Pejabat Pecas Ndahe

Mei 5th, 2011 § 61 Komentar

Tiba-tiba Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bicara soal Facebook dan Twitter ketika berpidato di depan para pengusaha Amerika Serikat.

Ia juga bicara tentang anak-anak muda yang memadati ranah Internet dan tingginya popularitas media sosial di Indonesia. Adakah kebanggaan? Adakah kecemasan? Bagaimana reaksi para pejabat di bawahnya mendengar pidato itu?

Kita tahu bagaimana media sosial meroket di panggung dunia maya. Orang berduyun-duyun memakainya sebagai salah satu “obat ajaib” yang mampu merobohkan sekat-sekat informasi.

Tapi kita juga melihat kegamangan. Terutama di kalangan para pejabat publik, pelayan masyarakat, yang ngumpet di sudut-sudut birokrasi yang ruwet.

Saya jadi teringat kisah tentang seorang birokrat yang kikuk menghadapi perubahan zaman. Ia alergi pada popularitas. Sebab, bagi dia, kemasyhuran adalah jalan menuju kejatuhan. Menjadi terkenal itu bisa jadi sasaran tembak.

Repotnya, untuk populer itu sangat gampang. Dan cepat. Cukup lewat menit pun bisa. Ia bukan tumbuh lantaran berita di koran saja, tapi juga lewat pergaulan luas dengan masyarakat. Dan sekarang ia melalui media sosial.

Sang birokrat lalu membatasi diri. Ia berhati-hati bersikap dalam kesempatan bertemu dengan orang banyak. Ia tidak mau nampak terlalu hangat, teramat mendekat, bergurau, berbantah ataupun menunjukkan rasa intim yang lain. Ia bisa pura-pura tidak begitu kenal dengan orang yang sebenarnya sudah dikenalnya. Ia membangun sebuah citra diri yang anggun, seseorang yang penuh kebajikan.

Tapi pada suatu hari, tanda-tanda krisis mulai terasa di bawah kursinya. Urusan yang harus dilakukan demikian banyak, sementara sumber daya tak melimpah ruah. Ia tahu bahwa orang-orang yang menjadi anak-buahnya terbatas jumlah, gaji dan pengalamannya.

Ia membutuhkan elemen lain dalam melaksanakan tugas jabatannya: elemen dari luar birokrasinya. Ia membutuhkan “partisipasi masyarakat”. Ia tahu bahwa apa yang didengarnya dari Bapak Presiden benar: pentingnya masyarakat melu handarbeni, “ikut memiliki”. Tapi ia kini merasa seperti dalam langkah yang mati.

Ia menjadi susah tidur — terutama juga karena takut kalau dicopot. Proyek-proyek memang mulai berantakan. Ia berpikir bahwa ia bisa saja mengadakan mobilisasi penduduk, dengan sedikit paksaan di sana-sini, untuk mensukseskan program pembangunannya.

Tapi untuk itu pun ia tak begitu berani. Jangan-jangan ia bakal dituduh menjadi “oknum”. Ia tahu bahwa atasannya pasti tidak suka jika ada kerusuhan, protes atau malah korban di daerahnya. Atasannya tidak mau ada ribut-ribut

Dan ia jadi berkeringat, resah. Sebagai apa dia ini sekarang? Birokrat? Atau pemimpin? Kepada siapa ia harus menyandarkan dirinya? Kepada atasan?

Ah, atasan tidak selalu tahu keadaannya yang sebenarnya. Ia tak pernah berhubungan dalam garis “solidaritas” dengan dia. Ia takut.

Untuk bersandar kepada masyarakat pun dia khawatir. Jangan-jangan publik tak mengenalnya. Atau lebih tepat: dia cemas tidak akan dipercaya. Selama ini dia tidak pernah bersentuhan dengan mereka, lewat hati.

Dan sekarang ia mendengar tentang media sosial dan mantra ajaib yang dikandungnya. Aha! Inikah jawaban atas persoalannya?

Buru-buru ia pergi ke apotik dan memesan satu botol besar berisi obat mujarab itu. Dibacanya sekilas aturan pakai dalam label botol: “diminum tiap hari, sesering mungkin. Indikasi: Berbahaya bagi mereka yang mengidap sakit jantung dan tekanan darah tinggi.”

Dahinya berkerut. “Ah, repot amat ya?” ia membatin.

Ia pulang dan membuang obat itu di tong sampah.

>> Selamat hari Kamis, Ki Sanak. Apakah sampean sudah minum obat hari ini?

Tagged: , , , ,

§ 61 Responses to Pejabat Pecas Ndahe

  • Sharon mengatakan:

    Hihihi….. Udah lama ga baca blognya ndoro ini

  • Chic mengatakan:

    siapa sih ndor? butuh admin sosmed ga beliau? sini tak adminin akunnya.. hihihihihi :mrgreen:

    • pantai matras mengatakan:

      Saya juga siap jadi admin-nya..

    • Miftahgeek mengatakan:

      Mulai rame bikin admin socmed yak, ato jangan2 ini blog yang ngisi bukan ndoro lagi :p

      • awitara mengatakan:

        admin socmed apa ya, maklum gaptek, hee

  • giewahyudi mengatakan:

    Jadi enggak sabar nunggu pemilu 2014, yang pasti ramai dengan kampanye digital, socmed strategist sepertinya akan berpaling dari brand ke politisi, akan banyak klien baru.. hohooo

    • esi mengatakan:

      Andai itu terjadi
      positif nya biaya untuk kampanye bisa murah loh
      cukup sign up ke twitter and facebook secara gratisan bisa menjangkau se dunia.
      itu kalau banyak peminat kayak uncle ndoro

      bakal banyak yang nyaleg deh. suwer

    • Rusa mengatakan:

      gak sabar juga dapat twit berbayar u/ kampanye politik #eh :D

      • Kurnia Septa mengatakan:

        memang dulu pernah dapat?

  • danie mengatakan:

    hari ini saya minum obat m**cret sudah dua kali.
    berharap tidak nambah lagi. cukup ndoro.

  • Bung Iwan mengatakan:

    nggg… emailnya presiden apa ya?
    presidensby@yahoo.com?

    • niken mengatakan:

      ada lagi buat bung iwan neh
      PR3S1D3NSBY@yahoo.com (maaf OOT)

      ndoro… kenapa gak nyaleg ato nyalonin jadi pejabat apa gitu di pemerintahan?

      • TUKANG CoLoNG mengatakan:

        jangan sampe ndoro masuk sistem birokrasi. mending di media aja, lebih bebas dan independen. :)

        • ude baha mengatakan:

          menjadi oposisi biar ada yang ngontrol dan ngritik.

      • ude baha mengatakan:

        mail presiden aLaY juga ternyata ya…
        tapi mendingan dari pada ga punya kaya yang kemaren di Australia :(

  • Tarjum mengatakan:

    Pemimpin harusnya lugas dan berani ambil resiko! Bukannya malah takut ini takut itu….ya kapan mau ada perubahan cepat di negeri ini? capek deh!

  • ananta mengatakan:

    absurd. bagaimana seorang pejabat publik malah menjauhi bagian paling esensial yang membuatnya duduk dalam jabatan tersebut, yakni publik atau masyarakat?

    contoh nyata memang sudah terlihat dari pejabat yang buru-buru ingin pindah ke “gedung baru” itu. kalau tidak, yang di istana juga tidak jauh berbeda.

  • mawi wijna mengatakan:

    menjadi untuk selalu yang terkini itu selalu rumit…

  • dsusetyo mengatakan:

    Mikir….

  • Rizki mengatakan:

    Ndoro kakung,,saya sngat betah sekali mengunjungi blog ndoro kakung,,kata2nya itu loh,,,,mantaabb
    Salam kenal ndoro kakung,,,mf gk kasih fto aku…

  • DV mengatakan:

    Hihi… mencerahkan… jadi akhirnya semua penuh jeratan dan prasyarat ya, Ndor…

    Berkelindan!

  • obat alami jantung mengatakan:

    obat kebanyakan konsumsi rutin para pejabat terutama obat jantung dan stres

  • Belajar Forex mengatakan:

    pemimpin harusnya lugas dan berani ambil resiko apapun,,,

  • nicowijaya mengatakan:

    udah lama ngga baca postingan ndoro yg begini..

  • orriza mengatakan:

    Hahaha… Sama dgn yg ini.

  • mPIG mengatakan:

    Saya ga minum obat. Soalnya ga sakit, ndoro. :)

  • Saya jadi teringat dagelan : komisidelapanatyahoodotcom itu.

    Saya kira mereka-mereka itu perlu menyewa ahli seperti nukman@ virtual consulting.

    Biar lebih pas strategi komunikasi online-nya.

  • awitara mengatakan:

    tlulisan dnoro, halus2 ksar. mudah2han pak beye menyempatkan diri baca Blognya ndoro

  • Bunda Ratna mengatakan:

    lebih baik urus orang miskin dan tangkap para koruptor saja deh!

  • hitamputih mengatakan:

    Email pejabat cmn buat share2an Bokep aja

  • arief setiawan mengatakan:

    minimal ada yang dijadikan alat untuk dibanggakan. entah itu dari mana asalanya, pokoknya bisa diklaim deh…:)

  • phiropurwa mengatakan:

    Memang zaman sudah berubah dengan adanya internet. Banyak orang yang takut perubahan memilih diam di dalam zona nyamannya dan menjadi tertinggal.

  • Multibrand mengatakan:

    Bapak Presiden kita memperhatikan perkembangan Facebook dan Twitter rupanya.

  • kamal mengatakan:

    pada mgomomgin apa an si… wekkk … aku dah minum obat ndoro.. obat kuat…eh maksudnya obat kuat buat begadang nanti malemm yaitu kupiii hehehe .. ciaooo”

  • Forum Promosi Gratis mengatakan:

    Saya kok belum kena grengnya sosmed, kalah nih sama pak presiden … tapi saya bukan birokrat ndoro

  • WisTour mengatakan:

    Jadi pemimpin harus memberikan yang terbaik ^^

  • Tartir mengatakan:

    jadi pemimpin harus kasih exampleee
    jangan pemimpin malah mengajarkan yang bukan2

    liverpool fc fan – http://www.tartir.com/rumah/Olahraga/Liverpool-FC-Fan.html

  • yuniawan mengatakan:

    hidup fb ! hidup twitter !

  • Tivisiana mengatakan:

    Hihihi….. Udah lama ga baca blognya ndoro ini

  • igjepara mengatakan:

    ikutan nyimak artikel,y ndoro… hihihi

  • The Gombal's mengatakan:

    dikon ngombe pil sik ndor si presidennya, ben ra keweden

  • Artikel yang sangat menarik Ndoro, kritis dan cerdas. Sangat baik buat direnungkan.

  • Joyo Plencing mengatakan:

    Hallo Ndoro,meniko pekatik sampeyan,hhee..aku gak komen kokcm pgn ngucapin salam kenal ya..salam dari blogger jogja..buat temen2 yg mbaca ini,salam kenal jg ya..salingberkunjung yuk,klo berkunjung pasti aku buatkan kopi wes,gmn..?ditunggu ya..
    http://jogjakunyaman.co.cc

  • ded mengatakan:

    Mari kita renungkan……….

  • Orin mengatakan:

    Hadeuuh…ga mau ikut mikirin ah Ndor, pusying :P

  • usaha sukses mengatakan:

    postingannya bikin pencerahan baru bagi kita dan pejabat negri ini..

  • el_thafa mengatakan:

    ikut gabung ya ndoro….

  • arif mengatakan:

    si pejabat pasti bukan petugas apotik *eh* :D

  • tomy mengatakan:

    budaya kalap…….kalap…..&kalap…

  • edratna mengatakan:

    Cukup minum satu sendok madu setiap hari….

  • anggiepraditya mengatakan:

    Penyesuaian dengan zaman yang serba canggih dan internet di mana-mana itu perlu.

  • Kurnia Septa mengatakan:

    sayang uangnya dikasih dokter :roll:

  • Raditya mengatakan:

    Hahahaha….Mantap mas Bro

    Tutorial Web

  • solusi soal cinta mengatakan:

    Pak SBY pengen ngetop kayak Justin Biebier :D

  • toko barcode mengatakan:

    pejabat = peranakan jawa batak

  • belajar hipnotis mengatakan:

    eh ingt ya..jadi presiden tuh bert cobaanya …jadi hargailah presiden kita ini ….. jangan hanya mengkritik saja

  • Klikmundana mengatakan:

    Facebook telah menjadi bagian dari sejarah dunia, terutama Indonesia.Dan mungkin saja revolusi yang terjadi di Timur Tengah facebook mempunyai andil.
    Sekarang melalui facebook kita dengan mudah menggalang kekuatan.
    Mudah-mudahan dengan kehadiran facebook tidak ada lagi penguasa yang semena-mena (ada korelasinya nggak ya ???)

  • cars-editions mengatakan:

    sosial network mang buat dunia lebih mudah, yang penting dimanfaatin buat yang baik2 aja…

  • prambudi123 mengatakan:

    sosial website memang benar2 booming di Indonesia.. luar biasa..

  • soegianto mengatakan:

    mungin kita perlu bijak memangdang segala sesuatunya

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pejabat Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 262 pengikut lainnya.