Etika Pecas Ndahe
Desember 14, 2009 § 37 Komentar
Umurnya baru sebelas tahun, dan setiap kali ada kesempatan, dia pergi memancing di dermaga di depan kabin keluarganya di sebuah pulau di tengah sebuah danau di New Hampshire.
Syahdan menjelang dimulainya secara resmi musim penangkapan ikan bass, anak laki-laki itu dan ayahnya memancing di awal senja.
Mula-mula mereka hanya berhasil menangkap sunfish dan perch (sejenis ikan air tawar) dengan umpan cacing. Namun ketika malam datang, joran anak itu melengkung. Dia tahu bahwa ada sesuatu yang sangat besar tersangkut di ujung pancing. Segera saja ia menarik-ulur senar.
Dari jauh, ayahnya mengamati dengan kagum saat anak lelaki itu dengan tangkas menangani tangkapannya di sepanjang lantai dermaga. Ia melihat anaknya benar-benar sosok yang gigih dan tak mudah menyerah.
Pertarungan ternyata hanya berlangsung sebentar. Setelah bertahan dari menit ke menit, melawan tarikan dan uluran joran, ikan itu kelelahan. Ia pasrah ketika anak itu mengangkatnya keluar dari air.
Olala! Tangkapannya memang benar-benar seekor ikan yang besar. Anak itu berteriak kegirangan melihat hasil tangkapannya. Itu ikan terbesar yang pernah dilihatnya.
Tapi itu ikan bass! « Read the rest of this entry »
SMS Pecas Ndahe
Desember 9, 2009 § 67 Komentar
Jakarta, pada sebuah pagi yang mendung. Langit kelabu. Jalanan seperti pasar. Kendaraan merayap seperti bekicot. Klakson memekik nyaring.
Seorang pengemudi sedan sport perak metalik memainkan telepon genggamnya. Jari-jarinya lincah memencet tombol-tombol. Dikirimkannya sebuah pesan pendek ke satu nomor.
I miss you
Sent to +62856916XXXXX
Balasan masuk beberapa detik kemudian. Pengemudi itu membacanya cepat.
Kok sama ya?
Sent to +62838936XXXXX
Mungkin karena kita memakai hape sama, Nokia, connecting people.
Sent to +62856916XXXXX
Wah, Anda salah. Aku pemakai Sony-Ericsson.
Sent to +62838936XXXXX
Pengemudi itu tersenyum. Wajahnya bersinar-sinar. Di jalan, kendaraan nyaris parkir, tak bergerak di simpang yang selalu padat setiap pagi itu. Jari-jarinya kembali bergerak lincah. « Read the rest of this entry »
Koin Pecas Ndahe
Desember 7, 2009 § 104 Komentar
Ketika keadilan direcehkan, kita pun mengumpulkan receh.
Kalimat itu tertulis di blog Koin Keadilan yang terbit sejak Jumat malam pekan lalu. Blog ini adalah salah satu simpul informasi dukungan terhadap Prita Mulyasari, ibu rumah tangga yang oleh Pengadilan Tinggi Banten diputuskan bersalah dan harus membayar denda Rp 204 juta kepada RS Omni Internasional Alam Sutera yang menggugatnya secara perdata.
Sebagai salah satu simpul, blog ini tak diniatkan sebagai pusat atau sejenisnya, sehingga pengelola menyambut baik uluran kerja sama dan kemunculan inisiatif serupa dari siapa pun. Semuanya demi Prita dan kebebasan menyatakan pendapat. « Read the rest of this entry »
Moliere Pecas Ndahe
Desember 2, 2009 § 57 Komentar
Makanan yang cukup, dan bukan kata-kata indah, yang membuat saya bisa terus hidup — Moliere (1622-1673).
Hari-hari ini saya terkenang kembali pada kutipan tulisan sang seniman Prancis yang masyhur itu. Jean-Baptiste Poquelin, juga dikenal dengan nama panggung Molière, adalah seorang dramawan dan aktor yang dianggap sebagai salah satu empu komedi dalam kesusastraan Barat. Lahir di Paris, 15 Januari 1622, Moliere meninggal di kota yang sama 17 Februari 1673 pada umur 51 tahun.
Beberapa karya Molière yang menjulang ke seluruh dunia adalah Le Misanthrope, (The Misanthrope), L’Ecole des femmes (The School for Wives), Tartuffe ou l’Imposteur, (Tartuffe or the Hypocrite), L’Avare ou l’École du mensonge (The Miser), Le Malade imaginaire (The Imaginary Invalid), dan Le Bourgeois Gentilhomme (The Bourgeois Gentleman).
Saya tak tahu persis mengapa Moliere menuliskan kalimat itu. Mungkin dia sedang menyindir seseorang — Prancis waktu itu dipimpin oleh Raja Louis XIV. Mungkin juga ia tak sedang mencemooh siapa pun.
Saya hanya menduga, Molier melihat banyak pemimpin yang lebih suka berpidato dan menulis sajak ketimbang memberi makan rakyat. Lalu hatinya terusik. Tergerak menulis sesuatu. Tapi di situlah ironinya: Moliere pun hanya menulis kata-kata indah. Bukan membagi-bagikan makanan. « Read the rest of this entry »
Hoax Pecas Ndahe
Desember 1, 2009 § 58 Komentar
Suhu politik dalam negeri bergerak naik. Setelah geger “cicak lawan buaya” sedikit reda, kini muncul perkara lain: aliran dana Bank Century. DPR bahkan telah berencana mengajukan hak angket terhadap perkara tersebut.
Dan semuanya tiba-tiba bergerak bagaikan bola liar. Macam-macam kejadian mengikuti guliran bola kasus itu. Ada yang terdengar seolah-olah masuk akal. Lebih banyak lagi yang asal-asalan.
Saya, misalnya, tiba-tiba mendapat surel (surat elektronik) dari beberapa kawan mengenai kelanjutan bola panas itu. Karena isinya terkesan too good to be true, mereka umumnya menanyakan kebenaran email itu.
Tentu saja saya tak mampu menjawab dengan argumentatif pertanyaan itu karena informasi yang saya miliki tak banyak. Data yang saya punyai tak lebih banyak dari sampean.
Sampean mungkin juga mendapatkan email yang sama. Barangkali juga banyak di antara sampean yang malah belum memperolehnya. Tak mengapa. Saya akan berbagi ke sampean.
Apa sih isi email itu? « Read the rest of this entry »
