Artalyta Pecas Ndahe

Januari 11th, 2010 § 92 Komentar

Sang ratu lobi, Artalyta ‘Ayin’ Suryani, hidup mewah di Rumah Tahanan Pondok Bambu. Benarkah dia hanyalah sekeping potongan puzzle dari gambar besar tentang lemahnya sistem peradilan kita?

Malam itu, ketika sedang kongko di warung angkringan Wetiga, Jalan Langsat, Jakarta, saya dengar lagu-lagu melankolik mengalun dari dua tempat yang menyediakan layanan karaoke di kafe sebelah. Di antara lagu-lagu jadul itu, saya yang tengah menikmati hangatnya teh jahe tiba-tiba teringat sebuah lagu lawas D’Lloyd, Hidup di Bui.

Hidup di bumi bagaikan burung
Bangun pagi makan nasi jagung
Tidur di ubin fikiran bingung
Apa daya badan ku terkurung

Terompet pagi kita harus bangun
Makan di antai nasinya jagung
Tidur di ubin fikiran bingung
Apa daya badan ku terkurung

( korus )
Oh kawan, dengar lagu ini
Hidup di bumi menyiksa diri
Jangan sampai kau mengalami
Badan hidup terasa mati

Apalagi penjara jaman perang
Masuk gemuk pulang tinggal tulang
Kerana kerja secara paksa
Tua muda turun ke sawah

Penjara, sebagian memang cerita yang seram. Dalam novel, cerita pendek, juga lagu, penjara adalah “rumah” yang harus dihindari. Vokalis Band D’Lloyd, Sjamsudin, di tahun 1970-an merekam lagu Hidup di Bui itu, dan meledak di pasaran sebelum lagu itu dilarang oleh pemerintah Orde Baru.

Orde ini merusak segalanya. Pada masa itu, kalau pencuri kambing yang dihukum setahun, mungkin benar tidurnya di ubin. Tetapi kalau konglomerat, katakanlah misalnya Bob Hasan, tentu saja tidak tidur di ubin. Ada tempat tidur, ada kasur, ada meja, ada kamar mandi, ada ruangan bercat baru, ada makanan cemilan, ada ini dan ada itu.

Lalu, bagaimana kalau yang dihukum itu Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto? Majalah Tempo edisi Mei 2002, menulis laporan lengkap seperti ini …

Nasi jagung barangkali menu yang sudah tak ada dalam catatan petugas blok untuk jatah makan Tommy — sang Pangeran Cendana putra Soeharto. Bahkan petugas sipir penjara tak perlu menjatahkan apa-apa untuk seorang Tommy. Tommy sudah ada yang mengurus, yang membuat ia menikmati penjara seperti halnya ia menikmati dunianya di luar penjara.

Begitu Tommy masuk di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur, segera Dewi Keadilan menitikkan air matanya. Tak ada keadilan yang berpihak pada napi di luar Tommy, sebutlah itu mantan menteri seperti Rahardi Ramelan yang dititipkan di sana sebagai tahanan dan bukan (atau belum) napi.

Rahardi masih suka bercelana pendek dan berkaus oblong tipis, saking panasnya udara Jakarta ini, apalagi di dalam penjara yang tertutup rapat. Rahardi pun masih terlihat pasrah mengecat dinding-dinding penjara, entah untuk mencari kesibukan atau agar “rumah sementaranya” lebih layak untuk dihuni.

Tetapi Tommy? Bak seorang pangeran, kehidupannya sehari-hari di luar penjara tak bisa ia ganti begitu saja. Penjaralah yang ia ganti.

Ia mendapat blok khusus, yang cuma berisi tiga ruangan. Itu pun kini kosong, karena atas nama ketakutan akan cerita seram penjara, ruang yang tidak ditempati Tommy itu tidak boleh diisi tahanan yang lain. Sungguh ironis di tengah-tengah kapasitas penjara yang sudah melebihi daya tampung. Ada manusia yang hidup berdesak-desakan didera panasnya udara, ada manusia yang hidup sendirian dalam udara yang segar menyejukkan, plus serangkaian bunga tulip. Padahal status manusia itu sama saja: terdakwa.

Kenikmatan seperti itu juga belum cukup buat seorang Tommy. Fungsi penjara atau nama yang kini dipermanis menjadi lembaga pemasyarakatan sebagai tempat orang dihukum, tempat orang harus merenungi kesalahannya agar tidak diulangi di kemudian hari, dan juga tempat orang untuk bertobat — kalau mau — juga sudah terjungkir balik.

Tommy tak melakukan hal-hal yang diniatkan sebagaimana fungsi penjara yang sebenarnya. Karena ia masih bebas menjalankan aktivitas rutinnya sebagaimana ia ketika berada di luar penjara. Misalnya, menjalankan bisnis perusahaannya yang begitu banyak.

Sekretarisnya setiap hari datang. Selain membawa makanan, kembang, pakaian, sang sekretaris membawa laporan perkembangan usahanya. Tommy masih menentukan ke mana arah perusahaan dari balik jeruji penjara.

Lalu, apa artinya sederet peraturan yang dikeluarkan oleh pengelola penjara? Apa artinya jam besuk, ruang besuk, pembatasan besuk? Bahkan bagi Tommy dan orang-orangnya, dengan sikap yang sangat enteng barangkali akan bertanya, apa sih artinya penjara ini?

Kerajaan Tommy di Cipinang sebenarnya sebuah cerita yang sudah merebak tujuh tahun lalun lalu. Kisah-kisah seperti ini, meskipun dicoba ditutup-tutupi, dengan mudah menyebar ke mana-mana, karena di penjara tidak ada yang rahasia.

Henri Charriere dalam novel Papillon memberi renungan lewat tokoh Papillon, sang napi itu, “Di penjara, bahkan dinding-dinding pun bermata dan bertelinga.”

Dari dinding penjara yang bermata dan bertelinga itu pulalah hari ini kita mendengar cerita yang sama. Kisah tentang si ratu lobi Artalyta Suryani yang bisa hidup seperti ketika masih di luar penjara walaupun tengah menjalani hukuman 5 tahun penjara setelah terbukti menyuap jaksa Uri Tri Gunawan.

Ada kantor pribadi, tempat dia memimpin rapat perusahaan dan menerima tamu sampai tengah malam. Ia mempunyai kamar sendiri lengkap dengan penyejuk udara. Ia memelihara pembantu di sana. Bahkan, mungkin agar tetap sehat, Ayin mandi dengan air minum dalam galon.

Dan Ayin bukan satu-satunya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa tahanan kasus korupsi memperoleh layanan khusus. Bila ingin mandi, mereka tinggal memutar shower. Mau nonton sinetron atau berita pagi, mereka dipersilakan menyalakan televisi di kamar masing-masing.

Jika para pesakitan itu mau meneruskan kuliah di perguruan tinggi, ini bisa diatur. Bahkan jika kebelet mengubah status di Facebook atau Twitter pun mereka boleh membuka laptop dan nyalakan koneksi Internet. Ada inspeksi mendadak? Jangan takut, ada sipir–tentu sudah diberi uang semir–yang akan memberikan aba-aba lewat handie talkie.

Koruptor dan makelar kasus tentu tak disatukan dengan penjahat lain. Ketika rumah tahanan di Indonesia yang berkapasitas 90 ribu dijejali 132 ribu orang, koruptor dan makelar kasus diperlakukan istimewa.

Pencuri, perampok, penipu, pembunuh, pemerkosa, pemakai narkoba, kurir, pengedar, dan bandar narkoba, serta penjudi dan bandar judi dipersilakan berdesak-desakan. Para koruptor dan makelar kasus mendapat penjara yang bukan “neraka” sesak yang apak.

Rumah tahanan bagi mereka bukan lagi tempat yang makanan dan minumannya terbatas, atau yang tempat mandi dan buang airnya kotor. Yang seseram itu sudah tak berlaku bagi terhukum yang, seperti Ayin, tetap meneruskan pekerjaannya mengatur kasus ini dan itu dengan telepon seluler di tangan.

Saya jadi cemas, bila kuasa uang milik koruptor, makelar kasus, dan terpidana berduit bisa membeli kebebasan di balik jeruji besi, mungkin rasa keadilan sudah mati sampai di sini.

>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah sampean pernah melihat kehidupan di dalam penjara?

Tagged: , , , , ,

§ 92 Responses to Artalyta Pecas Ndahe

  • ariefmas mengatakan:

    pulitik

    • kacahati mengatakan:

      Hukum rimba berlaku… ;-)

      • kolojengking mengatakan:

        sambil ngelus dada, cuma bisa bilang.. Naudzubillah…

  • airyz mengatakan:

    sampai ada ruang karokean juga ndor *kukur2 ndas*

  • titiw mengatakan:

    OOmm!! Ada link untuk kita bisa ngeliat ruangan dalem penjaranya tante Ayin ini tak sih..? Aku mauuu…

    • airyz mengatakan:

      foto sel ayin ada di sini.

      • titiw mengatakan:

        Terima kaseeehh!! :D

    • eMo mengatakan:

      buka kaskus, di hot trit, *jangan lupa siap² tisu, ngelap iler hehe

  • Fik mengatakan:

    Ga sempat liat nih kondisi terakhir Artalyta di penjara. Masih modis ga ya? :D

  • galeshka mengatakan:

    dan kepala rutannya masih bisa bilang itu masih wajar (doh). mau liat si menkumham itu berani gak mecat orang ini, atau beraninya cuma buku aja?

  • alisnaik mengatakan:

    sebuah surga di dalam penjara.
    seharusnya nama Pondok Bambu diubah menjadi Pondok Indah :P

  • adiPatiRembangKudus mengatakan:

    tobat..tobat..

  • Cak Uding mengatakan:

    saya nyambangi temen di penjara saja harus bayar loh…
    penjara kita ibarat mall yang penuh dengan itung itungan untung rugi…

  • bangsari mengatakan:

    “negeri yang tamat”, mungkin itu lebih tepat jadi judul ndoro

  • Kikit mengatakan:

    Bahkan, mungkin agar tetap sehat, Ayin mandi dengan air minum dalam galon.

    Air galon malah gak sehat untuk mandi lho, ndoro. Ayin mandi dengan emas cair 24 karat. Wakakakak…

    Bahkan penjara pun tidak bisa mengubah tabiat dan watak seseorang. Kalau begitu apa gunanya di penjara bila tidak ada introspeksi diri? Mending hukum gantung ajah :p

  • hanny mengatakan:

    pernah, dulu berkunjung ke rutan pd bambu, melihat-lihat blok dan sel tahanan, juga mengobrol dengan beberapa napi wanita di sana (termasuk ketemu Yoan Tanamal), tapi nggak sempat lihat “ruangan VIP”-nya *eh, mungkin memang nggak boleh diperlihatkan dalam kunjungan hihihi*

  • Koko mengatakan:

    Jadi kasian sama yang uda capek-capek nangkap.

  • jarwadi mengatakan:

    pantesan ndoro tdk takut di penjara

  • jokostt mengatakan:

    Alamak! Mudah-mudahan dengan membaca ulasan Ndoro ini saya tidak terus tergoda untuk ikut korupsi atau jadi markus seperti Artalyta ini. Karena tahu hidup di bui bagi para koruptor, markus dan teman2nya, ternyata masih lebih enak daripada hidup kumuh di kota besar yang terhimpit di gang2 Kelinci.

    Kesimpulannya: Bukan HUKUM yang mengatur kita tapi DUIT yang mengatur semuanya. Bukan begitu, Ndoro?

  • Mira mengatakan:

    wahhh..penjara sudah berkembang pesat ya..dari hotel prodeo jadi hotel bintang lima..

  • ianegx mengatakan:

    Kapan ya bisa liat foto rumah keduanya si ba***at Tommy itu di Cipinang..penasaran euy!!!

  • mas stein mengatakan:

    mungkin maksudnya agar si napi pas keluar ndak canggung dalam bermasyarakat ndor. maklum lah di masyarakat kan banyak karaoke, banyak ruangan ber-AC, banyak fasilitas-fasilitas yang ndak ada di ruangan penjara “umum”. kalo ndak dilatih kan bingung nanti mereka waktu keluar ke masyarakat.

    padahal namanya saja Lembaga Pemasyarakatan, lembaga yang bertujuan untuk membina para penghuni sebelum terjun ke masyarakat :mrgreen:

  • denbayan mengatakan:

    alamaaak ,,, beginikah penjara di negeri ini ?
    beginikah perangkat hukum negeri ini ?
    saya bayar pajak lho ndoro :( (

  • erdina mengatakan:

    Aku ingat pernah dengar (entah benar atau tidak), seorang napi harus membayar minimal Rp1jt/bulan, agar mendapat perlakuan ‘manusiawi’ –misal, tidak disuruh tidur di, maaf, kakus pada malam pertama.

    Rasanya bukan hanya uang membuat hidup lebih nyaman di lapas, tapi butuh uang untuk hidup sebagai manusia di lapas…

    Uang, atau kekuatan. (baca: berani melakukan kekerasan/berani membunuh)

  • sawung mengatakan:

    hidup nyaman dilapas dengan meneluarkan uang merupakan hal yg tidak aneh. biasa aja.

  • dita.gigi mengatakan:

    penjaranya kayak kos-kos-an… pantes pada betah di penjara, berbuat salah diulang terus, lha enak kok di penjara….

  • andrias ekoyuono mengatakan:

    seorang teman sudah pernah menceritakan tarif layanan yang mesti dibayar di penjara, layaknya seperti milih tarif kos/hotel, ada harga ada rupa. Kebetulan papanya juga pernah mengalaminya

  • mazhel mengatakan:

    KORUPTOR <<= the real terrorist in indonesia.. harusnya di hukum mati saja..
    klu blogger kira2 bisa dapat fasilitas internet buat ngeblog & ruangan yang nyaman untuk mencari inspirasi gak ya..

  • galihsatria mengatakan:

    Saya berpikir, betapa berkuasanya orang-orang ini. Ketika uang tidak mampu meloloskan dari jerat hukum, mereka masih bisa membeli fasilitas di dalam penjara. Godfather Vitto Corleone di buku Godfather aja lewat ini…

    • zon mengatakan:

      “Ketika uang tidak mampu meloloskan dari jerat hukum, mereka masih bisa membeli fasilitas di dalam penjara.”

      pertanyaan polos:
      kenapa hukum tidak bisa sekalian membuat mereka tidak bisa membeli fasilitas di penjara juga ya……..???

      .

  • antobilang mengatakan:

    kira2 apa lagi ya borok lama yg bakal dibongkar sama satgasnya pak beye?

  • Achmad Ruhiyat mengatakan:

    Artalitha suryani aku cinta kamu………………..

  • cK mengatakan:

    ironis ya…

  • Ishlah mengatakan:

    ini mungkin gara2 kepingan puzzle yang hilang dalam hukum indonesia, “keadilan”. halah…

  • nana mengatakan:

    sebenarnya ngga kaget dengan berita ini, sudah demikian dari dulu

  • Wongbagoes mengatakan:

    Ironis memang… Bolehkan negeri ini disebut negeri gagal?

    • Tio Alexander™ mengatakan:

      Kelak negeri ini akan terbelah dua.

      • Fishbone mengatakan:

        @ Wongbagoes

        Oh, boekan negeri gagal. Ini negeri memang soedah poela ajab menoenggoe bertjerai-berai :P

        @ Tio Alexander™

        Tiada perloe menonggoe kelak. Sekarang sadja soedah ramai daeraj minta ini negara djadi federasi, laloe… laloe… berdiri sendiri-sendiri… boeahahahaha… Indonesija tjoema bersisa poelaoe dimana Roetan Bamboe itoe berada :P

  • EEL mengatakan:

    sungguh aneh tapi nyata…:( hhe =))

  • hedi mengatakan:

    itu kebetulan aja ada di dalem, banyak napi yg kalo malem tidurnya di rumah sendiri kok — kecuali kalo paginya bakal ada inspeksi :D

  • Veri---Marketing Kami mengatakan:

    Waktu SMA dulu, saya pernah berkunjung ke LP di kota tempat tinggal saya. Bau, sumpek, bahkan desak-desakan…Itu yg kesan saya yg cuma pengunjung. Saya bayangin itu kok para narapidana gimana hidup di sana, pasti tersiksa banget. Kalo saya sampe tinggal di sana, tiap makan pasti muntah kali ya..hehehe..

    Nah pas liat penjara Ayin kayak gitu, buset itu mah kayak hotel ndoro. Bahkan sel nya dia lebih nyaman dari kamar kos saya. hiks..hiks.hikss..Ini jelas gak adil dong, padahal kan kejahatan yg dilakukan Ayin lebih berat dibandingkan narapidana di sel yg saya kunjungi waktu SMA. Harusnya sel Ayin lebih “menyiksa” dibanding narapidana kelas teri tersebut.

    Lah kalo nyaman gitu mah, mana ada kata “jera” bagi para koruptor..Bah, di manakah kau wahai ratu adil?

  • erlangga mengatakan:

    bagi yg mau masuk,…cari modal dulu lah,atau kalo kepaksa masuk ya dengan jenis tahanan korupsi,..ahhahah,..apa jadinya tahanan si “besan” ya???

  • DV mengatakan:

    Sarjana Teknik Informatika, Dokter, atau apapun lainnya semakin tampak kalah dibandingkan dengan orang-orang Hukum.. Sampai urusan sel pun bisa di-’bisnis’-kan :)

  • Membuat Blog mengatakan:

    Lagi-lagi terjadi ketidak-adilan atas kemiskinan. Sangat prihatin melihat adanya kemewahan dan pemberian fasilitas yang berlebihan bagi orang-orang tertentu (khususnya yang berduit) di dalam penjara, seakan-akan hanya uanglah yang berkuasa.

    Fungsi penjara seharusnya membuat efek jera bagi penghuninya sehingga timbul kesadaran untuk tidak mengulang kesalahan yang sama lagi, bukannya dinyamankan dengan berbagai fasilitas sehingga penghuni merasa betah dan akhirnya tidak ada rasa jera sama sekali.
    Buat Blog

  • Rifki Adzani mengatakan:

    itu penjara ya? kog mirip hotel …. http://www.rifkiadzani.com/2010/01/12/istana-dalam-penjara/

  • detnot mengatakan:

    bukankah ini hal yg biasa di negeri kita ndoro?
    kenapa baru di ributin skrang?

    *siyul2

  • Muji Sasmito mengatakan:

    Alangkah baiknya jika kemewahan di balik jeruji besi bisa menarik minat para koruptor untuk menyerahkan diri dan lebih memilih untuk menikmati hidup mewah di dalam penjara saja.

  • imadewira mengatakan:

    lalu, apakah kita masih bisa percaya pada sistem hukum di Indonesia?

  • Adhanifatwa mengatakan:

    dahsyat banget tulisannya,
    kayaknya memang sekarang keadilan sudah mati.
    Malingayam tidur di penjara yang seperti kandang ayam,
    tapi koruptor yang makan uang rakyat,
    tidur di sel yang kayak hotel.

  • brilian sekartaji mengatakan:

    namanya jg ratu lobi mas..
    fasilitas penjara bak hotel bintang 5 pasti jg krn lobi2nya yg lihai

  • edratna mengatakan:

    @ DV
    Bahkan di Amerikapun….konon, ranking kemewahan adalah:
    no.1 :Lawyer
    no.2 : sport

    baru lain-lainnya..silahkan bikin ranking sendiri.
    Hmm saya pengin nyoba facialnya..gratis nggak ya?

  • bakulrujak mengatakan:

    barang lama, hanya saja baru tersibak sedikit..
    penasaranlah semuanya… dan berusaha menyibak lebih banyak lagi :D

  • Mbah Jiwo mengatakan:

    artalyta oh artalyta kok pas kamu yg jadi tumbal…kasihannya…

  • tukangpoto mengatakan:

    Mau jenguk sodara di penjara dari penjaga pintu pertama sampai pintu terakhir semuanya harus dikasih duit..di Indonesia ini memang duit dan kekuasaan yang berbicara,Ndor..dan itu fakta! Shame on us!

  • fragaria mengatakan:

    >> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah sampean pernah melihat kehidupan di dalam penjara?

    saya pernah! lapas anak dan wanita tangerang, pas sma sempet buka puasa bareng di sana. dan beda banget sama penjaranya si arthalyta! huh

  • Ruang Hati mengatakan:

    Lagu D’Lloyd sudah ganti koq ndoro sekarang :

    Hidup di bu’i bagai kondominium,
    tidur empuk, makan stik serta burger,
    Tidur di kasur berbusa empuk,
    karaoke bisa spa pun boleh.

    Oh kawan, dengar lagu ini Hidup di bu’i nikmat sekali,
    andai saja kau mengalami, pasti ingin coba masuk lagi.
    Apalagi penjara jaman Sekarang.
    Masuk kurus keluar jadi gemuk.
    Kerana nikmat dan banyak uang .
    Nanti keluar bisa beli banyak sawah
    :D :D

  • indonesiaHAI mengatakan:

    Ayo. Dukung kinerja satgas.

  • Billy Koesoemadinata mengatakan:

    saya ga pernah liat hidup di penjara, tapi sepertinya kalo kaya’ ayin gitu ya jelas2 hotel namanya, tanpa tanda kutip

  • vinosakaiulani mengatakan:

    astagfirullah…

  • geblek mengatakan:

    narapidana keren :)

  • link directory gratis mengatakan:

    enak ya korupsi di negeri ini… :)

  • aku ingin bertanya

    mana yang dosanya lebih banyak
    pelacur
    garong
    koruptor
    kau
    atau
    aku?

    #puisijadul

  • arifrahmanlubis mengatakan:

    semoga tobat segera. malaikat maut ga bisa disogok :)

  • sebutsajabunga mengatakan:

    Ternyata penjara sekarang udah menerapkan yang namanya customer service dan customer satisfaction…hmmm…

  • AdityaFajar.com mengatakan:

    Apa yang terjadi di Pondok Bambu merupakan alasan yang baik untuk menghukum mati saja para koruptor.

  • arfi mengatakan:

    memang ya..ukum di indonesia sampai saat ini masih sangat dan sangat perlu diperbaiki karena tampak sekali bobroknya….

  • mayssari mengatakan:

    ehm… sedih saya…

  • tarmo mengatakan:

    motto hidup ayin dan rekan seperjuangannya …”biar dipenjara..nyang penting happy”

  • 1121 mengatakan:

    gak bakalan kapok di penjara deh

  • azwar mengatakan:

    pembantu yang SETIA Majikan dipenjara .. eh ikutan juga. demi sesuap dua suap makan

  • inung gunarba mengatakan:

    siapa setor, ndak bakalan tekor qe3

  • bayusyerli mengatakan:

    doh bangsaku….

  • dilla mengatakan:

    gimana orang gak terus korupsi kalo penjaranya enak? abis korupsi duitnya banyak, di penjara pun bisa bayar mahal supaya penjaranya enak.. duh!

  • Deddy mengatakan:

    Parah nih, dari hotel prodeo jadi hotel bintang lima. tapi ada juga yg bilang klo kasus ini sengaja diangkat untuk menaikkan pamor pemerintah dalam 100 hari kerjanya. mudah2an sidak kayak gini tambah sering. bukan hanya hangat2 tahi ayam….

  • vany mengatakan:

    trus, skrg penjara arthalyta msh disitu atau udah dipindah ya?

  • anas -catkus.com mengatakan:

    bacanya sedih… :(
    kayaknya di kenyataan bisa lebih miris lagi ndoro..
    harusnya ini kan diberantas, pelecehan hukum namanya.. (pake istilah sendiri, hhe.. maklum anak sma)

  • tyo mengatakan:

    klo comment disini, kenapa foto aku jadi monster???

  • tyo mengatakan:

    tuh kan jadi monster lagi :D

  • tyo mengatakan:

    gimana dong biar bisa keliatan fotonya??biar wajah ganteng gw ini keliatan :p

  • Pancen bener, dunia ini sudah tambah tua…banyak sekali yang sudah terbalik2…makanya, kita jangan ikut terbalik..ntar semua terbalik… :)

  • kolojengking mengatakan:

    Di mana-mana, suara “uang” tetep nyaring bunyinya ndoro… :)

  • memez mengatakan:

    Bukankah dengan uang semua bisa dibeli Ndoro?Mungkin harus dibuat sebuah tempat pengasingan seperti Pulau Buru.

  • primacobacoba mengatakan:

    bikin bingung…

  • Ekky mengatakan:

    reformasi politik udah.
    reformasi ekonomi udah.
    reformasi hukum??
    entah kapan..

  • rio2000 mengatakan:

    tak ada keadilan di indonesia :hammer:

  • [...] di dalam penjara. Hal ini berkaitan erat dengan norma dan rasa keadilan di dalam hukum. Karena itu mungkin rasa keadilan sudah mati sampai di sini; di penjara mewah Artalyta. (maaf Ndoro, tidak sengaja bikin ping [...]

  • Kerja Di Rumah mengatakan:

    Ayin kembali membuat berita heboh, dengan ditemukannya fasilitas mewah di sel yang dihuni olehnya dalam infeksi mendadak SatGas pemberantasan mafia hukum. Sebenarnya bukan hal yang aneh bagi seorang ayin untuk bisa memperoleh fasilitas yang demikian mewah. Mengingat kapasitas dan kemampuan dia sebagai ratu lobi.

    Namun, siapapun orangnya yang menjadi tahanan. Sudah seharusnya diperlakukan sama. Sebab semua orang sama di depan hukum tanpa memandang status.
    Membuat Blog

  • Kusdiyono mengatakan:

    klo bisa semua penjara di Indonesia dibuat seperti kamar artalyta, sehingga orang gak takut masuk penara

  • akucoratcoret mengatakan:

    kalo di penjara artalita ada koneksi internet…
    artalita kemungkinan besar punya facebook ato ga ya blog gtu…
    wkakaka

  • uulgrs mengatakan:

    Ya beda dikit tetap enak yang punya duit meski duit bukan segalanya bagi yang mau bagi2 seperti dicontohkan tommy suharto (dari cerita di atas) dan ayin (dari cerita di atas juga dan berita media) …. Ndoro Kung jek nyimpen ake toh duit … salam sejahtera Ndoro Kung izin melu ngerusui … nuwon

  • eka mengatakan:

    ada penjara macan tu mkin gak takut aja para koruptur ma hukum.hmh

  • Baju Muslim mengatakan:

    Aduh koq pake harga segala

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Artalyta Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 258 pengikut lainnya.