Cicak Pecas Ndahe

November 2nd, 2009 § 75 Komentar

Korupsi tak mati-mati. Kliping media massa membuktikan perang melawan korupsi berlangsung sejak dulu, dan belum usai hingga kini.

menudingINDONESIA, 1970.

Korupsi mulai ramai dibicarakan di media massa. Dalam sebuah pidatonya pada 16 Agustus 1970, Presiden Soeharto berkata, “Tidak perlu diragukan lagi. Saya memimpin langsung pemberantasan korupsi.”

Dua tahun sebelumnya (1968), Pemerintah membentuk Team Pemberantasan Korupsi. Kemudian awal 1970 didirikan pula Komisi IV di bawah Wilopo yang bertugas memberikan pertimbangan kepala pemerintah tentang pembasmian korupsi.

INDONESIA, 1973

Menteri Penertiban Pendayagunaan Aparatur Negara merangkap Wakil Ketua Bappenas, Dr J.B Sumarlin, mengadakan jumpa pers di Gedung Pola, Jakarta. Ia mengatakan, “Korupsi, kebocoran dan pemborosan selalu ada dalam sistim pemerintahan yang belum membaku (established).”

Belum seminggu setelah ucapan “Napoleon” dari Bappenas itu lenyap dari udara, datang tanggapan dari gedung Bina Managemen di Menteng Raya. Dalam percakapannya dengan wartawan, Direktur Lembaga Pendidikan & Pembinaan Managemen Dr A.M. Kadarman menyangsikan berhasilnya cara Sumarlin memberantas korupsi di Indonesia, “selama tidak ada aparat yang diberi wewenang menyelidiki, menindak dan menjatuhkan sanksi terhadap para koruptor”.

Seorang pejabat tinggi yang dekat dengan Menpan mengibaratkan bahwa “Sumarlin hanya akan menyentuh pinggir-pinggir borok korupsi.”

INDONESIA, 1981.

PRESIDEN Soeharto memberi petunjuk kepada para menteri untuk mengumumkan penyelewengan yang telah ditindak di departemen masing-masing pada setiap apel bendera tanggal 17. Sekalipun pengumuman tentang penyelewengan itu tidak bakal menyebutkan nama-nama para pelaku, kecuali tindakan kejahatan yang dilakukannya, sebagaimana dikatakan Menpan Sumarlin masyarakat dengan dag-dig-dug menunggu saat penting yang mungkin bisa dianggap babak baru dalam sejarah pemberantasan korupsi. Tetapi harapan yang menggelembung itu segera kempes lagi.

Karena pada tanggal 17 Oktober ternyata hanya Kejaksaan Agung dan Departemen Perdagangan dan Koperasi yang mengumumkan tentang penindakan terhadap pegawai yang dianggap bersalah. Banyak instansi lain yang malahan tidak menyelenggarakan apel bendera dengan berbagai alasan. Dalih yang banyak dikemukakan: instruksi untuk melaksanakan itu belum diterima.

INDONESIA, 1983.

BEKAS Ketua DPR, Daryatmo, menyamakan perbuatan koruptor dengan penodong yang membunuh korbannya. “Sadisnya sama, tapi macam perbuatan yang dilakukan lain,” katanya.

Sekretaris Fraksi Persatuan Pembangunan DPR Ali Tamin berharap para koruptor suatu saat akan menjadi sasaran “penembakan misterius” seperti yang dilakukan terhadap para residivis. Ia menyarankan agar sebelum penembakan itu dilakukan, ditentukan lebih dulu kelas para koruptor tadi. “Berdasar itu, tentunya koruptor kelas kakaplah yang seharusnya menjadi sasaran penembakan misterius,” katanya pada pers.

Jaksa Ismail Saleh membantah. “Negara kita ini kan negara hukum. Karena itu kita akan menyelesaikan kasus korupsi sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Tidak akan dilakukan penembakan terhadap para koruptor,” katanya.

Benarkah hukum yang lebih keras, hukum mati, misalnya, bisa menyetop korupsi? Seorang ahli mengenai korupsi, Prof. Hussein Alatas, menyangsikannya. Hukum yang keras, menurut pendapatnya, mengakibatkan kekuasaan yang semakin besar. “Saya khawatir ini akan menjadi sumber korupsi baru. Kerasnya hukum itu tidak menentukan. Yang menentukan itu yang menjalankan. Jadi lebih baik hukum yang wajar, tapi betul-betul dijalankan,” katanya.

Di Indonesia Hussein Alatas dikenal dengan bukunya yang telah diterjemahkan: Sosiologi Korupsi. Sebenarnya ia telah banyak menulis buku. Antara lain, Modernization and Social Change, Thomas Stanford Raffles, Intelectual in Developing Societies dan Reflexions on the Theoy of Religions.

Kepada Hussein, waktu itu, seorang wartawan Tempo bertanya, “Apakah dapat dikatakan, jika di suatu masyarakat korupsi merajalela berarti pemimpin masyarakat itu kurang baik?”

Hussein menjawab, “Begini. Seandainya para pemimpin betul-betul secara serius anti-korupsi dan menempatkan masalah pemberantasannya pada prioritas utama, maka korupsi pun akan berkurang. Tetapi kalau mereka sendiri justru memelopori korupsi, maka korupsi pun akan meluas ke mana-mana. Jadi faktor pemimpin ini penting sekali.”

INDONESIA, 2009

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memperingatkan kedudukan Komisi Pemberantasan Korupsi yang menjadi seperti lembaga superbody. “Terkait KPK, saya wanti-wanti benar, power must not go uncheck. KPK ini sudah powerholder yang luar biasa. Pertanggungjawabannya hanya kepada Allah. Hati-hati,” kata Presiden Yudhoyono.

>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Kapan sampean pertama kali mengetahui istilah korupsi?

Tagged: , , , ,

§ 75 Responses to Cicak Pecas Ndahe

  • alisyah mengatakan:

    pertama kali tau kata korupsi pas sd, ada pelajaran mengenai KKN

  • fekhi mengatakan:

    yuk mari :)
    terima kasih untuk kronolis datanya :)

  • sipandu mengatakan:

    terima kasih ndorokakung untuk sharingnya yang penting ini… ternyata history repeats itself ya…

  • iman mengatakan:

    Korupsi tau pas zaman Orba digulingkan, saat itu populer istilah KKN Ndoro :)

  • ferry mengatakan:

    kesimpulannya ndoro? :D

  • edy mengatakan:

    artinya pemimpin kita yg sekarang….

  • gsvirskip mengatakan:

    Pertama kali di taun 98 ndoro,pas umur 10 taun

  • kadal mengatakan:

    just wait n see 2 s/d 3 hari kedepan, apa yg bakal terjadi

  • Wawan mengatakan:

    saya tau korupsi dari lagu bang Iwan fals dan Slank, dan nyatanya mereka masih bisa tersenyum diatas penderitaan orang

  • [...] vs Buaya November 2, 2009 at 1:22 pm | In Uncategorized | Leave a Comment Dikutip dari blog Ndoro Kakung: “Terkait KPK, saya wanti-wanti benar, power must not go uncheck. KPK ini sudah powerholder yang [...]

  • Aziz Hadi mengatakan:

    g inget ndoro.. udah lupa, tapi yg jelas saat saya masih SD tapi entah SD kelas berapa…

    Semoga saja para koruptor masuk neraka..

  • badr mengatakan:

    lanjutkan……!

  • wira mengatakan:

    saya baru tahu istilah korupsi sejak era Soeharto, hehe

  • anto mengatakan:

    Korupsi itu berkaitan dengan mental & akhlak.Jika saya dan anda semua tidak pernah mau korupsi maka dengan sendirinya negeri ini akan bebas korupsi.

  • morishige mengatakan:

    pertama kali dengar “Korupsi” waktu zaman2 reformasi 1998, ndor.
    waktu itu saya masih kelas SD. :mrgreen:

  • tukangpoto mengatakan:

    Kayaknya bakalan susah deh kalo pingin memberantas tuntas tapi setidaknya kita sudah berusaha dan Tuhan tau itu.

  • didats mengatakan:

    gak maju2 ya pemberantasan korupsinya. jalan di tempat.

  • sawung mengatakan:

    membaca yg dibold. melihat kondisi pemimpin kpk nonaktif. pantes saja jadi ramai

  • jokostt mengatakan:

    INDONESIA, 2010
    Perkembangan Korupsi? Kita tunggu sama-sama. Oke?

  • dony mengatakan:

    terima kasih untuk datanya ndoro :D

  • else mengatakan:

    kita lihat saja nanti perkembangannya….semoga ada perubahan

  • TJ mengatakan:

    peradilan yang sebenarnya nanti wkt kiamat….

    • Budak Bageur mengatakan:

      omong2 kiamat kapan ya ?? :)

  • Budak Bageur mengatakan:

    maaf ndoro kenal pas saya bisa saya dapat kepercayaan pegang uang bayar SPP,
    Mak wanti-wanti,’ Awas langsung dibayar, jangan dikorupsi !’
    saya jawab,’iya Mak entar bukti ditunjuki ke mak.’
    Usul ndoro jangan ditembak, peluruh kan mahal ndoro. pake uang rakyat lagi belinya.
    Bagaimana ‘dibakar’ aja ndoro, jadi engga memenuhi makam.
    saya rakyat kecil berdoa semoga KPK, Kepolisian dan kejaksaan tidak menjadi ajang balas dendam. Entar Koruptor jadi Senang.. Lupa deh tujuan awal.

  • MisterPopo mengatakan:

    ”Terkait TPF, saya wanti-wanti benar, power must not go uncheck. TPF ini sudah powerholder yang luar biasa. Pertanggungjawabannya hanya kepada Allah. Hati-hati,”

    *pernyataan yang muncul setelah TPF berhasil mengungkapkan kebusukan2 buaya

  • lilliperry mengatakan:

    waktu jaman2 98 ndoro..
    KKN.. Korupsi,Kolusi dan Nepotisme.. habis itu terkenal deh itu istilah.. :)

  • pensiun kaya mengatakan:

    korupsi saya kenal sejak masih sekolah, ketika bendahara kelas terkadang memanfaatkan uang kas untuk kepenttingan pribadinya :-)

  • Bodrox mengatakan:

    Selama watak ken arok para pemimpin belum diberantas selama itu pula korupsi tetap akan hidup, pak.

  • si Rusa Bawean mengatakan:

    saya mengenal korupsi sejak Soeharto ketahuan korupsi

  • Muhammad Jabir mengatakan:

    Secara akal sehat, rasanya sulit Cicak bisa mengalahkan Buaya. Apalagi kalau buayanya adalah Buaya darat.
    Apalagi kalau keadilan itu tidak lagi berpihak pada kepentingan pendukung cicak…

  • DV mengatakan:

    Pramoedya menulis buku Korupsi bahkan sejak tahun 1955…
    Hidup Soeharto!

    • zam mengatakan:

      Soeharto sudah mati. kalo hidup lagi, ngeri! jadi zombie.. eh, berima lagi!

  • jarwadi mengatakan:

    wah ini dari perpustakaan pribadi ndoro yng menyimpan klipping korupsi; ayo kita pelajari bagaimana cara nya korupsi yang aman dan tidak bisa tertangkap hehehe

  • mayssari mengatakan:

    kalau koripsi waktu masuk hitungan gag, Ndor??

  • sulistia mengatakan:

    Kenal korupsi sejak jaman Suharto Ndor… (soalnya lahir udah jaman Suharto)
    Kayaknya makin seru aja nih Cicak vs Buaya

  • buyung mengatakan:

    wah bagus bnget nih artikelnya.lain kali jgn lupa kunjungan dan komentar baliknya ke direktori-iklan.com ya. salam sukses selalu

  • Mbah Jiwo mengatakan:

    mbah malah merasa, sampai kiamat. penyakit ini akan selalu ada…bener ga ya??

  • clingakclinguk mengatakan:

    panjang ya ceritanya, hmmm…apakah kira-kira cerita korupsi ini akan bersambung lebih panjang? semoga segera tamat.

  • clingakclinguk mengatakan:

    btw, apa memang bener pertanggungjawaban KPK itu hanya kepada Allah? apa ndak ada pertanggungjawaban meski hanya secara moral ke bangsa ini ?

  • firmatha mengatakan:

    dukungan mengalir dari sana-sini buat sang pemberantas, juga buat kepolisian, masyarakat jadi bingung. ribet mikirinnya :D
    tapi kalo dukungan sudah massiv, kita tinggal liat apa yang akan terjadi, chaos atau peace .

    • Teman Curhat mengatakan:

      mantep. suara di jagad maya mulai diperhitungkan…kita harus terus berusuara makin lantang dan masiv setiap kali melihat ketidak adilan dan penyelewengan.

  • sejak terdengar KKN Korupsi Kolusi Nepotisme

  • Zizima mengatakan:

    Salam kenal.
    “Pecas ndahe” bener-bener lucu, ingat ma temen yang suka bilang gini.
    Nice article, kaya sedang baca buku PSPB ^^

  • mabukbahasa mengatakan:

    Pertama kali dengar kata korupsi ya di TVRI. waktu itu kan lagi musim penayangan foto2 koruptor to Ndoro.. Sekitar tahun 1990. Saya kelas 4 Sd hehe.

    salam kenal

  • family night game mengatakan:

    Pusing…hampir setiap hari berita di tv tentang korupsi mulu, apalagi hari ini hampir semua orang dengerin penyadapan kpk…ngantuk dech !

  • antyo rentjoko mengatakan:

    Saya terkesan sama pidato Harto di depan sidang MPRS pada awal dia berkuasa. Komitmen untuk memberantas korupsi. Keren. :(

    • dobelden mengatakan:

      wah saksi sejarah bersabda :D

  • Jual Parfum mengatakan:

    Btw…skrg KPK kok diambang kehancuran….gimana nih???help KPK dunk….

  • kanglurik mengatakan:

    Pokoknya KPK harus tetap adad. Jangan sampai koruptor tertawa riang melihat kondisi KPK sekarang…

  • Teman Curhat mengatakan:

    Pemimpinya dulu harus bersih dan berani, baru bisa berani nindak yang gak bersih….

  • hitamputih mengatakan:

    Kenapa ujung2nya lari ke Tuhan ya???

  • anne mengatakan:

    KPK harus tetap jaya

  • yati mengatakan:

    soeharto? ahahahahaha….
    jadi siapa yang antibody pak? ahahahahahahaha….
    keduanya bener2 mirip yak?

  • yans"dalamjeda" mengatakan:

    Sejak baru lahir dan belum bisa ngomong apa-apa, kita sebenarnya sudah akrab dengan yang namanya korupsi yang terus berdengung di telinga. Jatah kesejahteraan kita dihabiskan oleh punggawa-punggawa negara. Kita?! Lha wong kita sesungguhnya pewaris utang negara?!

  • kenyo mengatakan:

    jangan korupsi ndoro…

  • mas stein mengatakan:

    semoga yang sekarang ini bukan pengulangan era pak Harto dulu. semoga bukan simbolik semata, semoga…

  • cristofel mengatakan:

    pemberantasan korupsi memang tak mudah, apalagi KKN sudah menjadi bagian dari budaya indonesia

  • rhs-komp mengatakan:

    trimakasih ndoro….perpustakaaan terbilang lengakap tuh
    INDONESIA….sulit sekali memberantas korupsi di negara ini…
    mumet….mumet

  • Ekodeto mengatakan:

    Konon, menurut sejarah, VOC bangkrut gara-gara korupsi pejabatnya! Apa negara Indonesia juga akan bernasib sama? Ya…janganlah!

  • Jauhari mengatakan:

    Ancaman….

  • Billy Koesoemadinata mengatakan:

    saya tau pertama kali istilah korupsi itu, ya pas KKN jaman 98-99 itu ndor.. tapi yah, saya juga sampe sekarang ga ngarti banget apa artinya selaen ‘pencurian dalam tahap besar’

  • pakde Cholik mengatakan:

    Saya nyari tambahan pensiun sampek tak rewangi blajar monetize di blog segala lho ha ha ha, lha para koruptor kok enak=enak ngomong milyaran,trilyunan sak enak udele dewe. Modar kabeh koruptor2 itu.
    Salam hangat dari Surabaya

  • Eka Situmorang-Sir mengatakan:

    thn 98 ndoro! waktu rame2 soal KKn jd tau istilah itu.

  • we e e, ternyata sejak saya blm lair ceprot negara ini sudah berbau korupsi… welah… kayak itu sdh jd budaya di tahta pemerintahan… hmmm, pantas saja bnyak yg keroyokan kursi tahta tsbt… :D v
    Smg lekas jd lbh baik Indonesiaku ini…

  • mbah din mengatakan:

    Kok ndak ada yg ditanggapi?

  • Edwin Dianto mengatakan:

    Korupsi akan tetap ada selama manusia ada. Mungkin, koruptor adalah profesi tertua di dunia, selain pelacur, tentu saja.

  • Mr. dab mengatakan:

    Seru emang seru, lucu emang teramat lucu ,terharu emang kadang terharu, tapi MALU juga harus budayakan lagi, karena hilangnya rasa malu teramat sangat memalukan.

  • ael mengatakan:

    bisa diasumsikan korupsi tidak lebih berbeda dari setan, hehe (lha tidak mati-mati) XD

  • kolojengking mengatakan:

    Saya sih berteriak mendukung pemberantasan korupsi di belakang ndoro aja… Biar kalo teriakan saya dianggep, kan dikira yang teriak Ndoro…. :)

  • Ari ki mengatakan:

    Gak kayak telenovela kan ya?!
    Btw,jangan jadikan korupsi sebuah sistem! ANEH!

  • maya mengatakan:

    KPK..it’s complicated:(

  • lansia mengatakan:

    tahun 1958 orang yang kost dirumah ortu sering bagi bagi uku tulis di kampung. beberap saat kemudian dia tidak kost lagi. kata orang dia dihukum karenakorupsi.he he korupsi itu bisa dikurangi kalo makin banyak individu yang tidak korupsi.jadi tanggung jawab masing masing yach

  • topx mengatakan:

    mental pejabat yang harus dibenarkan, sistem yang ada diperbaiki…..

  • asfanforever mengatakan:

    kemana mancari keadilan yach, jadi kusut semua:(

  • DanielDPK mengatakan:

    menyimak Cicak Vs Buaya ini seperti melihat epic mahabarata remix,alias versi modern..setiap saat muncul klimaks-klimaksnya..tapi sangat menghibur sekali menyaksikannya..minimal bisa menjadi tontonan menarik masyarakat indonesia setelah sekian lama didoktrin oleh sinetron dan telenovela yang bikin pikiran kita gak kritis alias tumpul…dengan “reality show” terbaru ini paling nggak semua masyarakat diajak untuk lebih kritis menyikapi penegakan hukum di negara ini…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

Please log in to WordPress.com to post a comment to your blog.

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cicak Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 253 pengikut lainnya.