biasa? kan bisa dipoles konsultan politik?

  • MbahKung mengatakan:

    Audisi itu penting agar si pemilih mengetahui bagaimana suasana kebatinan yang akan dipilih dan yang akan dipilih juga tahu apa yang dikehendaki oleh si pemilih.
    Audisi hanya salah satu tahapan. Pemilih tentu sudah mempunyai rekam jejak atas orang yang akan diplilih berdasarkan curriculum vitae, info dari bekas atasan, bawahan dan orang sekitarnya.
    Memilih calon menteri tentu tak dilakukan secara selintas dan saya yakin Presiden mengetahui bagaimana memilih para pembantunya.

    Salam hangat dari Jombang

  • jarwadi mengatakan:

    kemudian bagaimana yang tidak lulus audisi di cikeas ndoro? apakah berarti pemadaman image bagi mereka mereka yang tidak cukup qualified untuk lolos?

  • minanube mengatakan:

    Kita sebgai rakyatnya harus mendoakannya semoga membawa barokah di negeri kita tercinta.

    Saya yakin pak SBY cukup bijak untuk memilih menteri2nya (membagi antara politisi dan profesional)

  • ahmadhanafi mengatakan:

    nampaknya latah juga ya presiden, macem acara di tipi. Bagus juga sih. Coba ada reality tv ttg ini, pasti rating acara tinggi banget. :) )

  • hedi mengatakan:

    walah aku ga pernah nonton tivi, ndoro…kecuali bola dan film :P

  • Audi mengatakan:

    Jadi lebih baik gimana, ndoro? Diam-diam saja memilih menteri?

  • Mbilung mengatakan:

    saya suka baju mandinya.

  • oglek mengatakan:

    Indonesia memang republik sinetron

  • Chic mengatakan:

    tilpun ku belum berdering nih Ndor… *sigh* :mrgreen:

  • pensiun kaya mengatakan:

    Masyarakat adalah seekor hewan yang sangat misterius…. Tak seorang pun di antara kita yang tahu akan semua kemungkinan yang tidur lelap dalam roh penduduknya
    kutipan yang menarik, sayang di rumah ga punya TV, jadi ga bisa nonton audisi

  • dilla mengatakan:

    aku kok gak liat ndoro ikut audisi?
    udah ikut duluan yaaaaaa.. :P

  • wieda mengatakan:

    tidakkk ndoro saya tidak menontonnya blas wong ndak punya chanel tv yg nyiarin itu

    mohon dimmapkan ya ndoro

  • wira mengatakan:

    berita isinya itu melulu, bosan ah…

  • Billy Koesoemadinata mengatakan:

    sebenernya, konsep stabilnya bukan ga ada pers yang berani dan ga ada oposisi, tapi lebih ke ‘perangkulan’ segala pihak yang ‘berkepentingan’ supaya jadi satu kepentingan sama yang merangkul :D

  • Masinis mengatakan:

    … jangan dengarkan apa yang penguasa katakan, tapi dengarkan apa yang tidak mereka ucapkan…

  • annas mengatakan:

    kalo raditya dika gak trauma dengan film Menculik Miyabi, kayaknya dia bakal bikin fil Menculik Mentri

  • Toni @ NavinoT mengatakan:

    Seperti acara parodi politik bakal lebih rame tahun depan. Mungkin bakal dibumbui realiti show juga. Menarik-menarik ..

  • yati mengatakan:

    muak.

  • andri mengatakan:

    Ya! saya nonton,
    dan hanya bisa berharap semoga mereka bisa bekerja sesuai dengan yang dikatakan, walaupun ada rasa mengganjal yang berkata : “kok gue ngga yakin ya?”

    salam

  • Rumah Dijual mengatakan:

    Ada yang berbeda dalam teknis penunjukan orang-orang yang akan menduduki kursi para mentri. SBY menerapkan proses audisi seperti halnya reality show yang pernah ada di televisi. Namun bagaimanapun bentuknya, mudah-mudahan audisi calon menteri ini dapat menghasilkan orang-orang yang kompeten dan berkualitas sesuai dengan jabatan yang diembannya.

    Sepertinya SBY akan banyak memasang muka baru, buktinya hanya sebagian kecil saja dari cabinet sebelumnya yang dipanggil untuk mengikuti audisi. Menarik untuk ditunggu, siapa saja yang bakal menajadi audisi yang saya rasa sangat bergengsi melebihi audisi apapun di TV!.
    Dijual Rumah

  • khairul umam mengatakan:

    semoga kebahagiaan yang mereka tampilkan tidak membuat mereka lupa bahwa status yang mereka dapatkan bukanlah untuk bersenang-senang.. tapi ada hak rakyat di sana… ada amanah besar di sana..

  • dobelden mengatakan:

    Gaji mentri diatas : 100 jt.. mobil dinas Toyota majesta : 1,8 Milyar, rumah dinas senilai 2,1 Trilyun…

    mantepp.. klo ndoro bisa jadi menteri kan mayan tuh bisa bagi2 ke rakyat mblogger :D

  • Dadan Darmawan mengatakan:

    menarik ndoro, aku ikutin acaranya…pantau terusssszzz.

  • kolojengking mengatakan:

    Gag seru ndoro, masak semua manut sama yang berkuasa? kalo ndak ada oposisi, ndoro aja yang jadi oposisi… nanti saya ngikut… :)

  • tukangpoto mengatakan:

    Jangan remehkan kekuatan-kekuatan yang tak terlihat,yang sedang tertidur,yang sedang tekun mengamati apa yang terjadi, nanti jika sudah ada yang keterlaluan kekuatan yang tidak terlihat inilah yang akan membasmi. Salam.

  • bodrox mengatakan:

    Jadi pejabat boleh berbangga, tapi tak amanah tiada guna.

  • ngupingers mengatakan:

    pernah baca “matinya ilmu komunikasi” ngeh..tuh..

  • annisa mengatakan:

    hehehe…,serunya ngalah-ngalahin audisi Miss.Universe ^^

  • mesin kasir mengatakan:

    imbalan kampanye, atau profesionalisme waktu yang jawab kesungguhan dan dedikasi mereka untuk bangsa ini

  • Mbah Jiwo mengatakan:

    betul2 mengharukan NDORO

  • bang awer mengatakan:

    siapa yg bikin rakyat nonton opera? silahkan dijawab sendiri…kalo ndak diliput katanya ketinggalan informasi, diliput jadinya kaya opera
    apa yg punya hajat pingin diliput? tanyakan pada rumput yg bergoyang…

  • fajar mengatakan:

    kayak idol, ada yang tereliminasi ga?

  • akmalhasan mengatakan:

    Saya kira kalo semangatnya adalah publikasi untuk transparansi, proses seleksi mentri KIB II yang diekspos sedemikian rupa cukup menyita perhatian khalayak. Pro Kontra terhadap setiap figur calon menteri bermunculan di banyak media. Mengenai konsepsi pencitraan, sejauh ini berjalan relatif mulus, terbukti cukup lap/putaran saja untuk Pemilu. Dan satu lap sesi racing ini tentu saja butuh ratusan lap sesi latihan sebelumnya yang sudah dipersiapkan sejak dini. Dukungan tim political marketingnya tentu luar biasa.

    Salam,
    Akmal

  • anto mengatakan:

    Saya lebih tertarik mengikuti perkembangan dari ” The Fall of The Global Capitalism “.Sangat dekat.

  • Rizal mengatakan:

    Berkunjung ..
    salam hangat ndoro …

  • cara ikut audisi gmn ndoro :D

  • selalu hangat ndoro.

  • vos©ot mengatakan:

    waah,…asyikk jg..

  • Republik Blogger mengatakan:

    Cikeas Idol….

  • Mr. dab mengatakan:

    entah kita sebut Audisi, bagi 2 kursi , balas budi atau dagang sapi dsb orang mengistilahkan dan menanggapi, tapi itu memang harus terjadi di negri , lha yang mbikin heuboh itu kan ya para jurnalis itu aja, yach kita do’ain aja semoga para pemangku kebijakan negri ini dapat menjalankan tugas dengan cerdas dan benar.

  • uji mengatakan:

    nonton ndoro..
    seru ya..heuhue

  • hitamputih mengatakan:

    kalo itu emang dagelan…
    Lucu mana sama Opera Van Java??

  • firmatha mengatakan:

    sistem audisi kayak calon peserta indonesian idol dan sejenisnya, ngantre kayak nnunggu pembagian BLT. Yang penting Tuhan masih bersama rakyat agar tak terjadi apa-apa deh :D

  • Bisnis online mengatakan:

    inikan menteri parpol bukan menteri profesional thanks

  • canon mengatakan:

    buat pantes-pantesan aja kali ndoro…

  • adi mengatakan:

    lha, yg gak ikut audisi malah lsg bisa masuk. apa ora peng-pengan kuwi? :D

  • Satrio Pringgodani mengatakan:

    Kalo liat fotonya kok pake baju tidur semua… wkwwk.

  • firman mengatakan:

    kok jadi inget film kerjaan romawi,… diluar istana rakyat susah cari makan.. didalam istana sang raja plus mentri2nya pada pesta… waaa…. huuueekk

  • topx mengatakan:

    yang pasti lucu opera van java tapi lebih konyol pemerintah ini…..

  • eka mengatakan:

    jiaaahh,,, haha.. lucu juga ndoro. he :D

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Audisi Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 258 pengikut lainnya.